Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 92


__ADS_3

Seminggu setelah diner romantis waktu itu, kini Gibran dan Naina tengah berada di pulau dewata Bali mereka liburan bersama keluarga yang lain. Ada Mark beserta istrinya juga.


Usia kehamilan Naina yang menginjak empat minggu membuatnya terus-terusan mengalamin morning sickness setiap harinya. Hal itu membuat Gibran merasa cemas, bahkan pagi ini saja Naina sudah beberapa kali keluar masuk kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Gibran yang melihat itu merasa kasihan, padahal niatnya mengajak ke Bali lagi untuk berlibur menikmati waktu mereka. Tapi malah Naina tak bisa menikmatinya karena badannya terasa lemas.


“hoeekk,..” lagi Naina yang duduk di tepi tempat tidur langsung kembali berlari ke arah kamar mandi saat ini. Gibran yang melihat hal tersebut langsung menghampiri istrinya, dia berdiri dibelakang sang istri yang tengah memuntahkan cairan kental dari dalam mulutnya.


“Sayang, kita ke dokter ya” ucap Gibran sambil memijit tengku leher bagian belakang Naina. Gibran melihatnya benar-benar merasa cemas.


“Nggak..” lirih Naina sambil berdiri mengusap bibirnya dengan tisu yang sedari tadi dia pegang. Tiba-tiba saja tubuhnya hampir limbung untung Gibran sigap menangkap istrinya tersebut.


“Sayang, kamu tidak apa-apa” ucap Gibran sambil melihat istrinya yang tampak lemas.


“Badanku lemas, bantu aku ke tempat tidur” lirih Naina meminta Gibran membawanya ketempat tidur.


Gibran langsung menggendong Naina membawanya ketempat tidur saat ini, dia membaringkan sang istri secara perlahan.


“Aturan aku aja yang mengalami hal ini, aku nggak tega lihat kamu begini” ucap Gibran yang sudah duduk disebelah Naina.


“Apa sih, ini wajar kok dialami ibu hamil” ucap Naina agar sang suami tak mencemaskannya.


Gibran menggeser sedikit tubuh Naina agar dia bisa berbaring disebelah sang istri. Gibran menaruh tangannya dibawah kepala Naina dan dia memeluk istrinya.


“Ya tapi aku nggak tega aja, kalau kamu begini. kalau begitu hari ini kita nggak usah keman-mana ya kita tidur aja di kamar” putus Gibran sambil meniup kepala istrinya itu.


“Terus anak-anak gimana, mereka kan minta jalan-jalan ke pantai” jawab Naina sambil melihat kearah Gibran.


“Anak-anak biar sama Erlan, dan kakak kamu. kita disini saja, aku nggak mau kamu kecapean dan muntah-muntah lagi”


“ya sudah,” Naina yang badannya terasa lemah mengiyakan saja apa yang dikatakan Gibran padanya. Gibran langsung memeluk istrinya itu sambil mengusap perut sang istri.


“Kamu kenapa sih nak, kok buat mama mual terus. Jangan nakal ya diperut mama..” Gibran berbicara pada perut istrinya.


Naina hanya diam menatapnya saja, dia benar-benar lemas hari ini tenaganya sudah habis karena makanan yang dia makan selalu balik lagi.


Tok, tok...


Terdengar ketukan pintu di luar membuat sepasang suami istri itu langsung saling lihat,


“Itu ada orang,” ucap Naina.


“Aku bukain pintu dulu ya,” ucap Gibran sambil bangun dari tidurnya.


Gibran langsung berjalan menuju pintu kamarnya saat ini untuk membukakan pintu tersebut.


“Kalian, ada apa?” ucap Gibran yang sudah membukakan pintu. Ternyata Mark dan juga Selina yang datang ke kamar mereka saat ini.


“Ayo jalan, katanya mau keliling Bali” ucap Mark.


“Kalian saja ya, aku sama Naina nggak bisa hari ini. aku juga titip anak-anak ya” pungkas Gibran.


“Bukannya semalam kalian yang ngajak, kenapa malah nggak bisa” heran Mark. “Adikku mana?” tanya Mark.


“Itu,.”jawab Gibran smabil sedikit bergeser agar Mark bisa melihat Naina yang berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


“Michel kenapa?” tanya Selina.


“Adikku kenapa?” tanya Mark juga.


“Biasa hamil muda, dia terus muntah tadi sekarang badannya lemes. Jadi kita nggak ikut ya” jelas Gibran.


Mendengar itu Mark langsung masuk kedalam, dia terlihat mencemaskan adiknya itu.


“Michel..” panggilnya pada Naina yang tadinya hampir memejamkan mata langsung melihat kearah Mark.


“Oh kak,.”


“Kamu kenapa? Badan kamu lemas..mau kakak infus vitamin” pungkas Mark menatap sang adik.


“Nggaklah, nanti juga aku bakal sembuh”


“Michel, diinfus aja. Perut kamu juga kosong kan?” sahut Selina yang sudah berdiri disebelah Mark.


“Nggak ah kak, aku mau tidur aja. Nanti juga sembuh” Naina menolak untuk diifus. “Lagian kalau di infus kakak nggak ada peralatannya” lanjutnya dengan lemah.


“Aku bisa beli di apotik, mau ya aku infus” pungkas Mark memaksa sang adik.


Naina menggeleng pelan, masih bersikeras tak mau di infus.


“Sudahlah Mark, kau tidak usah khawatir kalau ada apa-apa aku bakal bilang padamu. Aku juga baka menjaga istriku, kamu pergi saja ya tapi itu aku titip anak-anak sama kamu” pesan Gibran pada kakak iparnya tersebut.


“Sayang sudahlah, Michel nggak mau jangan dipaksa. Kita keluar saja bagaimana? Anak-anak pasti sudah nunggu kita” ucap Selina sambil melingkarkan tangannya di lengan Mark.


“Ya sudah kalau kamu nggak mau kakak infus, kamu tidur saja kalau begitu. Gibran aku titip adikku kalau ada apa-apa kau kabari aku nanti” Mark akhirnya mengalah, dia memutuskan untuk pergi bersama istrinya karena Naina tidak mau di infus vitamin.


Setelah mereka pergi Gibran berjalan kearah istrinya, dia naik kembali ketempat tidur dan memeluk sang istri seperti tadi.


“Sudah kalau tidur kamu tidur saja, badan kamu lemaskan?” Gibran menatap Naina yang mengangguk. Gibran semakin erat memeluk sang istri,


“Aku mau dong di elus perutnya” pinta Naina lirih.


“Perutnya minta aku elus, ya sudah aku lakukan” Gibran langsung menuruti apa yang diinginkan Naina. Ia melakukannya dengan penuh kasih sayang.


......................................


“Ini tiketmu,” Reyhan mengulurkan tiket pesawat pada Alisha yang duduk sambil mendekap sang anak di kursi tunggu bandara saat ini.


Alisha melihat sekilas tiket tersebut, matanya begitu sedih melihatnya. Dia sesekali melihat kearah Reyhan yang berdiri didepannya.


“Kenapa kalian semua membenciku, seburuk itu kah diriku dimata kalian. Apa seorang pendosa sepertiku tidak bisa untuk diberi kesempatan memperbaiki diri. Kenapa kalian semua mengecapku sebagai perempuan yang jahat. Apa tidak bolehkah perempuan jahat ini berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, kenapa, kenapa kalian tidak percaya padaku hik hiks” Alisha melayangkan protesnya dengan suara seraknya dia tak bisa menahan air matanya saat ini. Dia begitu tak menyangkat masa lalunya dulu masih begitu dibenci semua orang padahal dia sudah berubah dan tidak seperti itu lagi, dulu saja saat dia di putuskan oleh Gibran dia juga tidak memaksa untuk kembali, dia menerima begitu saja.


“Aku bukannya membencimu, tapi aku rasa lebih baik kau kembali ke keluargamu di Luar Negeri. Kalau kau tetap disini tidak ada yang melindungimu dari mantan suamimu itu. bisa-bisa anakmu di ambil oleh dia”


“Hiks, Hikss, aku tidak takut dengan mantan suamiku. Aku disini hanya ingin bekerja mencari untuk anakku.” Alisha menangis didepan Reyhan. Reyhan yang melihat itu merasa iba, tapi mau bagaimana lagi Mark sudah menyuruh Alisha pergi dari apartemen Selina dari seminggu lalu dan selama seminggu itu dia menampung Alisha karena tidak tega.


Setelah seminggu Reyhan menyuruh Alisha untuk pergi saja keluar negeri karena orang tua Reyhan melarang Alisha untuk tinggal dirumah anaknya gara-gara suami Alisha yang datang kerumah Reyhan dengan membawa polisi. Karena hal itulah kedua orang tua Reyhan tak menyukai Alisha bagi mereka Alisha membuat anak mereka yang baik terlibat dengan kepolisian.


“Soal masa lalumu, aku tidak membencinya. Semua orang itu punya masa lalu yang pahit dan semua orang punya kesalahan di masa lalu. Kalau orang yang sudah berubah wajib mendapatkan maaf..mungkin Michel juga sudah memaafkanmu cuman orang-orang terdekatnya yang merasa tidak terima.”


Alisha tak menangapi Reyhan lagi, dia langsung menyambar tiket pesawat itu dan dia langsung berdiri sambil menggendong anaknya.

__ADS_1


“Aku bantu” ucap Reyhan akan membawakan kper milik Alisha.


“Tidak usah,” tolak Alisha dan dia langsung pergi sambil menarik kopernya. Jujur kalau waktu bisa diulang dia tidak akan berpacaran dengan Gibran dulu. sekarang dia di cap jelek oleh semua orang, kenapa mereka masih menyalahkan masa lalunya, padahal saat ini dia benar-benar sudah berubah. Kenapa semua menganggapnya benalu..seburuk itu kah dirinya sampai mereka membencinya. Dulu juga bukan sepenuhnya slaah dirinya, batin Alisah mengasihani dirinya sendiri.


Reyhan yang melihat perempuan itu pergi merasa kasihan karena terus di salahkan oleh Mark dan Mark juga mengusir perempuan itu dari apartemen Selina.


“Semoga hidupmu kedepannya lebih baik lagi nona Alisha, dan lebih baik kau bersama kedua orang tuamu yang bisa melindungimu daripada kau di negara asing seperti ini. negara yang masih mengukur orang dari masa lalunya..” gumam Reyhan sambil melihat kepergian Alisha yang berjalan masuk kedalam.


..................................


Naina terbangun dari tidurnya, karena badannya terasa lemas tadi akhirnya membuat dia tertidur. Sekarang dia sudah bangun dan melihat sang suami yang masih tidur disebelahnya saat ini.


“Sayang,..” panggilnya pada Gibran.


“Iya,.” Lirih Gibran membuka matanya perlahan. “Ada apa sayang?” tanya Gibran kemudian sambil memperhatikan sang istri.


“Aku mau duduk di luar dong sama kamu” pinta Naina.


“dimana?” tanya Gibran dengan suara seraknya, dia masih mengantuk sekarang.


“Di pinggir kolam renang”


“Ya sudah yok,” Gibran perlahan mulai bangun, ia turun dari tempat tidur sambil mengulurkan tangannya pada sang istri.


Naina menerima uluran tangan itu, dia perlahan turun.


“Gendong,” ucapnya manja.


Gibran yang tadinya masih mengantuk langsung melebarkan matanya..


“Apa sayang?”


“gendong”


“Masa cuman disitu minta gendong”


“Pokoknya gendong” rengek Naina seperti anak kecil.


“Ya sudah yok” Gibran langsung berjongkok didepan Naina agar memudahkan sang istri untuk naik ke punggungnya.


“Bukan gendong begitu”


“terus gendong kayak mana?” heran Gibran yang belum terlalu sadar.


“Gendong yang kayak pengantin baru itu” tukas Naina.


“begitu..” Gibran langsung mendekat kearah sang istri dan langsung menggendong Naina ala pengantin baru.


“Sudah..” ucap Gibran sambil menatap snag istri yang langsung mengalungkan tangan kelehernya saat ini.


Naina tiba-tiba saja mengecup bibir Gibran,


“Hadiah dari aku,” pungkas Naina pada sang suami. Gibran yang mendapat ciuamn tiba-tiba itu tersenyum dan dia langsung berjalan kearah kolam renang saat ini.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2