Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
28. Menolak perjodohan


__ADS_3

Malam-malam seperti biasa, rumah megah nan mewah namun hanya dibalut kesedihan. Keheningan yang menusuk, lelaki itu berada di kursi samping jendela kamarnya membaca bukunya dengan syal tua yang di pakai di lehernya.


"Andai saja kau masih hidup ibu. Gerutu Leon malam itu. Bulannya tampak cantik bu, tapi tak secantik dirimu." Pungkasnya menutup bukunya, menutup tirai jendela kamarnya dan pergi tidur berselimutkan kesepian.



Di kantor semua pegawai dan para staff sangat sibuk menyiapkan peluncuran terbaru produk perusahaan, termasuk Keila dibantu oleh Ken dalam mencari banyak bahan dan para model baru untuk catwalk sebagai peraga busana.


Ken meninggalkan Keila dan memberi beberapa pekerjaan baru padanya.


"Ayo semuanya, waktu sudah semakin dekat. Ingat kita harus tetap semangat." Ucap Ken kepada para Pegawai dan Staff.


"Baik pak." Serentak mereka menjawab dan kembali ke meja kerjanya masing-masing.


Ken melihat ponselnya dan takjub melihat postingan Keyran tersebut, memasuki kantor Leon dan menunjukkan tabnya padanya.


"Kamu lihat postingan anak kamu? Sangat bagus bagaimana jika dia menjadi artis cilik kita?" Tanya Ken sekaligus mengusulkan.


"Ide yang bagus, akankah ibunya setuju akan hal itu?" Tanya kepada Ken.


"Sepertinya Keila akan setuju, secara di London mereka sering mengadakan pagelaran seni." Ucapnya.


"Hmm benar juga. Coba kau cari konsep yang cocok untuk anak itu." Usul Leon.


"Baiklah aku akan buat semuanya tampak tak sengaja." Ucap Ken keluar dari kantor Leon menuju ke kantin perusahaan.


Ken menatap Icha yang sangat bahagia sore itu dan menyapanya.


"Hai kakak." Ucap Icha mengantri makanan di kantin.


"Belum makan juga?" Tanya Ken melihat jam tangannya sudah jam 3 sore.


"Belum. Mengambil tempat makannya dan mengisi makanan. Mau duduk bareng?" Tanya Icha.


"Boleh." Mengangkat piringnya dan duduk disamping gadis itu.


"Bagaimana pekerjaan kalian?" Tanya gadis itu sambil memakan makanannya.


"Bagus dan baik semuanya berjalan dengan lancar. Hmm kelihatannya kali ini kau terlihat lebih baik dari kemarin adik kecil." Pungkas Ken.


Hal itu membuat Icha sedikit malu dan wajahnya memerah.

__ADS_1


"Kakak. Teriaknya dan tak sadar. Eh maaf, maaf semuanya." Ucapnya memukul dada Ken.


"Aw. Dari dulu tak pernah berubah, belajar beladiri dimana." Ucapnya lalu tertawa bersama.


Leon dan Keila yang mau mendatangi kantin mendadak tak jadi.


"Eh tuan ada apa?" Tanya Keila.


"Tak apa. Kita makan diluar saja ya." Ucapnya langsung menarik tangan Keila tanpa ia mengatakan maunya gadis itu.


Perasaan Keila semakin gugup ketika dia berduaan dengan bos nya di dalam mobil. Dia tak tau harus melakukan apa setelah ini dan memasang wajah seolah tak terjadi apapun.


"Kau kenapa gugup? Tanyanya sambil menyetir Leon menoleh ke arah gadis itu. Astaga kenapa dia begitu cantik?" Gumam Leon dalam hati.


"Ah tidak pak, sepertinya saya kepanasan." Ucapnya.


Atap mobil terbuka wajah memerah Keila begitu tampak, Leon menyadarinya dan memasang kembali atap mobilnya dan hanya membuka kaca pintu mobilnya.


Jantung Keila berdegup sangat kencang.


Deg. Deg. Deg.


Sesampainya di sebuah mall.


"Kita makan sore ini bersama klien besar kita sekalian pendekatan pada mereka. Bisik Leon mendekat kepada Keila dan membuka sabuk pengamannya. Kita sudah sampai Ayo turun." Ucap lelaki itu menuruni mobilnya.


Jantung Keila kembali berdegup kencang.


"Astaga lelaki itu paling pandai dalam membuat wajahku semerah tomat." Keluar mobil sambil memegangi dadanya.


Semua mata menatap mereka berjalan bak pasangan serasi, dan banyak berbisik cocok sekalinya. 


Leon menatap gadis itu yang semakin lama semakin lambat berjalan, lelaki itu menggenggam tangannya dan membuat Keila kaget.


"Tenanglah, pertemuan kali ini bantu aku. Aku tak mau mereka menjodohkanku dengan anak mereka. Bisiknya. Ayo masuk." Memasuki Restoran.


Keila hanya mengangguk menatap tangannya dan tangan Leon bergandengan, namun dia masih bisa menempatkan mana masalah pribadi dan pekerjaan.


"Hallo selamat sore pak." Ucap Leon dan Keila.


Mereka disambut oleh kedua orang tua yang tak lain tak bukan adalah orang tua Leon. Leon dan Keila duduk bersama mereka.

__ADS_1


"Jadi dia wanita yang kau pilih untuk menjadi istrimu dan tak mengiyakan pilihan ibumu ini untuk menikah dengan Prilly." Ucap Ibu tirinya.


"Dengan berat hati. Sambil menggenggam tangan Keila dan menatap kedua orang itu. Saya menolak segala bentuk perjodohan saya atas dasar dan asas apapun, dan saya berhak memilih pasangan hidup saya. Terimakasih saya undur diri dahulu." Menatap Keila dan membawanya berdiri untuk pergi.


Hampir saja segelas air disiram ke wajah Keila namun dengan cepat Leon menghalangi dengan tubuhnya.


"Kebiasaan burukmu selalu saja melemparkan sesuatu kepadaku. Seharusnya kau tak perlu ikut campur dalam masalah hidupku. Karena kau bukan ibu kandungku." Mengecam wanita itu dan membawa Keila pergi.


"Sudah ku katakan dia bukan anakmu takkan pernah mengikuti perintahmu." Lelaki itu meninggalkan istrinya.


"Astag tuan itu panas sekali ya? Pak Leon, pak Leon. Pak?" Keila memanggil Loen yang dari tadi menggendongnya pergi.


Lelaki berbalik dan memeluk erat Keila, gadis itu bingung dan hanya membalas pelukannya.


"Sudah pak, sudah. Semuanya sudah tidak apa-apa." Ucap Keila menepuk-nepuk punggung lelaki itu.


Malamnya apartemen Keila.


Persiapan untuk penyambutan majalah fashion terbaru yang akan diluncurkan perusahaan Angkasa Bintang memiliki standar yang cukup tinggi , selain meluncurkan banyak pakaian fashion dan juga mengembangkan model-model cilik hingga dewasa. Ketertarikan seni pimpinan perusahaan menciptakan wadah baru di sanggar seni rupa untuk lukisan dan berbagai macam lagi.


Kali ini Keila menjadi sangat sibuk dari biasanya karena bos nya tersebut terlalu mementingkan detail yang ada dan selalu teliti akan apapun.


"Ma sebenarnya Uncle Lana kemana si? Apakah dia sedang asik dengan para buaya betina disini sehingga tidak sempat bermain denganku lagi. Sambil rebahan mencorat-coret gambarnya dan berbalik menatap mamanya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Maa … mama." Ucap anak itu.


"Ah iya kenapa sayang?" Tanya ibunya tersebut.


Menepuk jidatnya.


"Hadewww. Menghela nafas panjang. Ma kenapa Uncleku tidak pernah menghubungiku lagi?" Tanyanya.


"Ah uncle sedang sibuk dengan kejuaraan gamingnya." Ucap wanita itu.


"Ah benarkah? Aku kira dia sibuk dengan para buaya betinanya. Hmmm mana tablet ku, ah ini dia. Mengambil tab nya. Ma Keyran main nonton uncle dari Youtube boleh?" Tanyanya.


"Tentu saja sayang, jauhkan dari mata ya 30 cm. Jangan sampai mata kamu jadi sakit karena pantulan cahaya tab kamu." Ucap wanita itu mendekati anak tersebut sambil membawakan cemilan roti dan susu nya lalu kembali kemejanya.


"Wah ma. Kelihatannya uncle masuk ke babak penyisihan. Asyik menonton unclenya. Ternyata selain jago trader dan banyak di gandrungi para wanita dia juga hebat sebagai youtuber gaming" gerutu anak itu dengan serius menatap layar tab nya.


Keila yang sedari tadi lembur di apartemennya mengingat kejadian pelukan di Mall bersama bos nya membuatnya terngiang-ngiang.


"Astaga Keil apa yang kau pikirkan? Mengacak-acak rambutnya dan mengibgat kembali lelaki itu memegang tanganhya dan mengatakan kepada orang tuanya dia akan menikahinya. Astaga aku berkhayal lagi menyadari apa yang ia perbuat lalu menatap anaknya. Anakku sayang. Memeluk anaknya. Setidaknya aku bisa memeluk anakku." Gumamnya malam itu.

__ADS_1


__ADS_2