Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 62


__ADS_3

“Erlan tuker tempat duduk” Michel menoleh kebelakang mengajak tukar tepat duduk dengan pria itu. Michel baru tahu Erlan adalah adik Gibran sebelumnya dia tak pernah tahu Erlan itu siapa. Dia baru pertama kali bertemu dengan pemuda tersebut.


“kenapa?’ heran Erlan menatap perempuan yang katanya istri kakaknya.


“Nggak usah, aku mau jalan” ucap Gibran, dan langsung menyalakan mobilnya lagi saat kedua anaknya sudah masuk bersama dengan wali kelas mereka.


“Cepat tukeran,” paksa Michel pada Erlan dia mengabaikan ucapan Gibran barusan. Erlan sendiri tak bergeming pandangannya menatap kearah Gibran yang melihatnya sekilas dengan taja. Dia tahu tatapan tajam itu maksudnya apa, dia yang peka tak menghiraukan Michel.


“buruan,” Michel mulai kesal karena Erlan mengabaikan dirinya.


“males, tuh lihat mata orang di sebelahmu hampir keluar. gue takut,.sorry to say” balas Erlan dan langsung membuang muka mengabaikan Michel.


“Dihh,.memang ya adik kakak sama saja nyebelin” sindir Michel kesal sendiri karena jawaban Erlan, dia kembali fokus lagi kedepan tapi dia menatap tak suka pada Gibran yang seakan puas karena dia tak bisa bertukar tempat dengan Erlan.


“Kamu percuma kalau ngomong sama dia, malah bikin kesel. Sudah terima kenyataan saja kalau duduk di sebelahku” kekeh Gibran melihat wajah kesal Michel.


Michel diam dan membuang muka keluar jendela, hal itu tak luput dari Gibran maupun Erlan.


“kak, dulu mama pernah cerita istrimu katanya lembut sama ramah. Ini apaan judes banget mirip sama kamu” bisik Erlan di telinga Gibran.


“Kau diem saja, mau kamu di maki dia. Dia itu masih sama kayak dulu tapi gengsi mau mengekspresikan diri” balas Gibran lirih.


“Kalian berdua ngomongin aku” sungut Michel yang merasa sedang di bicarakan oleh dua bersaudara itu.


“nggak, geer bener. Istrimu selain judes geeran juga ternyata. Mimpi apa aku punya kakak dan kakak ipar sebelas dua belas begini” keluh Erlan sambil menengadahkan kepalanya keatas.


“Sayang tidak usah dengarkan dia, dia memang alay.” Ucap Gibran pada Michel.


“Sayang..” ucap Michel dan melihat kearah Gibran.


“Nggak salah ngomong, kamu mau kemana sekarang?”


“Aku mau pulang” jawab Michel.


“Oke” pungkas Gibran tapi dia melihat sekilas kebelakang dimana Erlan langsung mengangguk saat kakaknya tersebut melihat padanya. Entah apa yang tengah direncanakan dua kakak beradik tersebut. Michel yang melihat itu hanya mantap aneh.


.......................................


Michel langsung menatap curiga kearah Gibran saat mobil mereka sampai di rumah yang tak ingin ia kunjungi kembali selama ini. rumah masa lalu yang menyakitkan dirinya sebagai istri Gibran dulu.


Gibran mengajak Michel ke rumah mereka dulu, entah apa yang dia rencanakan sehingga mengajak Michel kesitu.


“kenapa kau mengajakku kesini, bukannya aku bilang mau pulang” pungkas Michel.


“Kakak ipar maaf ya, kau disini dulu mobilnya mau aku pakai. Mobilku di bengkel” Erlan menggantikan Gibran yang menjawabnya.

__ADS_1


“Kalau mau kau pakai aturan kau antar aku pulang lebih dulu, kenapa malah mengajakku kesini”


“Aku buru-buru soalnya, rumahmu kan berlawan arah. Jadi kelamaan, sudah disini saja dulu”ucap Erlan lagi dan langsung turun dari mobil lebih dulu.


“Kau sengaja kan mengajakku kesini?” tuduh Michel pada Gibran.


“Sudah ayo turun, nanti aku antar pulang kalau Erlan sudah balik lagi kesini. Ini masalah serius, mobilnya mau dia pakai” Gibran berbicara dengan lembut pada Michel.


“kalian orang kaya, masa mobil cuman ada dua.”


“Aku memang kaya, tapi kamu juga tahu sendiri kan keluargaku bagaimana..apa selama ini di keluargaku banyak mobil nggak kan? sudah ayo turun. Anak itu kalau marah nggak kenal orang..kamu nanti jadi objek pelampiasannya” lagi Gibran berbicara santai saja meskipun perempuan didepannya terlihat emosi. Gibran turun terlebih dahulu meninggalkan Michel yang ragu untuk turun, dia masih menatap rumah besar didepannya. melihat rumah itu bayangan masa lalunya kembali terngiang di kepalanya saat ini.


Tok, tok


Erlan mengetuk kaca mobil yang belum di buka oleh Michel, Michel yang tadinya fokus melihat kearah rumah Gibran langsung melihat kearah keluar dimana Erlan sudah berdiri tepat di kaca sebelahnya.


“Iya sebentar” kesal Michel yang diburu-buru keluar oleh Erlan. Erlan memang tak ada takut-takutnya pada Michel meskipun terus di ketusi..baginya istri kakaknya belum seberapa dibanding Gibran.


Michel langsung turun dari dalam mobil sabil melihat terus kearah Erlan, tentu saja dia melihat pemuda itu dengan kesal.


“Emak, bapak sama kedua anaknya memang benar-benar keluarga bermuka ngeselin” sindir Erlan dan langsung masuk kedalam mobil sebelum kakaknya bertindak.


“kamu yang ngeselin” seru Michel pada Erlan yang sudah masuk kedalam mobil sambil mengejek dengan menjulurkan lidahnya persis seperti bocah.


Michel yang refleks di gandeng begitu saja oleh Gibran langsung melepaskannya,


“nggak usah pegang-pegang” ucap Michel menolak gandengan tangan Gibran.


“jangan gengsi kenapa sayang, kamu mau kan aslinya aku gandeng. Nanti nyesel loh kalau lihat aku gandeng cewek lain” pungkas Gibran dan langsung menggandeng kembali tangan Michel.


“terserah, aku tidak perduli” Michel akan melepaskan tangannya lagi dari Gibran. Tapi Gibran tak membiarkannya dia justru menarik Michel masuk kedalam rumahnya meskipun disepanjang jalan Michel terus minta dilepaskan. Karena dirinya tak menghiraukan hal itu, perempuan itu akhirnya pasrah saja.


“kamu duduk dulu disini, biar aku buatkan makanan untukmu. Tadi kamu hanya makan roti kan, aku buatkan makanan berat dulu” ucap Gibran pada Michel, dia mendudukkan perempuan itu didepan Pantry, sedangkan Gibran langsung mengambil celemek dan memakainya.


“Kau mau apa? nggak usah. Aku masih kenyang” tolok Michel.


“Nggak mungkin kamu kenyang dengan makan roti, aku tahu dirimu lidahmu lidah indonsesia tanpa makan nasi mana kenyang”


“jangan sok tahu tentang diriku,”


“Ya aku akui dulu aku tidak tahu tentang dirimu, tapi sekarang aku jamin aku tahu semua tentangmu. Aku buatkan nasi goreng kesukaanmu..” pungkas Gibran dan dia langsung mengambil bahan yang dia butuhkan dari dalam kulkas.


Michel diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan Gibran, percuma kalau dia adu argumen dengan pria tersebut.


Sesekali Michel juga memperhatikan sekitar, dimana ruangan di rumah ini asih sama seperti lima tahun lalu termasuk furniturnya juga. tapi yang berbeda hanya catnya yang saja.

__ADS_1


“Kamu tenang saja rumah ini tidak pernah aku rubah sama sekali, ini juga baru aku tempati dua tahun lalu” ucap Gibran saat melihat Michel yang melihat sekeliling.


Michel hanya diam, dan dia tak memperhatikan sekitarnya lagi.


“Memang kau bisa masak, sok-sok an mau membuatkan nasi goreng” sinis Michel.


“Bisalah,” jawab Gibran sambil tersenyum, dia lalu memotong daun bawang sambil sesekali melihat Michel yang curi-curi pandang melihatnya.


“Tidak usah khawatir aku..augh” Gibran langsung melepaskan pisau yang dia pegang saat tak sengaja mengenai jari manisnya.


“kau kenapa” Michel refleks langsung berdiri menghampiri Gibran dia tampak khawatir saat mendengar rintihan Gibran barusan.


Michel bisa melihat darah yang keluar dari tangan pria itu,.


“bilangnya bisa masak, baru motong daun bawang saja sudah begini” cemas Michel memegang tangan Gibran dan membawa pria itu ke wastafel


Gibran menurutinya saja, dia mengikuti Michel yang menarik tangannya pelan menuju wastafel.


“Kamu katanya pria perfeksionis tapi mana, ceroboh” omel Michel sambil buru-buru mengambil tisu yang ada di meja makan. Dan dia segera membalut tangan Gibran dnegan tisu.


“kenapa nggak berhenti..” ucapnya saat melihat darah yang keluar lagi. Dia kembali menaruh tangan Gibran di bawah guyuran air kran di wastafel.


“Aku nggak pa-pa, ini luka kecil..” ucap Gibran pada Michel yang terlihat mencemaskan dirinya.


Michel tak mendengarkan hal itu, dia terus membersihkan darah yang ada di jari Gibran.


“Kamu menghawatirkan ku sayang?” tanya Gibran sambil mendekatkan diri dan melepaskan tangannya dari pegangan Michel. Dia menutup lukanya dnegan jemarinya sendiri lalu mengambil kotak p3k yang tidak jauh darinya. dia mengambil plester luka dan menutup lukanya dengan itu.


Michel yang melihat hal tersebut hanya bisa diam terperangah, ia baru sadar itu hal kecil tapi kenapa dia tak bisa mengendalikan ke khawatirannya barusan.


Michel langsung mendorong Gibran agar menjauh darinya, dia memang sudah gila bisa menghawatirkan pria itu,


“kenapa?” heran Gibran dan akan mendekati Michel.


“jangan mendekat, aku tidak suka” pungkas Michel.


“Tidak suka? Serius..tapi kok tadi kayaknya kamu suka aku di dekatmu. Kamu juga menghawatirkan aku barusan” goda Gibran pada Michel.


“Terserah kamu mau berpikiran apa, aku tidak perduli” kesal Michel dan akan pergi ke arah sofa tetapi Gibran menahannya.


Michel saat ini menghadap kearah Gibran, begitu juga Gibran yang menatap intens Michel..mereka berdua malah saling tatap-tatapan entah apa yang keduanya pikirkan. Tapi semenit kemudian Gibran langsung menarik Michel ke pelukannya..pria itu tak menunggu lama mencium Michel begitu saja. Michel berusaha melepaskan ciumannya tapi akhirnya dia terhanyut akan ciuman dari Gibran..


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2