Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 41


__ADS_3

“Aira cepat sembuh ya sayang, biar bisa main sama Om” Gibran berbicara pada Aira, dia mengusap lembut rambut bocah tersebut. Ia sedari tadi duduk di sebelah ranjang Aira mengajak bercanda bocah itu. Sedangkan Michel hanya diam di sofa memperhatikan saja, dia masih bertanya-tanya tentang ucapan Gibran,. Ia begitu gelisah hanya berdua saja dengan pria itu, ia takut kalau dugaannya benar Gibran tahu sesuatu maka bisa-bisa dia dalam bahaya atau bahkan pria itu akan mengambil anaknya, Michel menggigit bibirnya sendiri.


“Kak Mark kemana, kenapa dia belum kembali juga” batin Michel sambil sesekali melihat kearah pintu.


“Mama, mama kesini..Om Bran lucu deh mah” panggil Aira membuat lamunan sang mama langsung buyar dan menatap kearahnya.


Michel langsung melihat kearah anaknya, dia sekilas melihat Gibran yang menatapnya datar..


“Mama disini saja sayang” tolak Michel dia tidak mau mendekat kearah pria itu.


Pintu ruang rawat Aira terbuka, dan itu Mark yang baru saja datang.


“Kau disini Gibran?” tanya Mark yang terkejut melihat ada Gibran di dalam ruang rawat keponakannya.


Gibran langsung menoleh melihat pria yang baru masuk tersebut, dia langsung berdiri melihat kearah Mark.


“Iya, aku ingin melihat keponakanmu”


“tahu darimana kau keponakanku sakit” heran Mark.


Michel yang mendengar pembicaraan itu, melebarkan matanya menatap Gibran. Itu artinya Gibran datang bukan karena di beritahu Mark soal Aira yang sakit tapi sepertinya pria itu memang tahu Aira dirawat. Tapi tahu darimana, dua hari yang lalu dia tak memperbolehkan Gibran mengantarnya sampai ke dalam rumah sakit.


“Kenapa kak Mark lama sekali, aku kelaparan” tukas Michel mengalihkan kecurigaannya. Dia berjalan mendekati Mark yang juga berjalan kearahnya.


“Maaf, tadi ada pasien yang butuh pertolongan jadi aku menemui pasien lebih dulu. ini makanannya dan buat Aira papa belikan apa ini” ucap Mark sambil menenteng Pizza dan ia tunjukkan pada bocah kecil yang berada di ranjang rumah sakit.


“Yeyy, Pizza. I Love You papa” girang bocah itu melihat Pizza yang dibawakan Mark.


Gibran melihat itu semua, rasanya ia iri melihat senyum manis bocah didepannya diberikan pada orang lain apalagi panggilan papa yang begitu ia harapkan.


“love U too sayang,” balas Mark dan mengecup kepala Aira.


“Aku permisi dulu,” pamit Gibran, karena dia tak bisa melihat itu semua. Hatinya merasa iri dengan semua itu, rasanya ia tak terima dengan semua ini.


Michel hanya diam melihatnya,


“Kenapa buru-buru, kau tidak ada perlu denganku?” heran Mark karena Gibran buru-buru pamit saat dia datang.


“tidak ada, aku ada urusan jadi maaf aku harus pergi sekarang” pungkas Gibran dan langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


“Dadah Om, kapan-kapan main kerumah Aira ya..kita temen” seru Aira di sela langkah Gibran yang sudah berada di ambang pintu. Gibran menoleh sambil tersenyum.


“Iya sayang, pasti Om bakal main kerumah Aira” jawab Gibran dengan senyum manisnya.


Dia melihat sekilas Michel yang tak menatapnya sama sekali, setelah itu Gibran langsung keluar.


Saat dia menutup pintu, ia membuka tangannya dimana ada beberapa helai rambut yang dia ambil dari Aira.

__ADS_1


“Tunggu papa sayang, papa bakal buktikan kalau kalian anak papa dan mamamu adalah milik papa” gumam Gibran yang berhasil mengambil rambut Aira. Itu akan ia gunakan untuk memperkuat bukti kalau Michel adalah Naina dan kedua bocah kembar itu anaknya. Sebenarnya dia sudah mendapatkan DNA dari Jenazah yang ia pikir Naina. Tapi DNA yang ia dapat berbeda dengan DNA milik Naina jadi semakin yakin dirinya kalau Michel memanglah Naina bukan orang lain. Dengan beberapa helai rambut ini buktinya akan semakin kuat..


Gibran langsung pergi tapi sebelum itu ia melihat kedalam dimana Michel dan Aira tertawa bersama dengan Mark. Rasanya hatinya panas melihat itu semua, seharusnya yang ada diantara mereka berdua adalah dirinya bukan orang lain.


......................................


“Nggak, Nggak mungkin. Nggak mungkin dia tahu..” Michel memukul-mukul karung tinju didepannya dengan kuat melampiaskan emosinya di situ.


“Arkhhh..” teriaknya dan semakin kuat memukul karung tinju.


“Tidak akan aku biarkan dia tahu, penjahat...” ucapnya cukup emosi dan terus memukul karung tinju tersebut.


“Siapa yang kau panggil penjahat..” sebuah suara mengagetkan Michel dia terpaku ditempatnya saat melihat siapa yang datang.


“kenapa kau ada disini?’ tanyanya dingin.


Bukannya menjawab Gibran malah naik keatas ring tinju, dia menatap Michel yang menatapnya dingin. Bahkan saat dia mendekat Michel langsung mundur.


“Aku tanya mau apa kau disini?” tegas Michel.


“Kau sering ada disini, kau melampiaskan emosimu pada karung yang tidak bersalah padamu” bukannya menjawab Gibran justru menanyakan hal lain pada Michel.


“Bukan urusanmu, pergi dari sini jangan ganggu aku”


“Kalau aku ingin disini dan mengganggumu, kau mau apa?”


“Kau..” kesal Michel.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku” berontak Michel, dia berusaha lepas dari pelukan Gibran.


“sebentar saja, ijinkan aku memelukmu sebentar saja” lirih Gibran yang masih memeluk Michel dari belakang.


“Kau ingin melepasnya sendiri atau perlu aku yang melakukannya dengan kasar” marah Michel dan bersiap untuk melepaskan diri. Dia langsung menyikut perut Gibran, sontak Gibran yang tadi memejamkan mata sambil memeluk Michel saat ini kesakitan karena tak ia duga Michel akan menyikut perutnya.


“Arghhh,. Augh” rintiknya menahan sakit.


“Sudah aku bilang, untuk kau lepaskan. rasakan sendiri..” kesal Michel tak perduli Gibran yang merintih kesakitan.


“Kuat juga kamu, perempuan tangguh” ucap Gibran malah tersenyum disela dirinya yang tengah kesakitan.


Michel tak perduli dengan ucapan Gibran barusan, dia akan menunduk untuk keluar dari ring tinju. Tapi belum juga dia keluar Gibran kembali menarik Michel cukup kuat bahkan dia menjatuhkan perempuan itu hingga kini Michel berada di bawah Gibran.


“Apa..apa yang akan kau lakukan?” gugup Michel bercampur takut.


“Aku mengajakmu bicara baik-baik tapi kau menolak, jadi kira-kira apa yang akan aku lakukan di posisi saat ini” ucap Gibran sambil menekan kuat tangan Michel agar tidak bisa melawan.


“Lepaskan, aku lepaskan. aku tidak akan membiarkanmu kalau kau berbuat macam-macam padaku. Lepaskan pria brengsek..” maki Michel berusaha untuk lepas pada kungkungan Gibran.

__ADS_1


“Aku tidak akan melepaskan mu”


“kau..”


“Aku jatuh cinta padamu, kau mau jadi pacarku” ucap Gibran pada Michel.


“Kau gila, aku tidak sudi”


“Kalau kau tidak mau aku tidak akan melepaskan mu. Kau akan terus berada di bawah ku seperti ini” ancam Gibran.


“Kau memang pria sinting, lepaskan Gibran”


“Jawab dulu, kau mau jadi pacarku atau tidak. Kalau kau sampai menolakku, aku bisa melakukan hal lebih” ucap Gibran dan dia mengecup singkat bibir Michel.


“bagaimana ciumanku?” senyum Gibran.


“Brengsek, kau pria gila. Lepaskan aku..” teriak Michel didepan wajah Gibran.


“Anggaplah saja begitu, bagaimana kau mau jadi pacarku” Gibran tak putus asa meminta Michel untuk jadi kekasihnya.


“Kalau tidak mau ya sudah,” Gibran mendekatkan wajahnya dan akan mencium Michel paksa bahkan dia memberikan tanda di leher Michel.


“Kau..” erang Michel menahan kesal.


“Aku kenapa..bagaimana? aku bisa lebih melakukan hal itu”


“terserah,” seru Michel dan memalingkan wajahnya. Ia tak bisa berkutik saat ini tangannya cukup erat di cengkram oleh Gibran.


“maksudnya terserah apa ini kau mau jadi pacarku..”


“Ya, tolong lepaskan aku. kau sudah mendapatkan jawabannya kan. lepaskan diriku sekarang”


“Baiklah,” Gibran tampak puas dan dia langsung turun dari tubuh Michel.


Michel langsung bangkit dan menatap kesal serta penuh kemarahan pada Gibran.


Bukk..


Michel memukul Gibran cukup kuat sampai pria itu terjatuh mencium lantai tinju.


“mampus, kau pria brengsek yang pernah aku temui” marah Michel dan dia langsung pergi.


“Aku tidak apa-apa kau pukul sayang, aku tahu aku salah yang penting sekarang kau kekasihku” seru Gibran dan dia malah tersenyum padahal baru saja mendapat pukulan dari Michel.


Michel tak memperdulikan ucapan Gibran, dia terus melangkah pergi dari tempat itu.


“Aku minta maaf Nai atas sikapku barusan. Tapi aku terpaksa agar bisa membuatmu lebih dekat denganku. Kau sekarang perempuan tangguh sayang..aku makin mencintaimu” gumam Gibran tersenyum dan mengusap sudut bibirnya yang di pukul oleh Michel barusan. Dia memang berencana untuk melakukan hal itu agar dia bisa dekat dengan Michel meskipun terkesan memaksanya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2