
“Sekarang apa yang akan kamu lakukan, kamu sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit. Jadi apa sekarang rencana mu kedepan bukannya kamu ingin jadi wanita karir” tukas Mark yang sedikit ketus, dia sebenarnya agak kecewa dengan keputusan Michel yang mengundurkan diri sebagai wakil direktur di rumah sakit mereka. Pria itu berdiri disebelah Michel duduk di meja makan.
Mereka baru saja selesai sarapan saat ini, Mahendra dan Vita sudah pergi untuk menghadiri acara sekaligus mengantarkan Aiden dan Aira ke sekolah.
Michel yang baru saja menyelesaikan makannya melihat kakaknya yang berdiri disebelahnya saat ini.
“Aku tahu kakak kecewakan sama keputusan aku, tapi aku sekarang mutusin nggak bakal kerja karena aku harus antar jemput anak-anakku kak. Aku nggak mau mereka di jemput orang yang nggak mereka kenal,” jawab Michel sambil menatap kakaknya.
“Orang lain? Orang lain siapa. Yang antar jemput Aiden supir kita kadang juga papa atau mama kamu anggap mereka orang lain” pungkas Mark menatap kecewa Michel.
“Bukan begitu maksudku, dan bukan papa sama mama yang aku maksud.” Michel merasa tak enak telah mengatakan hal itu.
“Siapa yang kamu maksud? Gibran maksudmu..jadi benar kata papa kalau Gibran itu suamimu?”tatapan menyelidik Mark tujukan pada Michel. Jujur dia sebenarnya tak ingin mempercayai apa yang dikatakan papanya waktu itu bahwa rekan bisnisnya Gibran adalah suami Michel dulu.
“Ka..kakak sudah tahu”
“hemm, jadi benar dia suamimu yang bejat itu” pungkas Mark.
“Iya,” jawab Michel singkat dan dia langsung menunduk.
Mark sendiri mengepalkan tangannya dan memalingkan wajahnya saat ini, ia menghela nafas panjang sebelum melihat kembali kearah Michel.
“Kau mau kakak melakukan apa pada pria itu?” tanya Mark menatap serius Michel.
Michel langsung menatap kakaknya,
“Mak..maksudnya?” bingung Michel dnegan pertanyaan itu.
“Kakak bakal beri pelajaran suamimu, kau mau kakak melakukan apa? menghancurkan bisnisnya?”
“nggak perlu, biarkan saja dia. tolong jangan bahas dia lagi dan aku mohon jangan menghancurkan bisnisnya atau melakukan apapun padanya kak.” Ucap Michel.
“Kenapa kau melarangku? Kau masih mencintainya?”
“Bu..bukan begitu, aku tidak tega melihat perusahan keluarganya hancur. Karena itu milik ayahnya dan ayahnya baik padaku” jawab Michel lirih.
Mark hanya diam saja, jujur dia marah pada Gibran saat mengetahui ini semua tapi asli dia tak ada niatan untuk menghancurkan perusahaan pria itu. karena meskipun dia pernah menyimpan rasa pada Naina tapi saat ini kalau dia melakukan hal buruk pada Gibran kedua keponakannya pasti yang akan menerima imbasnya. Dan ucapannya tadi hanya untuk mengetes Michel soal perasaan perempuan itu. dan dia bisa menangkapnya, meskipun Michel trauma dengan Gibran tapi sebenarnya adiknya ada rasa terhadap Gibran hingga saat ini.
__ADS_1
“Kak Mark kenapa diam?” tanya Michel mendongak melihat kearah wajah kakaknya yang tampak melamun.
“Sekarang kau mau apa, bukannya kau tidak mau terus bergantung pada papa, dan ingin bekerja. Jadi kau ingin melakukan pekerjaan apa?” bukannya menjawab apa yang ditanyakan Michel Mark malah balik bertanya.
“Entah, aku masih coba mencari pekerjaan atau aku juga mau buka usaha tapi aku masih bingung usaha apa yang akan aku lakukan”
“Gantikan saja tugasku di GINAI, kau yang mengerjakan tugasku disana. Aku sibuk harus mengurus rumah sakit dan juga bisnis papa yang lain”
“Kenapa jadi aku, aku nggak bisa’ tolak Michel.
“Kenapa? Karena ada gIbran disana..kata rosa kau trauma kan. trauma mu itu karena Gibran kan? bukannya kau mau sembuh. Kalau kamu mau sembuh hadapi trauma kamu jangan menghindar” mark menasehati Michel yang menolak cukup keras perintahnya.
“Aku nggak bisa kak, aku...” ucapannya Naina menggantung, dia bingung harus bagaimana menjelaskan semua itu pada kakaknya.
“Kakak tidak mau tahu, kamu harus gantikan kakak di GINAI. Itu pekerjaan amal, dan kamu juga mengerti seberapa dahsyatnya keberkahan dari amal itu. lakukan Michel..” perintah Mark cukup tegas. “lagi pula kamu tidak akan bertemu Gibran setiap hari, tugasnya selalu dia acak dan juga kamu berangkat ke kantor tidak setipa hari. Kamu berangkat hanya untuk mengecek pekerjaan para karyawan saja dan juga melakukan survei. Kamu juga bisa antar jemput Aiden sama Aira” lanjut Mark tetap bersih kerah meminta Michel menggantikan tugasnya di GINAI.
“Terserah kakak” ucap Michel sabil berjalan pergi dengan membawa piringnya ke arah dapur. Mark hanya diam memperhatikannya saja.
.....................................
Saat dia mengalihkan pandangannya, pintu yang ada di ruangan sebelahnya saat ini terbuka.
Michel yang baru saja keluar dari situ, perempuan itu keluar begitu saja tanpa menoleh kemanapun sehingga dia tak menyadari kalau ada Gibran disitu. sedangkan Gibran tentu saja melihat Michel yang sudah keluar, dia diam saja saat Michel melewatinya tapi dia langsung berdiri ketika Michel berjalan agak jauh di depannya.
Gibran langsung berjalan untuk menyusul Michel yang sudah berjalan duluan, dia memang sedari tadi bermaksud untuk menunggu Michel selesai konsultasi. Dan dia akan berpura-pura seakan mereka bertemu secara tak sengaja. Itu caranya agar dia bisa mengobrol dan perlahan menyembuhkan trauma Michel saat melihat dirinya dengan intensitas pertemuan yang sering pasti trauma yang dialami Michel cepat sembuh.
Gibran langsung menghentikan langkahnya saat Michel berhenti untuk mengangkat panggilan dari seseorang.
“Iya dr.Reyhan” ucap Michel.
Mendengar nama pria lain disebut membuat Gibran merasa sedikit cemburu, dia penasaran tentang apa yang di bicarakan Michel di telpon dengan dokter tersebut. sangking cemburunya Gibran karena Michel asih berbicara dan tak melangkah kemanapun pria itu langsung berjalan mendekat dan dia sengaja menyenggol bahu Michel membuat ponsel yang di pegang oleh Michel terjatuh.
“Maaf aku tidak sengaja,.” Ucap Gibran dan langsung menunduk mengambil ponsel yang terjatuh tersebut. Michel juga langsung menunduk dan akan mengambilnya tapi sudah keduluan oleh Gibran.
“Aku minta maaf, aku tidak sengaja ( Aku sengaja ucap Gibran dalam hati)”
“Kau..” tukas Michel saat melihat Gibranlah yang menabraknya, dia buru-buru mengambil ponsel miliknya dari tangan Gibran. Dia juga langsung menjaga jarak dari pria itu.
__ADS_1
“Iya ini aku, aku minta maaf karena sudah menabrak mu” jawab Gibran santai.
Michel hanya diam saja,
“Kenapa kau ada disini, kenapa sempit sekali dunia harus bertemu denganmu” ketus Michel dan langsung buru-buru memalingkan wajahnya.
“Mungkin kita jodoh makanya bertemu disini, eits memang kita sudah berjodoh” ucap Gibran dan langsung mengulangi ucapannya.
“Lebih baik aku pergi daripada menanggapi orang sepertimu” ucap Michel dan dia langsung memasukkan ponselnya kedalam tas dan berjalan pergi meninggalkan Gibran. Tapi Gibran langsung menahan tangan Michel..
“Mau kemana? Mau jemput si kembar kan? Aku ikut ya, bukannya kamu bilang tidak akan melarang ku untuk menemui mereka”
Michel sendiri terdiam, apa pernah dia bilang begitu.
“Jangan pernah temui mereka aku ti...”
“Kalau bicara tatap wajahku,” ucap Gibran yang tiba-tiba saja memegang wajah Michel agar menatap wajahnya.
Michel langsung diam terpaku, dia menatap wajah tampan Gibran yang begitu dekat dengannya. Karena pria itu memajukan wajahnya agar lebih dekat,.
“Kalau bicara tatap wajah lawan bicaranya, kalau kamu tidak menatapnya itu namanya tidka sopan. Tapi aku nggak marah kok sama kamu sayang..” ucap Gibran cukup lembut dan diakhiri dengan senyuman.
Michel semakin terpaku melihat itu, selama ini dia hanya melihat wajah dingin Gibran tapi sekarang pria itu tersenyum di depannya.
“Kau bilang apa, sayang..sayang apaan” kesal Michel dan langsung mendorong Gibran..dia melakukan hal itu karena detak jantungnya mulai tak normal.
“Sayang panggilan cinta aku sama kamu, atau kamu nggak mau dipanggil itu. aku panggil baby atau beb atau my lovely” ucap Gibran malah menggombal.
“Gila ya, anda stress..bahas apa jadi apa?” Michel mengernyitkan dahinya menatap aneh Gibran dan dia langsung berjalan pergi tapi lagi-lagi Gibran menahannya.
“Iya aku gila, aku gila karena mu. Sudah ayo, si kembar pasti nunggu kamu” ucap Gibran dan langsung melepaskan lengan Michel dan dia lalu berjalan pergi lebih dulu sambil tersenyum pada Michel yang tak bisa berkata-kata atas apa yang dilakukan Gibran barusan.
“Aku rasa pria itu memang sudah gila” cibir Michel menatap jengah Gibran yang sudah berjalan lebih dulu.
°°°
T.B.C
__ADS_1