
Pagi itu terlihat melelahkan, lelaki itu yang biasanya tidak pernah terganggu oleh apapun dan siapapun melangkah dengan kakinya menuju kantor membawa secangkir kopi panas di tangan kanannya dan ponsel di tangan kirinya.
Sambil menunggu lift dan sedikit berkaca, terlihat seorang gadis cantik berambut panjang sepinggang berdiri tepat di sampingnya. Lelaki itu sedikit melirik.
Bel lift berbunyi mereka masuk bersamaan, gadis itu mengenakan dress putih dan kacamata hitam pagi itu. Bel lift berbunyi kembali, Ken barus sadar mereka turun di lantai yang sama.
Ken berjalan meninggal kan gadis itu, gadis itu tampak kebingungan melihat apa yang ia bawa tidak ada.
"Astaga aku lupa." Dan berbalik menunggu lift kembali, terlihat sosok yang ia tunggu ada di hadapannya baru saja keluar lift menyapa seseorang yang bersamanya tadi di lift gadis itu menoleh.
"Hai tuan Ken, ada apa di kantorku pagi-pagi begini." Ucap Arfandy melewati Lily.
"Ah tuan Arfandy apa kabar, aku disini ingin mengerjakan suatu proyek bersamamu atas utusan pak CEO kita." Gerutunya.
"Baiklah silahkan mari ikut aku ke kantorku." Sambil berjalan bersama menuju kantornya.
"Ah tuan yang barusan pak Arfandy, sangat tampan, aku harus bisa bekerja sama dengan perusahaan kami." Menghela nafas dan berbalil menabrak seseorang.
Gebrakk.
Gadis itu hampir jatuh dan ditangkap oleh seorang lelaki membuat rambut panjangnya berkibas. Posisi pinggang Lily dipegang oleh Lana dan kembali ke posisi semula.
"Astaga maafkan aku pak." Ucap Lily sambil menunduk.
"Ah iya maaf juga nona. Kau mengagetkanku. Kalau begitu aku permisi dahulu." Ucap Lana dengan tampilan beda selama ia menjadi CEO menggantikan Arfandy.
Setelah kejadian setahun lalu, Arfandy melepaskan jabatannya sebagai pemimpin perusahaan di Indonesia dan digantikan oleh adik lelakinya itu. Ya walaupun Arfandy tau Lana juga menjabat menjadi CEO di perusahaan IT nya juga.
Lana berjalan maju ke depan dan menatap kakaknya sedang berbincang dengan mantan pacar tunangannya itu.
"Ah pak Ken ketemu lagi, bagaimana malam mu, indah bukan?" Tanya Lana sedikit mengejek.
"Ah pak Lana bisa saja. Baguslah kalian disini ada sesuatu yang ingin ku bahas." Ucap Lelaki itu.
"Mari masuk kantor." Ucap Arfandy.
Lily mendadak mengurungkan niatnya menemui CEO perusahaan tersebut. Dan berada di mobilnya mencari tahu profil kepemilikan perusahaan Bioteknologi Farmasi tersebut.
Setelah beberapa lama meng scroll profil wajah Arfandy, Lana dan tunangannya Icha.
"Astaga dunia ini sangat sempit. Lily melihat foto pertunangan yang di unggah di sosmed oleh akun-akun gosip terpercaya. Mereka saling kenal. Memperbesar foto pertunangan Lana dengan Icha yang ada gambar Keila juga. Apakah sebaiknya aku menggoda kakaknya saja, agar mau bekerja sama dengan perusahaanku. Setidaknya dia lebih baik daripada Arya." Gerutu Lily melemparkan tabletnya ke jok kanan mobilnya.
Lily memutar mobilnya dan kembali ke perusahaannya dengan senyuman mematikannya.
Lelaki tua itu berada di perusahaannya sambil melihat koran pagi ini, seperti biasa memakai kacamatanya membaca beberapa berita yang menurutnya bagus.
"Maaf tuan, nona Lily datang menghadap anda." Ucap Sekretarisnya.
Lelaki itu meletakkan korannya dan memperbaiki kacamatanya.
__ADS_1
"Biarkan dia masuk." Ucap Lelaki itu.
Gadis itu masuk dengan dres putihnya, dan memberi salam kepada Ayahnya.
"Selamat pagi pak Presdir. Saya mau melaporkan pengusungan proposal saya ke Bioteknik Farmasi milik perusahaan Pak Arfandy. Sambil memberikan beberapa proposal kerja ke ayahnya. Sebelum itu saya mohon izin kepada anda." Menatap wajah lelaki itu mencoba menemukan jawaban saat itu juga.
Lelaki itu membolak balik proposal kerjanya.
"Baiklah, lakukan apapun yang akan menjadi milikmu. Setidaknya kau harus mempertahankan apa yang kau miliki saat ini." Tegas lelaki itu.
Tangan Lily sedikit mengepal dan menggeram namun ia menahannya dengan senyuman.
"Baiklah pak akan saya kerjakan. Saya permisi dulu." Menunduk dan langsung keluar dari kantor ayahnya.
Lelaki tua itu menatap anak bungsunya itu keluar dan kembali membaca korannya.
"Coba cari tahu apa yang ia lakukan di belakangku, apakah sesuai dengan pekerjaannya? Tetap awasi dia dan melaporkan semua pergerakannya kepadaku. Jangan sampai dia mengganggu Keila, dan jaga baik-baik cucuku dari jauh." Ucap Lelaki itu.
"Baik tuan akan saya laksanakan." Ucap sekretaris kepercayaan Ayah Keila.
"Tak ada yang boleh menyakiti putriku termasuk adiknya sendiri." Batin Lelaki tua itu.
Di sekolah Keyran, taman bermain ini banyak sekali kenangan, sepertinya akan banyak hal yang lebih menyenangkan setelah luka dan kesedihan.
"Arfandy. Astaga aku terlalu banyak menyakiti nya, bahkan aku belum menyambut kepulangannya seperti mengadakan makan malam bersama." Sambil berjalan mengelilingi sekolah tersebut.
"Wah dia cantik sekali, seperti seseorang. Mendadak mengingat kakak kandung Arya. Astaga mirip sekali dengan Liana." Batin Keila dan mengabaikan anak tersebut.
Gadis itu menatap anaknya sedang serius belajar dan mencoba mewujudkan apa yang ia mau seperti Ayahnya. Tiba-tiba saja aku teringat tentang masa laluku saat ibu menjemputku dan menungguku usai selesai belajar.
Bel kelas pun berbunyi. Anak-anak bergegas membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas mereka masing-masing. Terlihat hanya Keyran yang belum memasukkan buku gambarnya ke tasnya.
"Astaga anak itu pasti selalu bosan saat tidak ada yang menjemputnya dengan cepat dan menghabiskan waktu seorang diri di kelasnya. Gadis itu menghampiri anak lelaki kecil itu. Hai sayang, apa yang kamu lakukan." Sambil menatap gambar anaknya tersebut.
Anak itu menghentikan gambarnya dan menatap mamanya.
"Ini ma aku mencoba menggambar komik. Wah tumben mama yang jemput." Tanya anak lelaki itu sambil membereskan alat tulisnya.
"Mama kan gak mau anak mama kesepian karna mama dan ayahmu bekerja." Ucap Gadis itu mengelus lembut kepala anaknya.
"Tenang saja ma, aku baik-baik saja." Ucap anak itu dengan senyuman.
"Mulai besok ayahmu memperkerjakan supir pribadi untukmu. Maafkan mama ya sayang. Memeluk anak itu. Apakah kau merasa berat berada di keluarga ayahmu dengan banyak skedul yang telah ditentukan untukmu?" Masih memeluk anaknya.
"Tenang saja ma tak apa. Aku bisa mengatasinya, lagipula mama dan ayaj sibuk dan apapun yang diwajibkan untuk ku lakukan adalah hal yang aku sukai semuanya." Menenangkan ibunya.
"Anak sekecil ini mampu menenangkanku. Batin Keila. Sayang, kamu masih mudah dan sangat kecil kamu masih harus bermain dan melakukan hal yang menyenangkanmu. Baiklah mari kita makan siang bersama." Ucap Wanita itu menggandeng tangan anaknya menuju parkiran mobilnya.
Terlihat gadis kecil itu sedang menunggu jemputannya. Diam meratapi mobil yang tak kunjung menghampirinya.
__ADS_1
"Astaga anak permen karet. Ucap Keyran mendekati anak tersebut. Hei nona permen karet." Ucap Keyran.
"Kamu." Tunjuk gadis kecil itu.
"Kamu sekolah disini juga?" Ucap Keyran.
Anak gadis kecil itu mengangguk ia.
"Aku kelas 1 - A kamu?" Tanya gadis itu yang tadinya berwajah kusam menjadi sedikit bercahaya dan cerah.
"Aku di kelas 2 - A. Perkenalkan mamaku." Ucapnya.
"Hy tante. Salam kenal Alya." Ucap gadis kecil tersebut.
"Ah hy sayang, aku mamanya Keyran." Mencubit lembut pipi anak tersebut.
"Ah jadi namamu Keyran." Ucap gadis kecil itu malu.
"Ah iya." Keyran sedikit menggaruk kepalanya.
Terlihat seseorang lelaki berlari kesana kemari danenghampiri mereka.
"Astaga Alya maafkan papa menjemputmu." Ucap Arya setengah terengah engah dan menatap gadis itu adalah mantan kekasihnya dulu.
"Ah Arya." Ucap Keila.
"Ah Keila. Kamu." Menunjuk Keila dan melihat anak kecil itu dalam genggaman gadis itu.
"Anakmu." Ucap Keila.
Arya hanya mengangguk, "Benar, anakku. Boleh kita bicara sebentar." Ucap Arya.
Sedikit terdiam dan tak ada jawaban.
"Ma ditanya paman." Ucap Keyran.
Gadis itu mendadak melamun.
"Ah iya boleh. Jawab Keila dengan senyuman. Tidak apa kan sayang?" Menoleh ke arah Keyran.
Anak kecil itu mengangguk kepada Keila dan Alya menatap Keyran sambil mengangguk juga.
"Semoga Arya tidak melakukan hal konyol seperti di rumah sakit lagi seperti tahun lalu." Batin Keila.
"Sepertinya Keila lebih santai dan tak seperti tahun lalu yang kaget melihatku." Batin Arya.
Beberapa kemungkinan itu pasti, beberapa lagi tidak pasti. Jadi kamu berada di antara mana?
__ADS_1