
Segala hal yang tadinya indah, rencana dari rencana yang menyibukkanmu itu membuatmu bahagia dengan adanya tujuan dari daftar impian. Dan ternyata jika terealisasi namun tidak bersama seseorang yang kau harapkan, maka hal tersebut tetap bisa tercapai namun tanpa adanya cinta sama sekali.
"Lili sayang kan sudah ku bilang aku sibuk kerja sebagai kepala rumah sakit dan dokter bedah. Kau harusnya paham sayang, lagi pula aku selalu pulang langsung menemuimu dan anak-anak usai bekerja." Ucap lelaki itu dengan sedikit emosi dan merendahkannya suaranya lalu memegangi kepalanya yang mendadak cenat cenut dan mulai migrain.
"Iya tapi gak gitu juga. Kita punya dua anak harusnya kau lebih memperhatikanku dan anak-anak kita." Jawab ketus dengan teriaknya yang memekik telinga sambil menunjuk suaminya itu yang tak lain adalah Arya.
Arya adalah seorang lelaki yang berprofesi sebagai dokter bedah, saat dahulu dia adalah mantan kekasih dari Keila. Gadis yang sampai saat ini masih dicintainya.
Arya berusaha menjelaskan situasinya."Jika aku tak memikul tanggung jawab besar ini, aku pasti akan mempunyai banyak waktu luang, setidaknya selama bersamaku kau tidak pernah kekurangan apapun yang kau mau, bukan?!." Teriak Arya memuncak sambil menyusun beberapa bajunya di koper lalu menyeretnya.
"Mas. Mas. Mas dengerin aku dulu. Teriaknya. Mas?!" Teriaknya lagi tanpa dihiraukan lelaki tersebut dan memukul-mukul tempat duduk kursi di mobilnya.
Lelaki itu menghidupkan mobil dan menggasnya keluar dari bagasi, terlihat gadis itu mengejarnya.
Lalu membuka sedikit jendela mobilnya dan berkata, "Kalau kamu sudah menyesali perbuatanmu aku akan pulang." Teriaknya dan menutup kaca jendela mobilnya dan pergi.
"Mas, mas, mas Arya." Teriaknya lalu mengacak-acak rambutnya dan memasuki rumah.
Delur laju kendaraannya bak angin yang menerobos jalanan malam itu seperti orang gila. Yang benar saja, mendadak Arya mengerem mendadak mobilnya dan memukul kemudinya.
"Astaga aku ini kenapa. Teriaknya. Kenapa kehidupanku menjadi seperti ini dan kenapa wanita yang ku cintai itu menghilang begitu saja. Apa salahku tuhan. Teriaknya lagi. Kenapa aku harus menikahi perempuan temperamen seperti itu." Teriaknya lagi.
Jika boleh memilih, aku memilih ketidakmampuan diriku tentang tak mampunya aku bertahan tanpamu. Jika boleh, aku diberi kesempatan menjelaskan bagaimana pedihnya aku, sakitnya aku dan terpuruknya aku tak bersamamu. Mungkin kau akan paham dan mengerti bahwa aku sangat merindukanmu.
…
"Sayang ayo siap-siap. Paman Fandy akan menjemput kita." Ucap wanita itu.
"Sabar Ma, sabar. Aku sedang memposting sesuatu." Ucapnya sambil memakai tali sepatunya.
"Ah baiklah sayang. Menghampiri anak itu dan menatap tabletnya dengan senyuman. Anak mama ini memang hebat dalam melukis dan berbagai hal lainnya. Sudah ayo." Mengulurkan tangannya.
Tepat bel apartemen mereka berbunyi. Seorang yang ditunggu-tunggu itu sudah datang di depan pintu. Lelaki yang di kali selama 5 tahun itu selalu memiliki wajah yang sangat tampan. Jenis lelaki yang sangat sabar dan murah hati.
Sedikit berfikir. "Bagaimana dengan wajah Papaku ya." Menaruh jarinya di antara dagunya seperti orang berpikir.
__ADS_1
"Sayang apa yang kau pikirkan. Ayo sapa paman." Ucapnya.
"Hi paman, maaf sepertinya beberapa program di otakku sedang menyusun file datanya. Hehe. Paman kita mau kemana." Mengulurkan tangannya.
"Hmm kita akan makan malam bersama bos mamamu." Ucap lelaki itu tersenyum lalu menatap wanita cantik di sebelahnya.
"Ha benarkah? Jadi Orang yang mengundangmu makan malam, Pak Leon?" Tanya wanita itu.
"Oh jadi nama Papaku Leon. Hmmm masih belum bisa dipastikan, aku harus menatapnya secara langsung baru paham dan mengerti." Gumamnya dalam hati.
"Apa yang sedang kau pikirkan Key?" Tanya Fandy.
"Hmm tidak paman. Aku hanya membayangkan makanan apa saja yang disajikan oleh bos nya Mama." Tertawa kecil agar tidak di curigai.
"Anak mama sayang. Mencubit pipinya. Jangan melakukan hal yang aneh ya." Merapikan rambut anaknya.
"Baiklah mama. Siap." Memberi jempolnya.
"Entah perasaan apa yang kupikirkan yang benar saja, dadaku berdegup kencang mendengar nama CEO ku. Wajahnya benar-benar sangat familiar." Batin gadis itu.
Deg. Deg. Deg.
"Perasaan apa ini? Memegang dadanya sekilas takut diketahui oleh Ken. Kenapa dadaku berdegup kencan menatap wanita itu berjalan ke arahku dan perasaan apa ini kenapa aku mendadak cemburu menatapnya bersama klien besarku?" Batinnya dalam hati namun masih tetap menyetel cuek dan berkharisma.
"Ah jadi itu dia. Mata anak lelaki itu berbinar. Sungguh mirip sekali denganku. Astaga benar-benar mirip." Sedikit tercengang hanya bergumam dalam hati.
"Selamat malam tuan Arfandy." Menjabat tangannya.
"Selamat malam juga tuan Leon, terima kasih telah menyambut kami." Membalas jabatan tangannya.
Keil hanya menunduk begitu pula Keyran.
"Halo pak, saya sekretaris baru anda." Menyapa.
"Ah iya. Tak disangka kita makan satu meja dengan klien besar." Tawanya mencairkan suasana.
__ADS_1
"Sehat pak Arfandy. Siapa Ken gantian menjabat tangannya dan tangan Keil. Ini anak kalian?" Tanya Ken Jail.
"Iya. Spontan Fandy menjawab. Perkenalkan, ayo Key." Tersenyum.
"Astaga paman sangat so sweet mengakuiku anak. Batinnya dan berubah menjadi cool. Halo paman nama saya Keyran, usia lima tahun dan sedang bersekolah di kelas 2 sekolah dasar." Mengangguk.
Mata Leon berbinar dan terkejut menatap anak kecil itu, kembali kepada ingatan masa kecilnya hampir sama di usianya yang terbilang 5 tahun sudah berada di bangku kelas dua sekolah dasar.
"Kenapa anak ini mirip sekali denganku, apakah benar gadis ini gadis waktu itu. Tapi kenapa dia tak mengenaliku." Liriknya ke arah gadis itu lalu ke anak kecil tersebut.
"Wah kamu pintar sekali sayang. Ucap Ken. Sama seperti paman tampan ini, dia juga sangat pintar sehingga tidak perlu belajar kembali." Menyanjung bosnya tersebut.
"Wah benarkah tuan?" Ucap gadis itu sedikit polos.
Makanannya datang. Para pelayan menghidangkan berbagai jenis makanan di meja.
Sangat terlihat CEO muda ini sangat elegan dan loyal dalam memberikan jamuan kepada tamu penting nya.
Wajah Key terlihat sangat senang menatap hidangan tersebut.
"Wah sesuai seleraku, hidangan prancis." Gumam anak itu dengan bahasa Italia.
Mata Leon kembali menatap anak tersebut.
"Hei adik kecil, berapa bahasa yang kamu pelajari?" Tanyanya dalam bahasa Italia.
"Masih 5 saja paman. Jawabnya kepada Leon. Ma boleh makan sekarang?" Tanyanya, ibunya hanya tersenyum.
"Iya-iya boleh. JawaB Ken. Silahkan, selamat menikmati." Mengunyah makanannya.
Fandy memberikan saputangan kepada Key dan meletakkan di dalam kerah bajunya. Hal itu membuat Leon sedikit cemburu.
"Apa yang aku pikirkan. Gumamnya dalam hati. Kalian sudah menikah?" Tanya Leon.
Sontak saja Keila mendadak tersedak karena kaget mendengar perkataan Bosnya tersebut.
__ADS_1