
Aku kira aku enggan mengerti namun semua tentang waktu yang berlalu dan bersama seseorang yang kau cintai dahulu.
Kelihatannya kejuaraan games dimenangkan oleh kekasih Icha itu, banyak orang bersorak riah kepadanya dan mengangkat-angkat tubuhnya, tumpukan bunga dan kata selamat menghampiri lelaki itu dan tim nya.
Sampai suatu ketika saat seorang gadi mendatanginya dan memeluknya namun kekasihnya Icha tepat di depan matanya.
Kekasihnya itu dengan penuh emosi yang hanya berdiam diri di belakang mereka. Sedangkan gadis yang memeluk Lana sangat lembut.
"Aku merindukanmu." Ucap gadis itu dengan rambut panjangnya dan melepaskan pelukannya
"Ah iya terima kasih. Mundur beberapa langkah dari gadis itu. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk melihatku. Lana menari Icha dari belakang gadis tersebut. Perkenalkan tunanganku." Ucap Lana memeluk Icha dan memberikan banyak bunga kepadanya.
Icha hanya menatap kekasihnya tersebut dengan amarah yang mulai meredah.
Gadis itu tersipu malu dan merapikan rambutnya ke balik daun telinganya dan menghela nafas.
"Ah begitulah. Maaf kan aku kalau begitu kak. Menatap Icha. Perkenalkan Aurel, mantan kekasih Lana." Ucap Gadis itu.
Icha hanya terus menatap tangan itu menjabatnya dan akhirnya menjabatnya.
"Ah baiklah. Icha calon istrinya." Menggandeng Lana di hadapan Gadis tersebut.
Gadis itu tampak malu dan memberikan kartu nama. "Salam kenal ini kartu namaku." Ucapnya.
Icha tak mau kala mengambil kartu namanya dan memberikannya kepada gadis itu.
"Icha salam kenal kembali. Kalau begitu permisi." Ucapnya menyeret Lana pergi.
"Ah dasar, gadis itu pemilik perusahaan ke 5 terbesar disini pantas saja gayanya sedikit angkuh. MCK." Menghela nafas dan pergi.
"Sepertinya akan ada perang dingin kembali diantara mereka." Ucap Keila.
Sepertinya Leon tak memperdulikan adiknya dan calon iparnya itu sambil menggendong Keyran yang mulai kelelahan dan ngantuk.
"Sebaiknya kita pulang." Ucap lelaki itu sambil menggenggam tangan Keila.
"Setelah pertikaian cukup besar dengan keluarga besarnya kini aku menjadi istri sahnya ya walaupun tanda tanganku waktu itu tanpa sengaja aku lakukan karena keterlibatan Ken. Segala sesuatunya berjalan lancar bahkan Prilly yang mengejarnya pun sampai detik ini aku harus berurusan dengan gadis itu, cukup melelahkan. Tapi syukurlah dia selalu mengerti aku dan selalu berada disampingku." Batin Keila berjalan bersama Lelaki itu.
Tibalah hari dimana pertunangan Icha dan Lana digelar, banyak tamu dan para undangan yang meramaikan acara tersebut.
Musim semi cepat berlalu, kerinduan akan masa lalu berhenti begitu saja. Tiba saatnya adik yang beberapa tahun kebelakang menjadi sahabat sekaligus adikku ini menjadi wanita dewasa dan bertunangan dengan adik penolongku.
Sambil menerima tamu dan menyapa satu persatu, anaknya Keyran memainkan pianonya dengan sangat indahnya sebagai penyambutan awal acara tersebut.
"Hmm. Melihatnya seperti itu mengingatkan kepadamu Fandy." Gerutu Keila sambil memegang minumannya.
Seorang lelaki memeluknya sambil melihat anak kecil itu memainkan pianonya.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan di suasana ramai seperti ini sayang?" Tanya Leon memeluk Keila dari belakang.
"Hei sebaiknya kau tak memelukku disini karena aku tak mau orang lain menggosipkan kita." Ucap Keila.
"Sebentar saja, sebentar lagi Ken Juga akan memanggilku." Ucap Leon.
Yang benar saja, Ken datang dan memanggil Leon.
"Hei tuan dan nyonya, sebaiknya ikut aku menyambut para tamu." Gerutu Ken sambil menggeleng.
"Bilang saja kau cemburu dasar jomblo aku, kau harus lihat adikku saja sudah bertunangan kau kapan?" Mengejek.
Keila hanya tertawa kecil. "Maafkan kami Ken. Leon hanya bergurau, jangan marah ya." Ucapnya dengan senyuman termanis.
"Eh sayang jangan tersenyum kepada Ken. Aku tak mau dia jatuh hati padamu." Sekali lagi Leon mengejek Ken.
"Astaga. Menepuk jidatnya. Baby." Teriak Ken.
Seorang gadis datang menghampiri Ken dan menggendongnya.
"Perkenalkan Liana, pacarku. Kalau begitu permisi." Ucap Ken menggandeng pacarnya yang sangat cantik dan seksi.
Leon menepuk kepalanya. "Sejak kapan dia memiliki pacar." Leone Geleng kepalanya.
"Sudahlah pergi sambut tamu yang lain sana." Ucap Keila.
Seorang mata lelaki memperhatikan Keila dari balik para tamu. Lelaki itu menghela nafas dan terharu.
Lelaki itu mendatangi Leon dan Ken yang sedang menyambut para tamu dan menyapa mereka.
"Hallo pak Leon saya Darma, pemilik rumah sakit D. Bagaimana kabarmu?" Tanya lelaki itu.
Leon segera menjabat tangan lelaki itu.
"Hallo pak, kabar baik. Bagaimana kabar anda?" Menjawab dengan penuh senyuman dan menaikkan alisnya.
"Wah anda sopan sekali. Kalau begitu saya kesana dulu." Ucap Lelaki itu pergi.
Leon menghela nafas dan melirik Keila dari jauh.
"Ftt… akankah gadis itu menemui ayahnya, atau malah menghindar." Batin Leon.
Langkah kaki menghampiri Keil bergantian saat ini, membuat gadis yang memperhatikan permainan piano putranya itu berbalik dan menatap lelaki yang ada di hadapannya.
Mata Keila berbinar, air matanya terjatuh menatap lelaki itu.
"Sudah lama ya, apa kabar?" Tanya gadis itu dengan nada sedih sekaligus senang.
__ADS_1
Lelaki itu menghapus air mata Keila perlahan.
"Kamu sudah dewasa kenapa masih cengeng dan terus menangis seperti bayi kecil. Ucap lelaki itu. Apa kabar?" Tanyanya lembut.
"Aku … aku … aku baik. Kamu gimana?" Tanya Keila.
"Aku juga Keil. Bagaimana Keyran?" Tanya lelaki itu.
Keila tak kuasa memeluk lelaki itu dan lelaki itu kembali memeluknya.
"Astaga. Bagaimana ini jika dilihat suamimu?" Tanya lelaki itu.
"Arfandy. Fandy kamu jahat banget setahun ini gak ngabarin aku." Masih menangis di pelukannya.
Anak kecil itu menyadari ibunya memeluk seseorang yang bukan ayahnya. Sambil memainkan pianonya doa menatap lelaki itu.
Jreng. Suara piano mendadak berhenti sepenggal dari nadanya. Anak Kecil itu berlari dan berteriak ke arah lelaki itu dan ibunya.
"Paman ku. Paman. Teriaknya berlari memeluk lelaki itu. Keyran rindu." Memeluk dan menangis.
"Anak paman sayang, sudah besar ya. Maaf ya paman baru sempat pulang." Menenangkan anak itu dan mengelus kepalanya.
Lana dan Icha menghampiri mereka dengan senyuman yang sangat bahagia.
Icha melempar bunganya ke dada Arfandy.
"Kakak ipar macam apa kau. Saat dikabari tidak menjawab dan datang begitu saja seenaknya." Ucap Icha terharu.
Arfandy memeluk gadis manja itu yang sebentar lagi menjadi istri adiknya.
Lana Menggerutu. "Jangan lama-lama memeluk tunanganku, aku tak mau dia berada dipelukan orang lain termasuk kakakku sendiri." Pungkasnya mengejek.
Arfandy melepaskan pelukkan Icha dan memukul dada Lana dengan kepalan tinju kecilnya.
"Kau ini dasar. Buaya sepertimu ternyata bisa ditaklukkan oleh gadis imut, dan manja seperti Icha. Ku harap kalian bahagia dan lancar hingga Hari H." Ucap Arfandy.
Leon datang menepuk bahu Arfandy.
"Welcom. Selamat datang kembali, jangan terlalu lama pergi kita disini sudah menjadi keluarga." Ucap Leon tegas.
Mata Arfandy berbinar memandangi semua wajah mereka dan masih memeluk Keyran.
"Leon benar mereka sudah menjadi keluarga lalu apa yang harus aku takutkan karena kehilangan cinta?" Membatin.
Arfandy hanya tertawa.
"Sepertinya aku akan menculik anak ini untuk bersamaku. Apakah kalian mengizinkan?" Arfandy sambil tertawa.
__ADS_1
"Astaga teganya kau kak meninggalkan adik lelaki satu-satumu ini di hari pertunangannya." Gerutu Lana yang membuat semua orang tertawa.