Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 56


__ADS_3

Michel sudah pergi dari rumah ibunya, Gibran baru berani keluar dari persembunyiannya saat ini. dia langsung keluar menemui ibu mertuanya dan juga kedua anaknya yang ada di luar rumah saat ini.


“Ibu,” panggil Gibran sambil berjalan mendekat kearah Nurma dan juga Nanda.


Nurma langsung berbalik melihat kebelakang begitu juga dengan Nanda.


Gibran diam ditempatnya saat melihat kedua anaknya yang berada di depannya saat ini ia bingung harus bersikap bagaimana sekarang. Apalagi saat dia melihat kearah Aiden yang menatapnya datar dan bocah itu sesekali tak melihat kearahnya.


“Om Ibran,.” Seru Aira yang maish mengingat Gibran. Gibran membalasnya dengan tersenyum.


“Gibran, ibu sengaja menyuruhmu kesini karena mereka.” Pungkas Nurma mengutarakan maksudnya menyuruh Gibran datang kerumahnya ya karena ia ingin mempertemukan Gibran dengan kedua bocah itu tanpa sepengetahuan Michel.


“OM Ibran kok disini, ini rumah nenekku” ucap Aira yang berlari menju Gibran yang ada di depannya.


“I..iya, om..om ke”


“Om Gibran itu anak nenek sayang,” sahut Nurma


Gibran melebarkan matanya mendengar ucapan ibu mertuanya. Lalau dia melihat Aira yang tampak bingung.


“Anak nenek,” bingung Aira sabil berpikir.


“Om, ayo masuk” ucap Aiden menarik tangan Nanda untuk masuk.


“Ayo masuk dulu, kita ngobrol sama main didalam yuks” pungkas Nurma mengalihkan kebingungan Aira. Mereka berlima langsung berjalan masuk, Aira di gandeng oleh Gibran bocah itu terlihat begitu senang saat didekat Gibran saat ini berbeda dengan Aiden yang berjalan duluan bersama dengan Nanda. Dia hanya diam dans esekali melihat kebelakang dimana Gibran berjalan. Gibran sendiri melihat anak laki-lakinya yang terus melihat kepadanya. Jujur dia merasa sedikit bersalah karena mengatakan hal waktu itu pada Aiden, sebenarnya apa yang dipikirkan bocah lima tahun tersebut padanya. Kenapa dia hanya diam saja tanpa berbicara padanya..


“OM, OM Ibran nanti kita mainan ya” Aira menggoyang-goyangkan ajri Gibran yang dia gandeng agar Gibran melihat kearahnya karena pria dewasa disebelahnya tersebut tampak tak fokus.


“Iya sayang, nanti kita mainan bareng.” Jawab Gibran sambil meletakkan tangannya dikepala Aira, dia mengusap lembut kepala bocah itu.


....................................


Michel saat ini berada di sebuah ruangan yang berwarna cream, dia duduk di depan meja seorang wanita yang tengah membelakangi Michel saat ini. perempuan itu terlihat encarisesuatu di laci belakangnya.


“bukunya kayaknya nggak ada Michel, kamu coba cari di perpustakaan atau nggak tuku buku. Nanti aku kasih tahu judul bukunya” ucap Rosa yang kembali menatap Michel yang duduk di depannya. Benar Michel menemui Rosa, Rosa ternyata seorang psikolog Michel meminta janji temu dengan Rosa. Ini juga saran dari papanya agar menemui seorang psikolog untuk mengatasi rasa traumanya.


“Ya sudah tidak apa-apa nanti aku cari sendiri saja soal bukunya” ucap Michel, Roasa tadi berniat untuk meminjamkan buku soal psikologi padanya tetapi buku itu tak ada saat ini.


“Kamu tadi bilang saat melihat wajah orang di masa lalu mu tanganmu tiba-tiba bergetar tak karuankan, dan kamu langsung gelisaha setelah itu. kamu takut pada wajah tersebut kan?”


“Iya, aku takut dia akan melakukan hal yang sama seperti dulu. aku takut orang itu mencelakaiku lagi” jujur Michel.


“Michel sekarang dengarkan aku, tanamkan pada hatimu ucapanku ini. mulai sekarang kamu harus menyadari bahwa reaksi yang kamu alami saat bertemu orang tersebut adalah wajar dan normal. Jadi jangan mulai cemas dengan reaksimu ketika tanganmu bergetar, cobalah tenangkan dirimu. Karena cara pertama mengatasi trauma psikis yang bisa di lakukan yaitu menghilangkan atau mengatasi trauma dengan menyadari bahwa reaksi yang tidak normal terhadap kondisi yang tidak normal adalah sesuatu yang wajar. Dan katakan orang itu tidak akan melakukan hal buruk lagi padamu, dia sudah berubah. Terus katakan hal itu pada dirimu” tutur Rosa.


“Tapi bagaimana kalau dia belum berubah, bagaimana kalau dia masih sama seperti dulu yang tega menyiksa orang lain”


“Buang pikiran itu jauh-jauh, kamu cari dukungan yang mengarahkan untuk bisa menerima orang itu. kalau lebih dari satu orang yang mendukung orang tersebut berarti ornag itu memang benar sudah berubah. Karena tak mungin orang yang belum berubah menjadi baik akan menerima dukungan dari semua orang terdekat darimu” nasehat Rosa sambil memperhatikan wajah Michel yang gelisah dan masih tampak ragu.

__ADS_1


“Katakan padaku sebenarnya kamu trauma dengan siapa? Ayah dari si kembar atau dari orang lain di masa lalu mu?” tebak Rosa penasaran.


“Ayah dari anak-anakku, yang tak lain masih suamiku. Eh, entah masih suami atau sudah jadi mantan, karena aku tidak berkomunikasi lebih dari lima tahun dengannya”


“Jadi kamu trauma dengan suamimu, ya itu lupakan dan berusaha menerima apa yang terjadi dulu berdamailah dengan masa lalumu. Kau bilang orang itu banyak dukungan kan, jadi berusahalah untuk menerimanya jangan menghindar darinya. pikirkan juga soal anak-anakmu kedepannya”


“Tapi Rosa, aku masih takut untuk menerimanya. Aku takut dia melakukan hal yang sama lagi dan aku takut dia mengambil anak-anakku dariku. Dulu aku pernah mendnegarnya bicara dengan pacarnya kalau dia akan mengambil anak-anakku saat aku tengah hamil.”


“Lupakan soal itu Michel, itu masa lalu dan sudah lima tahun. Bukannya suamimu juga sudah berpisah dengan kekasihnya, kalau dia belum berpisah dari kekasihnya tidak mungkin dia menemuimu”


Michel hanya diam saja mendengar hal itu, dia tampak berpikir mencerna ucapan Rosa barusana.


“Kalau tidak begini, misalkan kalau suamimu masih bersama dengan kekasihnya. Kamu tetap ijinkan saja anak-anakmu bertemu dengannya, aku yakin dia tidak akan memisahkan kalian. Ini juga demi kebaikan anak-anakmu. Bukannya kamu juga bilang tadi kalau Aiden agak berbeda setelah dia mendengar ucapan dari suamimu yang mengatakan kalau suamimu itu ayah dari Aiden dan anakmu sempat amrah apdamu kan..jadi untuk kedepannya lebih baik kau jujur dan berusaha berdamai dengan masa lalumu” saran Rosa pada Michel, ia berharap adik dari seniornya itu bisa mengatasi traumanya.


“Baikalh kau itu saran darimu, aku coba mengendalikan traumaku dan berdama i dengan hal itu” balas Michel pada akhirnya.


‘Baguslah kalau begitu,” Rosa juga ikut merasa senang kalau memang Michel akan menuruti ucapannya. Ia sebagai psikolog hanya bisa membantu dengan cara tersebut.


....................................


“Iih Om Ibran geli..” Aira yang kegelian karena di glitiki oelh Gibran berusaha memberontak dari pelukan pria itu.


“Hahaha, makanya jangan jail sama Om. Kamu jail banget sih, Om gelitikin terus pokoknya” pungkas Gibran sambil menggelitiki Aira yang tertawa terus-terusan karena apa yang dilakukan Gibran.


“Aiden nggak ikut main sama Om Gibran?’ Nurma duduk disebelah Aiden yang hanya diam memperhatikan Aira dan juga Gibran yang tampak asik berdua.


“Mama bukan pembohong kan nek?’ Aiden tiba-tiba saj bertanya seperti itu pada neneknya.


“Maksudnya sayang?”


“Om itu bilang dia papa aku, terus bilang mama pembohong. Dia bukan papa aku kan?” ucap bocah tersebut.


Nurma yang mendnegar itu tak bisa menjawabnya, ingin sekali dia bilang kebenarannya pada sang cucu tapi tak mungkin rasanya kalau tanpa persetujuan Michel.


“Anak-anak mama pulang,” seru Michel masuk kedalam rumah. membuat pandangan keempat orang itu tertuju pada Michel yang berdiri agak jauh dari mereka.


Langkah Michel langsung terhenti, dia dia bagai patung saat melihat siapa yang tengah bersama anak perempuannya saat ini.


Gibran sendiri yang melihat itu langsung berdiri dia memberi jarak pada Aira, ia tak ingin Michel salah paham padanya. Ia tidak ingin dituduh macam-macam oleh perempuan tersebut.


“Michel..” Nurma terkejut melihat anaknya yang sudah pulang.


“Kau? Kenapa kau disini?” tukas Michel pada gibran yang berdiri menatapnya.


“Aku.aku kesini...”


“Ibu yang nyuruh Gibran kesini” jawab Nurma memotong ucapan Gibran. Dia langsung berdiri dari duduknya saat ini.

__ADS_1


“Tapi kenapa bu, kenapa ibu nyuruh dia kesini?”


“Sepertinya ini saat yang tepat Michel, kau tidak bisa menyembunyikan kebohongan terus-terusan. Kasihan anak-anakmu”


“Ibu...” Michel seakan tak terima dengan ucapan ibunya.


“Aiden, Aira ke kamar Om Nanda dulu ya. Nenek mau bicara sama mama dan Om Gibran dulu” ucap Nurma pada kedua cucunya.


Kedua bocah itu langsung menurutinya, mereka berjalan pelan menaiki anak tangga menuju kamar Nanda yang ada di lantai atas.


“Michel aku bisa jelaskan, aku kesini nggak ada mak..”


“Sudahlah, kau bakal menjelekkan diriku pada anak-anakku kan seprti yang kau lakukan apda Aiden waktu itu” sela Michel.


“Nggak aku tidak maksud begitu”


“Jangan bohong, aku kecewa juga sama ibu kenapa ibu nyuruh dia kesini” ucap ichel dan langsung pergi keluar kembali.


“Michel tunggu kita bicara dulu” ucap Gibran,


“Ini bukan salah ibu, ini salahku..” lanjut Gibran tak terima jika Michel menyalahkan mertuanya. Gibran langsung menyusul Michel keluar sedangkan Nurma hanya menatapnya saja.


Michel yang keluar terburu-buru, tiba-tiba saja terjatuh karena kakinya yang memakai higheels terseok membuat kakinya terkilir.


“Auggh,” rintihnya yang hampir sampai di ambang pintu keluar.


“Naina..” teriak Gibran panik, ia segera menghampiri Michel yang kesakitan.


“lepaskan, aku tidak perlu bantuanmu” ucap Michel menolak Gibran yang akan membantunya.


“Aughh” rintih Michel lagi saat dia berusaha bangkit sendiri.


“Sudahlah, jangan keras kepala. Aku bantu” ucap Gibran dan langsung membopong Michel ke sofa. Michel hanya diam pasrah, karena kakinya begitu sakit.


Nurma sebenarnya mendengar Michel yang terjatuh tapi dia hanya diam saja, ia hanya melihat interaksi Gibran dan juga Michel ia ingin memberi ruang mereka berdua.


“Mana yang sakit, aku pijat ya” ucap Gibran setelah mendudukkan Michel di sofa.


“tidak perlu” tolak Michel


“jangan keras kepala” paksa Gibran, dia langsung menaruh kaki Michel di pahanya..ia melepaskan sepatu Michel perlahan dan ia langsung memijit pelan kaki Michel yang terkilir barusan.


Michel diam melihat Gibran yang tampak telaten dan juga wajah pria itu tadi yang terlihat mencemaskan dirinya.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2