Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 81


__ADS_3

Naina dan Gibran mengantarkan kedua anaknya dulu pergi sekolah sebelum mereka berangkat ke puncak untuk melihat perkebunan di sana.


“Aira, Aiden nanti kalian pulang di jemput Opa Mahendra ya” ucap Naina memberitahu anaknya sebelum kedua bocah itu turun dari mobil.


“Iya ma, mama sama papa nggak lama kan di puncak. Kita kok nggak di ajak?” tanya Aiden sambil menatap kearah kedua orang tuanya yang duduk di depan.


“Iya kok kita nggak di ajak, papa waktu itu bilang mau ngajak kita” sahut Aira.


“Papa minta maaf ya sayang, habisnya Oma Vita biang kangen sama kalian jadi papa kasihan lihat Oma yang sedih” jelas Gibran memberikan pengertian pada sang anak.


“Oma Vita sedih? Ya udah nanti kita ke sana. Tapi mama sama papa nggak lama kan?” ucap Aira.


“Nggak kok, cuman sehari besoknya pulang” jawab Naina.


“Kalian jangan nakal ya di rumah Opa sama Oma yang nurut sama Opa Oma” nasehat Gibran pada anak-anaknya.


“Siap papa” jawab keduanya bersamaan.


“Di Sana juga ada tante cantik loh sayang, jadinya kalian nggak bosen” ucap Naina dan menyebut Shelina sebagai tante cantik.


“Apa iya ma, tente Elin ada di rumah Oma?” Aira langsung tampak antusias.


“Iya tante Shelina di rumah Oma, kalian senang kan?”


“Senang banget Ma” ucap Aira dan juga Aiden. Kedua bocah itu memang dekat pada Shelina karena Shelina tampak keibuan bagi mereka dulu saat di Jerman Shelina sering mengajak mereka jalan-jalan.


“Ya sudah anak-anak Papa sekarang sekolah dulu ya, tuh Miss nya sudah nunggu” pungkas Gibran sambil melihat kearah wali kelas kedua anaknya yang sudah menunggu di pintu masuk gedung sekolah.


“Ya sudah ayok Aira kita sekolah” ucap Aiden mengajak kembarannya untuk turun.


“Ayok” jawab Aira.


“salim dulu dong sama papa mama” ucap Gibran mengingatkan anaknya.


“Oh iya lupa” ucap Aira sambil menepuk jidatnya sendiri. keduanya langsung mencium tangan kedua orang tuanya tersebut.


Setelah itu kedua bocah tersebut turun dari dalam mobil,


“Dada mama papa” ucap keduanya melambaikan tangan sambil berjalan ke arah wali kelas mereka yang sudah menghampiri mereka.


“Iya dada juga sayang” jawab Gibran dan juga Naina.


“Miss, titip anak-anak saya ya” ucap Naina pada perempuan yang sedikit agak muda tersebut.


“Iya bu” jawab Miss tersebut.


Mobil Gibran langsung berjalan meninggalkan halaman sekolah itu, karena dia tidak bisa berlama-lama menghentikan mobilnya di belakang mobilnya sendiri sudah antri mobil-mobil milik orang tua murid yang lain.


................................


Mark hari ini sudah mulai masuk bekerja, dia datang keruangan Reyhan untuk mengambil laporan pasiennya yang sebelumnya dia minta Reyhan untuk mengantikan dirinya.


Tok,tok


Mark mengetuk pintu ruangan itu lebih dulu hingga sebuah suara memintanya masuk kedalam. Mark langsung masuk kedalam ruangan Reyhan saat ini dan dia melihat pria itu tengah sibuk di meja kerjanya.


“Sibuk?” tanya Mark pada rekannya itu.


Reyhan yang tadinya tak melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya, dia langsung menoleh melihat Mark.

__ADS_1


“Wiih, pengantin baru sudah mulai masuk kerja ini” goda pria tampan tersebut sambil tersenyum ramah pada sang rekan.


“Mau bagaimana lagi, punya tanggung jawab” jawab Mark sambil tersenyum dia berjalan mendekat kearah Reyhan. Reyhan sendiri langsung keluar dari mejanya untuk menyambut temannya tersebut. keduanya saling berpelukan ala pria dan saling menepuk bahu satu sama lain.


“Duduk-duduk,” ucap Reyhan mempersilahkan Mark untuk duduk.


Mark langsung duduk di kursi dipan meja Reyhan, dia melihat kertas-kertas yang menjadi kesibukan rekannya tadi.


“Rajin banget” pungkas Mark saat melihatnya.


“Ya bagaimana, mumpung aku nggak sibuk jadi aku analisis satu-satu” tukas Reyhan.


“Ini, Ini, ini, dan ini” Reyhan mengambil beberapa Map yang berisi laporan pasien dan dia memberikannya pada Mark.


“Itu pasien mu, dan kamu sudah kembali bekerja jadi aku serahkan kembali padamu” lanjut Reyhan.


“Oke terimakasih ya, mau traktiran apa sebagai ucapan terima kasihku”


“aku mau minta traktiran, tapi aku minta yang lain?”


“APA?”


“Adikmu,” jawab Reyhan.


“Gila kamu, di sudah kembali denan suaminya dna kamu bilang tak masala....”


“Aku bercanda, jangan serius begitu dong. Ya kali aku jadi orang ketiga di rumah tangga adikmu. Aku nggak sejahat itu” senyum Reyhan, dia berhasil menggoda rekannya tersebut. barusan dia hanya bercanda tak serius. Dia sudah ikhlas kalau Michel kembali pada sang suami.


“Aku pikir kau serius, ya kali kamu minta adikku. Sudah kamu minta traktiran apa? aku traktir?”


“Nggak usah, kayak apa aja sih.” Ucap Reyhan menolak.


“Ya sudah kalau tidak mau” tukas Mark, sambil melihat laporan-laporan pasien yang diberikan Reyhan padanya.


“Iya ada, anak dari perempuan yang bernama Alisha kan? dia sudah sembuh tapi anaknya sepertinya sensitif ya. Di punya riwayat asma kan?” jawab Reyhan sambil memperhatikan Mark.


“Iya, dia jadi pasien tetap ku sejak dua tahun lalu atau kapan ya pokoknya sejak anaknya berusia satu tahun”


“Dia kemarin aku sarankan ke dokter anak saja,”


“Kenapa? Katamu anaknya sudah sembuh”


“Iya, tapi kan dia punya asma dan kemungkinan bisa kambuh lagi kedepannya. Aku rasa lebih efisien jika dokter anak langsung yang menanganinya” tukas Reyhan. “Tapi itu terserah dia juga sih, kalau mau berobat disini” lanjut Reyhan sambil sesekali melihat ponselnya.


“Kamu ada alasan lain ya meminta perempuan itu ke dokter lain?” Mark menatap curiga rekannya itu.


“Alasan lain, maksudnya bagaimana?” Reyhan tak mengerti dengan apa yang dikatakan Mark.


“Kamu sepertinya tidak suka dengan perempuan itu, memang dia kenapa? Sepertinya dia orang baik dan tidak ribet soal masalah anak” Mark seakan bisa menebak alasan Reyhan menyuruh pasiennya ke dokter lain. Pasti perempuan itu sudah membuat temannya itu tidak nyaman.


“Kau memang temanku, aku tidak mau saja berurusan dengan perempuan itu. dia cukup rumit. Aku tidak mau berurusan dengan orang yang akan menyusahkan ku kedepannya” pungkas Reyhan dingin, Reyhan memang tipe orang yang tidak mau direpotkan oleh orang asing. meskipun pria itu terkenal baik tapi ada sisi buruknya yaitu dia tidak mau berurusan dengan orang yang memiliki masalah rumit.


“Memang kau pernah masuk dalam urusannya yang rumit?”


“Hemm, dan entah kenapa aku bisa kebetulan ada di tempat itu. sudahlah tidak usah dibahas lagi, itu urusannya” pungkas Reyhan dan dia sibuk menandatangi laporan pasiennya.


Mark hanya diam saja, dan sesekali melihat Reyhan yang tampak sibuk.


“Ya sudah kalau begitu aku kembali ke ruangan ku saja. oh iya, oleh-olehmu ada di ruangan ku. Kalau kamu mau pergi saja ke ruanganku” Mark langsung berdiri dan undur diri untuk kembali ke ruangannya.

__ADS_1


“Kenapa tadi nggak sekalian, kamu bawakan kesini” heran Reyhan.


“Lupa, sudah aku pergi dulu” ucap Mark dan dia langsung berjalan pergi keluar dari ruangan Reyhan.


.................................


“Kamu buat perusahaan baru apa papamu tidak marah?” tanya Naina yang tengah makan didepan Gibran. Kedua orang itu saat ini tengah makan siang di sebuah restauran yang ada di puncak mereka baru saja sampai dan langsung mencari tempat untuk makan siang.


“Awalnya sih papa sempat menentang, karena aku disuruh fokus untuk mengurus perusahannya. Tapi kan disitu pemegang sahamnya bukan papa dan aku saja ada khalif jadi aku pikir aku harus buat usaha baru lagi. Kamu tahu sendiri aku bukan orang yang bisa berada di zona nyaman begitu saja” jawab Gibran dengan cukup panjang.


“Entah, aku tidak tahu dirimu begitu. Kamu selama ini tidak pernah menceritakan dirimu yang spesifik padaku. Kamu saja dulu bisa dihitung saat bicara denganku” balas Naina sambil menyinggung soal masa lalu.


Gibran langsung terdiam, dia menatap kearah sang istri. Ia menaruh sendok nya begitu saja sambil menatap serius istrinya.


“Kenapa?” tanya Naina pada Gibran yang menatapnya.


“Aku minta maaf soal dulu, aku salah sayang mulai sekarang aku bakal bicara semuanya padamu dari luar dan dalam diriku”


“Aku nggak minta, tapi kalau kamu mau mengatakannya juga nggak pa-pa”


“Tentu saja aku akan mengatakannya, aku bakal jujur dan mengatakan apa adanya padamu” pungkas Gibran.


“Ini makan, aku suapi ya” ucap Gibran sambil menyendok kan kembali nasi dan lauk di piringnya dan dia langsung menyuapkannya ke Naina.


“Oh iya, aku ingin bicara soal Erlan” ucap Naina sambil mengunyah makanannya.


“Di makan dulu sayang jangan bicara, ke sedak nanti” tegur Gibran meminta sang istri untuk memakan dulu makanan yang ada di mulutnya.


Naina langsung mengunyahnya dengan cepat, dan dia langsung minum saat sudah menelannya.


“kenapa kamu bahas Erlan? Memang kenapa?” tanya Gibran saat sang istri sudah selesai mengunyah.


“Dia adik kamu, aku harap kamu memperlakukannya dengan baik. Dia selama ini juga sudah menuruti setipa ucapan kamu kan. jadi bersikap lebih baiklah padanya.” Ucap Naina


“Aku selama ini juga sudah baik dengannya, kurang baik apa lagi aku yang mengijinkan anak dari perempuan yang membuatku kecewa tinggal bersamaku”


“Kamu marah pada tantemu?” tanya Naina menatap Gibran yang sedikit emosi dan membuang mukanya.


“Coba kamu jadi aku sayang, kamu marah nggak sama tante kamu yang menikah dengan suami dari kakaknya. dan kakaknya baru beberapa tahun tiada tapi dia sudah mau menikah dengan kakak iparnya pikirannya tuh dimana”


“Aku dengar dari Erlan alasan mamanya menikah katanya karena dia sayang sama kamu. mamanya melihat kamu seperti orang yang kehilangan arah saat aku pergi dulu. karena tante kamu kasihan padamu yang sudah terpukul karena kehilangan mama ditambah harus kehilangan diriku. Kamu pernah pulang dengan mabuk kan bilang kalau kesepian, mulai dari situ tante mu memutuskan untuk mau menikahi papa Alfred dan papa Alfred juga mempertimbangkan dirimu. Berharap setelah dia menikah dengan tante mu kamu bisa punya keluarga dan juga adik” Naina berusaha membuat Gibran mengerti, dan dia tahu fakta itu dari Erlan kemarin yang bercerita padanya.


“Konyol, demi diriku?” sinis Gibran.


“Jawaban kamu sama seperti Erlan, anak itu juga menganggapnya konyol. Tapi aku rasa karena papa Alfred dan tante mu sayang padamu makanya mereka menikah”


Gibran diam saja, diam masih tak mau bicara.


“Meskipun kamu marah dengan tante mu, tapi baiklah pada Erlan. Dia adikmu bagaimanapun”


“Bagaimana aku bisa baik dengannya, dia saja menjengkelkan seperti itu” cibir Gibran bak anak kecil.


“Ya namanya juga masih muda, masih seumuran Nanda dia. jadi wajar sifat jahilnya masih ada”


“Tuaan Erlan” sanggah Gibran.


“Cuman dua tahun saja bedanya, tapi mereka kan tetap masih seumuran. Baiklah padanya..dia juga banyak membantumu kan” Naina berusaha meminta Gibran agar lebih baik lagi pada Erlan.


“hemmm” dengan berat hati Gibran mengiyakannya meskipun dia hanya berdehem saja menjawabnya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2