
Gibran bertandang kerumah mertuanya, dia baru saja dari kantornya setelah melihat sebentar ke sekolah anak-anaknya. Dia datang karena diminta oleh Nurma, ibu mertuanya itu katanya rindu padanya padahal beberapa hari ini dia sering kerumah tapi entah kenapa mertuanya itu masih bilang rindu.
Gibran turun dari dalam mobilnya, dia tak datang dengan tangan kosong ia membawakan banyak belanjaan untuk sang mertua yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
“kakak kesini?” tanya Nanda yang kebetulan juga baru pulang dari kampusnya. Pemuda itu sudah mulai masuk kuliah.
“loh Nda, darimana?” kaget Gibran karena adiknya tersebut tiba-tiba saja muncul dai belakangnya sambil mengendong ranselnya.
“Dari kampus lah kak, masa darimana”
“Naik apa? jalan kaki?” tanya Gibran karena tak melihat ada kendaraan di dekatnya.
“Iya, tapi aku tadi naik bus. Terus turun di halte, halte kesini jalan” jawab Nanda menjelaskannya.
“Lah motor kamu kemana? Kenapa nggak pakai motor?”
“motornya lagi di bengkel, jadi aku naik bus aja”
“kakak beliin mobil kalau gitu ya, biar kamu naik mobil berangkat kuliahnya” ucap Gibran menawarkan untuk membelikan mobil Nanda.
“Untuk apa mobil kak, kalau misalnya aku pengen pakai mobil. Ayah juga bisa beliin.karena aku nggak mau aja. Buat apa banyak-banyak mobil, sat obil untuk keluarga aja cukup” ujar Nanda yang memang memiliki kepribadian rendah hati.
“eh ayo masuk kak, malah ngobrl di luar. Kak Gibran pasti kesini bawa belanjaan..kena marah ibu mampus” tukas Nanda saat melihat Gibran yang membawakan belanjaan berupa kebutuhan pokok dan juga sayuran.
“biarin, aku kesini karena pengen dimasakin ibu aja makanya aku bawakan sayuran”
“Ya sudah ayo masuk” ajak Nanda pada Gibran, kedua pria itu langsung berjalan masuk bersamaan. Di setipa langkah menuju rumah, mereka sesekali engobro entah membicarakan apa tetapi mereka tampak asik terus bicara hingga masuk kedalam rumah.
..............................
Michel saat ini berada di dalam mobilnya, dia mengemudikan mobilnya itu menuju kerumah orang tua kandungnya. Ia akan kesana karena ingin menitipkan kedua anaknya di situ. Papa dan mamanya sedang tidak dirumah dan hanya ada asisten rumah tangga saja di rumahnya jadi dia tak tega meninggalkan kedua anaknya bersama orang lain. Dia sendiri nantia da perlu jadi mau tak mau ia harus menitipkan sang anak kerumah kakek dan nenek kandung mereka.
“Mama beneran kan mau kerumah kakek sama nenek, kita beneran mau dititpin disana kan?” tanya Aira pada sang mama yang tengah menyetir mobil.
“Iya sayang, kalian senangkan kalau kerumah kakek sama nenek” jawab Michel smabil tersenyum manis pada kedua anaknya.
__ADS_1
“Yeyyy, asikk. Aku sudah rindu sama nenek” heboh Aira, dia begitu ingin kerumah neneknya itu.
“Aiden, kamu bagaimana senangkan kerumah kakek sama nenek?” Michel melihat sekilas kebelakang dimana Aiden hanya diam tak segirang Aira.
“Iya,” jawab bocah itu singkat sambil memegang gedgetnya.
“Mama mau pergi sama Opa ya?” tanya Aira pada sang mama.
“nggak, mama pergi sendiri nggak sama Opa, memang kenapa?”
“nggak pa-pa,” jawab Aira.
“Oma sama Opa kan kondangan ke rekan kerja Opa. Kalau mama pergi sendirilah,.” Pungkas Michel.
“Kalau papa Mark kemana ma? Papa Mark sekarang jarang main sama aku sama Aiden” taya Aira penasaran, dia juag cemberut karena Mark sekarang jarang bermain dengannya ataupun dengan Aiden.
“Papa Mark kan sibuk kerja sama ngurus persiapan pernikahannya sayang, jangan marah sama papa ya?” ucap Michel dan memegang lembut pipi sang anak.
“Mama nggak pergi sama Om itu kan?’ Aiden yang duduk dibelakang tiba-tiba saja bertanya seperti itu pada sang mama.
“Om Reyhan, aku nggak mau dia nikah sama mama. Aku nggak mau punya papa baru” bocah lima tahun tersebut menatap serius sang mama dengan mata coklatnya.
“Siapa yang mau nikah sama Om reyhan sayang,?” Michel tampak terkejut dengan ucapan sang anak. Ia heran kenapa anaknya bisa bilang begitu.
“Mama mau menikah sama Om Reyhan, Om Reyha yang waktu itu kan?” sahut Aira dan sekarang ganti bocah perempuan itu yang bertanya.
“nggak sayang, mama nggak mau menikah. Om Reyhan itu teman papa Mark.” Michel mencoba menjelaskannya pada kedua bocah tersebut.
“Aiden kenapa kamu tanya begitu sama mama, siapa yang bilang mama mau menikah sama Om Reyhan” Michel langsung menatap Aiden, dia penasaran kenapa anaknya yang masih lima tahun berpikiran kalau dia akan menikah dengan Reyhan. Pasti bocah itu mendengar dari seseorang yang bicara begitu.
“Om Reyhan yang bilang, dia bilang sama papa Mark mau menikah sama mama. Aku nggak mau ma, aku nggak mau..aku mau papaku” ucap Aiden dan mulai menangis.
“Aiden, Aiden kenapa nangis..” heran Aira saat melihat kembaraanya menangis.
“Sayang, sayang kok nangis” bingung Michel, dan dia langsung meminggirkan mobilnya di tepi jalan.
__ADS_1
“Kok nangsi sih Aiden, mama nggak mau menikah lagi. Sudah diam dong sayang” panik Michel sambil mengangkat anaknya untuk kedepan. Dia memangku Aiden dipangkuannya.
“Aku mau papaku ma, aku nggak mau papa baru..hiks hiks” bocah itu menangis smabil memeluk mamanya.
“Aiden papakan udah nggak ada, papa kan udah dilangit disana tuh. Iya kan ma..” ucap Aira sambil menujuk keluar mobil mengarah ke langit.
Michel melihat Aira, dia diam saja bingung untuk menjawab apa. satu tangannya ia gunakan untuk mengusap pundak Aiden yang sesegukan enangis di pelukannya saat ini.
“Mama, iya kan papa sudah tenang di langit sana” ucap Aira lagi karena mamanya tak menjawab ucapannya.
“Aira geser sedikit ya, biar Aiden duduk disitu” bukannya menajwab Michel malah menyuruh Aira bergeser agar bisa berbagi tempat duduk dengan Aiden.
Aira menuruti ucapan sang mama, dia langsung bergeser dan Aiden langsung didudukan Michel disebelah Aira.
“Aiden, sudah sayang. Mama nggak akan nikah sama OM Reyhan..papa kamu ya papa kamu. sudah ya sayang jangan nangis lagi. Kita kerumah nenek sekarang” pungkas Michel pada Aiden. Dia mengusap lembut wajah sang anak dan memegang lembut kepala Aira. Dia benar-benar merasa bersalah pada mereka berdua karena telah berbohong.apa yang harus ia lakukan sekarang, Aiden sudah tahu soal papa kandungnya..sedangkan hatinya belum bisa menerima..rasa takut masih membayangi hidupnya saat ini.
...................................
Mobil yang dikemudikan Michel sudah sampai di depan rumah orang tuanya dan Nurma sudah menunggu mereka di depan rumah bersama dengan Nanda.
Michel turun dari mobil mengantarkan kedua anaknya hingga kedepan rumah,
“Aiden, Aira jangan nakal ya disini. jangan repotin Nenek sama Om Nanda..mama nggak lama kok keluarnya” ucap Michel menyamakan tingginya didepan sang anak. Ia mengusap lembut kepala anaknya smabil berpesan seperti itu agar keduanya tidak terlalu merepotkan ibunya.
“Nggaklah Michel, mereka nggak mungkin ngerepotin ibu. Mereka juga nggak nakal, benerkan Aira Aiden” sahut Nurma yang menghampiri anak dan cucu-cucunya.
“Iya dong Oma” jawab Aira semangat, Aiden sendiri hanya diam. Wajahnya amsih terlihat habis menangis.
Gibran yang berada di dalam rumah, dirinya yang tengah berada di ruang tengah mendengar suara ramai didepan membuatnya penasaran dan langsung berjalan kedepan. Tapi langkahnya langsung berhenti saat melihat ada Michel dan kedua anaknya ada didepan rumah mertuanya saat ini. ia lebih memilih menyembunyikan dirinya daripada harus keluar dan bertemu Michel malah nantinya hanya keributan yang terjadi.
Gibran terus memperhatikan mereka semua dia melihat sekilas kedua anaknya yang berada didekat mertua dan adik iparnya sednagkan Michel tampak berpamitan untuk pergi.
“Apa michel menitipkan anak-anakku disini,?” gumam Gibran dan dia melihat Michel yang berjalan amsuk ke mobil meninggalkan kedua anaknya bersama mertuanya saat ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C