Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
55. Membuka hati


__ADS_3

Malam itu tanpa lebih hening dan tenang dari malam-malam gusar biasanya, keresahan yang terus melanda kini tanpak lebih tenang dan damai. Wanita itu sambil melepaskan riasannya di meja rias meletakkannya pada tempatnya dan memakai skin care malamnya perlahan sambil menatap wajahnya yang masih sangat ketat dan cantik. 


"Hmm." Tak sengaja dia tersenyum tipis dan menatap cermin dengan perasaan cukup tenang dan bahagia menatap wajahnya sendiri.


Lelaki tua itu menyadari ada hal yang aneh dengan istrinya menatapnya dan meletakkan bukunya diatas pahanya, karena wanita itu tidak terlihat seperti biasanya..


"Sepertinya harimu baik seharian ini." Menatap wanita itu dengan kacamata yang sedikit diturunkannya.


"Hmm. Wanita itu menoleh ke suaminya. Sepertinya menantumu dan cucumu sangat membuatku penasaran saat ini." Ucapnya dan kembali menatap cerminnya.


"Ada apa? Kau mulai menyukai cucu kita saat ini?" Tanya lelaki itu sambil menaikkan alisnya dan tersenyum.


"Entahlah, aku mencoba membencinya karena menantu yang kuharapkan tadinya bukan dia." Ucap wanita itu.


"Sekarang kamu harus coba menerima. Jangan lupa matikan lampu, aku tidur sekarang." Menaruh bukunya di samping meja kasurnya dan meletakkan kacamatanya di atas buku tersebut dan menyelimuti tubuhnya.


"Hmm entahlah. Kita lihat saja bagaimana wanita itu dan anaknya dapat mengejutkan aku."  Ucapnya.


"Hmm." 


"Sepertinya aku harus mencari tahu latar belakang gadis itu yangs sesungguhnya. Baiklah besok saja." Batin nya dan kembali ke kasur samping suaminya yang sedang terlelap..


Malam semakin larut dan terlelap bersama suamiku, masa tua yang sangat aku inginkan. 


Bandara Soekarno Hatta. Keyran bersama kedua orangtuanya dan paman Ken ikut mengantar Klien besar mereka.


"Kelihatannya kamu sudah menemukan calonnya." Bisik Keila kepada Leon.


Leon menatap Keila lalu Keyran yang bersama Emily putri klien besarnya itu dan menggeleng.


"Ha maksudmu? Gadis kecil itu? Menunjuk Emily. Masih terlalu dini untuk itu." Gerutu Leon.


Leon menghampiri Keyran dan Emily. 


"Pastikan kau datang kembali kesini ya." Mengelus kepala Emily perlahan.


Keyran melambai melihat Emily bersama orang tuanya pergi memasuki ruang tunggu.


"Kau sedih sayang?" Tanya Keila kepada anaknya tersebut.


Keyran menggelang. "Tidak Ibu aku hanya kehilangan teman sepermainanku di US dan pertemuan kami sangat singkat." Ucapnya sangag santai.


"Baiklah kalau begitu mari pulang. Kalian masih bisa bertukar Email atau sosial media kan?" Tanya Leon sambil melipat kedua tangannya.


"Ya, kau benar Ayah. Aku akan banyak bertemu orang-orang penting seperti mereka." Ucap Keyran memakai topinya dan terlihat gelang yang di pakainya sama seperti Gelang Leon.


"Anakku lebih dewasa dan sangat pintar dari anak lain. Tentu saja, keturunan harus menjadi anak baik, pintar cerdas menurut versinya. Sepertinya aku harus mengajarinya dengan baik saat ini dan besok adalah hari yang baik. Membesarkan anak ini dengan istriku yang paling cantik ini." Batin Leon.

__ADS_1


Ken Menyenggol bahu Leon dengan bahunya.


"Kalau begitu aku pergi duluan ya, aku ada kencan jangan ganggu aku." Gerutu Ken sambil pergi dan melambai.


"Hmm dasar kau ini." Tawa Leon.


Keila menggenggam tangan Leon dengan tatapan yang sama seperti malam itu. Setelah malam akad bersama Leon.


Keila memberikan gelang yang ditinggalkan Leon di kamar hotel waktu itu.


"Ini milikmu kan?" Ucap Leon.


"Benar sekali. Lelaki itu hanya memeluk gadis itu dan tertidur. Lama aku mencarimu baru ini menemukanmu, terima kasih ya karena sudah kembali." Ucapnya memeluk gadis itu.


Keila membayangkan kebahagiaannya. "Astaga, untuk ukuran lelaki yang menjadi CEO perusahaan besar dia tampak sangat mengingat segala sesuatunya. Bahkan hal mendetail." Keila membatin dengan senyuman.


Ketiga orang itu keluar dari pintu bandara memasuki mobilnya.


Terlihat sosok gadis yang Keila kenali memasuki bandara dengan kopernya dengan sekilas.


"Apa itu Lily?" Menatap kebelakang dan hanya melihat punggung seorang gadis memasuki pintu sekilas.


Leon menatap Keila dan sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Apa yang kau pikirkan sayang, masuklah sekarang." Ucap Leon mempersilahkan.


"Ah baiklah." Keila masuki mobil dan masih kepikiran gadis tersebut.


"Ada yang mengganggu dirimu?" Tanya Leon.


"Oh mungkin aku hanya kelelahan saja." Gerutunya.


Beberapa hal hanya untuk disimpan rapat, beberapa lagi hanya untuk di ingat dalam ingatan tanpa harus disuarakan atau diadakan sebuah pertemuan apalagi penjelasan atas sesuatu yang telah usai apalagi usang.


Memilih untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak penting bisa jadi lebih baik daripada memikirkan nya dan menjadi kepikiran setelahnya. Leon menatap gadis itu dengan sangat senang.


“Mungkin jika itu wanita mana pun apalagi Prilly dia takkan membuatku sebahagia ini.” sambil menatap Keila yang tersenyum amat manis kala itu.


Tibalah mereka di sebuah taman impian gadis itu.


"Leon tan ini?" Tanya Keila menatap Suaminya itu.


"Maafkan aku sayang beberapa hari lalu aku melihat desainmu dan sangat tertarik dengan lahan ini, sepertinya akan cocok untuk membangun kantor." Ucap Leon.


"Kau … kau bisa saja. Gerutunya. Bagaimana bisa? Bagaimana perusahaan?" Tanya Keila menatap wajah Leon dan membantu merapikan rambut lelaki itu.


"Sepertinya kau butuh ruang lebih untuk bernafas, setidaknya aku memikirkan suatu tempat untukmu dengan Keyran. Konsep pembuatannya aku serahkan padamu. Aku hanya ingin kau memiliki ruang tersendiri." Ucap Leon sambil menatap danau buatan tersebut.

__ADS_1


Keila langsung memeluk Leon.


"Diluar dugaan lelaki ini sangat faham akan apa yang aku inginkan tanpa meminta. Batinnya. Terima kasih ya." Ucap gadis itu.


"Baiklah, sepertinya Keyran akan marah jika kau memelukku terus." Sambil menunjuk anak kecil itu di samping mereka.


Keila dan Leon tertawa menatap Keyran yang mendadak cemberut.


"Key bagaimana jika kita membuat sebuah studio yang didalamnya menjadi memiliki banyak tempat yang kau sukai?" Tanya Leon pada anak kecil itu sambil sedikit berjongkok.


"Hmmm… sejauh ini aku sudah memiliki rumah yang besar, piano ayah, ruangan menggambar dan satu ruang lagi di galeri nenek. Ayah boleh aku pikirkan hal apa yang ingin aku inginkan?" Tanya anak kecil itu kembali.


"Tentu saja sayang." Mengelus kepalanya.


Keila menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Ibu kau lihat dari atas sana, kehidupanku saat ini sangat bahagia. Terima kasih atas doa-doamu." Batin gadis itu menatap pemandangan di hadapannya.


"Sebaiknya kita pulang agar kau bisa memikirkan konsep apa yang kau inginkan." Ucap Leon.


"Hmm ayah. Sabar ya sabar. Aku masih berusaha memikirkan setiap hal hari ini. Bolehkah kita menunggu sampai matahari terbenam, kau lihat disini sangat bagus ditanami tanaman seperti taman bunga bidadari." Gerutu Keyran menunjuk suasana indah disana.


"Benar juga. Keila membatin. Hmm bagaimana jika kita membuat tema rumah alam yang di paksa masuk ke bumi?" Pungkas Keila.


"Konsep Outdoor dalam indoor?" Tanya Leon.


Keila menggelang. "Bagaimana?" Tanya Keila.


"Boleh saja. Bukankah kau menginginkan membangun Restoran? Dengan kantor desain di atasnya?" Tanya Leon.


"Benar. Keila mengangguk. Bolehkah begitu?" Tanya nya kembali.


"Tentu saja." Ucapnya.


Keila memegangi tangannya yang ada di dada.


"Akhirnya bisa diwujudkan, walaupun aku tidak terlalu handal memasak makanan. Setidaknya beberapa koki terkenal di US bisa dipekerjakan." Keila berbalik menatap kedua orang itu dan memeluknya.


"Jadi kita sudah akan pulang?" Tanya Leon.


"Hmm ayah aku ngantuk." Ucap Anak kecil itu.


Keila tertawa kecil melihat Leon menggendong anaknya itu.


"Baiklah mari pulang." Menggandeng suaminya itu memasuki mobil mereka.


Kau bisa saja bahagia jika kau berpikir akan bahagia maka hal itu akan membantumu menjadi seseorang yang lebih bahagia, jangan pikirkan apapun. Tetap tenang dan bahagia --Keila

__ADS_1


__ADS_2