
Ken yang sedari tadi linglung padahal hanya menenggak kopi di sebuah cafe yang cukup terkenal di kota tersebut, menikmati alunan musik prancis dan mengecek beberapa pekerjaan dari rencana jangka panjangnya selain menjadi sekretaris atau tangan kanan Leon sahabatnya tersebut.
Lelaki itu kembali meletakkan pennya di samping tablegnya dan memandangi sekitarnya. Mata lelaki itu tak sengaja melihat bayangan seorang gadis yang ia kenali.
"Astaga familiar sekali, tapi ini di Prancis Ken di Paris." Lelaki itu menggelengkan kepalanya dan menyilang kedua kakinya dan menyeduh kopinya perlahan.
…
Seperti biasa pagelaran seni di galeri ke 3 di kota itu membuat Keyran semakin bertenaga, seolah-olah energinya berhasil tercash.
"Astaga, mungkin aku harus membuat suatu inovasi yang sangat menarik kali ini. Tangannya berada di dagunya dengan gaya sok cool. Baiklah sketsa ini sangat menarik jika ditambahkan disini." Ucapnya.
Gadis itu menyadari anak kesayangannya itu sedang sibuk-sibuknya dengan tabletnya di bangku nomor dua mobil mereka.
"Sepertinya dia akan sangat kelelahan dan tidak menikmati waktunya." Gerutu Keila melirik Keyran.
"Tenang saja sayang, di dalam otaknya sudah terprogram menjadi anak yang bisa melakukan apapun. Seperti ayahnya." Menyetir sambil membanggakan diri.
Keila menepuk bahu suaminya. "Siapa si yang menyapu halamannya sendiri."
"Aduh, istriku ini semakin lama semakin garang saja." Ucap Leon kembali menggodanya.
Keila hanya tertawa melihat suaminya itu. Sambil menatap kearah luar kaca jendela.
"Kalau punya apartemen disini mungkin aku akan berkunjung setiap 3 bulan sekali disini." Pungkasnya.
"Benarkah? Sebelum itu kau harus fasih berbahasa Francis sayangku." Pungkas lelaki itu.
"Tidak perlu Ayah. Anak lelaki itu mendekati bahu ayahnya. Aku akan belajar banyak bahasa dan membuat Ibuku ini bisa ke negara manapun bersamaku. Karena aku juru bicaranya." Ucap anak lelaki itu dengan sangat keren.
"Hahaha. Keyran anak Ibu memang sangat baik." Wanita itu mengelus lembut kepala anaknya.
"Baiklah kalau begitu, tetap saja dia perlu belajar bahasa jika ingin tinggal disini dan kalian juga perlu aku untuk membawa kalian bepergian kemanapun dengan pesawat pribadi." Ucap Leon dengan penuh kesombongan tak mau kalah dari anaknya.
"Hahaha. Ketawa garing Keyran. Ayahku ini memang sangat kaya raya ya, tapi tenang saja aku juga sudah berpenghasilan di umurku yang terbilang cukup beliah." Ucap anak itu sambil menaruh kedua tangannya di pinggangnya.
Satu keluarga kecil itu tertawa bahagia.
"Kau ini dasar." Ucap Leon.
Keila masih tak menyangkah bahwa makhluk kaku itu adalah suaminya yang tertawa sangat bahagia dan tanpa beban.
"Sepertinya aku harus membuat perjanjian pra nikah untuk kami agar berjaga-jaga." Batinnya dan tawa kecil Keila.
Sampailah mereka di sebuah galeri seni yang ada di pusat kota tersebut. Leon menggandeng istrinya dan Keyran berada di depan mereka.
Sambutan hangat orang-orang disana, Loen memberikan undangan VIP mereka salah satu pelayan.
Leon menari Keyla dan berbisik, "sayang jangan cemburu ya. Ada mantan pacar sekaligus cinta pertamaku." Pungkas Leon.
__ADS_1
Seorang gadis cantik dengan balutan dres panjang menghampiri mereka. Gadis itu memiliki mata sedikit sipit dan kulit putih. Menjabat tangan Leon dan memeluknya dengan melingkarkan tangannya di leher Leon.
"Hei baby, sudah lama ya." Ucap gadis itu.
Dalam pelukkan gadis itu Leon memperkenalkan istrinya.
"Ah iya perlenalkan Istri dan anakku." Ucap lelaki itu.
Spontan gadis itu dengan sedikit mata berkaca melepaskan rangkulannya tangannya pada leher Leon dan menyalam Keila.
"Hallo namaku Analia." Ucap gadis cantik itu.
"Halo aku Keila Fay." Ucapnya dengan senyuman hangat.
"Hei anak kecil siapa namamu?" Tanya Analia sambil sedikit menunduk.
"Hallo Ms namaku Keyran, kau sangat cantik sekali sedikit tidak sopan tapi aku maklumi karena ini di negara orang lain si." Tawa anak itu.
Gadis itu menaikkan alisnya.
"Hal apa yang membuatmu berpikir aku tidak sopan?" Tanyanya dalam bahasa Francis.
"Ya, tapi tak apa." Ucap Keyran dalam bahasa Francis.
"Baiklah kalau begitu, ingin aku temani berjalan-jalan mengelilingi galeri?" Tanya gadis itu kepada anak kecil itu dan melirik Leon dan Keila.
"Baiklah nona, mohon pandu kami." Ucap Keyran sambil menggenggam tablet dan pen nya di dadanya.
Diikuti oleh Leon dan Keila.
"Cemburu?" Tanya Leon kembali menggoda istrinya.
"Tidak, hanya aneh saja saat suamiku yang dingin ini mau disentuh orang lain." Gerutunya sedikit kesal dan berjalan lebih cepat.
"Astaga. Mck. Leon menggeleng kepalanya dan mengejar istrinya tersebut. Tunggu aku sayang." Sambil berlari kecil.
Sambil melihat-lihat bentuk gambar dan karya yang terpajang di dinding.
"Hmm gambar ini sangat unik, kau tau elemen dan instrumen ini sangat kuat dan kental." Ucap Keyran.
Hal itu membuat gadis itu menoleh kebelakang dan mengibas roknya lalu berjongkok di samping anak kecil itu.
Gadis itu mencubit hidung anak itu.
"Hei anak kecil kau sangat tau banyak sekali tentang hal ini ya." Ucapnya.
"Tentu saja, aku sangat suka seni lukisan." Gerutu anak itu memfoto beberapa gambar menarik menurutnya.
"Tadi siapa namamu?" Tanyanya sekali lagi.
__ADS_1
"Keyran Fay nona. Anak kecil itu tersenyum dan berjalan maju. Ayo nona." Menatap gadis itu agar mengikutinya.
"Haha. Gadis itu tertawa kecil. Ah sepertinya aku pernah dengar namanya, tapi dimana ya." Sambil berpikir dan gadis itu melihat anak kecil itu berhenti tepat di sebuah lukisan.
"Ms, coba beri nilai untuk gambar ini." Ucap Keyran sambil menatap gambar yang ada di hadapannya.
Gadis itu menyentuh gambar tersebut dan merasakan perasaan sang pelukis, beberapa ornamen dan campuran warna ini sangat bagus menurutnya. Sampailah kepada inisial nama pada lukisan itu.
"Wow K.F . Hmm siapa dia?" Ucap gadis itu.
Terdengar suara hentakkan kaki.
"Itu adalah karyanya anakku." Ucap Leon.
Gadis itu kaget melihat lukisan itu dan anak itu. Keila memegang bahu anaknya.
"Bagaimana menurutmu?" Ucap Leon.
"Wah adik kecil kau sungguh luar biasa." Ucapnya.
"Kau juga nona Analia. Sepertinya kedua lukisan kita menjadi best seller di galeri ini." Tawanya.
Terdengar suara mic, "semuanya berkumpul di aula karena kita ingin memberikan beberapa piagam penghargaan untuk para seniman kita."
"Ayo sayang." Ucap Keila kepada Keyran.
"Baiklah ibu." Anak itu menggandeng tangan ibunya meninggalkan ayahnya bersama gadis itu.
Leon dan gadis itu berjalan beriringan menuju aula. Leon memasukkan tangan kanannya ke dalam saku bajunya.
"Wah kalau saja kita yang menikah. Akankah kita memiliki anak yang sama cerdasnya seperti anakmu?" Tanya Analia.
"Haha. Harapan itu terlalu jauh untuk kita yang berpisah cukup lama, bukan cukup lama tapi sangat lama." Ucap Leon dengan senyuman tipis.
Gadis itu berjalan dengan kedua tangan di belakang.
"Ah, entahlah. Jika aku tak ikut kedua orangtuaku kesini mungkin aku takkan jadi seniman dan bertemu pak CEO sepertimu." Pungkas gadis itu.
"Mungkin takdir masing-masing dari kita sudah ditetapkan. Bagaimana dengan tunanganmu?" Tanya Leon.
"Kemungkinan bulan depan kami akan menikah." Ucap gadis itu lembut.
Leon menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping gadis itu. Mata mereka saling menatap.
"Siapapun pendampingku semoga kau bahagia ya." Ucap Leon.
"Ah benar sekali, kulihat kau juga sangat bahagia. Semoga kau juga ya." Ucap gadis cantik itu.
"Tentu saja, tentu saja harus." Ucap Leon.
__ADS_1
Beberapa dari kita memiliki cinta yang telah usai, beberapa lagi dapat berdamai dan beberapa lagi tak bisa melupa. Jadi bagaimana baiknya jika masing-masing dari kita saling berdamai dengan masa lalu dan memulai masa depan yang lebih baik lagi.