Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
7. Perasaan apa ini?


__ADS_3

Pemandangan taman kota yang indah, suasananya sama saja tak ada yang berubah selama 5 tahun yang lalu. Sungguh tak ku duga bangku dahulu saat aku bersamanya pun masih terlihat sama. Semua cuma kenangan yang indah sekaligus menyakitkan dah hal itu harus dikubur dalam-dalam, dan aku kembali dengan pemikiran yang baru pula.


Di sekolah internasional school.


"Baiklah bu saya sudah baca berkas-berkas anak ibu, dan saya menyarankan besok dia memasuki ujian sekolah untuk penempatan kelasnya." Ucap kepala sekolah tersebut.


"Maaf bu, anak saya baru berumur 5 tahun dan belum genap. Bukan seharusnya dia masuk di taman kanak-kanak dasar." Ucap wanita itu.


"Dilihat dari IQ dan keterampilan anak ibu dia memiliki watak yang cerdas bahkan jiwa seniman yang bagus. Amat disayangkan jika disia-siakan bu." Ucap kepala sekolah itu meyakinkan sekali lagi.


"Baiklah kalau begitu bu. Saya akan bawa anak saya besok untuk tes ujian disini. Terimakasih bu." Menatap kepala sekolah wanita itu dan tersenyum.


"Baiklah bu. Jika perlu apapun ini kartu nama saya." Memberikan kartu namanya.


"Ah iya. Mengambilnya dan membarter kartu namanya juga. Ini kartu nama saya juga bu. Ah iya apakah disini bimbingan untuk percakapan bahasa indonesia yang bagus bu, saya cukup yakin anak saya bisa berbahasa indonesia yang bagus namun saya ingin dia lebih lancar saja." Ucapnya.


"Hmm jika ibu mau kita bisa buat tambahan les selama sebulan saja bu, karena disini dia memiliki sertifikat 5 bahasa dan tidak perlu diragukan kembali." Membolak balik berkas Keyran.


"Baiklah bu saya undur diri. Sampai bertemu besok bu kepala sekolah. Terimakasih." Keluar dari ruangan. 


"Wah kelihatannya sekolah ini cukup bagus, aku tak mau anakku kesulitan sekolah atau berbahasa disini." Gumamnya dalam hati.


Ruangan-ruangan yang tertata rapi, bentuk kelas dan banyaknya kreasi-kreasi murid. Lapangan yang luas untuk berolahraga, penyediaan kolam renang untuk calon atlet renang dan sanggar musik dan kesenian ini membuat sekolah ini pantas untuk anakku.


Seorang anak kecil dan lelaki berjalan menghampiriku. Tentu saja, taman bermain di sekolah ini terlihat sangat bagus.


"Mama, aku suka tempat ini. Boleh aku sekolah disini saja?" Ucap anak itu berlari ke arahku dan memelukku.


"Tenang saja sayang, besok kita kembali lagi dan melihatmu bisa berada di kelas yang mana." Ucap wanita itu mencubit pelan hidung anak tersebut.


"Baiklah ma. Aku mau main lagi." Berlari ke perosotan.


"Wah kenapa dia begitu bahagia sekali ya." Lelaki itu berbisik mendekati wanita tersebut.


"Mungkin karena dia akan menemukan banyak teman disini." Tawa wanita yang disampingnya.


"Mungkin. Menaikkan bahunya. Jadi apa yang akan kau lakukan dalam jangka waktu kedepan?" Menatap wanita yang disampingnya.


"Aku sedang menyiapkan resume kerja ke beberapa perusahaan dan membeli rumah mungkin. Hei Key tolong hati-hati sayang." Teriaknya pada anak itu.

__ADS_1


"Baiklah ma." Menaik turun perosotan.


"Hahaha. Hei jangan sampai paman melihatmu terjatuh di bawah ya. Tawanya. Hmm. Begitulah? Jadi bagaimana perasaanmu terhadap Fandy?" Tanya Lana perlahan.


Wanita itu menggoyangkan sedikit ayunannya di ayunan taman bermain tersebut. Dan Lana juga mengayunkan sedikit lebih kencang dari Keil.


"Aku belum yakin. Namun aku masih mencoba untuk bersamanya." Ucap Keil menunduk ke bawah.


"Jangan mencoba, tapi lakukan saja. Jangan pakai perasaan. Sadari saja dengan logikamu apa ada orang yang mau mengurus orang yang sama sekali tak dikenalnya." Pungkas Lana menghela nafas.


"Kau benar! Dia selalu bisa kuandalkan dalam hal apapun. Ucapnya pada lelaki itu. Tapi apakah aku bisa atau mulai mencintainya?" Batinnya dalam hati, dan mendadak terdiam.


"Perasaan kalian rumit." Gerutu Lana.


"Bagaimana denganmu, kau memainkan banyak wanita tapi tetap mempertahankan Icha? Aku tak mengerti maumu!" Menatap lelaki itu dengan tatapan ingin tau jawaban pasti dari seorang lelaki.


"Aduh. Gimana ya?! Aku mempermainkan semua wanita tapi orang yang ingin aku jadikan Istri adalah Icha, mungkin aku salah tapi mau gimana lagi. Menghela nafas panjang. Tapi aku berbeda dengan Arfandy, kau pasti lebih paham akan hal itu." Ucap Lana mengungkapkan sisi buruknya tanpa ragu.


"Kau benar, kau dan dia  sedarah namun sangat berbanding terbalik. Sangat lucu." Tawa kecil wanita tersebut.


"Hei kamu jangan tertawa." Ucap Lana sedikit kesal.


"Kau." Belum sempat melanjutkan perkataannya seorang lelaki menyelah nya.


"Hei siap kata siapa disini tidak boleh tertawa." Sambil menjewer telinga lelaki itu.


"Aduh aduh kak sakit." Menahan sakit akibat jeweran Fandy.


"Fandy kok bisa disini." Sedikit kaget.


"Paman. Berlari mendekati Fandy dan memeluknya. Dari mana saja, aku rindu tau." Ucap anak kecil tersebut.


"Wah anak paman sayang bagaimana sekolahmu? Maaf ya paman harus mengurus beberapa pekerjaan." Mengelus lembut anak kecil itu.


Mataku terus menatap lelaki itu yang sedari tadi memeluk anakku yang bukan darah dagingnya tersebut namun selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Bak seorang ayah yang amat menyayangi anaknya.


"Sekolah ini bagus paman. Yakan ma, yakan uncle?" Bertanya kembali.


Wanita itu hanya tersenyum dan Lana memegangi kepalanya dan kedua telinganya yang memerah.

__ADS_1


"Iya disini bagus, besok dia akan ujian jam 10 pagi untuk penempatan kelasnya." Jawab wanita itu.


"Bagus donk. Kalau begitu kita bisa pergi jalan-jalan." Menyenangkan anak tersebut.


"Yeahh. Jalan-jalan, Key suka." Ucapnya gembira.


"Fandy. Bukannya kamu ada meeting sore ini?" Tanya Keil takut mengganggu pekerjaan lelaki itu.


"Gak kok. Semuanya sudah beres. Gimana kalau kita ke suatu tempat atau kemana yang kalian mau." Tanya lelaki itu.


"Hmmm. Sepertinya tugasku sudah selesai aku pergi dulu ya. Dada sayang uncle." Ucap Lana berdiri dari dudukan ayunan.


"Gak ikut aja?" Tanya wanita tersebut.


"Iya ikut aja Lana, dah lama gak makan malam bareng kan?" Ucap Fandy.


"Hmmm. Sepertinya aku tak mau mengganggu keharmonisan keluarga ini." Tawanya berjalan sambil melambai.


Spontan Keil merunduk dan wajahnya terlihat merah merona seperti tomat.


"Baiklah hati-hati. Kabari kalau sudah dirumah." Ucap Keil.


"Baiklah kakak ipar." Teriak Lana dari jauh.


"Paman ayo." Ucap anak kecil itu.


"Tadi kalian makan dimana?" Tanyanya.


"Uncle mengajak aku dan mama ke restoran prancis gitu. Bolehkah kita makan makanan yang sedikit pedas malam ini paman?" Tanya anak kecil itu.


"Tentu saja boleh. Ayo masuk mobil, sebelum makan malam kita ambil baju buat pertemuan besok ya." Ucap lelaki itu tersenyum kearah Keil.


"Memangnya besok mau kemana?" Tanya Keil heran.


"Besok pagi saya akan antar kalian ke sekolah. Sore saya akan jemput kalian untuk makan malam bersama CEO perusahaan untuk makan malam bersama guna pendekatan dan menjalin silaturahmi antar perusahaan." Menyalakan mesin mobil kemudinya menggas mobilnya.


"Oh begitu, berarti harus resmi donk." Jawab wanita itu.


"Apakah sekalian untuk mencoba fitting baju pengantin paman?" Ceplos anak itu.

__ADS_1


Suasana mendadak hening. Wajah wanita itu dan lelaki itu mendadak memerah.


__ADS_2