
Keberangkatan ke Paris kali ini bersamaan dengan Icha dan Lana yang dadakan mengikuti kami pergi terbang di satu pesawat yang sama.
Untungnya pesawat itu sudah disewa secara privat oleh Leon dan membuat penerbangan kami sangat-sangat menyenangkan. Hal yang paling tidak menyenangkan adalah Ken yang terus saja murung tidak seperti beberapa waktu lalu.
Kaki Leon menyenggol sahabatnya itu, ternyata dia tak bereaksi seperti biasa. Hanya melihat kakinya melipatnya san membersihkan bagian yang menurutnya kotor.
Leon mendekati sahabatnya itu.
"Astaga Ken apa yang kau lakukan? Tidak Ada energi auramu mati?" Leon menatapnya sambil melipat tangannya dan menaikkan alisnya.
"Aku lelah bangunkan aku jika sudah sampai." Gerutunya.
"Astaga manusia ini seperti makhluk baru pubertas saja." Ucap Icha menghampirinya dari belakang.
"Sudah diamlah. Sibuk saja dengan tunanganmu." Balas Ken malas memperpanjang masalah.
"Kakak astaga kak Ken kau cemburu?" Ejeknya.
"Icha … diam Chak diem." Ucap Ken sebal.
Lana memeluk gadisnya dari belakang. "Ayo jangan ganggu dia, ada aku disini." Menarik gadis itu ke tempat duduk mereka.
Keyran hanya menggeleng melihat situasi yang ada, dengan Earphone dia sibuk menggambar karya seninya dan sudah menyadari Vogue Paris pasti akan mencarinya dan dia harus memposting beberapa gambarnya saat berada disana.
Pesawat lepas landas dan oenerbangan sangat damai. Leon bersama Keila dan melihat gadis itu sedikit pucat dengan memegang tabletnya.
"Astaga wanita ini masih sempat mengerjakan pekerjaan kantornya di sela-sela liburan kali ini." Leon menggeleng dan mengambil tabletnya lalu menyimpannya.
Pemandangan dari kaca jendela pesawat sangat bagus. Sama seperti mimpi Keila dahulu saat dia dan anaknya diculik oleh Leon dan Ken ke paris. Mendadak Keila tersenyum dan membuat Leon tersadar saat membaca majalah di samping istrinya itu.
"Kau memimpikan apa sayang?" Memeluk istrinya.
Perjalanan itu memakan waktu kurang lebih 18 jam. Keyran yang sibuk dengan Tabletnya akhirnya tertidur. Leon menatap apa yang ada di layar tabletnya.
__ADS_1
"Sungguh mengagumkan, sepertinya aku adalah seorang ayah yang sangat beruntung memiliki anak sepertinya. Mengambil tabletnya dan menyimpannya lalu menyelimutinya. Sepertinya ibu dan anak ini sama sepertiku selalu bekerja keras dimanapun." Leon mencium kening anaknya dan pergi meninggalkannya.
Ken menatap pemandangan itu dan hanya meminum anggur merahnya yang disediakan oleh pramugari pesawat pribadi yang disewa oleh Leon.
"Astaga mengapa bayangan wanita itu menghantui setiap hariku. Harusnya aku segera pergi dan melupakan kejadian yang menimpaku itu. Mendadak wajah Ken memerah mengingat lekuk tubuh wanita itu. Astaga Ken. Teriaknya meneriaki dirinya sendiri. Kau gila ya Kau gila ya." Ucapnya.
Hal itu membuat Leon kesal dan memukulnya dengan majalah tepat di kepala sahabatnya itu.
"Kau kenapa si? Gila ya? Beberapa hari ini kau aneh, ingin sekali tubuhmu ku lemparkan dari atas pesawat ini." Gerutu Leon kesal dengan sahabatnya itu.
"Entahlah kau takkan mengerti kesulitanku saat ini. Menggeleng dan mengabaikan Leon. Kau Takkan mengerti." Ucapnya berkali-kali.
Leon hanya menepuk kepalanya.
"Astaga Ken kau pasti sedang mabuk berat saat ini." Pergi duduk di samping istrinya tersebut.
Suatu hari dari kita pasti pernah mengalami kesibukan, baik dalam segi pekerjaan, tuntutan dan lain sebagainya. Walaupun begitu, sering sekali waktu yang hanya ada 24 jam itu, kerap sekali terlupakan dan satu dari kita merasa tak cukup; namun akankah dirimu mampu mengatakannya dan memberikan hal baik tersebut. Untuk aku; untuk kita?
Hari itu berlalu begitu saja dan terlihat pesawat sudah mendarat di bandara Paris. Pagi kedatangan mereka disambut oleh mentari pagi yang mengkilap, cahayanya membias ke dalam kaca jendela pesawat. Udara pagi itu sangat dingin, pelukkan Leon pada Keila dan lelaki itu menggendong putra sulungnya itu.
Keila ingin tertegun namun sudah biasa dengan banyak hal dan kemewahan yang diberikan oleh Leon di hidupnya. Bahkan hal tersebut bukan tolak ukur hidupnya, karena semasa bersama Arfandy juga lelaki itu memberikan semua kemewahan yang ada kepada dirinya dan anaknya namun Keila tetap tidak ingin mengudahkan lelaki itu dan menolongnya dalam mengerjakan semua pekerjaan yang ada di perusahaan lelaki itu.
Lain hal dengan saat ini, Keila sudah menjadi nona besar keluarga Leon Hartono, seorang pebisnis kelas 5 terkaya di negaranya.
Tentu saja perlakuan suaminya kepada nya tidak menginginkan gadis itu bekerja ekstra tetap saja gadis itu bekerja namun terforsir selama menjadi istri Leon. Lelaki itu tak menginginkan wanitanya itu bekerja dan lebih memilih mengurus dirinya, anaknya, rumah dan sisanya hanya melakukan hobby yang gadis itu sukai.
Akhirnya impian gadis itu tercapai juga mengunjungi Kota Paris. Keila menatap sekeliling jalanan kota tersebut, seperti dejavu saja. Seperti mimpinya kala itu, bedanya pada saat itu mereka berempat saat ini berenam di tambah Icha dan Lana.
Keila tertawa menatap Lelakinya itu.
"Astaga pria tampan ini suka sekali memperlakukanku seenaknya dan seenaknya saja mengatur setiap hal yang ia sukai menurut mood dan keinginannya." Batin Keila.
__ADS_1
Leon menyentil dahi Keila.
"Apa yang kau pikirkan saat ini? Menatap para pria di Paris ini dan melupakan bahwa suamimu ini adalah orang yang paling tampan yang pernah ada di hidupmu sampai akhir hayatmu?" Gerutu Leon cemburu melihat Keila memperhatikan banyak orang disana.
"Ya ampun sayangku, siapa yang berani melupakanmu. Mana mungkin aku bisa?" Ucapnya.
"Ah sayang." Ucap Leon.
"Ehmmm… kalian jangan melupakan ada seorang anak kecil dan seorang jomblo berkarat di mobil ini." Gerutu Keyran.
"Astaga Key sayang. Tantemu ini lupa dan melupakan kalian. Gerutu Icha melirik Ken yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa lalu berbisik kepada kekasihnya. Ada yang aneh dengan Kakak Ken." Ucapnya Pada Lana.
"Stss… kita disini untuk liburan bukan untuk ngejudge sayangku." Balas Lana cepat.
"Ah ia benar sekali sayang." Ucapnya.
"Key lihat itu, menara Eiffelnya besar sekali, Key mau berfoto dengan mama disana?" Tanya Keila menghibur anaknya.
"Wah benar ya ma, ternyata disana sangat bagus, aku kira hanya di foto saja. Mendadak anaknitu memfoto pemandangan itu dan mempostingnya di akun media sosialnya." Dan melihat angka Love sudah mencapai 100 saja dalam hitungan 2 menit.
"Haruskah kita pergi ke hotel dahulu lalu berkeliling? Atau ingin sarapan terlebih dahulu?" Tanya Leon.
"Bagaimana baiknya saja sayang. Bagaimana dengan Ken?" Tanya Keila.
"Ken. Panggil Leon. Bagaimana menurutmu?" Tanya Leon sekali lagi.
"Baiklah kita akan cek out ke hotel lalu sarapan disini." Ucapnya.
"Ah ia baiklah." Jawab mereka serentak.
"Paman, paman Ken harus sabar. Aku juga jomblo kok." Ucap Keyran.
Mendadak Ken tertawa mengelus kepala anak kecil itu.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa sayang, hanya saja tidak mood." Jawabnya.
Terlihat banyak panggilan masuk di ponsel Ken yang menggunakan model silent.