
Sesuatu yang direncana akankah berjalan sesuai rencana? Mungkin kita akan menyadari banyak hal tentang sesuatu yang menjadi kemungkinan dan ketidakmungkinan itu sendiri kebanyakan besar berkemungkinan manusia menginginkan rencananya berjalan sesuai rencana.
"Hmmm. Apa-apaan aku sore itu? Mengingat kejadian pada sore itu. Astaga, padahal ingin sekali kulumat bibir indahnya itu." Pungkasnya sambil menenggak minumannya.
…
Perusahaan seakan pasar yang banyak sekali orang-orang sibuk lalu lalang di dalamnya. Perencanaan peluncuran sudah mau selesai dan kinerja para pegawai sangat-sangat bagus.
"Tolong bagian dekorasi ini di cek kembali ya. Memantau Aula tempat Launching yang akan diadakan besok malam. Hmm yang ini sorotan lampunya kurang pas tolong di ganti yang lebih terang lagi dan bangku VIP harus jelas siapa-siapa saja yang duduk di deretan bangku itu." Pungkasan Keila.
Banyak para pegawai menghargai kinerja Sekretaris baru CEO mereka tersebut, selain sigap dan cekatan bahkan dia lebih penyabar.
Leon dan Ken mendatangi tempat tersebut dan memeriksa ulang. Dari satu tempat ke tempat lain di arahkan oleh Keila. Leon tampak senang dan mengangguk bahkan beberapa kali tersenyum.
Hal itu membuat para pegawai dan staf tempat tenang dan santai menjalani pekerjaannya kali ini.
"Wah CEO kita tampak lebih ramah saat ini ya tak sedingin es seperti yang lalu-lalu." Bisik salah satu staf. Dan salah satu staf lainnya mengiyakan.
Leon mendadak berhenti melihat meja penerimaan tamu.
"Aku ingin melihat undangan yang menghadiri acara ini. Ken memberikan berkas padanya dan Leon langsung memeriksanya. Hmm ini dan ini tolong dihubungi apakah mereka bisa menghadiri acara ini dan satu lagi, jika acara ini sukses akan ada kenaikan gaji untuk kalian berdua." Pungkas Leon.
Ken hanya mengepal tangannya, "Yes bonus." Menatap Keila yang hanya tersenyum.
Gadis itu memeriksa kembali VIP dan para model di dalam berkas tersebut sedikit lalu kaget melihat nama anaknya ada di list tersebut.
Gadis itu mengejar Ken dan Leon yang ada di depannya.
"Ah maaf pak Ken ini." Menunjuk.
"Ah kami menyadari ada seorang anak yang sangat berbakat dan cukup bagus untuk mengikuti event seni selanjutnya. Jadi kami ingin dia opening di acara ini. Pungkas Ken, Ken yang pura-pura tidak tahu itu bertanya kembali. Memangnya kenapa?"
Keila hanya menggeleng, "tidak apa Pak." Berbalik melanjutkan pekerjaannya.
Keila berusaha tepat waktu dalam menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu dia pulang dan memberitahukan kabar baik itu kepada anaknya namun dia tidak melihat anaknya berada di apartemen mereka. Kebingungang kembali melanda gadis itu dan tak melihat catatan kecil yang ada diatas meja langsung lari ke resepsionis atau keamanan apartemen.
"Maaf pak, apakah anda ada melihat anak saya yang berumur 5 tahun?" Tanya gadis itu.
__ADS_1
"Ah, sepertinya dia dijemput oleh pamannya. Tadi dia menitip pesan kepada saya kalau dia meninggalkan surat di atas meja." Pungkasnya.
"Baik, terima kasih pak." Berlari ke arah lift dan cepat-cepat kembali ke apartemennya.
Terlihat sepucuk surat dan menyatakan bahwa dia berada di rumah Leon.
"Mama ku tersayang, tadi Keyran menerima email dari perusahaan mama dan sekarang sekarang berada di rumah paman Leon / rumah bos mama. Mama tolong jemput ya." Tulis di surat tertanda Keyran.
Gadis itu langsung mencari tas yang ia campakkan ketika mengetahui anaknya belum pulang dan mengeluarkan semua isinya dan menemukan telepon genggamnya.
"Ah tidak mati. Langsung menchasnya dan terlihat baterai 1 persen, gadis itu langsung mengambil power bank dan menuju rumah bos nya tersebut dengan kecepatan tinggi. Astaga Keyran kenapa kau bisa di rumah pak Leon." Batinnya sambil berkendara.
…
"Paman apakah ibuku sudah menelpon?" Tanyanya.
"Hmm sepertinya belum, kita lihat sekarang bagaimana pekerjaanmu." Ucap Ken.
"Ini paman, sepertinya model ini akan sangat terkenal." Pungkas anak itu.
Leon memasuki ruang kerjanya yang disana ada Ken dan Anaknya. Leon langsung menghampiri anak kecil itu.
Anak itu membatin."Apa benar orang inj ayahku, seorang CEO tampan yang ketampanannya aku warisi juga. Sambil berpikir keras. Hmm, ibuku memiliki gelang ini." Ucap anak itu dengan polos.
"Sudah kuduga. Batin Leon dan tersenyum mengelus kepala anak itu. Kau mau ini?" Menunjuk gelang itu.
"Ini sudah milikku." Menunjuk gambar itu.
"Bukan. Maksudku kau mau ini dijadikan barang sesungguhnya?" Tanya Leon sambil menaikkan alisnya.
"Bisakah?" Tanya anak itu.
"Tentu saja bisa. Aku Kan ayahmu." Menatap anak itu.
Anak kecil itu memeluk lelaki itu dan telihat sangat senang.
"Aku menantikannya ayah. Tapi ..." Dalam pelukan Leon.
__ADS_1
"Tapi apa?" Tanya Leon.
"Tapi kalau kau mau menjadi Ayahku bukannya seharusnya kau menikahi Mamaku?" Tanya anak itu dengan kepolosannya.
Leon sedikit kaget dan tersenyum.
"Aku akan menikahi ibumu jika dia mau menikah denganku." Ucap Leon.
"Baiklah, kau harus bersaing dengan Pamanku dahulu." Ucapnya pergi dari pelukkan Leon.
"Kau benar nak." Leon hanya menatap anak itu sambil menyilangkan kakinya dan bersandar di Sofa menatap anak itu menyelesaikan gambarnya.
"Aku sudah malas menggambar, aku bosan ayah. Boleh aku main piano di ruangan depan?" Tanya anak itu.
"Tentu saja, semua yang ada disini milikmu. Pungkas lelaki itu. Kau boleh minta apapum dariku." Pungkas lelaki itu.
"Baiklah, aku akan membereskan semua ini lalu pergi kedepan." Bersemangat merapikan alat tulisnya dan beberapa barang lainnya ke dalam tasnya dan pergi ke ruangan depan.
Ken menghampiri Loen yang sedang berfikir sejenak lalu memberikan jus jeruk dingin ke pipi Leon.
"Ah mengagetkan saja." Ucapnya.
"Jadi kapan kau mengungkapkan dirimu adalah lelaki pada malam itu dan anak itu adalah anakmu kepada Keila?" Tanya Ken duduk di sampingnya sedangkan anak kecil itu sudah memainkan piano di ruangan depan.
"Haruskah aku melamarnya ya?Haruskah?" Tanya Leon.
"Mungkin kau harus mencobanya, bagaimana jika?" Berbisik kepada Leon.
"Hmm. Sedikit berfikir. Baiklah." Leon mengiyakan.
"Bakalan Keren nih. Ken memberi Jempol pada Leon. Terlebih dahulu kita harus menyingkirkan Prilly." Ucapnya.
"Terserah kau saja." Sambil meminum habis Lemon tea dinginnya.
Keila yang begitu tersah-gesah berlari ke lift dan memencet kelantai paling atas itu bernafas satu-dua satu-dua.
Ting. Lift terbuka dan sampai pada lantai atas gadis itu berlari tepat di depan pintu apartemen bos nya tersebut.
__ADS_1
Masih terdiam dan menarik nafasnya. "Astaga apa yang harus ku perbuat. Mengingat-ingat kejadian pelukan itu. Sadarlah Keila abaikan urusan yang tidak penting itu." Batinnya memencet bel pintu.
Ceklek. Bunyi suara pintu terbuka terlihat gadis itu sangat kaget dengan seseorang yang ada di dalamnya.