Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 97


__ADS_3

Naina mengaitkan tagannya ke lengan Gibran yang berdiri disebelahnya saat ini, mereka saling lihat satu sama lain dan menatap kearah depan sebuah rumah berlantai dua yang besar dan megah. Rumah siapa lagi kalau bukan rumah Alfred, rumah lama yang sudah selesai direnovasi oleh pria itu.


“Ayo masuk, kenapa diam saja. Aku ingin bertemu dengan papamu” ucap Naina pada sang suami.


“Bentar, anak-anak saja belum turun” tukas Gibran sambil melihat kearah mobilnya dimana anak-anaknya masih berada di dalam mobil.


“Aira, Aiden ayo sayang buruan mau ketemu sama Opa Alfred nggak” seru Naina memanggil anak-anaknya yang masih berada di dalam mobil.


“iya mama sebentar” jawab kedua bocah itu, tak lama kemudian pintu mobil terbuka, Aiden keluar lebih dulu menghampiri kedua orang tuanya. Baru setelah itu Aira menyusul dibelakangnya.


“Mama ini rumah Opa Afred?” tanya Aiden melihat kerah kedua orang tuanya.


“Iya sayang ini rumah Opa Alfred” jawab Naina memberitahu pada sang anak.


“Ini papanya papa?” Aira bertanya penasaran.


“Iya ini papanya papa” jawab Gibran.


“Kalau ini papanya papa terus kakek sama nenek itu siapanya papa?” Aiden bingung saat ini. karena setahu mereka kakek dan neneknya adalah orang tua papa mereka. Dan Opa Mahendra adalah orang tua dari mama mereka.


“Itu orang tua papa sama mama juga” sahut Naina, karena tak mugkin juga dia menjelaskannya. Kedua bocah itu belum mengerti semua ini.


“Oh,.” Keduanya hanya beroh saja mendengar penjelasan dari kedua orang tua mereka.


“Ayo masuk kenapa kita malah berbicara di luar” lagi Naina mengajak masuk sang suami.


“Ya sudah ayok, Aira Aiden kalian jalan duluan saja” pinta Gibran pada kedua anaknya yng berada di samping mereka.


Aira dan juga Aiden langsung berjalan lebih dulu menuruti perintah sang papa, setelah kedua boah itu berjalan di depan mereka. Gibran dan juga Naina langsung ikut berjalan mengikuti mereka berdua dari belakang


.....................................


“ini toh cucu-cucu opa yang menggemaskan itu” Alfred tampak bhagia mendekap kedua bocah didepanya. Dia seumur-umur baru bertemu kedua cucunya ini setelah Gibran sudah kembali lama dengan sang istri.


“Muachh, Muachh” Alfred mencium pipi kedua bocah itu.


“Opa, Opa jangan cium” protes Aira yag memang tidak terllau suka saat dicium orang apalgi yang ada kumis tipisnya dia sungguh tidak suka.


“Kenapa? Risih ya sama kumis Opa” tebak Alfred.


“hehhee” Aira hanya nyengir.


“anak-anak semenggemaskan ini tidak boleh papa temui, memang dasar papa kalian itu” ucap Alfred sambil melihat kearah Gibran yang memalingkan wajahnya. Dia malas terus di sindiri sang papa.


“Mas sudahlah” Ersya mencoba melerai suaminya agar tidak menyindiri Gibran terus-terusan.


“Opa, Opa papanya papa?” tanya Aira menatap Opanya.


“Iya Opa papanya papa kalian, kenapa? Papa kalian nggak bilang ya?” ucap Alfred menatap wajah cucu-cucunya yang masih berada di dekapannya saat ini.


Kedua bocah itu menggangguk, karena sebelumnya Gibran tak pernah menceritakan Alfred dan baru bilang tadi saat mereka akan berangkat ke sini.


“Kamu mau jadi anak durhaka Gibran, bisa-bisanya kamu tidak bilang kalau papa ini siapa kamu” tukas Alfred menatap kesal adiknya.


“Lagi males aja cerita” jawab Gibran singkat.


Alfred langsung berdiri dan mengangkat tangannya hendak memukul Gibran, tak habis pikir anaknya seperti itu.


“Papa Alfred, bukan Gibran yang salah tapi aku karena aku tidak segera menyuruh Gibran mengajak mereka kesini” ucap Naina membela sang suami.


“Kamu nggak salah Nai, suami kamu tuh yang salah. Kalau dia dulu jadi orang yang baik nggak mungkin papa kepisah sama cucu-cucu papa ini..salah papa kalian memang” ucap Alfred sambil mengusap kepala kedua bocah yang ada didepannya.

__ADS_1


“Mas Alfred, sudahlah mas. Kamu ini kenapa sih, kayak anak kecil. Bedanya apa coba kamu sama Gibran Erlan.. Gibran sama Erlan berdebat wajar mereka masih muda, lah kamu..” tukas Ersya.


Alfred langsung diam karena mendengar ucapan istrinya barusan,.


“Mama Ersya, bukannya tadi ingin mengajakku dan anak-anak ke belakang melihat kebun anggur” ucap Naina membuka suaranya.


“Oh iya mama sampai lupa, ya sudah yok. Anak-anak yuk ikut Oma sama mama kalia lihat kebun anggur di belakang” seru Ersya pada kedua bocah yang berada didekapan sang suami.


“Ayuk Oma,” keduanya langsung bersemangat mendengar hal tersebut.


“Opa kita mau lihat kebun anggur dulu ya” ucap Aira, Aiden lebih banyak diam tak banyak bicara karena memang itulah sifat bocah laki-laki tersebut jika bertemu dengan orang baru.


“Iya, kalian pergi sama Oma sama mama kalian ya. Kebun anggur Opa luas. Kalian boleh main di sana ambil anggr sepuasnya juga boleh” pungkas Alfred menggerakkan tangannya memberitahu kalau kebun anggurnya itu cukup luas.


“Asikk..Ayo Aiden” seru Aira kesenangan.


“Ayo” ucap Aiden mengiyakan.


Alfred langsung melepaskan pelukannya pada kedua cucunya tersebut yang langsung berhambur ke sisi Ersya.


Sedangkan Naina langsung berdiri dari duduknya saat ini, dia melihat sang suami yang juga menatap kearahnya.


“Aku pergi dulu ya, kamu disini ngobrol sama papa” pungkas Naina pamit pada suaminya.


“Hemm, kamu hati-hati jangan ngelakuin hal aneh-aneh” ucap Gibran berpesan pada sang istri.


“Siap..” jawab Naina dan langsung berjalan mendekati Ersya.


“Ayo Nai..” ajak Ersya pada perempuan dua orang anak itu. Keempat orang tersebut langsung pergi meninggalkan Gibran dan juga Alfred.


“Kamu memang tukang bohong Gibran?” tukas Alfred saat naina dan yang lainnya pergi.


“kamu bilang anak-anak kamu takut sama papa karena lihat foto papa, mana buktinya mereka nggak takut sama papa. Kamu sengaja kan bilang begitu agar papa nggak nemuin mereka” Alfred melayangkan protesnya.


“Ya males aja aku nemuin mereka sama papa” Jawab Gibran snatai.


Mendengar jawaban dari putranya Alfred langsung berdiri dan seakan-akan ingin memukul Gibran membuat Gibran langsung menutupi wajahnya.


“Kamu ini memang bikin papa kesal terus,..”


Gibran yang tak merasa ada pukulan mendarat diwajahnya langsung menyingkirkan kembali tangannya.


“Yang aku belum mau saja nemuin mereka sama papa. Aku masih kesal sama tente Ersya dan juga papa”


“Gibran, Gibran, masih seperti anak kecil saja kamu. papa rasa juga kamu tahu kenapa papa sama tante Ersya menikah..tapi kamu mengelaknya sebisa mungkin. Dia tante kamu yang paling baik, apa pernah dia membedakanmu dengan Erlan. Tidak pernah kan?”


Mendengar itu Gibran hanya diam saja, dia gengsi untuk menanggapinya.


“ngomong-ngomong soal Erlan, dia bagaimana? Kamu memperlakukannya dengan baik kan?”


“Hemm”


“Bagus kalau begitu”


“Kapan-kapan kamu ajak Naina dan anak-anakmu kesini lagi,” pinta Alfred pada anaknya.


“Ya”


“Papa jugalah sesekali main kerumah ku, masa aku terus yang kesini. Kalau pengen ketemu cucu ya datang kerumahku jangan kita yang suruh kesini terus”


“Memang dasar kamu, yang muda siapa?”

__ADS_1


“tapi kan yang pengen ketemu sama cucu siapa, papa kan?”


“Ya..ya papa ngalah kalau berdebat sama kamu” tukas Alfred yang memilih untuk mengalah saat debat dengan anaknya itu. soal berbicara Gibran memang lebih menang.


“Aiden itu wajahnya wajah kamu tapi sifatnya kayakya bukan sifat kamu deh, papa bersyukur kalau cucu laki-laki papa sifatnya tidak seperti kamu” Alfred tiba-tiba berbicara seperti itu membuat Gibran langsung mendelik melihat sang papa.


“Memang kenapa kalau sifatnya-sifatku?” protes Gibran seakan tidak terima.


“ya pikir aja sendiri” ucap Alfred.


“Papa ini sok tahu, Aiden itu mukanya muka Naina tapi sifatnya itu sifatku. Kalau Aira mukanya mirip aku waktu kecil dulu terutama bibirnya tapi dia sifatnya Naina”


“hei..kamu yang sok tahu. kamu itu dulunya banyak omong sok tahu tapi aslinya nggak tahu. eh mereka berdua nggak ada deng yang mirip kamu. Aira itu dia banyak tanya tapi dia pinter dan memang tahu beda sama kamu. kayaknya mereka berdua nurun Naina semua deh..papa jadi bersyukur kalau mereka nurun mamanya yang pinter baik”


“Maksud papa aku nggak baik gitu?”


“Papa nggak bilang, kamu sendiri loh yang bilang” ucap Alfred.


“Haduh, hadu punya papa gini amat”


“Haduh, haduh punya anak satu-satunya kok gini amat” Alfred membalikkan ucapan Gibran padanya.


Mendengar itu Gibran mencebik kesal, bisa-bisanya sang papa mengajak berdebat anak sendiri.


“Kapan yok ngadain makan bersama, kamu ajak orang tua kandung Naina dan juga ornag tua angkat Naina kita makan bersama sebagai keluarga besar” ucap Alfred pada Gibran.


“Aku sibuk, papa mahendra sama ayah kayaknya juga sibuk” ucap Gibran. Entah dia berbohong atau tidak.


“Kamu bohong kan? papa saja sudah ketemu sama Mahendra beberapa waktu lalu dan papa ajak dia buat makan bersama dia bilangnya bisa tinggal kabari saja”


Mendengar itu Gibran tampak terkejut, dia menatap sang papa.


“Papa ketemu sama Papa Mahendra? Kok kenal?”


“Papa nggak sengaja ketemu dia di restauran Italy, terus papa langsung temuin dia”


“Hah, papa memang gila. Nggak kenal main temuin aja..”


“Dia kenal sama papa, papa juga kenal sama Mahendra.”


“Masa?”


“Iya, dia kenal papa sebagai pebisnis sukses, dan papa kenal dia sebegai insinyur terkenal dan siapa juga yang tidak kenal dia. anaknya saja pernah masuk majalah Internasional”


“Dia ketemu papa nggak bilang apa-apa? dia nggak maki-maki papa karena perbuatanku?”


“nggak, kenapa? Kamu pernah dimaki olehnya?”


“Nggak, siapa tahu dia marah-marah sama papa. Dia kan sayang banget sama Naina”


“Mahendra orang yang bijak, dia bilang sama papa. Dia tidak ada hak untuk marah pada orang yang sudah meminta maaf. Orang tua kandung Naina saja memaafkanmu sedangkan dia hanya orang tua angkat Naina masa tidak bisa untuk memaafkan dirimu” ucap Alfred menceritakan pertemuannya dengan mahendra dulu.


“Dia memang orang baik kok” lirih Gibran, karena berkat Mahendra juga Naina bisa kembali lagi padanya pria itu menasehati Naina agar kembali padanya.


“Kau harus bersyukur Gibran, orang tua kandung Naina baik padamu dan orang tua angkat Naina juga baik denganmu. Jadi jangan menyia-nyiakan hal itu. jangan lakukan hal bodoh lagi” nasehat Alfred pada sang anak.


“Iya papa” tukas Gibran.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2