Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
37. Pendekatan


__ADS_3

Leon kaget dengan tindakan adiknya itu. Matanya tak menyangka adik nya  segitu beraninya dengan dirinya. Tapi dia memilih membesarkan telinga dan mendengar penjelasan gadis tersebut. 


Ken yang selesai menelepon itu kaget melihat gadis itu yang pernah menjadi mantan pacarnya bisa menampar kakaknya sendiri..


"Omg." Ken berbalik.


Ia lebih memilih jalur aman dan enggan ikut campur masalah ini.


Gadis itu duduk di samping Leon. Lalu Mengambil helasnya dan Bir lalu menenggaknya sekali habis.


"Dasar kakak gila. Menoleh kesamping dan menghabiskan segelas bir nya lagi. Bisa-bisanya kau." Mengambil kertas dan melemparkan kearah Leon.


Mata lelaki itu tak kaget lagi dengan isinya namun yang ia kaget kenapa adiknya bisa mengetahuinya.


"Kenapa gak bilang? Teriaknya. Dia itu sahabat aku tau, ya walaupun kita ketemu di London dan astaga entahlah. Menepuk jidatnya. Bisa-bisanya kau tak mencarinya." Menghela nafas panjang.


Lelaki itu menjauhkan botol bir dan gelas yang ada di tangan gadis itu.


"Tenang dan dengar dahulu. Kakak sudah mencarinya namun tak menemukannya, entah kenapa dengan cara kebetulan dia biasa melamar ke perusahaan kita." Memegangi bahu adiknya itu menjelaskan sembari menatap matanya.


"Tapi kan tapi bisa … Mck. Kakak gak tau betapa sulitnya kehidupannya." Menceritakan segala sesuatunya.


Lelaki itu memeluk adik perempuannya itu.


"Tenanglah aku berencana menikahinya. Kau Tak perlu merasa bersalah atas dirinya, kau tak perlu melakukan apapun. Kakak akan selesaikan masalah kakak sendiri. Paham?" Menatap mata Icha.


Gadis itu mengangguk.


"Berjanjilah." Menatap lelaki itu.


"Ya aku berjanji." Mengangguk.


Malam itu berjalan dengan baik Leon tak menyangkah adiknya mendengar percakapannya bersama dengan Ken malam itu di parkiran. Dia hanya menikmati malam panjang itu sambil membaca bukunya dan kepalanya tanpa sakit karena terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.


Pagi hari Ken datang membawakan beberapa suplemen dan obat untuk pereda mabuk.


Lelaki itu keluar dari kamarnya dan terlihat asisten sekaligus sahabatnya datang membawa sarapan.


Kepala lelaki itu masih sakit dan meminum air wedangan yang diberikan Ken lalu meminumnya 

__ADS_1


"Sudah ku katakan jangan terlalu banyak minum." gerutu Ken pada Leon.


Lelaki itu hanya mengangguk.


"Hmm. Sepertinya sebelum kontrak kerja berakhir aku harus membuatnya jatuh cinta, tapi sebenarnya aku agak takut." Ucap Leon.


"Takut akan apa?" Tanya Ken.


"Takut bila dia memilih partner kerjaku." Menghela nafas.


Ken menatap Leon dan berkata dengan pandangan serius. "Jika kau suka katakan, kau tidak seperti Leon yang ku kenal. Leon yang selalu dikejar banyak wanita di sekelilingnya." Gerutu Ken.


"Aku tak tahu, tapi aku tak berdaya di hadapannya." Menghela nafas kembali.


"Ayolah, dia pasti juga sudah jatuh cinta padamu. Lakukan saja seperti caramu biasanya. Lagi pula jika kau mencintainya lalu dia mencintaimu kalian akan saling mengejar." Menepuk bahu sahabatnya itu.


Leon tersenyum. "Benar juga."


Lelaki itu langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Memasang dasinya dan bercermin.


"Hari yang indah. Untuk semangat baru. Memulai lebih baik, berjuang sebulan 3 bulan takkan ada artinya karena aku memang lelaki. Jika segini saja menyerah mana bisa menjadi seorang pemimpin." Sambil memasang jam Rolex keluaran terbarunya dan merapikan rambutnya dengan tangan kanannya.


Paginya di kantor terlihat sekretaris cantiknya sudah menunggunya di depan perusahaan dan menyambut kedatangannya seperti biasa bersama para pegawai. 


Lelaki itu mengambil tablet nya dan membacanya sekilas dan memberikan nya kembali sambil berjalan menuju kantornya.


"Perbaiki beberapa slide ke 3 dan ke 7 lalu kirim kontraknya ke emailku sekarang. Ucap Lelaki itu berhenti melangkah dan melihat tiap divisi di kantornya, dan menyadari ada beberapa tatanan yang tidak rapi. Pak Ken tolong ingatkan pada divisi marketing untuk merapikan kantornya dan lihat ini. Memegang dengan jari bagian kaca kantor. Ini sangat kotor bagaimana kinerja petugas kebersihan. Bereskan segera." Melanjutkan perjalanannya ke divisi lainnya.


"Baik pak. Kepala divisi marketing harap rapikan kantor kalian jam 10 saya akan melakukan pengecekkan ulang. Lalu menelpon kepala kebersihan sambil mengikuti Bos nya tersebut. Kepala tugas kebersihan harap cek seluruh debu setiap kantor. Saya menunggu sebelum jam makan siang harus sudah selesai." Mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dari ujung teleponnya.


Gadis itu menatap Bosnya  lalu asisten Bos nya itu ternyata sangat tegas. Gadis itu menelan ludahnya dan berdiri tegak hingga sampailah mereka di depan pintu kantor Bosnya tersebut.


"Jangan lupa kirimkan emailnya." Tanpa menoleh ke gadis itu dan memasuki kantornya.


Gadis itu menghela nafas dan duduk di kursinya, terlihat kakinya sedikit memar karena memakai sepatu yang kurang nyaman di kakinya dan dia lupa hari ini adalah pemeriksaan setiap divisi.


Keila melanjutkan pekerjaannya, terlihat seperti biasa seorang gadis tersebut menerobos masuk kembali ruangan CEO dan menyapa mejanya terlebih dahulu.


"Hei kau dimana Leon." Gerutunya dengan banyak luka di wajahnya yang membuat Keila menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


Gadis itu menahan kaki nya yang sakit berdiri menghalangi pintu masuk ke kantor CEO nya. 


"Maaf bu, jika tidak ada janji dengan CEO anda tidak boleh masuk." Ucap Keila membaca jadwal tamu penting CEO nya tersebut.


Gadis itu membanting tablet Keila, dan mengambil tabletnya yang terjatuh.


"Sekretaris sialan. Kamu gak tau saya siapa ya." Berjalan menuju pintu namun di jegal oleh Keila yang membuat gadis itu terjatuh.


Keila berdiri dengan anggunnya dan mengibas rambutnya. "MAAF NONA YANG TIDAK TAU SOPAN SANTUN SEBAIKNYA ANDA PERGI." Geruru Keila dengan amarah dan memanggil tim keamanan.


Terlihat tim keamanan mengamankan gadis itu.


"Kurang ajar kamu ya sekretaris ******." Teriak Prilly.


Teriakan itu terdengar oleh Ken dan Leon yang berada di dalam kantor.


"Ah sebentar pak. Mencabut card fingerprint perusahaan yang ada di kalungan leher gadis itu. Maaf nona anda bukan pegawai disini jadi saya akan menahan ini dan jika kalian menemukan gadis ini berkeliaran di perusahaan terutama kantor CEO tolong amankan ya pak." Ucap Keil.


"Baik buk." Serentak dua pengawal itu menyeret Prilly.


 


Leon yang berada di belakang Keila tersenyum puas melihat gadis itu berhasil menyingkirkan wanita gila tersebut.


Keila yang tak sadar itu membalikkan badannya dan terjatuh di pelukkan Leon. Terlihat kaki Keila lebam.


"Astaga kakimu itu kenapa?" Tanya Leon.


"Ah itu."


Leon langsung mengangkat gadis itu ke dalam ruangannya dengan bantuan Ken yang membuka pintu.


"Saya tidak apa-apa pak." Ucapnya namun lelaki itu membuka heels gadis itu.


"Bagaimana tidak apa-apa. Menatap penuh amarah. Ken ambilkan P3k sekarang." Perintahnya.


"Baik pak." Ucap Ken mengambil obat.


"Saya tidak apa-apa pak." Hendak berdiri namun ditahan Leon.

__ADS_1


"Diam disini atau kulumut bibir indahmu itu." Tatapan sangat gusar.


Apakah kekuatiran itu adalah sebuah ancaman atau hanya sekedar menunjukkan bahwa kau menyayangi orang itu dengan cara yang salah.


__ADS_2