Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 40


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, dan Aira masih dirawat di rumah sakit saat ini Michel serta Mark yang menemani bocah kecil itu karena terus rewel membuat keduanya tetap stay ditempat sedangkan Vita dan juga Mahendra berada di rumah untuk menjaga Aiden. Mereka tak mengajak Aiden karena tahu sendiri ikatan batin anak kembar cukup kuat sehingga Michel tak ingin Aiden juga ikut sakit dan merasakan kesedihan Aira.


Michel tak bisa pergi kemana-mana, dia berbaring saja di atas ranjang rumah sakit menemani sang anak yang tak mau ditinggalkan.


“sayang mama ke kantin dulu ya, mama mau beli makanan buat papa Mark boleh ya?” ijin Michel pada sang anak.


“nggak, mama disini aja” rengek bocah itu menahan sang mama agar tidak pergi.


“Ya sudah Michel aku saja yang cari makan, kamu makan apa?” putus Mark pada akhirnya.


“Apa aja kak” jawab Michel sambil melihat kearah pria itu yang berdiri di sisi kiri ranjang Aira.


“Anak papa mau makan apa,?’ Mark mendekatkan dirinya pada Aira.


“Boleh makan lain?” tanya bocah itu dengan tatapan berbinarnya karena selama dua hari ini dia hanya makan-makanan rumah sakit.


“Boleh, kecuali es krim” ucap Mark menyeringai seakan tahu kalau Aira akan meminta es Krim.


Bocah itu langsung cemberut,


“Pizza boleh?” ucapnya menatap harap kakak dari ibunya itu.


“boleh dong sayang, ya sudah papa belikan dulu Aira disini jangan nakal. Jangan rewel ya sayang kasihan mama, mama capek nanti” ucap Mark berpesan pada bocah tersebut. Aira langsung mengangguk Mark mengusap gemas pipi bocah perempuan itu.


“Berarti Aira sudah mendingan kak?” tanya Michel.


“Iya, kalau begitu kakak pergi dulu ya. Nanti kalau ada rekan kerja kakak yang kesini bilang saja kalau aku masih beli makan”


“Rekan kerja? Siapa?” ucap Michel menatap curiga.


“Brandon, kamu tahu Brandon kan. Rekan bisnisku di Roche..”


“tahu, tukang gombal itukan”


“Hahaha iya, memang dia pernah menggombalimu..kalau dia begitu lagi padamu bilang saja padaku biar aku beri pelajaran pria itu” ucap Mark sambil tertawa kecil.


“Papa buruan, perut Ira bunyi terus kayak ada orang minta makan didalamnya” canda bocah berumur lima tahun yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit tersebut.

__ADS_1


“Iya sayang, anak papa gemesin banget sih” gemas Mark sambil tersenyum dan segera berjalan pergi dari ruangan itu untuk membelikan Aira dan juga Michel makanan.


“Hari ini kenapa Aira manja sekali sih sayang, kasihan papa Mark kan. dia harus kesini jagain Aira padahal papa lagi kerja sayang” ucap Michel pada anaknya setelah Mark pergi.


“Kan aku juga mau di beri perhatian sama mama sama papa, karena papa Aira sama Aiden nggak ada jadi papa Mark aja yang disini.” ucap Bocah itu membuat Michel terdiam.


“Aku lihat temen, sering cerita soal mama papanya yang nemenin mereka tidur terus kalau mereka sakit nemenin juga. jadi aku juga pengen begitu..nggak salah kan ma” lanjut Aira,


“nggak kok sayang, Papa Mark kan kakak mama..dia papa kalian juga” lirih Michel sambil memeluk anaknya.


“Papa asli Aira disana atas udah tenang ma ya? Sampai nggak masuk mimpi Aira” oceh bocah itu lagi membahas soal papa kandungnya. Kedua bocah kembar tersebut memang sudah tahu kalau Mark bukanlah papa mereka melainkan kakak dari mamanya.


Michel tak bisa menjawabnya, dia malah mendekap anaknya erat. Matanya berubah sendu, setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.


“maafin mama sayang..maafin mama” batinnya menjerit pilu karena harus berbohong pada kedua anaknya.


Pintu ruang rawat Aira tiba-tiba saja terbuka, otomatis membuat Michel yang tadinya memejamkan mata sambil memeluk sang anak langsung membuka matanya saat mendnegar pintu ruangan yang terbuka. Matanya seketika melebar saat melihat siapa yang datang saat ini.


“mau apa kau kesini?” ketus Michel tak bersahabat. Siapa lagi yang datang mendapatkan pertanyaan ketus seperti itu kalau bukan Gibran.


“Siapa ma” tanya Aira dan langsung membalikkan tubuhnya.


“Aku tanya kau mau apa kesini?’ tukas Michel dan menarik anaknya kedalam pelukannya tak mengijinkan sang anak melihat Gibran dan dia juga tak ingin Gibran melihat anaknya.


“Untuk menjenguk keponakan Mark, apalagi aku kesini kalau bukan itu” jawab pria itu santai, dia yang sudah berdiri di sebelah ranjang Aira memperhatikan Michel yang tampak ketakutan dia melihat tangan yang tengah memeluk bocah kecil itu bergetar tanpa perempuan itu sadari.


“Hai sayang..anak cantik namanya siapa?” tanya Gibran pada Aira yang membelakangi dirinya karena dipeluk oleh Michel.


“Mama lepas, Omnya tanya sama aku” ucap Bocah itu minta dilepaskan dari pelukan sang mama.


“Aira Om,” balas Aira yang sudah dilepaskan pelukannya oleh sang mama.


Gibran tersenyum melihat bocah perempuan yang sper menggemaskan itu, bocah itu memberi senyuman polos khas anak-anak.


“mirip mama saat dia tersenyum..” batin Gibran, matanya berkaca-kaca melihat bocah didepannya yang mirip sekali dengan mamanya saat tersenyum.


“Om siapa? Om temen mama ya?” tanya Aira pada Gibran.

__ADS_1


“Nama Om Gibran sayang, Om teman Om Mark”


“papa Mark maksudnya kan” ucap bocah tersebut merevisi ucapan Gibran.


“Iya maksud om itu,”


“Kamu pinter sekali sih,” ucap Gibran dan akan memegang kepala Aira tetapi Michel menahan tangannya.


“kenapa?” tanyanya dingin.


“Jangan sentuh anakku, dia sedang sakit” jawab Michel beralasan.


Gibran melepaskan tangan Michel dari tangannya, dia mengabaikan ucapan Michel. Ia langsung mengusap kepala Aira..


“kamu pinter sekali sih, Om jadi pengen punya anak seperti kamu” ucap Gibran sekilas dia melihat kearah Michel yang semakin gelisah akan ucapannya. Dia bisa melihat kegelisahan perempuan itu dari matanya yang tak tenang.


Michel langsung turun dari ranjangnya, dia melangkah menghampiri Gibran.


“kau bisa keluar, kau kesini untuk menemui kakakku kan. dia tidak ada disini” ucap Michel dan menarik Gibran agar keluar. tapi Gibran langsung menghempasnya.


“kau tidak dengar aku kesini untuk menjenguk anakmu bukan untuk bertemu kakakmu”


“Dan kau sekarang sudah menjenguknya, jadi keluar sekarang. Anakku butuh istirahat” lagi Michel menarik Gibran agar keluar.


Tapi untuk kedua kalinya Gibran juga menghempas tangan Michel..


“Sampai kapan kebohongan besar kau tutupi, kau tidak kasihan dengan dua malaikat kecilmu” tukas Gibran menatap tajam Michel.


Deg..


“Ma...maksudmu apa?”


“Kau pikir saja sendiri, kau ternyata perempuan egois. Aku pikir kau tidak seperti itu, tapi apalah daya itu angan-angan” sinis Gibran sambil menyeringai melewati Michel. Dia berjalan menghampiri Aira yang ada di ranjang. Dia mengajak mengobrol bocah itu mengabaikan Mcihel yang terlihat takut..tangannya terus bergetar.


Matanya memerah dan tangannya bergetar hebat.


“Nggak..nggak mungkin. Nggak mngkin dia..nggak mungkin dia tahu” gagapnya bibirnya juga bergetar ia menatap Gibran yang santai saja berbicara dengan sang anak.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2