
“Kak, aku tidak pernah menyangka Gibran akan mengalami kecelkaan seperti ini..bagaimana nasibku dengan anak-anak kalau Gibran amnesia nanti” lirih Naina bersandar pada dada Mark yang duduk di sampingnya.
“Kamu yang sabar dan berdoa saja semoga Gibran tidak amnesia nantinya..jangan sedih begini kasihan anak yang ada di perutmu kalau kamu sedih terus” pungkas Mark sambil mengusap bahu Naina. Dia menenangkan kegelisahan sang adik.
“Hari ini Aira dan Aiden akan di ajak kesini sama papa, siapa tahu dengan mereka datang kesini Gibran bisa sadar” lanjut Mark meberitahu Naina kalau si kembar akan di bawa ke rumah sakit untuk melihat Gibran.
Naina langsung menatap kearah kakaknya itu.
“Kenapa papa mengajak mereka kesini, kalau mereka syok melihat papanya yang tidak sadar bagaimana kak” Naina terlihat khawatir dengan itu. dia takut kedua anaknya syok melihat kondisi Gibran.
“Aku jamin mereka nggak akan syok, anak-anakmu pintar dan mereka berdua seperti orang dewasa pasti mereka mengerti” ucap Mark.
“kenapa hidupku seperti ini kak, baru saja aku dan Gibran bahagia tapi sudah begini lagi” ucap Naina sendu sambil menunduk sedih.
“Kamu jangan bicara begitu, aggap saja ini ujian dan pasti disetiap ujian itu ada kebahagian yang menunggu” Mark memberikan semangatnya pada sang adik serta sedikit memberikan nasehatnya sebagai seorang kakak.
“Kalian berada disini? aku cari kemana-mana ternyata kalian ada disini” Reyhan datang dengan terengah-engah.
Mark dan juga Naina yang melihat itu menatap heran pada Reyhan.
“Ada apa dokter Reyhan? Duduk dulu dan bicara yang dengan perlahan” ucap Mark menyuruh rekannya tersebut untuk duduk.
“Michel suami sudah sadar, kamu temuilah dia. dari tadi aku mencarimu tamu kamu tidak ada di mana-mana” ucap Reyhan masih dengan terengah-engah memberitahu Naina kalau Gibran sudah sadar.
“Apa? Gibran sudah sadar. Dokter Reyhan tidak bercanda kan? suamiku sudah sadar dok” Naina langsung berdiri matanya berbinar mendengar kabar tersebut. Begitu juga Mark yang ikut berdiri menatap Reyhan.
“Kau serius dr Reyhan, Gibran sudah sadar?” tanya Mark.
“Iya Gibran sudah sadar, kalian temuilah dia dan aku tadi sudah memeriksanya tidak ada yang salah dengannya tapi...” ucap Reyhan dan sedikit menggantung.
“Tapi kenapa dok?” tanya Naina penasaran, dia harapharap cemas mendengar kondisi suaminya.
“Lebih baik kamu lihat sendiri dan memastikannya sendiri Michel, aku takut kalau diagnosaku salah” pungkas Reyhan menyuruh Naina untuk melihat sendiri kondisi Gibran.
“Aku kesana, aku ingin bertemu Gibran. Aku kesana dulu kak” Naina langsung tak sabar ingin bertemu suaminya. Dia berjalan dengan buru-buru sambil memegangi perutnya yang besar itu.
“Michel hati-hati,” seru Mark. “Dr. Reyhan ayo kesana” lanjut mark mengajak Reyhan untuk melihat Gibran. Mark buru-buru mengimbangi langkah Naina, dia langsung memegang lengan adiknya itu.
“Kalau jalan hati, kamu lupa apa kalau tidak sendiri sekarang jangan menambah masalah lagi Michel” tukas Mark memperingatkan adiknya. Dia berjalan sambil memegangi tangan Naina agar tidak berjalan dengan cepat.
“Aku ingin segera bertemu Gibran kak, aku ingin melihat kondisi suamiku” ucap Naina sambil sekilas melihat kearah kakaknya.
“Iya aku tahu tapi pikirkan juga anak yang kamu kandung” tukas Mark pada Naina.
__ADS_1
Naina hanya diam saja sambil berjalan mantab untuk segera bertemu dengan Gibran, sedangkan Reyhan berjalan di belakang mereka berdua. Dia melihat adik kakak didepannya dengan sendu..dan dia sedikit kasihan pada Naina.
Pria tampan itu memohon agar apa yang dia diagnosa salah, kalau sampai itu benar dia kasihan pada adik sahabatnya itu.
.......................................
Gibran diam saja sambil mengamati orang-orang yang ada di ruangan asing baginya, dan sesekali dia menghindar saat beberapa orang ingin memegangnya.
“Gibran jangan bercanda, ini tidak lucu. Kau ingat dengan papa kan?” Alfred berbicara tepat disebelah anaknya yang menatap kearahnya dengan tajam.
“Siapa yang tidak ingat dengan pria yang hanya mementingkan pekerjaan daripada istrinya yang terbaring sakit” sinis Gibran sambil menatap penuh kebencian pada papanya.
Mata Alfred melebar, dia cukup terkejut dengan ucapan anaknya itu.
“Mama ku dimana? Kenapa dia tidak ada disini? apa di sakit?”
Pertanyaan-pertanyaan dari Gibran itu semakin membuat Alfred terkejut, dia terlihat syok dengan pertanyaan anaknya.
“Gibran jangan bercanda..mamamu sudah tiada”
Gibran yang mendengar itu diam sejenak, dan wajahnya langsung memerah menahan marah.
“JAGA MULUTMU TUAN ALFRED, BISA-BISANYA KAU MENGATAKAN ISTRIMU SUDAH TIADA” ucap Gibran cukup keras.
“Kak kau kenapa? Kenapa kau membentak papamu seperti itu” ucap Erlan mendekati Gibran. Gibran langsung beralih melihat kearah Erlan dan juga Sofia.
“Erlan..” ucap Gibran dan sedikit luluh saat melihat Erlan dan juga Sofia.
“Tante, mamaku dimana? Bisa-bisanya pria brengsek ini bilang mama ku sudah tiada. Mama ku ada dirumah kan tan?” lanjut Gibran sambil menggenggam tangan Sofie menatap penuh harap menunggu jawaban dari perempuan tersebut.
“Gibran tenang nak, jangan bicara seperti itu pada papamu” ucap Ibu dari Naina yang mendekati mereka.
Gibran yang melihat itu menatap asing perempuan paruh baya yang berjalan mendekat.
“Kau siapa? Jangan ikut campur” tukas Gibran dengan kasar.
Nawang langsung terdiam di tempatnya dia menatap tak percaya pada Gibran yang berbicara ketus seperti itu padanya.
“Siapa dua orang itu, suruh mereka pergi dari sini” pungkas Gibran sambil melihat kearah agus dan juga Nawang.
“Kak kau bicara apa, mereka mertuamu. Mereka sudah kau anggap orang tua sendiri” ucap Erlan memberitahu Gibran.
“Jangan bercanda kau Erlan, siapa mertuaku..aku belum menikah” tukas Gibran menatap tajam adiknya.
__ADS_1
“Kau bicara apa sih..kak sadar..kau sudah menikah anakmu sudah dua dan sebentar lagi kak Nai mau melahirkan anakmu yang ketiga” ucap Erlan lagi.
“Kau Gila hah, jangan asal bicara..aku belum menikah dan siapa Naina aku tidak tahu perempuan itu”
Erlan yang mendengar itu cukup syok, dia melihat kearah Alfred dan juga kearah mamanya.
“pa..apa jangan-jangan kak Gibran amnesia?” lirih Erlan pada Alfred.
Tanpa di duga Gibran mendengar Erlan yang memanggil papanya dengan sebutan papa.
“Kau barusan memanggil papa ku apa? pa..?”
“Nggak” Erlan langsug menggeleng saat melihat mamanya yang menyuruhnya.
“Tuan Alfred kalau begitu saya dan istri saya keluar dulu. kita panggilkan dokter agar memeriksa kondisi Gibran” ucap Agus yang sudah mengerti akan situasi saat ini. dia dan istrinya memang lebih baik keluar dari ruangan Gibran.
“Bu, ayo kita keluar” ajak Agus pada sang istri.
“Tapi Gibran yah, Gibran kenapa lupa sama kita” sedih Sofia sambil menatap sang suami.
“Gibran kayaknya amnesia bu, peruma kalau kita berusaha mengingatkan dia. ibu lihat sendiri kan tadi sikapnya kembali seperti dulu, kalau kita tetap disini malah ibu yang akan sakit hati nanti” ucap Agus berusaha membuat istrinya mengerti dengan kondisi Gibran.
..........................
“Sudah berapa kali aku bilang jangans entuh aku” ucap Gibran sambil menghempas tangan Naina yang menyentuh lengannya.
“Kenapa kamu begini sih sama aku, aku istri kamu. .” ucap Naina dengan mata berkaca-kaca.
“Istri dari hongkong, jangan mimpi kapan aku menikahimu pergi dari sini dan jangan mengaku-ngaku kau istriku dan jangan sampai kau bilang kau hamil anakku..kalau mimpi jangan terlalu tinggi nona” sinis Gibran sambil menatap kesal pada Naina.
“Kau ingin aku pukul Gibran Montana, berani sekali kau bilang begitu pada adikku” Mark menarik Naina kebelakangnya dan kini dia yang berhadapan dengan Gibran.
“dokter macam apa yang memukul pasien, kau kakaknya kan bawa perempuan tidak tahu diri itu keluar dari sini. Bisa-bisanya bilang dia istriku, istri darimana”
“Kau sepertinya memang harus aku pukul” Mark sudah hilang kesabaran, dia tak tega melihat Naina yang sedari tadi berusaha menyentuh dan bicara baik-baik pada Gibran tapi tanggapan pria itu begitu sadis. Tangan Mark sudah terkepal dan dia maju siap memukul Gibran tapi Naina langsung menahannya.
“Kak..hiks hiks sudahlah..”lirih Naina sambil menangis menahan lengan kakaknya tatapnnya sesekali menatap sedih kearah Gibran. Gibran malah membuang mukanya,.
“Aku mau keluar..” ucap Naina dan langsung pergi dari situ. Dia tak tahan menerima tatapan muak dari Gibran, Gibran begitu sinis menatap dirinya. Itu sungguh membuat hatinya sakit..
“Bagus, keluar sana. Perempuan tak tahu malu..kalau ingin ada yang tanggung jawab dengan anakmu jangan mencari pria kaya nona” decih Gibran. Mark menatap kesal pada Gibran ingin sekali dia memukul kepala pria didepannya tapi dia masih memikirkan soal Naina dan berusaha bersikap waras menghadapi Gibran yang amnesia.
“Kau akan menyesal Gibran montana, aku beri kau waktu untuk mengingat adikku. Sampai kau tak kunjung mengingatnya kau akan menyesal mengerti” tukas Mark mengingatkan dengan ucapan yang cukup tajam menatap menahan marah pada Gibran yang tersenyum sinis seakan menganggap remeh ucapan Mark barusan.
__ADS_1
°°°