
Erlan tengah rebahan di sofa yang berada di ruang tengah rumah Gibran, dia tampak bosan tak melakukan apa-apa main game juga begitu membosankan karena tidak ada temannya.
“bibi, Bi Yuli” serunya bangkit dari rebahan nya sambil melihat kearah dapur.
“Iya den,” seorang perempuan dengan daster lusuhnya menghampiri Erlan.
“darimana aja sih di panggilin nggak jawab, buatin aku jus mangga bi bawa kesini kalau sudah” perintah Erlan.
“Siap Den” jawab perempuan itu dan langsung kembali ke dapur, baru saja dia akan berjalan ke dapur Erlan kembali berbicara.
Erlan yang mendengar suara bel pintu berbunyi kembali memanggil art nya itu,
“Bi, bukain dulu pintunya” perintah Erlan lagi.
“Iya den, sebentar” Yuli yang tadinya akan ke dapur langsung berbalik untuk ke depan membukakan pintu orang yang datang ke rumah majikannya itu. meskipun Yuli sudah akan membukakannya Erlan mengikuti dibelakangnya karena dia penasaran siapa yang datang kerumah kakaknya.
Yuli langsung membukakan pintu saat dia sudah, Erlan melihat sekilas keluar dan banyak orang di sana.
“Ini rumah pak Gibran Montana kan?” ucap seorang pria berkumis tips dengan baju kemeja yang dimasukkan kedalam.
“Iya ini rumah pak Gibran ada apa ya pak, mencari majikan saya” ucap Yuli pada orang tersebut.
Erlan mengintip sekilas melihat siap orang-orang tersebut,
“Ini kita dari tempat furniture yang pak Gibran datangi, kita kesini untuk mengirim barang-barang yang sudah di beli pak Gibran sebelumnya” tutur pria tersebut menyampaikan maksudnya.
“Mau ngirim apa pak tadi?” Erlan langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan dia berjalan mendekati orang tersebut.
“Ini mau ngirim kasur sama hiasan dinding dan juga beberapa lemari ada beberapa sofa juga.” Erlan melihat barang-barang tersebut yang masih berada di atas dua mobil pick up.
“Ya sudah bawa masuk,” ucap Erlan setelah melihatnya.
“Kak Gibran beli ini semua buat apa, kasur motif anak-anak begi...apa jangan-jangan istri sama anaknya mau diajak kesini” ucap Erlan,
“kalau sampai diajak pindah kesini, aku bakal serumah dengan dua bocil itu dong. Capek deh..” gumam Erlan tak bisa membayangkan kedepannya kalau dia bersama dengan keponakannya yang jahil-jahil tersebut.
“Maaf tuan, bisa tolong tanda tangan surat terimanya dulu. tuan siapanya pak Gibran ya?”
“Saya adiknya, mana” ucap Erlan dan langsung menarik kertas untuk ditandatangi sebagai bukti terima.
“BI Yuli buatkan minuman untuk mereka semua, dan cemilannya juga disiapkan” perintah Erlan pada asisten rumah tangganya. Dia sesekali membaca dan memastikan mana yang harus dia tandatangani.
__ADS_1
“Iya den” jawab BI Yuli, dan langsung pamit pergi untuk membuatkan mereka semua minuman.
“masuk dulu pak” ucap Erlan sambil menyerahkan kembali kertas yang sudah dia tandatangani barusan.
“Iya sebentar tuan, saya mengarahkan anak buah saya terlebih dahulu” orang itu langsung berjalan menghampiri para anak buahnya agar memasukkan barang-barang mereka ke rumah. sedangkan Erlan langsung berjalan ke arah sofa yang berada di ruang tamu tersebut sambil menunggu Bi Yuli selesai menyiapkan minumannya.
Dia sebenarnya sedikit tak ikhlas kalau harus berbagi tempat tinggal dengan kakak iparnya dan kedua keponakan dirinya tapi mau bagaimana lagi kalau kakaknya bahagia dia juga ikut bahagia dong. Dan dia lebih memilih tinggal bersama Gibran daripada kedua orang tuanya yang sudah menikah masing-masing. Mamanya menikah dengan papa sepupunya itu, dan papanya menikah dengan sekretarisnya sendiri di kantor. Jelas-jelas perempuan itu pelakor dan tentu saja dia tak ngin tinggal bersama papanya meskipun adiknya lebih memilih bersama dengan sang papa.
................................
Reyhan tengah membersihkan lengannya yang terluka dengan cotton but yang sudah di olesi alkohol, luka itu karena tadi dia tak sengaja tergores pisau yang di pegang oleh perawat magang yang menjadi asistennya tadi.
Tok-tok
Pintu ruangannya seperti ada yang mengetuk dari luar membuat Reyhan melihat sekilas kearah pintu yang tertutup tersebut.
“Masuk” perintahnya.
“Maaf dok saya mengganggu waktu dokter” ucap seorang perempuan yang membuka pintu ruangan Reyhan dengan hati-hati. Seorang perempuan dnegan rambut di gelung rapi melihat takut-takut kearah Reyhan yang menatapnya datar.
“Ada apa?” tanya Reyhan terkesan dingin.
“Sa..saya mau minta maaf dok soal kesalahan saya tadi. Dokter sedang membersihkan lukanya ya, boleh saya bantu” ucap perempuan itu saat melihat ada peralatan yang dipakai Reyhan untuk membersihkan lukanya.
“Tapi dok,..saya merasa bersalah sebagai ganti...”
“Kamu dengar yang saya bilang nggak, apa perlu saya menyuruh kamu keluar dengan kasar” tukas Reyhan.
“Ba..baik dok” mau tak mau perempuan itu menuruti apa yang dikatakan Reyhan, dia langsung menutup pintu ruangan itu kembali. Reyhan yang sedikit terpancing emosi langsung menaruh kasar alat yang dia pakai membersihkan luka tersebut. dan melihat kearah lukanya. Dia orang yang tidak suka terluka karena orang lain, dia sendiri saja merawat begitu baik tubuhnya agar tidak tergores tapi orang malah melukainya. Jelas itu membuatnya kesal,..tatapan Reyhan begitu jengah melihat pintu yang sudah tertutup seakan orangnya masih berada di situ.
“Semua perempuan ceroboh dan menyusahkan” kesalnya dan langsung berdiri memakai jas dokternya karena dia akan memeriksa pasiennya saat ini. “kenapa tidak ada perempuan yang seperti Michel, yang kuat dan tangguh seperti itu” gumamnya lagi sambil merapikan jasnya dengan tatapan tajamnya.
Dia langsung keluar dari ruangannya saat ini, sebelum itu dia menyambar stetoskop yang ada di mejanya.
........................................
Erlan saat ini sudah menjemput kakaknya dari bandara, waktu sudah cukup sore dan Gibran baru mendarat hal itu karena pesawatnya mengalami keterlambatan berjam-jam.
“Ini mau ke rumahmu kan kak?” tanya Erlan bertanya pada kakaknya yang duduk di belakang. Gibran memang mengesalkan, dia menjadikan Erlan sebagai sopirnya. Pemuda itu duduk sendiri didepan sedangkan Gibran ada di belakang bersama sang istri.
“Iya ke rumahku” jawab Gibran dari belakang.
__ADS_1
“Kok ke rumahmu?” Naina sedikit terkejut mendengarnya.
“Iyalah, kan kamu mulai sekarang bakal tinggal di rumahku sayang”
“kenapa kamu baru bilang sekarang kenapa nggak kemarin-kemarin?” pungkas Naina yang menatap Gibran.
“Ya aku lupa, udahlah ke rumahku ya”
“Nggak, aku mau ke rumah papa Mahendra anak-anakku ada di sana”
“jadinya mau kemana ini?” tanya Erlan dari depan.
“Ke rumah kita Erlan” ucap Gibran tanpa persetujuan Naina. Naina melebarkan matanya melihat kearah sang suami.
“kenapa kamu keras kepala sekali, anak-anakku bagaimana” tukas Naina kesal.
“Anak-anak nanti biar dijemput Erlan atau nggak suruh nganterin papa kamu biar sekalian dia tahu rumahku” jawab Gibran.
“kamu masih seenak sendiri saja ya, keras kepala”
“Kamu juga keras kepala sayang, kamu kan sudah bilang mau balikan sama aku ya kita tinggal di rumahku bukan rumah papamu atau rumah ayahmu. Istri harus ikut kemauan suami” tukas Gibran yang tak mau mengalah.
Naina langsung diam, dia kesal dan memutuskan untuk pindah ke depan ia malas untuk satu tempat dengan Gibran di belakang.
Tapi sebelum dia melangkah ke depan Gibran sudah menarik pinggangnya membuat Naina terjatuh ke pangkuan Gibran saat ini.
“lepasin,” Naina berusaha untuk melepaskan diri dari Gibran.
“Nggak udah diem aja, duduk disini saja” Gibran masih tidak mau melepaskan pelukannya pada Naina. Sehingga posisi Naina masih berada di pangkuan Gibran saat ini. sedangkan Erlan melihat sekilas kebelakang..
“Hoi kak kalau mau aneh-aneh jangan disini, aku masih polos” pungkas Erlan
“lepasin, kamu nggak malu ada adik kamu disini” Naina terus memaksa Gibran untuk melepaskannya.
“Nggak, ngapain harus malu. Dia nggak sepolos itu, sudah biarin anggap aja dia nggak ada” jawab Gibran dan malah bersandar di punggung Naina.
“terserah, terserah, kuatkan hamba menghadapi dua orang nggak jelas ini tuhan” pungkas Erlan sambil menyetir mengabaikan dua orang yang duduk di belakang.
Dirinya memang sebagai obat nyamuk, sungguh menyebalkan kakaknya itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C