
Gibran sudah bangun terlebih dahulu, dia melihat Naina yang masih tertidur pulas di sebelahnya. Mereka sedari semalam hingga pagi tetap tertidur di sofa, karena istrinya itu minta di elus perutnya jadi mereka memilih tidur di sofa.
Perlahan Gibran menurunkan kepala Naina dari lengannya, dia langsung bangkit dari sofa dengan hati-hati takut akan membangunkan sang istri yang masih terlelap. Gibran berdiri sambil melihat kearah ranjang dimana anak-anaknya masih tidur. sebelum pergi Gibran menyelimuti Naina terlebih dahulu, baru setelah itu dia langsung pergi menuju anak-anaknya yang masih lelap.
Baru juga dia akan berjalan kearah tempat tidur Hp nya yang berada di meja berbunyi nyaring membuat Naina yang berada di dekatnya langsung terbangun.
“Siapa sayang?” tanya Gibran saat Naina melihat kearah ponselnya.
“Adam” jawab Naina sambil mengambilkan ponsel Gibran.
“Adam, kenapa dia nelpon pagi-pagi begini?” heran Gibran saat salah satu karyawannya di GINAI menelpon dirinya.
“Adam siapa?” tanya Naina karena dia memang tidak tahu siapa orang itu.
“Itu pemegang saham baru yang gantiin siapa itu yang sering sama Rosa” jawab Gibran dan duduk disebelah Naina. Perempuan itu tentu saja langsung menyandarkan tubuhnya pada Gibran.
“Oh,”
“Kamu tidur lagi saja,” pinta Gibran pada sang istri..
“Halo Adam, ada apa?” tanya Gibran saat mengangkat panggilan tersebut.
“Kamu dimana sekarang Gibran?’ tanya Adam dari seberang sana.
“Aku ada di Bali kenapa?”
“Ini ada permintaan untuk lihat kebun di Kalimantan, kamu bisa ke sana?”
“Nggak bisa lah, suruh Khalif saja atau nggak kamu sama rosa yang ke sana memang permintaan survey kebun apa?”
“Katanya sih perkebunan sawit”
“Perkebunan sawit? Aku rasa tidak usah deh, mereka sudah menjadi perkebunan besar untuk apa ikut dibantu oleh perusahaan kita”
“Ini bukan dari pemilik perkebunan luas di sana, tapi ini dari perkebunan kecil milik warga” jelas Adam.
Gibran mendengar itu terlihat ragu, setahunya daerah yang dikatakan Adam perkebunannya cukup maju makanya dia jarang ke sana.
“Ya sudah kapan mau di survey?’ tanya Gibran.
“Besok mereka memintanya cepat lebih baik”
“Nggak bisa kalau besok, aku masih di Bali. Kamu suruh Khalif saja, bentar kenapa Khalif tidak bilang padaku soal hal ini”
“Mungkin dia lupa”
“Ini mau kamu yang berangkat ke sana atau Khalif?”
“Nanti aku yang bicara dengan Khalif, kalau begitu sudah dulu aku sedang sibuk sekarang” pungkas Gibran yang ingin segera mengakhiri panggilannya saat ini. Jujur dia sedikit tidak suka karena orang baru sudah memerintah dan Khalif bukannya memberitahunya lebih dahulu malah orang lain. Padahal wakil presdirnya Khalif dan yang harusnya bertanggung jawab dia.
“Ya sudah kalau begitu, aku matikan dulu” pungkas Adam dari seberang sana.
Beberapa menit kemudian panggilan mereka sudah berakhir, dan Gibran langsung mencari nomor Khalif dengan mengomel kesal.
“kamu kenapa sih kelihatan kesal begitu?” tanya Naina melihat sekilas wajah sang suami yang tampak kesuh.
“Ini sih Khalif masa dia nggak bertanggung jawab sama sekali, malah Adam yang memberitahuku soal ini harusnya ini tugas Khalif dia yang memastikan mana yang mau kerja sama dengan kita baru diberitahu padaku” tukas Gibran sambil mengomel, dia mendekatkan ponsel ke telinganya menunggu panggilannya di angkat oleh Khalif.
Naina tak banyak berkomentar, dia hanya diam saja mendengarkan ucapan Gibran barusan. Dia yang masih mengantuk tak terlalu fokus mendengarkannya.
“Halo Khalif” tanpa mengucap salah terlebih dahulu Gibran langsung memberondong Khalif.
__ADS_1
“Khalif tugas kamu ngapain aja, kenapa jadi Adam yang memberitahuku kalau di pulau K ada yang ingin bekerja sama denganku. Seharusnya itu tugasmu dan memastikan tempatnya seperti apa” pungkas Gibran mengeluarkan unek-uneknya.
“Woi-woi santai, pagi-pagi sudah marah-marah” tukas Khalif diseberang sana.
“bagaimana aku tidak marah, Adam itu anak abru dan dia langsung menyuruhku melakukan kerja sama dengan perkebunan itu”
“Aku kemarin sibuk jadi aku iya-iya kan saja, sudahlah terima saja dia memintamu apa”
“Kau bicara seenak itu, kita tidak tahu asal-usul perkebunan itu kalau tanah sengketa bagaimana. Sudah kamu cari tahu dulu soal perkebunan tersebut terus laporkan padaku. Aku tutup” perintah Gibran tak mendengarkan penjelasan Khalif lagi.
“Ya ampun aku lupa,” setelah Gibran mengakhiri panggilannya tiba-iba saja Naina langsung berdiri membuat Gibran menatapnya heran.
“kenapa sayang?” tanya Gibran pada sang istri.
“Anak-anak kan penerbangan pagi, mereka belum bangun. Aku bangunkan mereka dulu,” pungkas Naina dan buru-buru menghampiri kedua anaknya yang masih tidur.
Gibran menaruh ponselnya terlebih dahulu dan dia langsung mengikuti sang istri yang menghampiri kedua anak mereka.
......................................
Reyhan saat ini tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia menggunakan mobil sport yang atapnya terbuka.
Mobil tersebut baru dia beli beberapa hari yang lalu, dia memang menginginkan mobil ini sudah sedari dulu tapi baru bisa ia beli belum lama ini.
Tiba-tiba saja ada seorang yang menyebrang jalan dengan terburu-buru membuat Reyhan langsung mengerem mendadak mobilnya tersebut. Dia menghela nafas lega karena tidak menabrak orang tersebut, sedang seorang wanita yang hampir tertabrak mobil Reyhan menutupi telinganya berjongkok didepan mobil tersebut.
Reyhan buru-buru turun dari dalam mobil untuk melihat perempuan tersebut, tapi sebelum itu ia melihat mobilnya terlebih dahulu ada yang lecet atau tidak.
Perempuan yang hampir tertabrak oleh mobil Reyhan langsung tersadar kalau dirinya tidak kenapa-kenap. Dia langsung membuka matanya melihat pria yang hampir saja menabraknya barusan. Perempuan tersebut segera berdiri dan menarik tangan Reyhan..
“Hey tuan, bagaimana kamu mengemudikan mobilnya. Bisa-bisanya anda mau menabrak saya” tukas perempuan tersebut.
Reyhan yang tengah melihat kondisi mobilnya langsung tertarik menghadap perempuan itu. dia menatap dingin perempuan dengan rambut sebahu tersebut.
Reyhan langsung menghempas tangan perempuan itu dari lengannya, dia mendorong pelan perempuan tersebut.
“Otakmu dimana, tidak salah kau menyalahkan ku. Hei nona disini anda yang salah karena menyebrang jalan sembarangan, kalau sampai anda tertabrak oleh saya bagaimana?” sinis Reyhan menatap perempuan tersebut.
“Hei tuan anda yang akan mebarak saya kenapa anda yang marah” perempuan tersebut tidak terima saat disalahkan.
“Dasar perempuan gila, kau sendiri yang salah tapi menyalahkan orang lain. Atau jangan-jangan kau sengaja ingin agar saya bertanggung jawab begitu” tuduh Gibran pada perempuan tersebut.
“Hei tua jangan asal menuduh”
“Perempuan sepertimu mana mau mengaku, butuh uang berapa?” sini Reyhan sambil berjalan kearah mobilnya. Dia mengambil dompet miliknya dari dashboard.
“Itu uang untuk ganti rugi. Itu kan yang kau inginkan” pungkas Reyhan sambil melempar beberapa lembar uang berwarna merah ke wajah perempuan tersebut.
Perempuan itu tampak memerah wajahnya, dan tangannya mencengkram kuat.
Sedangkan Reyhan langsung berjalan kearah mobilnya, dia amsuk kedalam mobil. Dia benar-benar kesal dengan perempuan tersebut. apalagi yang diinginkan perempuan itu kalau bukan uang, dia saja menyebrang jalan seenaknya sendiri dan yang disalahkan dirinya pasti itu ada tujuannya.
Perempuan itu buru-buru memunguti uang yang dilemparkan oleh Reyhan, setelah mengumpulkan semua dia langsung berjalan kearah mobil Reyhan tapi terlambat Reyhan sudah menjalankan mobilnya sambil menatap sinis perempuan tersebut.
Perempuan itu tampak marah-marah memaki Reyhan yang sudah pergi,
“Dasar orang sombong, kau pikir aku membutuhkan uangmu. Dasar pria sombong” maki perempuan tersebut.
“Aku apakan uang ini,” bingung perempuan itu sambil menatap uang yang berada di tangannya. Perempuan tersebut tampak kebingungan sambil tetapi matanya langsung tertuju pada seorang ibu-ibu yang tengah berjualan di pinggir jalan. buru-buru perempuan itu menghampiri ibu-ibu penjual tersebut.
........................................
__ADS_1
“Sayang dadah dulu dong sama mama, papa, Om Erlan” ucap Mark pada kedua keponakannya yang duduk di kursi belakang mobil bersama istrinya. Sedangkan di luar mobil ada Erlan, Gibran dan juga Naina.
“Dadah mama, papa Om Erlan” ucap Aiden dan juga Aira pada ketiga orang yang berada di luar mobil.
Mereka saat ini berada di dalam mobil yang Mark sewa untuk mengantarkan dirinya ke Bandara.
“Dadah sayang,. Jangan nakal ya kalau sama papa Mark” ucap Naina berpesan pada kedua anaknya.
“Iya mama” jawab si kembar bersamaan.
“Mark aku titip anak-anakku ya” ucap Gibran pada Mark.
“Siap, mereka juga keponakannya. Pasti aku akan menjaganya” jawab Mark.
“Sayang-sayang, OM Erlan belum di cium loh?” ucap Erlan sambil mendekat kearah si kembar yang berada di dalam mobil.
“Nggak Om Erlan bau” jawab keduanya sambil menutup hidung masing-masing.
“Iih, mana ada bau. Om Erlan harum terus ya” Erlan mendelik mendengar dua keponakannya yang berbicara seperti itu.
“Om Erlan belum mandi, aku nggak mau cium” jawab Aira.
“Om sudah mandi sayang, siapa yang bilang Om belum mandi” tukas Erlan tak terima kalau di katakan belum mandi. padahal dia sudah mandi kembang dari subuh.
“Papa” jawab Aiden.
Mendengar itu Erlan langsung melihat kebelakang dimana kakaknya mengalihkan pandangannya.
“Papa kalian tuh yang belum mandi, enak aja bilang Om belum mandi” ucap Erlan ngegas sambil menatap kesal kakaknya yang tak melihat kearahnya.
Mark dan juga Selina yang mendengar itu hanya tersenyum mendengar pembicaraan Erlan dan juga si kembar.
“Kamu jangan bilang aneh-aneh soal Eran sama anak-anak deh,.” Naina langsung mencubit pinggang sang suami karena pria itu mengabaikannya.
“Augh, sakit sayang” rintih Gibran kesakitan karena cubitan Naina barusan.
“Ya makanya jangan sering jahilin Erlan kenapa, kalian itu kayak tikus sama kucing. Nanti kalau dia marah-marah sama kamu, kamu nya nggak terima” pungkas Naina mengomeli sang suami.
“Hemm, maaf” Gibran hanya pasrah saat diomeli oleh istrinya.
“Ini masih mau bicara lagi atau nggak, kalau nggak kita jalan duluan nanti ketinggalan pesawatnya” interupsi Mark.
“Ayo papa Mark” seru Aiden yang duduk dibelakang.
“Ciumnya mana sayang” Erlan masih memelas minta di cium dua keponakannya.
“Sayang cium dulu dong om nya” ucap Selina menyuruh si kembar untuk mencium Erlan.
Keduanya langsung menuruti apa yang di perintahkan Selina. Dua bocah itu langsung mencium Elan bergantian.
“dadah keponakan Om, sampai ketemu di jakarta ya” seru Erlan sambil melambaikan tangannya pada kedua bocah itu.
“dadah Om erlan” balas keduanya.
“Michel, Gibran kita pergi dulu ya’ ucap Mark pada sepasang suami istri di depannya.
“Iya kak” jawab Naina.
“Micehl, Gibran kakak duluan ya sampai ketemu di Jakarta” ucap Selina dari kursi belakang.
“Iya kak Sel, sampai jumpa” ucap Naina dan juga Gibran bersamaan. Mobil yang ditumpangi Mark saat ini mulai berjalan pergi meninggalkan area resort tersebut.
__ADS_1
°°°
T.B.C