Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
9. Ingin bertemu kembali


__ADS_3

Hal yang paling diinginkan ketika seorang gadis itu tak tergesah-gesah pergi dari kamar hotelku saat itu. Perasaan bersalah dan rasa pertanggung jawaban dari diriku atas dirinya.


Pagi itu saat aku tersadar dan keluar dari kamar hotel mencari pakaian bagus untuk ia kenakan dan setelah pintu terbuka aku tak melihat sosok gadis itu yang tadinya masih berbaring di atas ranjang tersebut.


Aku terduduk dan memijat kepalaku secara perlahan dan menyadari gelang tanganku hilang.


"Astaga gadis ini, kenapa tidak sabar sedikit saja. Menarik selimut dan terlihat banyak bercak darah bersimbah di seprai kasur tersebut. Astaga, gadis ini membuatku menjadi gila dan merasa bersalah." Gumamnya dalam hati.


Pikiran-pikiranku melayang mengingat kejadian 5 tahun lalu dan beberapa pekerjaan para pegawai kantor yang tak sesuai harapan.


"Kan udah aku bilang kalau resume yang kamu bawakan semua tak berguna. Kau harus tau mana yang punya pengalaman atau tidak." Melemparkan berkasnya dengan kesal.


"Maaf tuan, saya akan segera cari ulang sekertaris baru untuk anda." Ucap lelaki tersebut.


Seorang gadis cantik memasuki ruang kantor CEO tersebut dengan bahagia dan berganti ekspresi sedikit datar.


"Kejutan. Eh kakak ada apa ini?" Tanya gadis itu menggeleng menyuruh pegawainya pergi.


Lelaki itu melonggarkan dasinya dan menarik nafas panjang lalu melemparkan sebuah berkas ke gadis tersebut.


"Kenapa kau disini." Nada sedikit sinis.


"Kejutan, ya kejutan. Mendekati lelaki itu. Harusnya kau senangkan aku sudah pulang." Bisiknya di telinga lelaki itu lalu memijat bahunya.


"Astaga, bagaimana studimu?" Menoleh ke gadis itu.


"Kakak, kau pikir aku bodoh. Memperlihatkan sertifikat kelulusan. Mulai besok aku akan masuk kantor membantumu." Ucapnya pergi ke sofa yang ada di depan meja kerja lelaki itu.


"Kau sudah beritahu ibu?" Tanya lelaki itu sambil menaikkan Kedua kakinya dan menatap tajam gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah adik perempuannya.


"Tidak. Tak perlu. Kejutan untuknya besok di acara pemegang saham. Sambil memainkan rambutnya. Kakak bisakah kau memberikanku apartemen." Memasang wajah memelas agar dikasihani.


"Untuk apa?" Tanyanya dengan nada datar tak seemosi saat tadi 


"Aku ingin tinggal mandiri. Boleh ya, ayolah." Membuat senyuman manis.


"Baiklah, asal kau tak mengacaukan perusahaan ini saja kedepannya. Menelpon tangan kanannya. Kau sediakan apartemen untuk adikku ini 15 menit lagi bawa dia keluar dari kantorku." Mematikan telepon.

__ADS_1


"Terimakasih kakak aku. Mendadak tersenyum manja. Tapi tolong rahasiakan dari ayah juga ya kak. Ok. Aku pergi dulu. Terimakasih kak." Melambai.


Pintu terbuka dan seorang lelaki sebagai tangan tangannya mempersilahkan gadis itu mengikutinya.


"Kak, aku menantikan makan malam denganmu. Menoleh ke lelaki itu. Saranghae." Ucapnya dan pergi.


"Astaga Icha, Icha." Memegangi Kepalanya.


Bagaimana dengan perasaan lalu? Perasaan yang kerap sekali mengganggumu dan diriku sendiri. Aku terlalu lelah untuk kembali namun aku lebih lelah jika harus mencari orang baru yang memahami dan mengerti diriku.



Kepindahan ke sebuah apartemen yang tak jauh dari hotel yang mereka tempati.


Anak lelaki itu membuka sebuah kotak di dalam koper mamanya. Terlihat sebuah gelang bagus dengan merk ternama.


 "Ma ini punya mama? Kok seperti untuk lelaki." Mencobanya dan sangat kebesaran.


Wanita itu langsung kaget dan mengubah ekspresinya.


"Oh iya sayang itu milik mama. Ucapnya mengambil gelang tersebut dari anak itu dan kembali memasukkannya ke dalam kita tersebut. Ayo sini bagaimana dengan ruangan ini menjadi kamarmu?" Tanya wanita itu.


"Baiklah, ayo kita bersiap-siap untuk berbelanja kebutuhan kita sayang. Sebelum itu izinkan mama ke sebuah kantor mengantar lamaran kerja mama ya." Mendekati anak itu dan mengusap keningnya.


"Siap ma, nanti mama panggil aku saja. Ada hal yang harus aku kerjakan disini." Ucapan berbaring telentang di kasur.


"Baiklah sayang." Keluar dari kamar anak tersebut.


"Baiklah, berdasarkan rumus bujur sangkar dan rumus lainnya sepertinya aku senang sekali jika kamar ini aku desain lebih berbeda dari kamarku di Inggris. Menatap kearah atap dan mengukur setiap detail dan ukuran yang di mau. Baiklah saatnya membeli beberapa alat tulis, cat dan beberapa peralatan kebutuhanku. Untung saja paman memberiku kartu card hitamnya." Dengan mata berbintang dan senyum yang lebar.


"Ayo Key kita berangkat." Ucap mamanya dari luar kamar.


"Siap ma, aku datang. Ma boleh tidak aku membeli pad untuk menggambar? Ada beberapa desain yang ingin ku lukis sebagai gambar tridi." Mengeluarkan mata berbinar.


"Baiklah sayang. Sambil mengemudi. Mama masuk ke kantor ini dulu ya, kamu tunggu di lobby sebentar." Ucap wanita itu.


"Baiklah ma. Ma boleh tidak. Ah nanti saja ma. Cepat kembali ma." Ucap anak tersebut.

__ADS_1


"Baiklah sayang. Jangan kemana-mana ya." Perintah mamanya.


"Siap bos siap." Memberi hormat.


Wanita itu tersenyum dan melambaikan tangan memasuki lift.


Seorang gadis tiba-tiba saja melewati anak kecil itu dan berhenti, menoleh ke arah anak tersebut. Dan berdiri dengan elegannya, memakai kemeja dengan rok span terbelah sampai paha putihnya. Lalu gadis itu jongkok di depan anak itu dan membuka kacamatanya.


"Hei anak kecil kenapa kau bisa terdampar disini." Menatap anak itu yang sibuk membaca sebuah majalah dan menyadari suara yang sangat ia kenali.


Anak lelaki itu menatap dan kaget menatap gadis yang di depannya adalah tantenya.


"Ahhh. Kakak Icha. Spontan memeluk gadis itu. Key rindu." Peluknya.


Seorang pegawai yang mengikutinya terheran melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Pak saya ada urusan sebentar dengan anak ini, titipkan saja kunci rumah ke alamat hotelku yang ini. Kau boleh pergi." Ucapnya dalam keadaan memeluk anak itu.


"Baiklah nona. Saya undur diri dahulu." Ucapnya.


"Tante. Eh kakak Icha kemana saja? Uncle bilang kakak masih di USA." Spontan mulut anak kecil itu di tutupnya dan menggendong anak tersebut.


Di Cafe sebelah perusahaan sambil memakan es krimnya.


"Hei anak kecil, apa yang kau lakukan disini." Mengetuk mejanya.


"Aku dan mama pindah ke sini baru juga beberapa hari. Tante eh salah, maksudnya Kakak Icha sudah bertemu Uncle Lana?" Tanya anak itu sambil memakan esnya.


"Belum, aku ingin memberikan kejutan padanya, mau bantu aku." Ucapnya sangat bersemangat lalu merapikan rambutnya perlahan.


"Boleh saja tante tapi kita harus kembali dahulu ke tempat tadi, aku takut mama mencariku." Menatap esnya yang sudah mulai menghabis.


"Baiklah, ayo kita kembali. Sepertinya mamamu melamar di perusahaan saya." Ucap gadis itu menyombongkan diri.


"Benarkah, wah luar biasa sekali ya dunia sangat sempit." Pungkas anak itu berjalan memasuki lobby.


Pandangan histeris wanita itu tak menemukan anak yang dia tinggalkan disana sekitar 20 menit membuatnya gusar. Sosok anak itu terlihat dari balik pintu masuk, wanita itu langsung berlari memeluknya. 

__ADS_1


"Sayangku kau membuat mama khawatir." Memeluknya sangat erat.


__ADS_2