Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
36. Tindakan Icha


__ADS_3

Beberapa waktu setelah pertemuan makan siang bersama Keila dan Leon. Icha menjadi semakin gusar mengingat kejadian malam itu dan pengakuan Ken.


Gadis itu menggeleng melihat sebuah sarapan dari Keila. Sebuah spaghetti brulee buatan Keila kesukaan Icha. 


Sebuah surat berada di atas meja gadis itu dan dia membukanya lalu terduduk dan bersandar mengingat pengakuan Ken kepadanya.


"Astaga kenapa harus Keila dari sekian banyak gadis." Menghela nafas dan meremas bukti tes DNA yang ada di tangan Icha.


Kejadian di kantor Furniture Icha.


Gadis itu mendekati Ken yang sedang bersandar di meja kantor Icha. Gadis itu mendekat dan menarik kera laki itu dan menyandarkan lututnya ke pinggir meja.


"Icha sayang, kau tau kita sudah putuskan? Aku sudah punya kekasih begitu juga dirimu jadi tolong menyingkir dari diriku." Ucap Ken mendadak tegas.


Gadis itu terus mendekat dan memainkan jarinya di wajah pria itu dan berbisik.


"Sebenarnya Keyran itu anak siapa?" Menatap lelaki itu dengan tatapan tajam.


Lelaki itu menghela nafas panjang.


"Dari mana kau tahu?" Tanya Ken mendorong Icha dan membuat dia berdiri tegak.


Tangan lelaki itu menyentuh kedua bahu gadis itu.


"Icha aku tak tau kau tau dari mana hal ini, atau kau dengar dari mana tapi apapun itu jangan pernah kecewa dengan perkataanku ini. Setelah aku mengatakannya tak ada yang berubah." Ucap Ken tegas.


Gadis itu hanya mengangguk.


"Baiklah. Lelaki itu menghela nafas dan berbalik dari gadis itu dan kembali menatapnya. Jadi Keyran adalah anak Leon dan Keila tapi Keila tak tau jika ayah Keyran itu Leon." Ucapnya.


"Bagaimana bisa?" Tanya Icha menggeleng.


"Tenang cha, tenang ya. Memegang bahunya kembali. Kau ingat pesta ulang tahun ku pada saat itu di Bar, Prily memasukkan obat perangsang ke bir Leon? Dia berhasil meminumnya dan kabur lalu tak sengaja bertemu dengan Keila pada saat itu menabraknya dan minuman mereka tertukar. Hingga aku tak tau bagaimana mereka berdua berhasil terseret ke kamar hotel yang sama." Ucap Ken menjelaskan.


Icha mengingat-ingat kejadian yang dikatakan Keila.


"Apakah kau pernah menyesal melahirkan Keyran?" Tanya Icha kala itu sewaktu masih di Inggris.


"Tak pernah sekalipun, dia bayiku yang lucu. Walaupun nanti aku bertemu dengan lelaki itu aku takkan biarkan dia mengambil anakku karena dia hartaku satu-satunya. Setelah kematian ibuku, pernikahan yang gagal dan dibuang oleh keluargaku. Dialah penguatku." Ucap Keila.


Icha mengingat persis kedua kejadian itu dan menghela nafas di bangku kantornya.


"Tenang saja Keila. Aku akan membantu menjaga Keyran." Memeluk gadis itu.


Gadis itu memegang ujung pangkal hidungnya dan memijatnya perlahan.


"Ya ampun Keila kenapa lelaki itu harus kakak ku. Keila ku sayang. Pantas saja Keyran sangat mirip dengan Leon ini ternyata kebenaran ayah dan anak." Gerutu Icha.


Icha mengambil ponselnya dan menelpon Leon.

__ADS_1


"Hallo Cha." Ucap Leon dari ujung telepon tersebut.


Gadis itu masih tak menjawab dan baru sadar dari lamunan tersebut.


"Hallo Cha, Icha." Ucap Leon memanggilnya.


"Ah iya kak. Kak … ada yang mau aku bicarakan denganmu nanti sepulang kerja di Bar biasa. Bisa?" Tanyanya.


"Ada masalah?" Ucap Leon.


"Temui aku saja, bisa tidak?" Sedikit meninggikan suara.


"Baiklah. Jam 7 ya." Leon menunggu jawaban adik perempuannya itu.


"Baiklah." Mematikan telepon.


Leon menatap Ken dan mempertanyakan adiknya. Namun Ken hanya menaikkan kedua tangannya tanda tidak tahu apapun.


Sedikit berpikir dan bangkit dari kantornya menemui gadis ****** itu, gadis yang sudah lama dia temani sekaligus teman akrab mamanya.


Salon kecantikan tempat biasa gadis itu melakukan perawatan.


Icha duduk tepat di samping Prilly yang baru saja selesai melakukan perawatan rambutnya. Gadis itu meletakkan tasnya dan menyilang kakinya lalu melipat tangannya menatap gadis di sampingnya.


"Omo adik ipar ada apa?" Tanya nya sambil memperbaiki riasannya.


"Sudah selesai belum aku ingin bicara penting." Ucap Icha masih dengan nada biasa.


"Berdisir sekarang." Meninggikan suara membuat semua orang memperhatikan mereka berdua.


Prilly meletakkan make upnya dan memasang ekspresi yang sama halnya tidak suka seperti Icha.


"Hei calon adik ipar, bisa sopan sedikit tidak." Berdiri dan menatap Icha.


Icha langsung berdiri dan meludah kearah sampingnya.


"Cih gadis tak tahu malu." Ucapnya.


"Ha apa kau bilang?" Berusaha menampar Icha namun ditahan dan dijatuhkan ke kursi.


"Astaga apa yang kau perbuat?" Teriaknya.


"Berdiri sekarang juga sebelum aku mengamuk." Ucapnya.


"Maksudmu apa sih?" Nada lantang dan berdiri sambil menyenggak.


Icha yang tak sabar lagi menarik rambutnya dan mengambil tasnya tersebut.


Aksinya membuat banyak orang menertawakan Prilly. 

__ADS_1


"Berani-beraninya kau membuat cara kotor untuk tidur dengan kakakku." Teriaknya menjatuhkan gadis itu di luar Salon.


Gadis itu tersungkur dan menatap Icha.


"Apa maksudmu? Teriak Prilly. Kau akan tau akibatnya ya membuatku seperti ini." Teriak dengan tangisan.


Icha ingin menyepak nya namun hanya menggertak saja tidak menyentuh gadis itu.


"Kuingatkan kepadamu ya, jika kau mendekati keluargaku terlebih kakakku. Bukan hanya rambutmu yang akan rusak tapi wajahmu." Bisik Icha.


Ken tertawa sambil bersandar di mobilnya.


"Hei gadisku, sudah ayo pulang." Teriak Ken sedikit kencang.


"Ken tolong aku adiknya Leon gila." Ucapnya meringis malu.


"Maaf nona Prilly. Saya tidak mendengarkan perintah anda." Gerutunya membuka pintu mobil dan kembali menutupnya setelah Icha masuk.


Gadis itu menghela nafas panjang dan menggerutu. 


Ken memegang kepalanya dan menepuk bahunya.


"Tenanglah kau melakukan hal baik." Ucap Ken menangkan Icha.


"Sebentar lagi neraka memanggilku." Gerutunya.


"Hahaha." Tawa Ken.


"Jangan tertawa." Ucap Icha.


"Iya iya aku akan berhenti." Menuju Bar biasa tempat mereka minum.


Kadang kala perlu waktu sendiri untuk sedikit berfikir dan mengetahui bahwa setiap orang butuh jeda untuk memutuskan jalan mana yang mau diambil dan di lalui yang terpenting jangan pernah berhenti. Sekalipun jangan pernah berpikir untuk berhenti.


Mobil tiba di depan bar langganan mereka. Gadis itu menghapus tangisnya dan memperbaiki hiasannya di kamar mandi.


"Ayo Icha biasa." Menyemangati dirinya di depan cermin.


Ken menghampiri Leon yang sudah 10 menit berada disana.


"Hei. Lalu duduk di samping sahabat sekaligus CEO nya itu. Pelayan aku pesan soda saja." Ucap Ken.


Leon menaikkan alisnya.


"Tumben. Biasa juga Wine, anggur atau apalah. Tumben gak biasa banget." Lelaki itu keheranan melihat sahabat baiknya itu.


"Hmm kali aja ada yang mabuk nanti jadi biasa anteri pulang dengan selamat. Telepon berdering. Aku kebelakang dulu ya." Menunjukkan teleponnya.


Leon hanya mengangguk. Terlihat gadis itu dagang dengan Ekspresi datar dan menampar Leon.

__ADS_1


"Icha, apa yang kau lakukan." Teriak Leon yang sedang heran melihat tingkah adik perempuannya itu.


__ADS_2