Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
47. Lamaran


__ADS_3

Suasana bandara tampak padat saatnya gadis dan anak itu memasuki ruang tunggu. Pemandangan siang itu sangat terik.


"Sepertinya takkan ada delay dalam penerbangan." Batin Keila dengan tatapan kosong dan hati yang campur aduk.


Gadis itu mengirim pesan kepada Arfandy. "Fandy, dimana? Sepertinya aku akan kembali ke London." Tulisnya.


Seorang lelaki itu memberikan minuman kepada Keila dan coklat kepada Keyran, sambil menghela nafas.


"Hmm … jadi kakak yakin kembali ke London sendiri?" Tanya Lana.


"Tenanglah aku hanya menenangkan diri sebentar." Ucapnya.


Lelaki itu jongkok dan menatap anak lelaki itu.


"Key sayang, jangan nakal ya. Uncle akan segera mengabari dan mendatangimu ke sana. Jangan membuat mamamu khawatir denganmu. Lalu berbisik. Gunakan baik-baik kartu yang Uncle beri." Ucap Lana.


Anak itu mendekatkan dirinya ke lelaki itu dan memasukkan kartu itu ke kantong baju lelaki itu.


"Paman sepertinya aku tidak perlu ini lagi. Lagi pula ayahku sudah memberikanku satu. Semoga paman dan kakak Icha secepatnya menikah dan aku akan datang melihat kalian." Lalu memeluk lelaki itu.


"Keponakanku sayang." Membalas memeluk.


Panggilan untuk pesawat LDN 201 harap memasuki ruang tunggu.


"Sayang ayo. Jaga dirimu ya, aku akan menghubungi kakakmu setelah tiba disana, jangan beritahu Arfandy. Oke?" Ucap Keila melambai pada lelaki itu.


"Dasar kau." Ucap Lana Menggerutu.


Telepon dari Icha masuk.


"Kenapa baru angkat." Teriak gadis itu.


Membuat telinga Lana kesakitan.


"Iya aku baru lihat, ada apa sayang?" Tanya Lana.


"Dimana Keila?" Tanyanya 


"Baru saja masuk ruang tunggu." Ucap Lana.


"Hentikan cepat hentikan." Gerutunya sambil mengemudi.


"Hei kenapa ada suara klakson mobil? Kau dimana?" Tanya Lana mengabaikan pertanyaan awal kekasihnya.


"Aku sedang menyusul kalian ke bandara. Setelah sadar kak Leon menyusul Keila kesana, mungkin dia akan segera tiba tolong hentikan gadis itu sekarang kumohon." Ucap Icha.


"Ada apa rupanya?" Tanya Lana dan mendengar hal sebenarnya yang terjadi.


"Sayang, sayang. Hallo? Hallo? Teriaknya sambil mengemudi. Lanaa?" Teriak kembali dan telepon dari kekasihnya itu mati.


Telepon yang tadinya di telinga Lana terjatuh mengikuti tangannya. Tangannya gemetar sambil meremas teleponnya.


"Leon ayah kandung Keyran?" Pungkasnya terdiam sejenak menatap ruang tunggu dan berlari ke arah ruang tunggu.

__ADS_1


Leon sampai di bandara dan menghubungi seluruh staff bahkan direktur dari bandara.


"Pak Leon?" Ucap salah satu Staf dan direktur menghampiri mereka.


"Tolong hentikan penerbangannya pak, tujuan London." Berjalan mengikuti Direktur dan stafnya ke arah pintu.


Keila yang membawa Keyran mengecek ktpnya dan paspornya serta tiket nomor penerbangannya itu kepada staff penerbangan tidak mengizinkan mereka melewati pintu tersebut.


"Maksudmu apa?" Tanya Keila tegas.


"Maaf bu, paspor anda mati. Silahkan ikut saya ke kantor." Ucap staf lelaki itu.


"Anda bergurau ya. Ini sudah saatnya pesawat saya lepas landas." Ucapnya.


"Menurut peraturan dan prosedur disini anda harus ke kantor terlebih dahulu bu. Silahkan." Mengarahkan mereka ke kantor bea cukainya.


Keila menghela nafas dan menggandeng Keyran. Keyran menyadari Pamannya memanggil dari luar dinding kaca ruang tunggu.


"Uncle memanggil. Anak kecil itu menatap ibunya lalu melepaskan genggamannya dan berlari mengejar pamannya. Apakah paman berusaha mengulur waktu agar ayahku menghentikan kami?" Batin Keyran yang lari ke arah Lana.


"Key. Berteriak memanggil nama anaknya. Anakku." Ucap gadis itu berlari mengikuti anaknya.


"Tunggu bu." Ucap Staff itu ikut mengejar perempuan itu.


Keila kehilangan Keyran dan berlari dari Gate 1 ke Gate 21.


"Dimana anak itu?" Panik berlarian kesana kemari.


Gadis itu berlari tepat menabrak dada bidang seorang lelaki.


Lelaki itu menangkap tangan gadis itu dan memeluknya.


"Takkan ku biarkan kau pergi lagi, takkan pernah." Ucap Lelaki itu.


Keila menyadari suara familiar tersebut dan berusaha melepaskan diri, namun pelukannya sangat erat.


"Kau takkan bisa pergi kemanapun tanpa izinku mengerti?" Ucap Lelaki itu.


Keyran yang berhasil mengecoh ibunya itu ternyata bisa bertemu Ayahnya.


"Tos." Ucap Icha dan Lana.


"Key juga." Ucap Lana.


"Sepertinya aku harus meminta maaf pada Paman Arfandy atas ini karena aku harus memilih Ayah kandungku." Ucap Keyran.


"Hei anak kecil kenapa kau tak bilang kalau kau sudah tahu terlebih dahulu bahwa Leon ayahmu." Ucap Icha.


"Sepertinya mulai detik ini aku sudah bisa memanggilmu bibi." Anak kecil itu mengejek.


"Yahh. Teriak Icha pada Keyran. Dasar anak kecil." Memanyunkan bibirnya.


"Yang dikatakan Keyran itu benar sayang. Bagaimana Aunty?" Mencoba meminimalisir percakapan kala itu.

__ADS_1


"Apakah kau sudah tau pada saat grand opening saat itu?" Tanya Icha masih penasaran.


"No. Pada saat di tan bermain saat lamaran Uncle kau tolak aunty. Hihi." Ucap Keyran.


"Ha? Apa mungkin?" Tanya Icha.


"Sebaiknya kita kesana." Lana menggandeng kekasihnya itu dengan menggendong Keyran karena dia tau pasti kaki anak itu lelah akibat berlari tadi.


Keila melepaskan pelukkan Leon.


"Aku belum bisa menerimanya pak Leon, kumohon izinkan aku pergi." Ucap gadis itu sambil menunduk.


"Lihat aku Keila. Lihat aku." Ucapnya.


Gadis itu masih menunduk dan tak menatap wajah lelaki itu.


Leon menghela nafas. 


"Setidaknya bisakah kau memberikan kesempatan agar aku menjadi ayah yang baik untuk Keyran walau sekali saja." Menggerutu.


Gadis itu masih menunduk tanpa jawaban.


Ken berlari mendekati mereka.


"Kau tidak bisa kemana-mana nona Keila." Ucap Ken. 


Keila mengangkat kepalanya dan bingung.


"Kau adalah istri sah pak Leon." Ucap Ken.


"Ha bagaimana bisa?" Ekspresi bingung.


Peristiwa lalu.


"Maaf nona Keila kau bisa bantu aku dokumen ini?" Ucap Ken memberikan dokumen pernikahan Keila dengan Leon dan menutupinya dengan berkas lainnya.


Gadis itu menandatanganinya dan sah lah sebuah surat tersebut.


"Sebenarnya aku sudah lama ingin melamarmu. Jadi maukah kau menjadi istriku?" Leon bersujud di hadapan Keila memberikan cincin kepadanya.


"Tapi … tapi. Keila tanpa bingung namun dia tak bisa menolak karena dia mulai mencintai Leon, gadis itu menatap Keyran yang bersama Lana dan Icha. Key?" Tanyanya.


Anak kecil itu hanya mengangguk dan mengambil tangan ibunya diulurkan mendekati Leon.


"Terima kasih Key sayang." Ucap Leon.


Lelaki itu memasangkan cincin tersebut ditangan Keila dan berdiri memeluk gadis itu bersamaan dengan Keyran.


Pandangan itu terlihat oleh Arfandy yang mau melakukan perjalanan bisnis memasuki ruang tunggu bandara. Lelaki itu membaca pesan masuk Keila tadi dan membacanya.


"Apakah dia rindu rumah di London?" Tertawa dan menjatuhkan dompetnya dan hpnya tersebut di lantai menatap mereka semua ada disana, terlihat Keila dan Keyran memeluk seorang pria. 


Arfandy mengambil dompet dan hp nya yang terjatuh lalu berjalan ke arah Keila dan Keyran.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Arfandy mendatangi Leon yang memeluk kekasihnya tersebut. Apa yang kau lakukan?" Melepaskan pelukkan mereka lalu meremas kerah baju Leon dengan penuh amarah.


Pemandangan itu sontak membuat ketegangan kembali.


__ADS_2