Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 44


__ADS_3

Gibran pulang kerumahnya setelah mengantarkan Alisha kembali ke apartemnnya, Gibran berjalan dengan berat menuju kedalam rumahnya. Ia begitu malas untuk pulang kerumah setelah melihat Aira tadi dia ingin bersama bocah itu menemani tidur dan menontot seperti yang Mark lakukan tadi.


Gibran menghentikan langkahnya saat melihat dalam rumahnya yang cukup gelap, tak ada sinar lampu yang menyala. Kemana Erlan dan para asisten rumah tangganya kenapa lampu mati seperti ini, batin pria tersebut dan dia melihat kearah jendela dimana lampu milik tetangganya terlihat menyala kenapa rumahnya saja yang gelap.


“Erlan..Erlan..kau dimana kenapa lampu..”


“SUPRISE...” terdengar suara riuh beberapa orang yang berdiri didepan Gibran saat ini dan ada dua orang yang berdiri didekat sklar lampu.


“Ayah, Ibu, Nanda.” Gibran terkejut meliat ketiga orang tersebut didepannya saat ini sambil membawakan sebuah kue yang dipegang oleh ibu mertuanya itu. binar bahagia begitu terlihat jelas di wajah Gibran saat ini.


“Selamat ulang tahun kak, Selamat ulang tahun Gibran” ucap ketiga orang tersebut hampir bersamaan.


“kalian inget ulang tahunku” ucap Gibran sambil berkaca-kaca.


“Ibu sama ayah pasti ingetlah, ayo kita ke ruang tengah dulu” ucap Nurma dan mengajak Gibran untuk keruang tengah terlebih dahulu.


“Selamat ulang tahun Big Brother,” seru Erlan yang berdiri bersama Khalif didekat saklar lampu.


“hemm, terimakasih” jawab Gibran.


“kamu nggak ngasih tahu kakak sih, “ ucap Gibran dan langsung merangkul Nanda dari belakang saat pria itu akan berjalan ke ruang tamu.


“Kalau ngasih tahu namanya nggak surpurise, lepas ah kak berat. Aku mau jalan” jawab Nanda dan minta untuk dilepaskan.


Gibran langsung melepaskan pelukannya pada Nanda dan dia melihat sekilas kebelakang,


“Khalif, kau sendiri kesini? Mana anak sama istrimu?” tanya Gibran pada sepupunya tersebut.


“Maura tidur, jadi aku nggak ijinin Sarah buat kesini” jawab Khalif.


“Oh, nggak seru nggak ada Maura” lirih Gibran, dia langsung murung karena misalkan Maura datang itu akan mengurangi rasa sepinya di pertambahan umurnya yang sekarang.


‘Kamu habis dari mana kenapa jam sepuluh malam begini baru pulang?” tanya Agus pada gibran.

__ADS_1


“Tadi anak teman aku jatuh dari tangga yah, jadi terpaksa aku nganterin kerumah sakit” jawab Gibran.


“Oh,”


“Kalian lama ya nunggu aku”


“ya lumayan,” sahut Erlan.


“maaf yah, bu. Kalian harus nunggu lama” Gibran merasa tak enak pada kedua mertuanya itu karena sudah menunggu dirinya cukup lama.


“Nggak, ibu nggak masalah kok”


Mereka semua langsung berjalan menuju ruang keluarga untuk menikmati hidangan yang dibuat oleh Nurma saat dirumahnya tadi. Dia memang sengaja membuatkan itu untuk Gibran, dua tahun ini mereka selalu merayakan ulang tahun Gibran bersama. Karena pria itu pasti merasa kesepian dan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada Naina. Karena Naina di nyatakan menghilang bertepatan dengan ulang tahun Gibran.


...................................


“Augh sakit Aiden, masa Opa di cubit” ucap Mahendra saat dia tengah bermain bersama bocah itu di tempat tidur. Bocah lima tahun tersebut belum jga tidur padahal sudah cukup malam saat ini.


“habisnya Opa lucu,” kekeh Aidan melihat opanya yang cemberut.


“hehehe” Aiden malah nyengir saat melihat sang opa yang memasang ekspres kerung.


“Aiden tidur ya, kan sudah nelpon mama kamu tadi. Nanti Oma kalau masuk kesini marah loh lihat kamu belum tidur”


“Aiden belum ngantuk Opa,”


“besok seklah Aiden,.”


“Oh iya Opa, tadi pagi disekolah aku disuruh bu guru buat gambar Family Tree terus aku buat. Pas bagian papa aku isi foto papa Mark, bu guru sama teman-teman tanya kok diisi gambar papa Mark lagi kan papa mark kakak mama. Aku jawab kalau aku nggak punya wajah papa eh bu guru langsung diem temen-temen malah ngatain aku nggak ada papa. Memang papa aku kayak mana Opa” oceh bocah tersebut menceritakan apa yang dia lamai di sekolahnya tadi.


Mahendra terdiam mendengar hal itu, dia tak tahu harus menjawab apa saat ini. jujur dia saja tak tahu wajah ayah kandung dari anak-anak Michel. Karena Michel hanya bilang suaminya orang berada dan sangat jahat jadi dia tak ingin berurusan dengan orang itu lagi.


“Opa, Opa kenapa diem..” Aiden menggoyang lengan Opanya yang diam memperhatikan dirinya seperti tengah melamun.

__ADS_1


“Sudah malam Aiden, sekarang kamu tidur saja ya. Nanti Oma kalau tahu kamu belum tidur, Oma bisa marah sama Opa loh. Tidur ya, sambil Opa peluk kamu”


“Iya.” Lirih bocah itu berat hati. Dia langsung membaringkan dirinya di sebelah opanya itu. mahendra sendiri langsung menyelimuti Aiden dan memeluk bocah tersebut.


“Apa ini saatnya dia menanyakan pada Michel siapa ayah dari cucu-cucunya, karena tak mungkin kebohongan ini terus berlanjut kasihan mereka yang tak tahu siapa ayah kandungnya. Apalagi ini bukan di luar negeri yang bebas meskipun status mereka tak jelas dan mereka tak akan di olok oleh orang. Tapi ini di Indonesia,” batin mahendra sambil mengusap lembut kepala sang cucu. Dia juga mengecup kening cucunya tersebut, meskipun Aiden dan Aira bukan cucu kandungnya tetapi ia sangat menyayangi mereka seperti darah dagingnya sendiri.


.....................................


Gibran duduk menyendiri di pinggir kolam rumahnya sudah sepi kembali, hanya suara keheningan malam dan juga suara teriakan dari Erlan dan juga Nanda yang tengah bermain game di depan televisi. Sedangkan Khalif dan juga kedua orang tua Naina sudah pulang kerumah setelah melakukan pesta keci-kecilan untuk merayakan ulang tahun Gibran barusan.


Gibran menatap kedasar kolam raut wajah sedihnya terlihat begitu jelas dari pantulan air kolam tersebut.


“Kau sekarang harusnya merasa sedikit lebih plong Gibran, karena Nainamu masih hidup dan hidupmu bisa berwarna lagi” ucap Gibran berbicara sendiri pada pantulan dirinya.


“kenapa sendirian disini kak? Mikirin kak Naina” ucap Nanda yang baru saja datang dan duduk disebelah Gibran saat ini.


“Hemmm”


“Masih belum bisa melupakan kak Naina, lupakan saja dia dan mulai hidup barumu kak. Kau seperti ini terlihat menyedihkan”


Gibran langsung menoleh menatap Nanda yang duduk disebelahnya,


“Bagaiman bisa aku mulai hidup baru disaat Naina masih hidup, aku akan memulai lagi dengannya bukan dengan orang baru” jawab Gibran menatap serius wajah Nanda.


“maksud kak Gibran?’ Nanda seketika langsung melihat kearah Gibran yang juga menatapnya.


“Nanda, kamu menganggapku sebagai kakakmu kan. tolong jawab jujur Naina masih hidupkan” ucap Gibran penuh harap kalau Nanda bakal berkata jujur padanya.


“kak..kak Gibran ngomong apa sih. Kak Naina kan suda...”


“Jangan bohon Nda, aku tahu kamu sudah tahu kalau Naina masih hidup dan sekarang dia memakai nama Michel kan?”


Mata Nanda melebar, dia cukup terkejut mendengar hal itu. bagaimana bisa Gibran tahu kalau kakaknya Naina masih hidup dan memakai nama Michel, batin Nanda. Mulut pria itu masih terkatup, ia bingung untuk berbicara apa.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2