Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 75


__ADS_3

Gibran berjalan di belakang Naina sambil menarik dua koper yang dia pegang. Kedua koper itu miliknya dan juga milik Naina. Mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena Naina terus mengajak pulang alhasil mau tak mau Gibran mengikutinya saja. sebenarnya ia masih berat untuk pulang tapi istrinya terus memaksa untuk pulang.


“Sayang, kita makan dulu yuk. Pesawatnya masih delay,.” Ucap Gibran mengajak Naina untuk mencari tempat makan dulu.


“Ya sudah ayok, kamu mau makan apa?” Naina menghentikan langkahnya dan melihat kearah Gibran yang berada di belakangnya saat ini.


“makanan ringan aja, yang penting perut kita ke isi” jawab Gibran sembari memberi saran.


Naina melihat sekeliling mencari makanan apa yang tidak jauh dari mereka saat ini, matanya tertuju pada kebab yang ada di stand tidak jauh dari mereka.


“Itu ada kebab, mau nggak?” ucap Naina sambil menunjuk kearah penjual kebab.


“Iya mau” balas Gibran.


“Ya sudah yuk ke sana, mana koperku aku bawa sendiri saja” pungkas Naina dan akan mengambil kopernya dari tangan Gibran tapi Gibran menjauhkan koper tersebut.


“Aku aja yang bawa, kamu jalan duluan aja” pungkas Gibran meminta sang istri untuk jalan lebih dulu saja.


“kamu kenapa sih, aku punya tangan dan aku bisa bawa sendiri” tukas Naina yang bersikeras membawa kopernya sendiri.


“Ya nggak pa-pa, aku pengen aja bawain koper kamu biar romantis gitu”


“Iya kamu dipandang orang romantis, aku dipandang orang tega sama suami”


“Ya nggaklah, sudah hus sana buruan ayo jalan” ucap Gibran, karena Naina tak kunjung jalan akhirnya dia yang berjalan duluan meninggalkan Naina sambil menarik kedua koper tersebut.


Naina langsung berjalan menyusul Gibran yang lebih dulu,


“Lebay banget jadi orang” keluh Naina berusaha menyamakan langkahnya dengan sang suami.


“Ini bukan lebay, tapi bucin. Aku bucin sama kamu” sanggah Gibran sambil tersenyum manis kearah sang istri.


Melihat senyum manis Gibran membuat jantung Naina berdebar, dan wajahnya merona merah karena tersipu.


“nggak jelas” pungkas Naina dan dia langsung berjalan cepat meninggalkan suaminya yang menatap kebingungan.


“Sayang kok buru-buru, kenapa?” heran Gibran dan melihat kebelakang siapa tahu ada yang dihindari istrinya tapi disitu tak ada orang membuat Gibran semakin bingung. Dia kemudian langsung menyusul Naina yang sudah berjalan agak jauh di depannya.


..............................


“Aira, Aiden nanti jangan nakal loh di rumah kakek sama nenek. Terus harus nurut sama Om Nanda ya” ucap Vita yang berpesan pada kedua cucunya yang sudah berada di dalam mobil milik Nanda.


Nanda datang ke rumah Mahendra untuk menjemput dua keponakannya karena sudah lama si kembar tidak bermain dirumahnya.


“Siap Oma,” jawab kedua bocah itu bersamaan.


“Nanda, mama titip mereka ya. Kalau misalnya nakal nggak mau nurut laporin aja ke mama mereka” ucap Vita sedikit bercanda.

__ADS_1


“Siap ma,” Nanda memang memanggil kedua orang tua angkat kakaknya dengan sebutan Mama papa seperti kakaknya memanggil mereka.


“Aira Aiden, seatbelt nya dulu sayang” lanjut Nanda saat melihat kedua keponakannya yang belum memakai seatbelt.


“Oke Om,” jawab keduanya dan buru-buru memakai seatbelt.


“Kalau begitu aku pergi dulu ya ma, aku bawa mereka sehari besok aku pulangin lagi kesini” ucap Nanda pada Vita.


“Iya nggak pa-pa bawa aja mereka, lama juga nggak pa-pa. Ibu kamu pasti juga kangen sama cucu-cucunya”


“Salam buat papa Mahen ya ma, aku permisi” tukas Nanda dan berlari kecil kearah pintu kemudi.


“Iya hati-hati, mama juga salam buat ibu sama ayah kamu ya” balas Vita sambil melambaikan tangannya.


“Aira Aiden, dadah..jangan nakal ya sayang” seru Vita pada kedua cucunya yang duduk di kursi belakang.


“Dadah Oma,..Dadah” balas kedua bocah tersebut dan juga melambaikan tangannya pada sang oma.


Nanda membunyikan klakson mobilnya dan mobil itu perlahan mulai menjauh pergi dari hadapan Vita menuju gerbang rumahnya.


Mobil yang dikemudikan oleh Nanda keluar dari halaman rumah keluarga Mahendra, kini mobil tersebut melaju bergabung dengan kendaraan lain yang ada di jalan raya.


..................................


Ditempat lain, Gibran tengah terlihat kesal berbicara pada seseorang di telpon. Naina yang duduk didepannya memperhatikan dnegan sedikit jengah karena mendengar Gibran yang berdebat dengan lawan bicaranya.


“Kamu itu kalau sudah marah atau nggak senang ya udah di selesain aja panggilannya nggak usah tetap di ladeni” Naina yang sudah jengah akhirnya membuka suaranya.


“Ya kalau aku tahu sampainya kapan aku pasti bilang, kamu kan cuman aku suruh untuk mengaktifkan ponsel kamu aja buat jaga-jaga kalau aku sudah sampai nanti.” Tukas Gibran sedikit kesal pada orang diseberang sana.


“Ya kapan kak sampainya” terdengar dari suaranya itu suara Erlan, Gibran memang tengah berbicara dengan adiknya itu.


“Ya aku ini lagi delay pesawatnya, nanti aku sampai aku telpon. Awas aja kalau kamu nggak aktif. Mobil sama kartu kamu aku ambil, dan kamu nggak usah tinggal lagi di rumahku” tukas Gibran mengancam.


“Orang kok tukang ngancem,”


“Ya salahmu sendiri, kalau nggak diacam, apa mau nurut.”


“Iya-iya, tapi aku nanti main dulu pakai mobil sport mu itu yang baru boleh nggak”


“Nggak”


“Pelit, aku nggak jemput kalau begitu”


“Kamu bernai ngancem aku sekali lagi, aku sita semua. Biar kamu minta saja sama ayah kandung kamu itu. dan awas kalau kamu sampai minta sama papaku”


“Ngeri benar, ya udah-ya udah nggak jadi minjem. Aku di rumah aja, nanti telpon aja kalau sudah sampai..orang kok ngeselin diktator.” Pemuda itu terdengar kesal dari suaranya. Dia pasti tengah memaki-maki kakaknya tersebut.

__ADS_1


“Ya sudah kalau gitu” Gibran langsung mematikan panggilannya begitu saja. dia menekan ponselnya dengan cukup kasar dan sedikit membanting ponselnya di atas meja membuat Naina yang tadi sudah tak terlalu menggubris perdebatan adik kakak tersebut membuatnya langsung mendongak melihat Gibran yang terlihat kesal wajahnya begitu menunjukkannya dengan jelas.


“Kamu kalau akhirnya bertengkar begini sama adik kamu mending nggak usah nelpon dia. minta tolong orang lain”


“Ya aku mikirnya dia adikku, ngapain nyuruh orang jemput kalau ada adik sendiri”


“Kamu bukannya selama ini nggak nganggep dia adik, dan cara bicara kamu ketus sama dia. ya dia wajar ngelunjak begitu sama kamu. kamu aja begitu sama dia,”


Gibran yang mendengar itu diam saja, dia masih terlihat kesal dan terasa lelah karena bicara dengan Erlan menguras emosinya sekarang.


“Sudah nggak usah kesal begitu, nih makan” ucap Naina sambil mengambil kebab di depannya dan menyodorkan kearah Gibran.


Gibran melihat sekilas, dan dia mendekatkan mulutnya ke kebab tersebut. dia langsung melahap kebab yang di suapkan Naina padanya.


...................................


Reyhan sekarang tengah menyetir mobil menuju ke rumah sakit, lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah membuat Reyhan langsung menghentikan mobil miliknya tersebut menunggu lampu hijau kembali. Saat dia tengah fokus menatap ke depan tak sengaja dia melihat mobil didepannya di hampiri seorang pria yang memakai topi dan juga masker. Pria itu tampak mencurigakan sambil mengetuk-ngetuk pintu mobil didepannya.


Pintu mobil tersebut tampak dibuka paksa dan pria bertopi itu langsung mengambil seorang anak kecil dari dalam mobil itu. ibu dari bocah itu juga ikut keluar, mata Reyhan sedikit memicing memastikan kalau dia pernah melihat perempuan tersebut..benar itu perempuan yang tak sengaja selalu dia temui di rumah sakit dan anak dari perempuan itu pasien Mark dan pernah menjadi pasiennya juga karena dia menggantikan temannya itu.


Lampu sudah berubah menjadi hijau, banyak suara klakson mobil yang dibunyikan karena kedua orang itu ribut di tengah jalan. mobil yang berada di belakang Reyhan saja juga ikut membunyikan klakson mobilnya karena dia tak kunjung berjalan bagaimana dia bisa menjalankan mobilnya mobil didepannya saat ini belum jalan dan masih ribut didepannya.


Bocah yang menjadi rebutan kedua orang itu tampak menangis, begitu juga sang perempuan yang terlihat memohon. Karena tak sabaran Reyhan terpaksa turun untuk memisahkan mereka, kedua orang itu begitu membuang waktunya saat ini.


“Apa kalian tidak bisa bertengkar di rumah, ini jalan raya bukan rumah kalian” tukas Reyhan dengan lugas.


Kedua orang dewasa tersebut menoleh kearah Reyhan, Alisha terlihat terkejut melihat dokter yang pernah merawat anaknya ada disitu.


“Dokter, tolong saya dok. Anak saya mau di culik” Alisha menghampiri Reyhan dan menarik pelan Reyhan agar mendekat kearah mereka.


“Kau jangan ikut campur, dan aku tidak menculik anaknya. Ini anakku juga, lebih baik kau pe..”


“Saya tidak perduli anakmu di culik atau kau penculiknya. Yang jelas cepat pergi dari hadapan saya. Saya mau lewat” tukas Reyhan melihat sinis kearah Alisha dan juga pria tersebut.


Alisha yang mendengar itu sedikit terkejut, karena ucapan Reyhan tidak simpati padanya.


“Saya mohon, ambilkan anak saya. Dia memang ayah dari anak saya tapi dia tidak berhak dengan anak saya saya mohon dok” Alisha memelas memohon pada Reyhan bahkan sebulir air mata jatuh.


Reyhan melepas kasar tangan Alisha yang memegangnya, dan dia berjalan kearah pria itu dan mengambil paksa bocah laki-laki tersebut. dan dia menendang pria bertopi tersebut setelah dia sudah menggendong bocah itu.


“Ini anakmu, cepat pergi sana” Reyhan langsung menyerahkan bocah yang menangis itu pada Alisha. Alisha langsung bergegas menggendong anaknya masuk kedalam mobil. Pria bertopi itu berdiri dan akan menghalangi Alisha tapi di tahan oleh Reyhan. Reyhan mendorong kuat pria tersebut.


“Kau jangan ikut campur tuan,” kesal pria itu yang terus di dorong oleh Reyhan.


Reyhan diam saja dan hanya melihat dingin pria tersebut, dia juga sekilas melihat kebelakang memastikan kalau perempuan itu sudah aman. Mobil Alisha berjalan pergi meninggalkan dua orang tersebut.. saat mobil Alisha sudah pergi Reyhan mendorong kuat pria yang ada didepannya tersebut hingga terjatuh membuat Reyhan langsung berjalan masuk kedalam mobilnya.


Pria tersebut bangkit dan akan mengejar Reyhan, tapi terlambat pria itu sudah masuk kedalam mobil. Pria bertopi itu tampak kesal dan membanting topinya ke jalan. dia juga memaki Reyhan yang menjalankan mobil tepat didepannya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2