Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
41. Maukah Kau?


__ADS_3

Keila hanya terdiam didalam mobil dan tak berani menatap lelaki itu, wajah lelaki itu sangat-sangat menyeramkan terlebih menatap lelaki tadi. Ken hanya menatap dari spion tengah melihat wajah datar sahabatnya itu yang sangat-sangat kecut.


Anak kecil itu menyentuh pipi Leon.


"Ayah jangan diam saja. Lelaki itu siapa? Tanyanya penasaran. Kenapa dia mengusili ku." Gerutu anak itu.


Ekspresi Leon mendadak menghangat pandangan kecutnya tadi seola menghilang dari raut wajahnya dan tidak pernah ada.


"Maaf ya. Tidak usah dipikirkan ayo ke suatu tempat mengambil kado ulang tahunmu, paman Ken akan mengantar kita kesana segera." Ucap lelaki itu dengan hangat dan senyuman.


"Haa. Ayah ingat." Berekspresi sangat bahagia.


Keila sangat kaget dengan ekspresi lelaki itu yang, "beberapa detik lalu sangat kaku saat ini sangat santai dan hangat membuatku takut saja." Menghela nafas ke arah jendela mobil.bSebenarnya bos ku itu punya kepribadian ganda atau gimana si. Batinnya. Sayang, kenapa kamu meminta hadiah kepada pak Bos." Ucapnya menyentil hidung anaknya.


Leon menatap Keila. "Tidak aku yang ingin memberikannya hadiah." Pungkas lelaki itu.


Ken menyetir sambil menahan tawanya. "Astaga baru kali ini aku melihat Leon bisa salah tingkah di depan wanita, bagaimana nanti jika gadis itu tahu bahwa Ken adalah ayah anaknya ya. Bagaimana Ekspresi Leon saat menghadapi Keila?." Menggerutu dan tertawa sendiri.


Leon menyadarinya dan menatap tajam ke spion tengah itu. Lirikannya dilihat Ken dan Ken hanya menggeleng.



Tibalah Icha di kantor dan melihat saudaranya sudah berada disana, dan hanya melewatinya tanpa menyapa.


"Cih haruskah aku bertemu dengan pria ini disini. Berhenti dan menarik nafas panjang. Baiklah Icha sekarang hadapi dan berjalan dengan santai." Batinnya.


"Begitukah setelah lama sekolah di luar negeri dan kembali ke sini saling sapa pun tidak." Sindir lelaki itu.


Icha berhenti dan menatap punggung lelaki itu.


"Semoga harimu menyenangkan." Gerutunya dan berjalan menuju kantornya.


"Ingat saja kau akan dideportasi setelah ini." Gerutu lelaki itu.


Icha berhenti melangkah dan menggeram lalu menghela nafas.


"Cobalah kalau kau bisa." Tersenyum manis menatap lelaki itu dan berjalan dengan elegannya.


Lelaki itu menggeram.


"Astaga aku cuma bergurau pasti dia akan sangat marah setelah ini." Tersenyum.


Icha memasuki kantornya dan membanting pintunya. Lalu menahan tubuhnya dengan kedua tangan di meja kerjanya.


"Dasar manusia sampah." Gerutu gadis itu.


__ADS_1


Sesampainya di Mall terbesar itu, Leon menggiring mereka ke sebuah tempat alat musik terkenal khususnya Piano termahal.


"Key kamu pilih salah satu ya." Ucap Lelaki itu.


"Baiklah Ayah." Ucapnya dengan senang hati dan anak kecil itu tak menyangkah bahwa lelaki itu mengabulkan keinginannya.


"Maaf pak ini terlalu mahal." Ucap Keila menolak halus pemberian Leon.


"Aku memberikannya pada Keyran bukan kepada nona Keila." Memperbaiki rambut gadis itu ke belakang telinga.


Lalu Leon berjalan mengikuti Keyra. Dan Ken mendekati Keila.


"Ikuti saja maunya apa. Jangan menolaknya, kau tahukan dia akan marah jika kebaikannya ditolak." Ken tersenyum dan meninggalkan gadis itu mengejar Leon.


Keila menepuk jidatnya dan menghela nafas.


"Apakah boleh seperti ini?" Batinnya.


Banyak jenis piano dan berbagai bentuk lainnya, dari klasik, retro dan modern. Pilihan tergantung Keyran.


"Ma aku mau ini boleh diletakkan di kamarku kan?" Tanya kepada Ibunya.


"Baiklah sayang." Mengelus lembut kepala anak kecil itu.


"Baiklah Ayah mamaku sudah mengizinkan bolehkah aku memiliki piano besar ini?" Bertanya kepada lelaki itu.


"Tentu saja. Langsung membereskan membayar hadiah ulang tahun tersebut. Setelah ini kita mau kemana?" Tanya lelaki itu.


Keila hanya menepuk jidatnya.


"Haha baiklah ayo." Ucap Ken sangat bersemangat.


Keila menatap Ken begitu juga Leon.


"Baiklah boleh saja. Dan telepon Leon berbunyi dan tertulis Icha. Sebentar ya nak. Ucapnya kepada Keyran dan mengangkat teleponnya. 


"Sebaiknya kau pulang malam ini ada masalah." Ucap Icha dengan nada cemas.


"Baiklah." Menutup teleponnya. Sepertinya kita tidak bisa pergi malam ini, aku akan mengabarimu kapan kita akan pergi karena Ayah ada janji mendadak." Ucapnya kepada anak itu.


"Ada apa." Ken mendekatinya dan Leon membisik.


"Ah baiklah kalau begitu. Bu Keila dan Keyran aku akan antar kalian pulang." Ucap Ken.


"Tak perlu. Aku akan dijemput adikku. Kalian hati-hati." Menggenggam tangan Keyran.


"Baiklah." Ucap Ken berlari menuju parkiran.

__ADS_1


"Ayah janji ya." Memegang tangan lelaki itu dengan satu tangannya.


Lelaki itu sedikit menjingkok. 


"Tenang saja aku akan menepati janjiku. Jaga ibumu baik-baik ya." Mengelus kepala anak itu dan pergi.


"Yah sudah pergi." Wajah Keyran mendadak murung.


"Hei sayang. Menggoyangkan tangannya. Ayo kita makan ice cream dan biarkan pamanmu menjemput kita. Ok." Pungkasnya.


"Baiklah ma. Es cream lebih baik." Kembali memulihkan energinya dan wajahnya sangat berseri.


Gadis dan anak itu berada di restoran ayam dan menyantap makan malamnya.


"Wah ini enak sekali. Bolehkah aku membeli ayam ini lagi beserta supnya ma?" Tanya anak itu.


"Tentu saja." Terlihat lelaki itu menghampirinya.


Ya Arfandy datang menghampiri Keila.


"Sudah lama disini? Maaf ya lama." Gerutu lelaki itu.


"Mau makan atau bagaimana?" Tanya gadis itu sambil mengerjakan pekerjaannya yang tertunda di laptop.


"Aku pesan kopi saja. Key apakah kau senang?" Tanya laki itu dan menatap sepatunya tersebut.


"Paman aku sangat merindukanmu. Bagaimana jika kita bermain di tempat permainan?" Tanya anak itu.


"Wah kamu sudah lama menunggu waktu luang paman ya." Sambil mencicipi sesendok es cream anak itu.


 Gadis itu hanya tersenyum menatap lelaki dan anaknya tersebut. Keila menyandarkan tubuhnya ke bahu Arfandy dan membiarkan Keyran ebain di wahana bermain di cafe tersebut.


"Kau kelelahan ya? Tutup saja laptopmu nanti malam saja dilanjutkan." Ucap lelaki itu.


"Baiklah, izinkan aku tidur sebentar ya." Ucap Keila memejamkan mata.


"Iya tidur saja, aku akan menjagamu." Ucap lelaki itu.


Suasana cafe begitu damai, bagaimaan tidak lelaki itu menyewah lantai atas khusus untuk mereka dan tidak mengizinkan pelanggan lain naik ke atas sana kecuali pelanggan yang memang sudah berada disana sebelum mereka.


Arfandy menyanyikan lagu kesukaan Keila yang membuat gadis itu tertidur semakin lelapnya.


"Gadis ini sungguh sungguh tertidur pulas." Sambil mengelus kepala gadis itu dan meminum kopi yang ada di meja mereka.


Jika kamu memiliki perasaan dan waktu, aku sangat berharap sekali waktu berhenti saat ini juga untuk membuatmu selalu berada di sampingku.


Jika memungkinkan, bolehkah aku selalu mencoum aroma tubuhmu dan bisa memelukmu selagi aku bisa dan mampu?

__ADS_1


Malam itu begitu kelabu dengan banyak bintang dan suasa ritme kendaraan tidak terlalu berisik.


"Keil, maukah kau menikah denganku?" Tanya lelaki itu pada gadis yang tertidur lelap di bahunya.


__ADS_2