Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 100


__ADS_3

“Sayang, aku pamit kerja dulu ya. Kamu beneran nggak mau ikut?” ucap Gibran pada naina yang mengantarkan dirinya kedepan pintu.


“nggak ah aku dirumah aja, aku capek pengen tiduran.” Jawab Naina dengan masih merengkuh lengan suaminya dengan manja.


“Kan di kantor juga bisa tiduran, beneran ini nggak mau ikut nanti kamu nelponon terus lagi.” Sekali lagi Gibran memastikan keputusan Naina yang tak ikut ke kantor.


“Disana aku bosen cuman sendirian, dirumahkan banyak orang. Jadi aku nggak bosen” pungkas Naina


“Ya sudah kalau nggak mau ikut, kamu hati-hati dirumah dengerin apa yang aku bilang jangan naik turun tangga kalau mau ke atas minta tolong bibi atau erlan kalau di sudah pulang” Gibran berpesan pada istrinya untuk tidak naik turun ke lantai atas karena usia kandungan Naina yang besar sehingga dia takut terjadi apa-apa nantinya.


“Iya..” jawab Naina.


“ya sudah aku pergi dulu” Gibran langsung mengecup kening Naina. Dia langsung berjalan pergi tetapi baru beberapa langkah saja naina sudah menahan tangannya.


“kenapa sayang?” tanya Gibran bingung.


“Kamu lupa..”


“Lupa apa?”


“Kan bener lupa, ini belum kamu cium” ucap Naina manja sambil mengusap perutnya.


“Oh iya aku lupa” Gibran langsung menunduk dan mencium perut besar istrinya. Dia mengecupnya dnegan cukup lembut sembari mengusap perut sang istri.


“Kamu jangan nakal ya, jangan buat mama kamu kesakitan nanti. Oke..jagoan papa”


“Aughh,” rintih Naina saat dia merasakan tendangan dari dalam perutnya.


“Kenapa sayang?” Gibran langsung melihat wajah istrinya yang tampak menahan sakit.


“Nggak, ini tadi dia cuman nendang pelang. Mungkin dia mengiyakan ucapan kamu barusan” jawab Naina sembari memegang perutnya sendiri.


“Kamu denger papa ya, anak pinter. Sudah dulu, papa berangkat kerja ya” sekali lagi Gibran mencium perut Naina setelah itu dia langsung pamit pergi.


“Dah sayang, kamu hati-hati ya dirumah” ucap Gibran sambil melambaikan tangannya berlalu pergi meninggalkan istrinya yang berdiri di depan pintu.


“Iya kamu juga hati-hati kalau nyetir mobil. Terus jangan lihat-lihat cewek lain di kantor, awas kamu” pungkas naina pada sang suami.


“Nggak akan aku lihat cewek lain, dadah” sahut Gibran dan langsung masuk kedalam mobilnya yang sudah siap terparkir di depan rumah.

__ADS_1


Setelah Gibran pergi Naina langsung masuk kedalam, dia mau ke kamar untuk tidur untung anak-anaknya saat ini menginap di rumah papanya. Sudah dua hari mereka di sana jadi dia bisa sedikit bersantai dirumah..karena ia tak memasak yang memasak asisten rumah tangganya.


.....................................


Naina berjalan keluar dari kamarnya sudah berjam-jam dia tidur, dan kini perutnya terasa lapar. Dengan langkah perlahannya dia menuju keruang makan melihat ada masakan apa di meja makannya saat ini.


Tapi baru beberapa langkah saja, telpon rumahnya berbunyi membuat Naina berhenti dan melihat kebelakang dimana dia sudah melewati telpon tersebut. mau tak mau Naina putar balik untuk mengangkat panggilan itu.


“Halo dengan siapa?” ucapnya saat mengangkat panggilan itu.


“Iya ini dengan saya sendiri, benar saya Michel istri dari Gibran montana” ucap Naina lirih mendengarkan dengan seksama orang yang menelpon dirinya tersebut.


“APA? Kau jangan bohong..kau penipu kan..dimana suamiku dia tidak mungkin kecelakaan kan” Naina terlihat syok mendnegar hal itu. ada seornag polisi yang menelponnya saat ini mengabari kalau Gibran mengalami kecelakaan dan tengah di bawa ke rumah sakit.


“Nggak..nggak mungkin” Naina begitu tak mempercayai kabar itu, tapi tangannya sudah lemas sehingga telpon yang dia pegang terjatuh begitu saja membuat asisten rumah tangganya berlari menghampiri Naina saat ini.


“Non, naina..non Naina kenapa?” ucap perempuan paruh baya itu smabil memegang bahu Naina.


Naina masih mematung dengan mata yang berkaca-kaca sesekali dia juga menggeleng pelan.


“Nggak, ini nggak mungkin” matanya mula berkaca-kaca dan dia hampir saja jatuh. Untung Mbok nem langsung menahan bahu Naina.


“Non ada apa, bilang sama mbok. Non kenapa?”


“Gibran mbok, Gibran.” Isak Naina.


“Den Gibran kenapa non, jangan nagis begini jangan bikin mbok takut”


“Gibrn kecelakaan mbok..hikss, hikss..ayo mbak temani aku kerumah sakit..” ucap naina sambil menangis dan dia langsung melepaskan pelukan si mbok dengan tergesa dia mengajak mbok nem untuk segera kerumah sakit.


“Non Naina tenang dulu,..ini beneran nggak”


“Aku nggak bisa tenang mbok sebelum melihat Gibran, ayo mbok” ucap naina buru-buru mengajak si mbok untuk segera menemui Gibran.


“Argghh, argghh,..” Naina merintih keskaitan, dia memegangi perutnya. Melihat itu Mbok Nem terlihat panik..


“Non, non naina kenapa..tenang non ayo duduk di sofa dulu bibi juga mau nelpon den Erlan biar cepat pulang terus nganterin kita” Mbok nem menuntun Naina yang tengah kesakita..perut Naina terasa keram saat ini. rasanya dia ingin memberontak agar segera menemui Gibran tapi perutnya tiba-tiba sakit membuat dirinya mengiyakan saja ucapan mbok nem.


Mbok nem ini, merupakan asisten rumah tangga di keluarga papanya, karena dirinya tengah hamil besar Mahendra menyuruh mbok nem untuk membantu segela sesuatu dirumahnya.

__ADS_1


.....................................


Naina, mbok Nem dan juga Erlan sudah sampai dirumah sakit tempat dimana Gibran dibawa kesitu. Naina berlari kecil ingin segera sampai ke kamar suaminya.


“Kak, kak Nai..” Erlan langsung menyusl Naina saat melihat Naina yang terlihat kesakitan smabil memegangi perutnya. Erlan memegang lengan Naina.


“Pelan-pelan kak, kakak ini lagi hamil” ucap Erlan meminta Naina untuk berjalan pelan saja.


“Nggak bisa Erlan, nggak bisa. Aku harus ketemu Gibran..aku harus segera melihat diam” ucap Naina sambil menangis.


“Iya aku tahu tapi sabar kak, lihat kondisi kakak. Kakak lagi hamil besar begini” ucap Erlan mengingatkan Naina yang tengah hamil.


“benar kata den Erlan, non. Non Naina harus pelan-pelan saat ini lagi hami ingat anak yang non kandung” ucap Mbok nem yang sepakat dengan Erlan.


“Ayo kak, kakak tenang aja. Aku yakin kok kak Gibran baik-baik saja, aku yakin dia kuat” ucap Erlan memberikan harapan untuk Naina. Dia ingin kakak iparnya itu kuat dan tidak tekanan batin, karena kalau tekanan batin bisa-bisa malah naina juga ikut dalam bahaya dan anak yang dikandung perempuan itu pasti ikut dalam bahaya juga.


“Itu kan ruangannya, kebetulan itu dokternya” ucap Erlan saat melihat seorang dokter yang keluar dari kamar rawat Gibran.


“Dok..dokter” panggil Erlan dan juga Naina membuat dokter itu langsung berhenti dan melihat kearah tiga orang yang berjalan didepannya.


“Dokter saya istri dari Gibran montana dok, bagaimana kondisi suami saya dok” Naina tak sabar dia langsung menanyakan kondisi suaminya.


Dokter itu melihat wajah Naina yang kacau dan melihat kondisi Naina yang tengah hamil.


“Saya adiknya dok, dokter bisa bicara dengan saya” ucap Erlan saat melihat ekspresi sang dokter yang terlihat tak tega untuk bicara pada Naina.


“Pasien saat ini sedang dalam kondisi tidak baik, dia mengalami patah tulang di tangannya dan juga mengalami benturan di kepalanya sehingga membuat dia tak sadarkan diri hingga saat ini. pasien saat ini dalam kondisi koma” ucap sang dokter dengan lirih menjelaskan apa yang terjadi pada Gibran.


“hah...nggak..nggak mungkin..nggak mungkin Gibran koma. Hik hikss..” Naina terisak dan tanpa di duga di langsung pingsa untukng mbok Nem berada di sebelahnya dan Erlan juga langsung sigap menangkap kakak iparnya.


“Kak..kak Nai..” ucap Erlan berusaha membangunkan Naina tapi perempuan itu masih pingsan.


“dokter ada kamar kosong?” tanya mbok nem.


“Ada buk disebelah kamar pasien”


“Den Erlan tolong bawa non Naina kesitu, dia harus istirahat sekarang.” pinta mbok Nem pada Erlan.


“Iya mbok” buru-buru Erlan mengangkat Naina dengan di bantu sang dokter keduanya langsung membawa Naina ke kamar sebelah kamar Gibran di rawat.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2