
Gadis itu merebahkan badannya dan mengingat kembali kejadian masa lalu dan tersenyum sendiri. Lalu menatap langit-langit kamar hotelnya dan memiringkan badannya ke kanan dan memejamkan matanya. Malam itu berlalu begitu saja sambil memimpikan kejadian lalu
Di tangga menuju kampus universitas, lelaki itu duduk dengan santainya sambil membaca buku tersebut dengan kacamata putih bening yang ia kenakan.
Gadis itu menatap lelaki itu dan berbalik kebelakang membelakanginya lalu menatapnya lagi.
"Ayo Prilly kamu bisa." Sambil memegang sekotak coklat yang ia beli untuk Leon.
Gadis itu menyapa lelaki itu dan hendak memberikan coklat itu. "Leon ini coklat dari Dubai." Ucapnya.
Belum sempat kotak itu sampai kepada Leon, Ken sudah menyambarnya terlebih dahulu dan duduk tepat di samping Leon.
Lelaki itu membukanya dan melihat isi didalamnya.
"Wah Leon mendapat coklat dari Ratu kampus kita. Mengambil coklat itu dan langsung memakannya. Kau mau Leon?" Ucap Ken mendekatkan sekotak itu kepada Leon.
Prilly hanya menatap Ken saat Ken memberikan coklat itu kepada Leon.
Leon hanya menatap kotak itu dan menggeserkan kotak tersebut dengan bukunya.
"Kau lupa Ken, aku tidak suka makanan manis. Leon bergegas bangun dan berdiri sambil menatap jam tangannya. Ayo, jam kuliah kita sudah dimulai." Ucapnya tanpa menatap Prilly.
"Ah baiklah. Ken berdiri dan memberikan coklat itu kembali ke tangan Prilly. Coba lagi ya sayang, cara ini tidak berhasil." Ucapnya.
Gadis itu hanya sedikit tercengang melihat Leon dan Ken meninggalkannya. Beberapa gadis di sana menghampiri Prilly dan memberinya semangat.
"Tenang aja sayang, nanti juga dia akan bertekuk lutut kepadamu." Ucap salah satu gadis itu memeluk Prilly.
"Ah baiklah, mari kita masuk ke ruangan." Ucap Gadis itu sambil memberikan coklat diamond tersebut kepada teman-temannya.
"Baiklah sayang." Mereka bersorak dan berjalan menuju ruangan mereka.
Prilly dan teman-temannya memilih bangku kuliah tepat di tengah dan menatap dua orang tersebut duduk di sebelah kiri depan mereka sambil menatap dengan serius pelajaran yang ada.
"Wah Prilly kau dan dia cocok sekali ya, sama-sama satu negara dan sama pintar." Sambil menyenggol lengan gadis itu.
Gadis itu tersenyum dan merasa bahwa dialah yang terbaik diantara para gadis yang berusaha mendekati Leon.
"Udah ah, pelajaran sudah dimulai tu." Pungkas Prilly menatap ke depan sambil melirik ke arah Leon.
__ADS_1
Beberapa keyakinan yang berlebih terkadang dapat membuat rasa kecewa dihati lebih besar dan beberapa rencana terkadang hanya sebagai rencana saja. Jika pada akhirnya tak sesuai rencana tak mengapa, kita sudah cukup berusaha.
Gadis itu terbangun dari tidurnya dan menatap kearah jendelanya. Terlihat menara eiffel yang berdiri dengan tegaknya. Sambil duduk di atas kasurnya berselimut dan menikmati seduhan coklat kesukaannya.
Disisi lain, Keila dengan Leon bersiap-siap membawa Keyran berjalan-jalan mengelilingi galeri yang ingin mereka kunjungi.
"Ayah, Ibu haruskan kita pergi menonton bioskop 4D disini?" Tanya anak itu sambil memakai jasnya sendiri.
"Boleh saja sayang, tapi selesai acara kira yang satu ini ya." Masih membantu Leon merapikan dasinya.
"Terima kasih sayang." Ucap Leon.
Gadis itu tersenyum menghampiri anak lelakinya itu yang sedang berada di depan cermin.
"Apakah kau perlu bantuan sayang?" Ucap Keila.
"Sepertinya aku butuh bantuan untuk memakaikan dasi kupu-kupuku ibu." Ucapnya.
"Baiklah sini ibu rapikan. Pungkasnya, Gadis itu merapikan dasi anaknya dan pembantunya. Nah sudah selesai." Ucapnya.
"Terima kasih ibu. Haruskah aku mengajak Uncle dan bibi Icha?" Tanyanya sambil memegang tabnya.
"Baiklah ibu." Gumamnya.
Terdengar suara ketukkan pintu, lelaki itu berdiri sambil bersandar di tiang pintu.
Leon membukakan pintu tersebut dan menatap Ken.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Tiket kalian, aku tidak akan mengantar kalian. Aku Ingin Menyendiri dua hari ini, jika butuh sesuatu telepon saja. Tapi ingat jangan menggangguku." Ucap Ken.
"Haha. Leon tertawa sambil melipat tangannya, memangnya kau bisa menyendiri?" Tanya Leon.
"Entahlah." Ken menaikkan kedua bahunya dengan tangannya lalu melambai dan pergi.
Gadis itu menghampiri Leon dan bertanya, "Itu siapa?" Menatap punggung lelaki itu.
"Ken. Ini." Memberikan tiket tersebut.
__ADS_1
"Ahh iya, mobil sudah stand by?" Tanyanya.
"Sudah sayang." Sambil memeluk gadis itu dari belakang.
"Ayolah hentikan, kita ada acara penting. Bermesraannya lain kali saja." Ucap Keila terburu-buru menyiapkan apa yang dibutuhkan.
Namun Leon tetap memeluknya dan menggodanya. Membuat kedua orang tersebut kejar-kejaran. Keyran yang sibuk dengan gambarnya menggeleng melihat kedua orang tuanya bermesraan.
"Astaga, jiwa mereka merasa masih muda saja. Gerutu anak kecil itu sambil menarik garis di layar tabletnya. Astaga aku rindu sekali paman terbaikku." Ucapnya sambil tangan menahan dagunya.
…
Lelaki itu berhasil terbang dan sampai di kota kelahirannya, udara disini begitu pekat dan sangat hangat.
"Sepertinya aku tiba lebih cepat dari jadwalku yang sudah ditetapkan ya Keil. Ucapnya lalu memukul kepalanya. Astaga tetap saja sudah dua tahun lebih aku masih memanggil namanya." Sambil menggelengkan kepalanya dan menarik kopernya menuju mobil yang telah ia sewa.
Lelaki itu mengemudi dengan santai dan menikmati semua jalanan yang ada di Ibu kota dan menelpon adik kesayangannya.
Panggilan berdering dan diangkat.
"Hallo Lan, kamu dimana? Kakak dalam perjalanan ke apartemen." Ucap Arfandy.
"Astaga kakak di Jakarta? Aku seminggu di Paris, beberapa hari lagi aku pulang." Ucapnya.
Icha memegang tangan Lana dan menariknya. "Udah ayo buruan, aku mau kesana." Ucapnya.
"Ya ampun. Lelaki itu kembali menepuk jidatnya. Kenapa tidak kabari aku, agar aku terbang kesana saja." Pungkasnya sambil mengemudi agak lambat.
"Ah maaf kak. Ucapnya pada Arfandy di ujung telepon. Icha sayang sabar, kakak sedang menelepon." Pungkas Lana.
"Ah kak Arfandy? Gadis itu langsung merebut telepon kekasihnya dan mengganti mode Video Call. Hei kakak, semakin hari semakin menghilang dari dunia, ayo kemari. Kami bersama keponakanmu tercinta dan kedua orang tuanya, udah dulu ya sampai nanti." Mematikan teleponnya dan mengembalikan kepada Lana.
"Astaga kau ini." Ucap Lana.
"Udah yuk buruan masuk ke Sea Aquarium." Gerutu Icha yang sangat antusias.
"Iya iya sayang." Mengikuti gadis itu sambil memasukan ponselnya ke dalam kantong bajunya dan tersenyum menatap tunangannya itu.
Lelaki itu menggas mobilnya dan menemui klien yang ada di Jakarta. "Sepertinya setelah satu klien ini aku juga harus liburan." Gerutunya.
__ADS_1
Banyak kemungkinan yang ada, yang tidak mungkin itu adalah tidak menjadikannya sebuah rencana. Ya walaupun kebanyakan rencana tidak berjalan baik dan mulus, pada akhirnya jika konsisten dapat bertemu finishnya sesuai versinya bukan?