Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 107


__ADS_3

Gibran duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya menatap kearah Naina yang duduk di atas tempat tidur serta tangannya yang terlipat di dada.


“Kenapa kau ulang dari rumah sakit tidak memberitahuku, bukannya aku suamimu?” tukas Gibran dengan wajah datarnya menatap pada Naina.


Naina yang tadi diam karena bingung harus bicara darimana dia langsung menatap kearah Gibran.


“Kau sendiri pulang dari rumah sakit tidak memberitahuku, padahal aku seharian menunggu datang keruanganku” ucap Naina jujur, menatap tajam Gibran.


Gibran langsung terdiam, dia meneguk salivanya gugup harus menjawab apa.


“A..aku, aku ada alasan tidak memberitahumu. Aku butuh waktu untuk memikirkan harus kah kita mulai semuanya dari awal. Apa kau pikir itu mudah, saat kau terbangun tiba-tiba kau punya istri dan anak” pungkas Gibran. Pria itu langsung berdiri dari duduknya saat ini berjalan mendekat kearah Naina.


“Ayo mulai dari awal, bantu aku mengingatmu dan semuanya” lanjut Gibran yang sudah duduk ditepi tempat tidur sebelah Naina.


Naina melebarkan matanya menatap kearah Gibran, apa benar suaminya berkata begitu. Benarkah suaminya mengajak dirinya untuk memulai dari awal..


“kenapa diam saja sedari tadi, setidaknya bicaralah” tukas Gibran.


“Apa kau serius mengajakmu memulai dari awal?”


“Kalau aku tidak serius tidak mungkin aku mengatakannya,”


“Apa dulu kita tinggal di sini?” tanya Gibran melihat setiap penjuru ruangan tersebut. karena menurutnya kamar yang di tempati oleh Naina kurang besar.


Naina menggelengkan kepalanya,


“bukan, ini kamar tamu di rumah orang tua ku” jawab Naina.


“Kamar tamu? Kenapa kau di tempatkan di kamar tamu? Kamarmu dimana?” entah mengapa Gibran tak terima jika Naina di tempatkan di kamar tamu yang tidak besar.


“Kamarku ada di atas, dan tidak mungkin aku naik keatas dengan perutku yang besar begini” Gibran melihat kearah perut Naina , “benar juga dengan kondisi Naina yang hamil besar pasti orang tuanya memikirkan keselamatan putri mereka” batin Gibran.


“Lalu kita tinggal dimana kalau bukan di sini?”


“Dirumah yang kamu beli”


“Kenapa kamu tidak tinggal di sana saja malah disini, bilangnya istriku tapi kenapa malah tinggal di rumah orang tuamu”


“Apa aku harus sendiri di sana, di saat kau saja melupakanku dan tidak tinggal di situ. Kondisi ku yang hamil besar di tambah dua anak yang masih kecil apa bisa aku melakukan semuanya tidak mungkinkan aku merepotkan Erlan” Naina terlihat kesal karena menurutnya Gibran sungguh tidak berpikir.


“Kenapa pakai bawa-bawa Erlan?” kernyitan timbul di dahi Gibran.


“ya karena dia tinggal dengan kita waktu itu”


“Dia tinggal bersamaku?”


“Hmm”

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Gibran terasa pusing, dia mencoba menahannya memegang pelan kepalanya saat ini.


“Kau kenapa?” tanya Naina saat melihat Gibran yang terlihat menahan sakit.


Sekelebat bayang dirinya dan juga ada Erlan serta seorang wanta muncul di kepalanya saat ini. Gibran langsung melihat kearah Naina membuat Naina bingung sekaligus cemas dengan tatapan Gibran.


“Bicara, kamu kenapa?” Naina mulai panik karena Gibran diam sambil menatapnya tangan pria itu juga masih berada di atas kepala.


“Tidak apa-apa, aku boleh berbaring sebentar” ucap Gibran mulai membaringkan dirinya saat Naina yang segera bergeser.


“Apa pernah kita ke bali dengan Erlan dan juga anak-anak?”


“Iya pernah, kau ingat itu. kamu ingat denganku dan anak-anak?” wajah Naina yang tadinya terlihat panik kini terlihat sumringah karena Gibran mengingat moment itu.


“Hmm”


“Kamu sudah ingat semuanya? Kamu ingat soal diriku dan anak-anak”


Gibran langsung menggeleng,


Naina langsung terlihat kecewa, dia kembali murung karena sang suami belum mengingat dirinya juga.


“Besok kau ikut denganku kembali ke rumah kita” pungkas Gibran dan langsung memalingkan wajahnya.


“Apa? tapi kenapa kau mengajakku ke sana bukannya kau bilang belum mengingatku?”


Naina langsung terdiam mendengar ucapan Gibran, Gibran sendiri langsung memalingkan wajahnya membelakangi Naina kembali.


...............................


“Michel sana kembali ke kamarmu, istirahat jangan banyak beraktifitas dulu” pinta Mark pada adiknya.


“Iya Michel benar kata kakakmu, kamu istirahat saja di kamar” timpal Shelina.


Mereka saat ini sedang berada di ruang tengah bersama kedua anak Michel yang sibuk bermain dan Mark serta Shelina menemani mereka.


“Ada Gibran di dalam”


“Gibran? Dia belum pulang dari tadi pagi?” kaget Mark mengetahui Gibran belum pulang dari tadi.


“belum” jawab Naina menggeleng.


“Ya memang kenapa kalau ada Gibran, dia suamimu Michel. Ya kamu nggak pa-pa berdua sama dia, ini juga kesempatan kamu buat bujuk dia agar ingat sama kamu” pungkas Shelina.


“Nggak kak,”


“Michel, apa sikap Gibran dulu seperti sekarang? seperti orang yang menyebalkan dan tidak tahu sopan santun cara bicaranya juga membuatku harus bersabar menghadapinya”

__ADS_1


“Kata Erlan dia dulu memang begitu,”


“Jujur kalau dia tidak lupa ingatan dan kalau dia bukan suamimu sudah aku hajar berkali-kali pria itu” tukas Mark.


“Aku minta maaf ya kak atas sifat Gibran yang seperti itu”


“Kenapa harus kamu yang minta maaf, yang berbuat diriku” tiba-tiba saja Gibran muncul di anatar amereka membuat ketiga orang dewasa itu menatap kearah Gibran.


“Kau marah denganku? Aku minta maaf kalau begitu. Mulai sekarang aku akan menghormatiku, kau kakak iparku kan” ucap Gibran sambil berjalan mendekati ketiga orang tersebut.


“Papa” seru Aira dan juga Aiden. Mereka yang tadinya adik main game di tablet milik mereka langsung teralihkan saat mendengar suara Gibran.


Aira langsung berlari menghampiri sang papa dan di ikuti Aiden yang berjalan pelan di belakangnya.


“papa, papa kita kangen sama papa. Kenapa papa kerja terus sampai nggak pulang-pulang” ucap Aira di depan papanya. Gibran langsung menyamakan tingginya dengan kedua anaknya tersebut


“Iya kenapa papa jarang pulang sama ketemu kita, padahal mama pengen banget ketemu papa apalagi adik bayi. Mama selalu nggak bisa tidur kalau adik bayi lagi rewel di dalam perut dulu papa sering megang perut mama biar mama bisa tidur sekarang mama tidur sendiri karena papa nggak pernah pulang..papa udah nggak sayang sama kita ya” imbuh Aiden menatap papanya.


“Aiden Aira pr kalian di kerjakan dulu sayang” insturpsi Naina meminta kedua anaknya untuk masuk kedalam kamar mengerjakan pekerjaan rumah mereka.


Sedangkan Gibran yang mendengar ucapan kedua bocah itu merasa tertusuk, dadanya terasa nyeri mendengar ucapan kedua bocah itu.


Tangannya dengan ringan memegang bahu keduanya,


“Aku maksudku papa minta maaf karena jarang di rumah. tapi mulai sekarang papa bakal selalu di rumah nemani kalian main dan juga menemani mama kalian tidur biar adik bayi nggak rewel. Kalian nggak marah kan sama papa?” ucapnya pada si kembar.


“Kalau papa mau janji kita nggak marah?” ucap Aiden dan di angguki oleh Aira.


“Papa janji sama kalian,”


“Papa beneran janji kan” ucap Airan dan Gibran mengangguk.


“Kita sayang sama papa” ucap Aira dan langsung memeluk Gibran. Gibran membalas pelukan putrinya, dan dia melihat Aiden yang hanya diam saja melihat mereka.


“Kamu tidak ingin memeluk papamu?” ucap Gibran pada Putranya.


“Untuk saat ini aku tidak akan memeluk papa, aku butuh bukti kalau papa benar-benar akan menepati janji dan jangan buat mama tidur sendiri lagi” ucap Aiden dan langsung berjalan mengambil Ipadnya yang ada di meja depan Mark.


“Mama, daddy, tante aku ke atas dulu” ucap bocah tersebut pergi dari situ.


“Ayo Shelina kita juga pergi, Gibran kau dengar apa kata Aiden barusan buktikan dulu baru kita percaya. Aku yakin kalau kau berusaha keras ingatanmu pasti kembali” ucap Gibran dan membantu Shelina berdiri.


“Michel kakak ke kamar dulu” ucap Mark dan Shelina sebelum pergi meninggalkan Naina bersama Gibran dan juga Aira.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2