
Erlan masuk kedalam resort milik kakaknya, dia membawakan makanan gurita bakar yang diberikan oleh Samuel padanya.
“Kak, Kakak” serunya sambil berjalan masuk membawa piring yang berisi cumi bakar tersebut.
Tak ada jawaban dari dalam semakin membuatnya terus melangkah masuk, dan dia langsung berhenti saat melihat apa yang tidak dia bayangkan berada di depan mata.
Piring berisi gurita tersebut langsung terjatuh, dengan suara yang cukup keras.
“Astaga woi, ini masih siang sudah begituan. Mata polosku tercemaar ini” seru Erlan kesal saat melihat Gibran dan Naina tengah bermesaraan cukup panas.
“Sontak Gibran langsung buru-buru turun dari atas snag istri, begitu juga Naina yang langsung membenarkan bajunya.
Gibran sudah tak memakai atasan tapi dia masih memakai elananya menatap canggung kearah Erlan yang baru saja memergoki dirinya.
“Kenap aku masuk tanpa suara” tukas Gibran berusaha untuk tetap tenang.
“tanpa suara gimana, aku loh sudah manggil-manggil kakak. Dasar kalian berdua aja nggak ngerti tempat. Sudah ah aku mau keluar tuh beresin” tukas Erlan dan langsung berbalik pergi meninggalkan cumi bakar yang terjatuh kelantai.
“Iih kamu sih, aku malu tahu nggak” protes Naina menyalahkan Gibran.
“Kok aku sih sayang, lah kamu dulua yang minta tadi” Gibran tak terima saat Naina menyalahkan dirinya.
“Jadi kamu nyalahin aku,” Naina langsung menatap tajam suaminya. Dia langsung berdiri dari sofa saat ini, dan berjalan pergi ke arah kamarnya.
“Nggak sayang, jangan ngambek dong. Aku nggak nyalahin kamu kok” ucap Gibran membujuk istrinya dan dia akan menyusul sang istri yang pergi kekamar. Tapi tiba-tiba Kia menghentikan langkahnya sambil menatap Gibran.
“Jangan ikuti aku, beresin dulu itu..” ucap Naina smabil menunjuk kearah makanan yang berserakan di lantai.
“Iya, tapi kamu jangan ngambek ya” ucap Gibran pada sang istri.
Naina tak menjawabnya, dia langsung berjalan masuk kedalam kamar meninggalkan Gibran sendirian.
Gibran hanya bisa menghela nafas panjang dengan sikap istrinya yang moodyn.
“Ternyata orang hamil emosinya naik turun, serba salah” gumamnya sambil memunguti masakan yang di bawa Erlan tadi.
“Ini juga, Kenapa Erlan langsung pergi tidak memberesinya lebih dulu” gerutu Gibran.
“Dulu saat hamil si kembar Naina apa begini ya, kalau begini berarti Mark dulu pusing sekali” gumam Gibran membayangkan Mark dulu mungkin juga seperti ini saat mengurus Naina tanpa dirinya.
Buru-buru Gibran langsung membersihkan lantai yang kotor tersebut, dia harus menyusul sang istri yang tengah ngambek padanya.
...............................
Seminggu berlalu dengan cepat saat ini Gibran sudah berada di kantornya dia tampak sibuk mengejakan sesuatu.
“Tari, bawakan berkas yang belum saya tandatangani” perintah Gibran sambil menekan tombol yang ada di telpon kantornya.
“iya pak” jawab Tari dari seberang sana.
Tak lama kemudian Tari langsung masuk kedalam ruangan Gibran saat ini sambil membawakan tumpukan berkas di tangannya.
“Ini pak berkas yang belum pak Gibran tanda tangani” ucap Tari pada sambil menaruh beberapa berkas tersebut di meja kerja Gibran.
“Sebanyak ini” kaget Gibran saat melihat berkas yang diberikan Tari.
“Iya pak”
“Nggak salah tar..” Gibran masih tak percaya dengan berkas yang diberikan Tari padanya.
“Nggak pa, ini memang berkas yang belum pak Gibran tanda tangani”
__ADS_1
“Kan bapak ngambil libur smeinggu lebih waktu itu, jadi berkasnya numpuk sebanyak ini” jelas Tari pada Gibran.
Gibran hanya diam saja sambil meneguk ludahnya melihat berkas-berkas yang banyak didepannya.
“Ya sudah, kamu bisa pergi sekarang” ucap Gibran kemudian.
“Baik pak” Tari langsung pergi dari ruangan Gibran. Tapi baru dia akan membuka pintu Gibran sudah memanggilnya kembali.
“Tari sebentar” ucap Gibran dan membuat Tari berhenti berjalan dan berbalik menghadap kearah Gibran.
“Iya pak ada apa?” tanya Tari sambil melihat kearah bosnya itu.
“Kamu pulang kerja main kerumah saya ya, ajak anak-anak kamu keruma saya” perintah Gibran pada sekertarisnya tersebut.
“Maaf memang kenpa ya pak?”
“kamu mainlah kerumah temuin istri saya, dia lagi hamil jadi moodnya naik turun sering bete. Siapa tahu kalau kamu main kerumah sambil ajak anak-anak kamu istri saya nggak bete lagi. Di rumah saya juga ada anak-anak saya siapa yang bisa bermain dengan anak-anak kamu” jelas Gibran kenapa dia meminta Tari untuk kerumahnya. Dia ingin menghibur snag istr dengan mendatangkan sahabat lama istrnya itu siapa tahu dengan kedatangan Tari, naina tidak terlalu bete lagi.
“Ya sudah pak kalau begitu nanti sehabis kerja saya kerumah bapak sama anak-anak saya. Oh iya selamat ya pak atas kehamilan Naina”
“Iya terimakasih”
“kalau begitu kamu boleh pergi,” ucap Gibran lagi.
“baik pak,” Tari langsung berjalan keluar dari ruangan Gibran saat ini sedangkan Gibran langsung kembali sibuk dengan pekerjaanya. Tak ada waktu bagi dirinya untuk berleha-leha, karena pekerjaannya saat ini sudah menumpuk.
...............................
Naina saat ini sedang duduk sambil membaca majalah di depan televisi, dia tidak sendiri ada Erlan juga yang berada di situ. Pemuda tersebut fokus menonton kartun kesukaannya, Erlan meskipun sudah dewasa tapi maish suka menonton Kartun.
“Kak nanti jadi kerumah papa Alfred?” tanya Erlan pada kakak iparnya tersebut.
Naina langsung melihat kearah Erlan yang menatapnya saat ini,
“Ya nggak pa-pa sih, kalau kesana aku ikut ya”
“Iya nanti aku ajak kamu. kamu kangen ya sama mama kamu?”
“Nggak, aku cuman pengen ikut aja. Bosen aku di suruh tunggu rumah terus sama kak Gibran”
“Aku suka deh punya kakak ipar baik seperti kak Nai. Aku selama ini nggak punya kakak cewek jadi saat kakak mau balik sama kak Gibran rasanya aku senang tahu nggak kak. Ternyata memang enak punya kakak perempuan” pungkas Erlan mengutarakan kebahagiannya punya kakak ipar seperti Naina.
“Kamu..” gemas Naina pada Erlan.
“Kok kak Nai baik sih sama aku, padahal kak Gibran bilangnya aku orang yang nggak bersyukur, kurang bisa di atur dan lain-lain deh pokoknya. Dia juga sering bandingin aku sama adik kak Nai.” Cerita Erlan pada Naina.
“Kamu sering dibandingin sama Nanda?”
“Iya dulu apalagi, aku terus dibanding-bandingin sama Nanda. Katanya Nanda pinter, nggak nakal nurut sama orang tua. Pokoknya masih banyak pujian buat Nanda daripada aku,” pungkas Erlan menceritakan dulu.
“Kakak kamu memang keterlaluan ya, kamu sama Nanda bagi kakak sama saja. aturan dia jangan suka ngebandingin begitu.”
“Entah itu orang, aku aja sering kesal sama dia. tapi gimana lagi nginget dia kakaku jadi kesel itu aku buang” ucap Erlan.
“bagus, kalau kesal sama orang itu memang ahrus di buang Erlan jangan terllau benci sama orang ya. Nggak baik”
“Siap kak” pungkas Erlan.
“Ya sudah ya, kamu nonton sendiri saja kakak mau ke kamar. ngantuk soalnya” ucap Naina menutup majalahnya dan langsung berdiri dari duduknya saat ini.
“Iya kak” jawab Erlan dan kembali fokus menonton.
__ADS_1
“Oh iya Erlan, kakak minta tolong sih sama kamu?”
“Minta tolong apa?” tanya Erlan yang kembali menatap kakak iparnya.
“Kakak minta tolong nanti kamu jemput si kembar di sekolahnya ya. Soalnya kakak agak nggak enak badan”
“Iya nanti aku jemput, kartu aksesnya dimana?” tanya Erlan soal kartu akses yang akan digunakan untuk masuk kesekolah si kembar.
“Ada di kamar kakak, nanti kalau kamu mau berangkat ketuk aja pintu kamar kakak” pinta Naina pada adik iparnya.
“Oke,” balas Naina.
Perempuan itu langsung berjalan pergi menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang tengah.
.......................................
Erlan tengah berada di dalam mobilnya yang dia parkirkan didepan sekolah si kembar, ternyata dia datang terlalu awal terpaksa saat ini ia harus menunggu.
“Kenapa tadi kak Nai nggak bilang kalau pulangnya siang banget..” gerutu Erlan kesal.
“Suami istri sama aja, agak kurang” lagi Erlan terus menggerutu kesal karena Naina tidak bilang jam berapa si kembar pulang.
Saat Erlan tengah menggerutu sendirian, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya saat ini membuat dia sedikit terjingkat kaget.
“Siapa sih” dia yang kesal semakin kesal.
Seorang pria memakai baju hitam dengan rambut rapi melihat kedalam mobilnya, pria itu security di sekolah si kembar.
Erlan langsung turun dari dalam mobil saat ini untuk berbicara pada pria tersbeut.
“Iya ada apa?” tanya Erlan pada scruty tersebut.
“maaf masnya siapa ya kok dari tadi mobilnya berhenti disini?” tanya petugas tersebut.
“Saya Omnya Aiden sama Aira mereka belum pulang kan?”
“Bisa tunjukkan kartu aksesnya mas kalau memang anda Omnya” ucap security tersebut.
“Astaga, anda nggak percaya’ Erlan langsung merogoh saku celananya dan menyerahkan akrtu akses tersebut pada sang security.
Pria itu langsung melihat kartu akses yang diberikan oleh Erlan.
“Ini mas” ucapnya langsung memberikan kartu tersebut pada Erlan lagi.
“ya” Erlan mengambilnya dengan jengah, bagaimana tidak jengah dia tidak di percayai penjaga tersebut.
“kalau begitu, masnya masuk aja mas nunggu di dalam. Sebentar lagi mereka juga pulang” ucap sang scurity pada Erlan.
“Serius ini boleh masuk”
“Iya boleh mas, silahkan masuk. Itu orang tua para murid yang lain juga pada masuk kedalam. Nanti kalau mereka keluar takutnya masnya nggak tahu”
“Ya sudah kalau begitu saya masuk kedalam dulu pak,” ucap Erlan.
“Iya mas silahkan” ucap petugas itu dna kembali ke posnya.
Sedangkan Erlan berjalan masuk kedalam mobilnya saat ini. dia langsung menyalakan mobil saat sudah sampai di dalam.
“kenapa tuh ornag ngga bilang dari tadi, kalau bilang dari tadi nggak mungkin aku nunggu disini” ucap Erlan yang menggerutu. Dia langsung menjalankan mobilnya masuk kedalam area sekolah si Aiden dan jug Aira. Sudah lama dia menunggu di luar dan baru disuruh masuk sekarang, yang salah dirinya atu petugas-petugas itu.
Erlan membunyikan klakson mobil saat melewati orang-orang yang berada di dalam pos penjagaan. Mobil milik Erlan langsung masuk kedalam area sekolah tersebut.
__ADS_1
°°°
T.B.C