
Jika kau memiliki cinta, akankah kau memberikannya kepada seseorang yang mengatakannya padamu? Atau kau malah. Lebih berhati-hati dalam menjatuhkan hati.
Pagi itu Keila menyiapkan sarapan untuk Keyran yang sedang menonton televisinya sambil menggambar beberapa coretan di tabletnya.
Gadis itu yang tertidur di kamar Keila terbangun dan menyadari dirinya berada di ruangan yang tidak di kenalinya dan menggaruk kepalanya lalu menatap sekeliling dan kaget.
"Astaga aku dimana. Menatap seisi ruangan dan terlihat pas foto besar Keila di dinding kamar atas kasur. Ya ampun aku terlalu banyak minum dan sudah di kamar Keila saja." Kembali melipat kakinya dan bersandar di lututnya kembali tidur.
Gadis itu mencium aroma kesukaannya.
"Kenapa wangi sekali. Keluar kamar secara perlahan. Ah pagi." Sapa Icha.
"Sudah bangun, ayo makan." Keila memberikan sepiring nasi goreng dengan porsi kecil dan semangkuk sup ayam dengan rumput laut.
Gadis itu duduk di kursi depan meja makan dan masih memejamkan matanya.
"Mau kopi?" Tanya Keila.
Anak Kecil itu meletakkan tabletnya dan menghampiri kedua gadis itu.
"Ma punya ku mana. Gadis itu memberikan piringnya. Terima kasih ma." Ucap anak itu membawa piringnya ke meja depan ruang tv nya dan kembali menyantap makanannya sambil menonton kartun.
Gadis itu meminum sup di mangkuk kecil itu dan kepanasan.
"Panas. Panas." Ucapnya dan langsung membuka matanya.
Keila tertawa. "Ya ampun Icha. "Memberikan segelas air putih dan secangkir kopi.
Gadis itu mengguknya.
"Ha. Menghela nafas. Terima kasih Keil." Menatap makanan yang ada di hadapannya dan bersama-sama memakannya.
"Pelan-pelan saja, lagian ini weekend, masuk kantor jam 11 tidak apa." Ucap Keila berdiri memberikan secangkir susu kepada anaknya yang sibuk menonton kartun sekaligus menyantap sarapannya.
"Wah makanan mama sungguh lezat. Boleh aku memakan cemilan sosis dengan banyak mayones?" Tanya anak itu.
"Hmm tentu saja, mama akan buatkan nanti setelah kau menghabiskan makananmu." Ucapan kembali ke meja makan.
"Wah Kak kenapa kau tak membuka restoran kecil saja." Ucap gadis itu memuji Keila.
"Rencananya seperti itu. Tapi belum tahu juga." Keila memakan makanannya sambil mengecek ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Icha.
"Sepertinya 1 jam lagi kita harus sudah ke kantor. Ucap Keila. Sayang mau ikut tidak? Sekalian kita ambil kadomu." Tersenyum menatap anak itu.
"Baiklah ma." Menaruh piringnya di wastafel dan pergi mandi.
"Wah apakah nanti jika aku punya anak bisa pintar dan penurut Key." Gerutu Icha.
"Tentu saja bisa." Ucap Keila menaruh piring dan mangkuk itu di wastafel dan mencucinya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang. Terima kasih kamar tidurnya dan sarapannya, sangat enak. Sampai ketemu di kantor." Lambai gadis itu.
"Baiklah sampai ketemu." Sambil mencuci piringnya.
Anak lelaki itu selesai mandi dan menghampiri ibunya lalu bertanya tentang pakaiannya.
"Ma aku pakai baju apa, ini atau ini?" Tanyanya.
"Kemeja saja sayang. Hmm … sama sepatu barumu di samping rak." Ucap gadis itu tanpa menoleh.
"Hmm… baiklah ma. Mama bersiap-siap gi. Anak itu memakai sepatu barunya dari Arfandy itu pas sekali dan terlihat sangat kece. Paman tau sana apa yang aku mau, sebaiknya aku harus menarik dari black card ini. Hehe." Tawa anak itu.
Tibalah Keila dan Keyran di kantornya. Terlihat semua karyawan dan staf memandangi Keila, seorang gadis single parents namun masih sangat cantik dan sangat terurus dalam mengurus dirinya sendiri dan anaknya.
Wanita itu dan anaknya menaiki lift menuju ke ruang kerjanya dan ia duduk di meja kerjanya lalu mengeluarkan laptopnya dan mengerjakan beberapa data untuk diberikan kepada CEO nya tersebut.
"Sayang tunggu sebentar ya, jangan kemana-mana dan jangan sentuh apapun." Ucap Keila.
"Baiklah ma. Anak itu berkeliling di lantai 20 kantor itu dan menatap dari kaca yang menembus pemandangan keluar. Wah, kantor mama sangat luas dan menunjukkan pemandangan yang indah. Baiklah aku akan memulai menggambar sebisaku sebelum itu aku harus memotret pemandangan ini." Memfoto beberapa gambar pemandangan dan kembali melukis.
Seorang lelaki bertubuh tinggi dan tampan itu melewati lorong dan menghampiri anak kecil itu lalu menaikkan alisnya.
"Siapa anak itu." Tunjuk lelaki itu.
"Ah maaf pak saya tidak tau. Apa harus saya usir." Ucap asisten pribadi Dilly.
"Ah tidak usah aku ingin melihat apa yang sedang dikerjakan. Lelaki itu mendekati anak itu. Kau sedang apa anak kecil?" Tanya nya.
Keyran menatap orang tersebut dan hanya diam
Di kantor Keila sudah menyelesaikan pekerjaannya dan merapikan meja kerjanya.
"Akhirnya selesai." Ucap gadis itu.
Terlihat Ken melewati meja kerjanya mau memasuki kantor CEO.
"Eh Keila masuk kerja di weekend?" Tanya Ken.
"Iya ada beberapa berkas yang saya kerjakan dan sudah saya kirim ke email anda dan Pak Leon. Saya Izin pulang pak Ken." Mengambil tas nya dan melihat sekeliling.
"Ada apa?" Tanya Ken.
"Maaf pak tadi saya membawa Keyran tapi kenapa dia tak ada ya. Apakah anda melihatnya.
"Benarkah? Saya tak melihat anak anda." Ucapnya.
Keila langsung menelpon Keyran, karena dia tau anaknya berkeliling membawa tabletnya.
"Astaga tidak diangkat. Kalau begitu saya pergi cari dia dulu ya pak Ken. Permisi." Ucapnya pergi.
"Anak itu suka sekali membuat ibunya spot jantung, aku telepon Leon saja. Halo Leon kau melihat Keyran di bawah?" Tanya Ken.
__ADS_1
Leon yang sedang berjalan di lobby dan hendak naik ke Kantornya pun menatap sekeliling dan tak menemukan anak itu.
"Aku tak melihatnya, sudah menelpon ponselnya?" Tanya Leon sambil menaiki liftnya.
"Sudah, tadi Keila menelponnya dan gak diangkat. Aku akan segera keluar dan mengambil beberapa berkas untukmu. Eh sudah mengirim hadiah buat anak itu?" Tanya Ken.
"Sudah, aku akan mengajak mereka memilih hadiahnya. Sudah ya aku akan mencari anak itu." Langsung menutup teleponnya.
Lift berbunyi. Leon menatap sekeliling dan menemukan anak itu bersama saudara tirinya ya anak lelaki dari istri kedua Ayahnya yang bernama Dilly, dia adalah abang kandung Icha.
Terlihat lelaki itu sedang mempermainkan Keyran dan mengambil Tabletnya.
"Hei anak Kecil kau mencuri barang ini dari mana?" Ucap lelaki itu mempermainkan Keyran.
Anak itu melompat-lompat mencoba mengambil tabletnya.
"Hey paman, itu milikku. Kau akan di kenai pasal karena mengambil barang milik orang lain." Ucap Keyran.
"Bagaimana bisa. Jangan-jangan ini properti kantor yang kau curi. Sambil melihat-lihat gambar yang ada di tablet tersebut. Bagus juga." Batinnya.
"Sudah ku bilang kembalikkan." Teriak Keyran
"Cih. Kembali juga dia kemari. Kita lihat hal apa yang akan dia lakukan." Leon berlari menghampiri mereka dan merampas tablet yanh ada di tangan Dilly.
Lelaki itu menatap Leon.
"Ah ternyata kakak. Menunduk. Apa kabar?" Tanyanya basa basi.
"Ayah. Menangis. Dia mencuri barangku." Ucap Keyran.
"Ha Ayah?!" Dilly menatap anak itu lalu Leon dan tertawa.
Leon menggendong anak itu dan memberikan tabletnya.
"Terima kasih Ayah." Memeluk lelaki itu.
"Kau tak apa?" Tanya Leon kepada anak itu dengan pandangan Lembut.
Anak itu hanya menggeleng, Leon mendekati Dilly dan meninju pipinya dan menjatuhkan kuda-kuda lelaki itu membuatnya bersujud di depan Loen dan Keyran.
"Begitu lebih baik." Ucap Leon.
Gadis itu kaget melihat Leon menjatuhkan seorang lelaki dan memanggil anaknya.
"Keyran." Berlari memeluk anak itu.
"Jika ingin memberi kejutan katakan. Leon menunduk dan memegang dagu lelaki itu lalu menampar pipinya beberapa kali. Jangan buat onar di tempatku, kau tau aku kan?" Berdiri dan memeluk Keila mengajaknya pergi.
Ken melihat kejadian itu dan melewati lelaki itu dan berbisik ke asisten lelaki itu sambil menggeleng.
"Kau harus bisa jaga sikap begitu juga tuanmu." Menepuk bahu Dilly.
__ADS_1
Lelaki itu berdiri dibantu oleh asistennya dan membersihkan lututnya.
"Cari Tau siapa perempuan itu." Menggeram.