Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 79


__ADS_3

Hari ini Naina dan juga Gibran bertanda ke rumah Mahendra karena Mark sudah kembali dari Spanyol setelah seminggu bulan madu di sana.


“Kangen,..” ucap Naina sambil memeluk kakaknya.


“Lebay, baru juga aku seminggu nggak kelihatan” cibir Mark sambil membalas pelukan Naina.


“Kakak bisa nggak sih, biar kelihatan deket gitu” cemberut Naina sambil melepaskan pelukan kakaknya dan dia langsung beralih kearah Selina yang berdiri disebelah Mark.


“Kak Shel, aku juga kangen sama kakak” ucap Naina manja memeluk perempuan yang sudah menjadi kakak iparnya itu.


“kakak juga kangen sama kamu” jawab Selina sambil membalas pelukan Naina.


“Apa kabarmu bro,” ucap Gibran sambil mengulurkan tangannya pada Mark.


“Baik, kabar kalian sendiri bagaimana?”


“Kita juga baik,” jawab Gibran.


“nanti aku perlu bicara padamu Gibran?” ucap Mark pada Gibran kemudian.


Gibran menatap penasaran, kenapa Mark mengajaknya bicara nanti bukan sekarang.


“Ini kenapa ya kok pada berdiri, buruan duduk” Vita tiba-tiba saja muncul membawakan beberapa gelas jus jeruk.


“Iya ma, ini mau duduk” sahut Michel dan langsung kembali ke sisi sang suami. dan dia langsung duduk di sofa begitu juga Gibran beserta Mark dan Selina.


“Kak mark sampainya semalem kan?” tanya Naina pada kakaknya yang duduk di depannya saat ini.


“Iya semalem baru sampai, kenapa?”


“Nggak pa-pa”


“Kak Selina, kakakku nggak jahat sama kamu kan?” tanya Naina pada Selina yang duduk di sebelah Mark.


“Nggak, kakakmu sangat baik sama kakak. Manis banget orangnya,” tukas Selina sambil tersenyum kearah Mark yang tersenyum malu akan pujian istrinya.


“Baguslah, kalau sampai kak Mark jahat sama kak Shel bilang aja padaku kak biar aku kasih pelajaran dia”


“Michel, Michel memang kamu bisa ngelawan kakak kamu. tarung taekwondo saja kamu kalah dengan Mark” timpal Vita sambil tersenyum mendengar ucapan anak perempuannya.


“Bisa ma, kan ada gIbran. Gibran yang bakal melawan kak Mark jawab Naina santai sambil nyengir kearah sang suami yang hanya bisa menghela nafas saja.


“Huh, masa nyuruh orang lain. Tapi kamu tidak usah khawatir Michel aku tidak akan menyakiti Selina. Karena tidak ada perempuan yang se sabar dia selama ini” pungkas Mark sambil menggenggam tangan Selina. Mendengar itu Selina tersenyum hangat.


“Ini papa kemana ya ma? Kok dari tadi aku nggak lihat papa” ucap Naina karena sedari tadi dia sampai, ia sama sekali tak melihat papanya ada di rumah.


“Papa kamu katanya mau ke rumah sakit, entah kok belum pulang dari tadi”


“Papa sakit?” tanya Naina langsung terlihat cemas.


“Nggak, dia cuman mau lihat rumah sakitnya aja. Kamu lupa kalau papa kamu punya rumah sakit” kata Vita menatap aneh anaknya.


“Oh iya aku lupa ma,” tukas Michel sambil menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


“Haduh, Michel-Michel masih muda sudah pelupa” pungkas Mark dan juga Selina bersamaan.


“Ya kan, selama ini yang ngurus rumah sakit kak Mark jadi aku lupa kalau rumah sakit kita itu punya papa” jawab Naina polos.


“sayang aku keatas dulu ya ambil oleh-oleh buat Michel dan si kembar” pamit Selina, dia langsung berdiri dari duduknya.


“Ayo aku temani, sebanyak itu nggak mungkin kamu bawa sendiri” pungkas Mark dan juga ikut berdiri.


“Michel Gibran, aku tinggal ke atas sebentar ngambil oleh-oleh buat kalian. Ma aku nganter Selina keatas dulu ya” ucap Mark pada ketiga orang yang duduk tersebut.


“Iya kak,” jawab Michel dan juga Gibran.


“Mark sama Selina entah membelikan kalian apa, tapi banyak banget yang dia beli apalagi buat si kembar” ucap Vita melihat sekilas Mark dan Selina yang berjalan pergi dan dia langsung beralih melihat kearah Gibran dan juga Naina.


“Kenapa mereka harus repot-repot sih ma, aku sama Michel jadi tidak enak” ucap Gibran pada Vita.


“Nggak pa-pa, mungkin itu bentu kasih sayang mereka ke kalian” pungkas Vita.


“Si kembar kok nggak ikut kesini, mereka di rumah neneknya ya?” tanya Vita karena tak melihat cucunya ikut bersama anak dan menantunya.


“Mereka sekolah ma, makanya nggak ikut kesini. Mama kangen sama mereka ya?”


“Iya mama kangen, dan rasanya aneh nggak lihat mereka beberapa hari ini. biasanya setipa mama bangun tidur mama selalu lihat mereka dan denger suara cerewetnya Aira” Vita menjawab dnegan sendu, dia memang merindukan kedua cucunya. Rumahnya terasa berbeda beberapa hari ini karena terasa sepi tak mendengar celoteh-celoteh kedua bocah itu.


“Kalau begitu besok mereka biar tidur disini bagaimana ma, kalau mama Vita kangen sama mereka. Aku sama Michel juga besok mau ke puncak untuk melihat perkebunan” usul Gibran pada mertuanya.


Naina langsung melihat kearah Gibran, padahal Gibran kemarin bilang kalau akan mengajak kedua anak mereka ke puncak kenapa malah di titipkan ke mamanya. Gibran tahu tatapan Naina padanya tapi dia pura-pura tak tahu.


“Iya aku ijinin mereka disini, kan tadi mama bilang kangen sama si kembar” jawab Gibran.


“terimakasih kalau begitu, mama senang dengarnya” wajah Vita yang tadi tampak sedih kini kembali sumringah karena mendengar kalau cucunya besok akan menginap dirumahnya.


“Sama-sama ma” jawab Gibran sambil tersenyum, begitu juga Naina yang tersenyum tapi sedikit dipaksakan.


“Kalian besok mau ke puncak untuk Survey dari perusahan barumu ya Gibran?” tanya Vita penasaran.


“Iya ma,”


“Perusahan GINAI kan? gabungan nama kamu sama nama Michel yang dulu”


“Iya ma, nama itu bukti rasa cinta aku sama dia” ucap Gibran sambil menggenggam tangan Naina dan dia melihat kearah sang istri.


“Kamu romantis banget ya, dulu sebelum mama tahu kamu mama kira kamu orangnya jahat banget. Tapi ternyata nggak, kamu juga sayang sama anak mama sekarang” mendengar penjelasan Gibran Vita merasa tak salah mengijinkan putrinya kembali pada Gibran karena Gibran benar-benar orang yang baik meskipun dulu pria itu tidak baik tapi sekarang dia sudah berubah menjadi sesosok pria yang bertanggung jawab.


..................................


Gibran dan juga Mark saat ini berada di kursi samping kolam renang, mereka menikmati segelas kopi yang berada di depan mereka masing-masing.


“Aku dengar dari mama kamu mengajak Michel kembali ke rumah kalian dulu, bagaimana mIchel apa dia masih trauma?” tanya Mark yang membuka omongan.


“Nggak, dia sudah tidak trauma denganku ataupun dengan rumah kita dulu. aku juga merubah rumahku agar tidak sama persis seperti dulu” jawab Gibran sambil menyeruput kopi di gelasnya.


“Baguslah kalau begitu, aku hanya berpesan padamu saja tolong jangan sakiti Michel lagi. Dia perempuan yang baik dan hatinya begitu lembut, meskipun sekarang dia tampak kuat daripada dia yang dulu tapi hatinya masih sama masih Naina yang lemah lembut seperti yang kamu kenal dulu” nasehat Mark pada Gibran.

__ADS_1


“Iya aku tidak akan menyakiti dia lagi, karena aku benar-benar mencintainya. Aku ingin berterimakasih padamu karena telah merawat istriku dan anak-anakku. Terima kasih sudah membantu mereka selama ini”


“Sama-sama, Michel sudah seperti adikku sendiri meskipun aku pernah ada rasa padanya. Aku minta maaf padamu karena pernah menaruh hatiku pada istrimu” ucap Mark dengan jujur.


“Tidak apa-apa, tapi sekarang kamu tidak mencintainya lagi kan. kalaupun kamu masih mencintainya kau tidak akan bisa mendapatkannya karena dia adikmu dan juga dia sudah kembali bersamaku”


“Jelas tidaklah, sudah gila kalau aku masih mencintai adikku sendiri. lagipula aku sudah ada istri yang setia padaku” kekeh Mark mendengar ucapan Gibran.


“Baguslah kalau begitu jadi aku tidak perlu saingan dengan kakak ipar sendiri” canda Gibran


Keduanya saling tersenyum, dan sesekali menyeruput kopi mereka.


“Oh iya, satu pesanku lagi padamu” ucap Mark lalu dia menatap serius pria didepannya.


“Ada apa?” bingung Gibran saat melihat wajah Mark yang berubah serius.


“Jika kamu sudah tidak mencintai Michel lagi nantinya kembalikan dia ke keluargaku daripada harus kamu selingkuhi dia” pungkas Mark serius.


“Selingkuh? Ya jelas aku tidak akan menyelingkuhi istriku. Jangan mengarang, untuk apa aku selingkuh”


“Siapa tahu, kalau kamu masih mencintai manta kekasihmu dulu. karena aku dengar dari orang yang ku kenal dulu kamu punya pacar seorang model dan kamu masih menjalin hubungan dengannya saat kamu sudah menikah dengan Michel dulu”


Gibran diam, mengingat hal itu dia merasa bersalah..itu masa lalunya yang terbodoh.


“Aku sudah tidak mencintainya lagi, cintaku dan ragaku seutuhnya hanya milik Naina sekarang bukan orang lain. Dan aku tidak akan pernah berpaling dari istriku” tekan Gibran dengan cukup tegas.


“Baguslah kalau begitu, ucapan ku tadi hanya mengingatkanmu saja.”


“Ada yang ingin ku beritahu padamu Mark, tap ini belum aku beritahu pada Naina. Aku takut dia akan salah paham, karena kita baru kembali bersama aku takut jika dia pergi dariku” ucap Gibran sedikit ragu untuk bicara kelanjutannya.


“Apa?”


“Aku memang sudah tidak cinta dengan mantanku, tapi aku masih dekat dengannya. Tapi bukan dekat dalam artian cinta..aku dekat hanya sebatas teman saja. aku terkadang masih membantunya saat dia meneleponku untuk membantunya” lirih Gibran menatap mata Mark takut-takut.


“Kau berteman dengan mantan kekasihmu?”


“Iya tapi kita jarang atau bahkan tak pernah bertemu. Terakhir bertemu beberapa bulan lalu saat dia minta tolong untuk mengantarkan anaknya ke rumah sakit?”


“anak? Itu anakmu juga?”


“Bukan, itu anaknya dengan suaminya. Tapi dia sudah bercerai dengan suaminya itu, suaminya dulu menikahinya hanya karena ingin memanfaatkan popularitasnya saja dan bukan itu saja suaminya begitu bejat bahkan lebih bejat dariku dulu. dia berani selingkuh dan berhubungan badan terangan-terangan di depan Alisha”


“Aku waktu itu membantunya karena kasihan padanya, dia gara-gara manta suaminya itu karirnya hancur dan juga terpaksa menjadi single parent serta ekonominya menurun. Ditambah anaknya sering sakit-sakitan dan badannya terlalu sensitif karena dulu lahir prematur” lanjut Gibran menceritakan soal mantannya itu pada Mark.


“Aku harap sih soal ini, kamu beritahu Michel langsung daripada di salah paham. “ Mark memberikan pendapatnya pada Gibran.


“Pasti, aku akan beritahu dia. makanya sekarang aku bicara dulu padamu jadi misalkan kalau aku belum sempat bicara padanya kamu bisa menjelaskan ini pada Naina” tukas Gibran.


Mark yang mendengar itu hanya diam sambil mengangguk kecil, setuju dengan apa yang dikatakan Gibran.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2