Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 93


__ADS_3

Naina saat ini duduk di pangkuan Gibran, dia memang sedari tadi manja meminta untuk di pangkuan oleh suaminya itu. dia memeluk mesra Gibran bak anak kecil yang tengah manja pada sang ayah.


Gibran hanya pasrah saja dengan sikap manja istrinya saat ini, mau bagaimana lagi Naina tengah hamil dan dia harus menjadi suami yang baik untuk istrinya tersebut.


“masih lemas sayang,” ucap Gibran yang mengusap bahu sang istri.


“Nggak,” jawab Naina singkat.


“kalau nggak terus kenapa begini?’ heran Gibran sambil melihat sekilas wajah istrinya.


“memang nggak boleh kalau begini” tukas Naina dan langsung melihat wajah Gibran.


“Boleh kok, jangan emosi dong” pungkas Gibran dan dia langsung mencium bibir istrinya tersebut.


Mata Naina menerawang ke arah pohon mangga yang berada d luar pagar resort yang dia tempati saat ini. Matanya tak berkedip sama sekali pandangannya masih tertuju pada pohong mangga tersebut.


“kenapa sayang?” tanya Gibran penasaran dan dia langsung melihat kemana Naina melihat.


“Aku mau mangga itu dong,.” Ucap Naina sambil menunjuk kearah pohon mangga yang berada di luar.


“Hah mangga, mangga itu” Gibran membuka mulutnya menganga, dia tidak salah dengarkan kalau Naina mau mangga itu.


“Iya aku mangga itu, ambilin dong sayang” pinta Naina sambil menatap Gibran yang masih membuka mulutnya tak percaya.


“what serius, aku manja berarti. Kita beli aja ya di pasar” Gibran berusaha merayu istrinya agar berubah pikiran.


“nggak mau, aku mau mangga itu. kamu manjat ngambil mangga nya buat aku” tolak Naina dia masih bersikeras mau mangga tersebut.


“Sayang, masa aku yang naik. Erlan lagi nggak ada, kalau dia ada aku suruh dia”


“Kamu nggak mau nurutin aku, ya udah aku sendiri yang manjat” ucap Naina dan dia langsung turun dari pangkuan Gibran, dia langsung berjalan kearah pintu keluar yang berada di samping yang langsung mengarah ke pohon mangga tersebut.


“Sayang-sayang, tunggu. Ya sudah aku yang manjat” Gibran bergegas menyusul sang istri, dan mau tak mau dia mengiyakan perintah istrinya tersebut.


“Bentar tunggu aku,” lanjut Gibran dan langsung menggandeng tangan istrinya tersebut. keduanya langsung berjalan keluar untuk mengambil mangga yang masih berada di atas pohonnya.


.............................


Gibran hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat sang istri yang memakan mangga hanya dengan garam saja, dia yang melihat itu sesekali hanya memejamkan matanya saja karena dia melihatnya saja sudah merasa asam.


Mangga yang dia ambil sudah di kupas dan di makan oleh istrinya tersebut. Gara-gara mengambil mangga itu, dia tadi hampir jatuh dan tangannya sedikit terbaret pohon.


“Kamu beneran nggak mau?’ tanya Naina yang begitu menikmati mangga muda tersebut.


“Nggak ah sayang asem banget itu” tolak Gibran sambil menggelengkan kepalanya.


“huhuhu, kamu nggak mau karna jijik ya lihat aku makan..” Naina tiba-tiba saja menangis dan berbicara seperti itu pada Gibran sontak itu membuat Gibran mendelik, dia terkejut melihat sang istri yang menangis.


“Sayang, sayang aku nggak bilang begitu ya. Aku cuman nggak mau aja, itu asem.. jangan nangis dong” pungkas Gibran dan langsung merengkuh istrinya. Mereka sendiri saat ini tengah duduk di lantai yang mengarah ke kolam renang.


“Kalau nggak mau aku nangis, makan ini juga” Naina menyodorkan mangga muda itu pada Gibran.


“Sayang,.” Gibran merengek tak mau.


“nggak mau ya..” Wajah Naina berubah sendu, dia terlihat akan menangis lagi.


“Aku mau..” ucapnya kemudian, kalau dia tak mau bisa-bisa sang istri malah menangis lagi.


Dengan memejamkan matanya dan sedikit membuka mulutnya Gibran siap untuk memakan mangga yang teah di sodorkan oleh Naina.

__ADS_1


Dengan menahan rasa asam dari mangga itu berkali-kali Gibran memejamkan matanya, sebenarnya dia tak tahan rasa asam tapi demi istrinya yang tengah hamil mau tak mau dia melakukannya.


“Enak kan, kamu sih lebay pakai bilang ini asem” ucap Naina menatap sang suami.


Gibran hanya mengangguk-angguk saja,


“Ini asem sayang,.karena aku cinta sama kamu makannya aku makan” batin Gibran sambil melihat kearah Naina dengan sesekali memejamkan mata menahan rasa asam tersebut. dia merinding sendiri memakan mangga muda tersebut


“Habis ini kita berdua mau kemana? Kamu sudah nggak lemas lagi kayaknya” tanya Gibran pada sang istri.


“Aku mau naik mobil classic yang atapnya kebuka itu loh, yang bawa kita keliling jalan-jalan” pungkas Naina mengutarakan kemauannya setelah makan mangga.


“Yang mana sayang? Aku nggak tahu”


“Iih norak deh, yang itu loh yang lagi trending disini” kesal Naina.


“yang mana sih,” Gibran masih bingung tidak tahu mobil seperti apa yang dimaksud sang istri.


“iih, kesel deh aku. udah ah, abisin nih mangga nya” kesal Naina dan langsung berdiri meninggalkan mangga tersebut. Gibran yang masih duduk hanya diam melihat kearah Naina yang berjalan kearah pinggir kolam renang.


“Sayang, sayang kamu mau apa?” Gibran yang begitu mencemaskan Naina langsung berlari menghampiri sang istri yang akan masuk kedalam kolam renang.


“Aku mau berenang,” jawab Naina dan mulai akan turun ke kolam.


“Bentar-bentar, aku dulu yang turun.” Gibran langsung buru-buru untuk turun ke kolam renang.


“Kamu tadi bilangnya mau naik mobil kenapa sekarang malah berenang” bingung Gibran sambil menatap sang istri yang masih berada di atas.


“Habisnya kamu nggak tahu yang aku maksud apa,” jawab Naina sambil cemberut.


“Ya sudah yok berenang aja, sini” ucap Gibran dan meminta Naina untuk mendekat. Naina langsung duduk di pinggir kolam renang dan Gibran langsung mengangkat tubuh istrinya masuk kedalam kolam renang.


Untung Naina sedari tadi sudah memakai baju ringan jadi tidak akan keberatan saat berenang. Perempuan itu hanya memakai kaos polos berwana putih dan juga celana pendek saja.


“Kesini,” ucap Naina sambil memegang wajah Gibran dan meminta pria itu menghimpit dirinya ke pinggir kolam renang.


“Mau apa sayang,.”


“Mau cium kamu” jawab Naina dan dia langsung mencium sang suami. Gibran yang dari tadi sudah merasa gerah oleh sang istri, tentu saja tak menolak ciuman tersebut. dia ******* habis bibir istrinya itu karena telah diberikan kesempatan.


Keduanya ciuman cukup panas di kolam renang, bahkan tak perduli kalau ada yang melihat mereka.


...................


Setelah melakukan hal panas di kolam renang tadi, Gibran dan Naina saat ini tengah berjalan di tepi pantai dengan bergandengan tangan. Naina tampak begitu cantik mengenakan dress putih begitu juga dengan Gibran yang memakai kemeja senada dengan sang istri.


Keduanya berjalan tanpa alas kaki menyusuri pinggir pantai, sepasang suami istri itu begitu menikmati waktu berdua mereka saat ini. Gibran tak pernah melepas genggamannya di jemari istrinya.


“Kalau kamu sudah lahiran nantinya kita buat anak lagi ya?” ucap Gibran sambil melihat kearah Gibran.


“Hah buat anak lagi, tiga sudah cukup jangan nambah lagi” Naina yang mendengar itu menganga menatap sang suami yang ingin menambah anak.


“Kan banyak anak, banyak rezeki sayang” pungkas Gibran sambil sesekali menatap kearah sang istri.


“ya kamu bilangnya enak, aku yang hamil, aku yang melahirkan. Ngerasain capek dan sakitnya lah kamu enak tinggal masukin aja tapi nggak ngerasai sakitnya bagaimana” tukas Naina geram dengan suaminya yang ingin menambah anak lagi.


“Iya iya, udah jangan marah gitu dong. Kalau kamu nggak mau nambah lagi nggak pa-pa, tiga anak aja cukup” pungkas Gibran.


“Yang ini aja baru empat minggu lebih sudah mikirin tambah anak lagi, aneh banget” sungut Naina sambil melepaskan genggaman tangan suaminya.

__ADS_1


“Sayang, iya aku nggak nambah anak lagi jangan marah dong” Gibran menahan tangan Naina. Dan dia langsung memeluk sang istri dari belakang.


“Aku minta maaf ya,” ucapnya lagi sambil memeluk istrinya tersebut. dia juga memberikan kecupan di pipi Naina.


“hemmm” Naina hanya berdehem saja.


“Kak Mark sama kak Selina ngajak si kembar kemana? Kenapa sampai sekarang belum kembali juga?” tanya Naina sambil melihat sekilas Gibran.


“Ke kebun binatang, sih Erlan tadi bilang sama aku” pungkas Gibran memberitahu sang istri kemana Mark mengajak kedua anaknya.


“Tapi ini sudah sore, apa nggak sudah tutup kebun binatangnya”


“Mungkin mereka lagi dijalan, pulang kesini. Sudah kamu nggak usah terlalu mencemaskan si kembar toh mereka juga perginya sama kakak kamu” Gibran berusaha menenangkan istrinya untuk tidak mengkhawatirkan kedua anaknya.


“Yok jalan lagi,.” Ajak Gibran pada Naina.


“kemana?” tanya perempuan tersebut.


“Terserah kemana, atau kamu mau makan seafood di pinggir itu” ucap Gibran sambil menunjuk orang yang tengah jualan bakaran seafood yang tidak jauh dari mereka saat ini.


“Nggak ah disini aja” tolak Naina.


“Disini saja? serius?”


“hemm”


“Ya sudah yok duduk,” ucap Gibran mengajak Naina untuk duduk di atas pasir.


Perempuan itu mengiyakannya, dan langsung duduk begitu juga dengan Gibran yang langsung berpindah kesamping istrinya duduk di tepi pantai sambil melihat matahari yang mulai terbenam.


“Kenapa kamu nggak pernah ngajak aku ketemu papa Alfred?’ tanya Naina pada Gibran. Gibran yang mendengar hal itu langsung melihat kearah Naina.


“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal papaku?”


“Nggak pa-pa, aku pengen aja si kembar ketemu mereka”


“Kamu mau ketemu sama papaku?” tanya Gibran.


Naina menganggu tanda mengiyakannya.


“ya sudah setelah pulang kesini kita ketemu papa ku, tapi aku sebenarnya malas kerumahnya. Tapi demi kamu kita ke sana”


“Bukan demi aku, tap demi anak-anak. Si kembar belum pernah ketemu sama papa kamu. mereka cuman bicara lewat telpon saja dengannya”


“Nanti kita pulang dari sini ajak si kembar ke sana” ucap Gibran.


“Oke, aku mau makan anggur ya di rumah papa kamu juga. itu enak anggurnya”


“Semua anggur enak sayang, pohon anggurnya kayaknya sudah nggak ada lagi deh di kebun rumah papa. Soalnya dulu kan itu mamaku yang rawat sedangkan sekarang papaku sudah menikah lagi jadi mana mungkin itu dipertahankan” pungkas Gibran lirih.


“Masih kayaknya..”


“Kamu tahu dari siapa?”


“Dari Erlan,” jawab Naina singkat.


Gibran diam, sambil memikirkan soal pohon anggur di rumah papanya perasaan saat dia ke sana beberapa bulan lalu pohon anggur itu sudah tidak ada tapi kenapa Erlan pada Naina itu masih ada.


Lamunan Gibran buyar karena Naina menyandarkan kepalanya di bahunya sekarang. Gibran melihat sekilas kearah Naina dan mengecup kening istrinya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2