Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep. 103


__ADS_3

Gibran melepas sendiri infus yang berada di tangannya, dia tak perduli ada darah yang keluar dari pinggung tangannya tersebut. tujuannya saat ini hanya mamanya, dia ingin memastikan sendiri apa mamanya benar-benar sudah tiada. Karena orang-orang bilang mamanya sudah pergi untuk selamanya.


Dia memakai jaket miliknya yang ada di sofa,


“Mana mungkin mamaku sudah tiada, papa pasti berbohong padaku. Ada apa dengan diriku, kenapa semua orang bilang kalau mama sudah tiada dan aku punya istri..” batin Gibran bertanya-tanya. Gibran yang sudah selesai memakai jaket miliknya langsung berjalan pergi tapi baru beberapa langkah ada seorang yang membuka pintu ruangannya saat ini.


Gibran tadi sempat mengamuk dan melempar barang-barang karena dia menyuruh papanya dan juga orang-orang yang tidak ingin dia temui untuk pergi tapi mereka tak kunjung pergi. Baru setelah Gibran mengamuk mereka baru pergi dari ruangannya.


“Siapa lagi itu” gumamnya kesal, dan dia langsung terdiam saat melihat Khalif sepupu yang paling dia percaya.


“Khalif..” lirih Gibran saat melihat Khalif yang tampak terkejut melihat kondisi ruangan Gibran yang berantakan.


“Gibran, kau mau kemana?” tanya Khalif pada Gibran yang berdiri didepannya dengan pakaian yang sudah rapi.


“Aku mau menemui mamaku, mamaku ada dirumah kan? kau yang menjaganya selama ini kan”


“Aku dengar dari Om Alfred kau amnesia..?”


“Siapa yang amnesia, aku baik-baik saja. lebih baik kau pergi daripada kau berbicara tidak jelas” ucap Gibran dan akan melewati Khalif yang berdiri didepannya.


“Tunggu Gibran,..” Khalif menahan lengan Gibran agar tidak berjalan keluar.


“Ada apa? aku ingin pulang sekarang mamaku tidak ada yang merawat dirumah”


“Sebentar, aku ingin tanya sesuatu padamu?”


“Apa?” Gibran menatap penasaran kearah Khalif.


“Dimana Alisha?”


“Alisha? Untuk apa kau menanyakan perempuan itu. aku sudah putus dengannya” jawab Gibran menatap aneh pada Khalif.


“Dugaanku benar, kau melupakan kejadian delapan tahun ke belakang” tebakan Khalif benar, dia sudah menduga hal itu.


“apa yang kau maksud, ngaco bisa-bisanya kau bilang aku melupakan kejadian delapan tahun kebelakang”


“Aku tidak ngaco Gibran, memang itulah kenyataannya. Dengarkan aku, ini sudah delapan tahun berlalu dan mama mu sudah meninggal enam tahun lalu.”

__ADS_1


“Kau gila bagaima..”


“Jangan potong ucapanku, aku mengatakan yang sebenarnya. Ini sudah delapan tahun berlalu semenjak kau putus untuk yang pertama kali dengan Alisha..dan dengarkan baik-baik ucapanku Gibran. Kau sudah menikah dan istrimu sedang hamil besar saat ini. anak-anakmu juga merindukan dirimu. Jadi sadarlah coba kau ingat-inga kem..” lagi-lagi Gibran emotong ucapan Khalif.


“Kahlif kau jangan gila, mana ada aku sudah menikah apalagi sudah punya anak. Sadar woi kapan aku menikah. Sudahlah aku tidak percaya dengan ucapanmu, aku ingin me..”


“kau ingin menemui mamamu kan, kau ingin lihat kondisi mamamu yang terakhir kalinya kan” Khalif langsung membuka ponsel miliknya dan dia membuka Galeri di ponselnya tersebut.


“Lihat baik-baik, itu enam tahun lalu. Dan ini juga moment dimana kamu menikah dengan Naina, kau menikahi Naina didepan mamamu bau seteah itu mamamu tiada. Lihat baik-baik dan jangan mengelak kenyataan ini Gibran” Khalif memegang kepala Gibran mendekatkan wajah pria itu ke ponselnya agar Gibran melihatnya dengan seksama.


“Nggak, nggak ini bohong kan mana mungkin..kau bercanda soal mama ku kan”


“Aku tidak bercanda Gibran, selama ini apa pernah aku membohongimu. Kalau kau tidak percaya juga soal pernikahanmu dan soal anak-anakmu aku bisa mengantarkan dirimu menemui mereka. Kau lihat sendiri seberapa miripnya dirimu dengan anakmu..kau tidak percaya dengan ucapanku kan maka ayo lihat langsung..” Khalif lagsung menarik Gibran keluar. Gibran sendiri antara tak percaya dan tidak, wajah pria tersebut terlihat terpukul dengan kenyataan yang di ungkap oleh Khalif soal mamanya.


.......................................


“Sayang lebih baik kita ke Luar negeri saja, kita kembali ke Jerman. Untuk apa kau disini Gibran tidak mengingatmu sama sekali, itu malah menyakitimu Michel. Kita kembali ke Jerman saja ya” Vita berusaha merayu Michel untuk kembali ke Jerman. Dia tidak bisa melihat anaknya terlarut dalam kesedihan apalagi saat ini tengah hamil.


“Nggak ma, aku ingin tetap disini. aku ingin melihat Gibran ma,” ucap Michel sambil meneteskan air matanya. Dia kembali sedih saat mengingat dirinya yang diusir Gibran yang untuk yang kedua kalinya kemarin. Gibran sama sekali tidak mengingat dirinya.


“Untuk apa kau melihat pria yang tidak tahu diuntung itu, untuk apa kau memikirkannya Michel. Ayo sayang kita ke Jerman saja,” lagi Vita terus membujuk Naina untuk pergi ke Jerman.


“Ma, jangan terlalu memaksa Michel, dia ingin tetap disini ya sudah kau jangan memaksanya. Lagi pula Gibran hanya lupa ingatan sesaat pasti ingatannya juga akan kembali” ucap Mahendra yang dia tujukan pada sang istri.


“benar kata papa ma, lagi pula kalau kita pindah ke Jerman lagi anak-anak bagaimana sekarang Shelina juga sedang hamil muda tidak mungkin bisa perjalanan jauh”


“ya kamu sama Shelina kalau mau disini silahkan disini, mama ngajak Michel sama anak-anak. Si kembar kan suka di Jerman, mereka pasti mau kita kembali kesana” Vita masih saja keras kepala ingin mengajak Naina untuk kembali ke Jerman.


“Ma cukup, lihat Michel. Kenapa kau keras kepala sekali..kau mengajak Michel ke Jerman sama saja kau memisahkan Michel dengan suaminya” Mahendra hampir hilang kesabaran karena kekeras kepalaan istrinya.


“Tapi aku nggak suka pa putriku dibeginikan oleh Gibran, papa lihat Michel sekarang..mama nggak tega lihat Michel sedih begini” ucap Vita dan langsung memeluk Naina. Naina sendiri yang menangis membalas pelukan mamanya itu.


“Ya tapi nggak ke Luar negeri juga ma..kita tetap disini saja” ucap Mark.


“Mark bukannya kau kemarin mengancam Gibran, kenapa sekarang kau malah seakan-akan membelanya” pungkas Vita bingung dengan sikap anaknya.


“Aku kemarin hanya menggertanya saja ma, siapa tahu dia langsung ingat dengan Michel. Aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya...aku tidak bisa memisahkan adikku dengan suaminya”

__ADS_1


“Sudah lebih baik kalian semua diam, kepalaku pusing sekarang” ucap naina yangs udah mulai jengah dengan pembicaraan kelaurganya.


“Ya sudah kau ke kamarmu sana istrirahat, anak-anak sebentar lagi pulang sekolah. Kalau mereka sampai melihatmu menangis begini malah tambah panjang nantinya” perintah Mark pada Naina.


“Ayo Michel mama antar kamu ke kamar” ucap Vita membantu Michel berdiri.


..................................


“Kenapa kau mengajak ku ke sini? Ini dimana?” tanya Gibran saat mobil yang dikemudikan oleh Khalif berhenti di depan gedung besar dengan halaman yang luas.


“Kau tidak baca tulisan besar itu?” tukas Khalif sambil menunjuk kearah tulisan HOLD Internasional School yang terpampang di arah gerbang masuk halaman sekolah tersebut.


Gibran baru sadar ada tulisan itu saat dia sedikit mendongak keatas,.


“Kenapa kau mengajakku kesini?”


“Menemui anak-anakmu, kau lihat sendiri seberapa miripnya wajah mereka denganmu nanti. Dan aku harap kau percaya kalau kau sudah menikah..cobalah ingat-ingat hal itu Gibran. Kasihan istrimu yang sedang hamil besar” tutur Khalif sambil melihat Gibran yang duduk disebelahnya.


“Kenapa kau selalu rumit jadi orang, katanya kau ingin aku melihat anak-anak yang kau bilang sebagai anakku. Tinggal masuk saja apa susahnya daripada harus menunggu disini” Khalif bicara apa Gibran menjawab apa. pria itu benar-benar tidak sabaran sama sekali.


“Sekolahan ini sekolah internasional dan sangat ketat hanya orang-orang yang memiliki kartu akses yang bisa masuk kedalam.” Jelas Khalif.


“Kau lihat mobil yang ada di pintu masuk itu?” ucap Khalif sambil menujuk salah satu mobil berwarna putih.


“Hmmm”


“Itu mobil mertuamu,” ucap Khalif.


“Ayo keluar..” ajak Khalif kemudian.


“Kau bagaimana, bilangnya tunggu disini kenapa sekarang kau mengajakku keluar”


“Tinggal ikuti saja perkataan ku” Khalif kelaur lebih dulu meninggalkan Gibran yang menatap kesal sepupunya tersebut. Khalif bersikap seperti ini karena dia paham sifat Gibran. Gibran yang sedang lupa ingatan sekarang memiliki sifat seperti Gibran yang dulu yang selalu berbicara seenak sendiri dan melakukan apa yang dia mau sesuakanya.


Gibran langsung berjalan turun menyusul Khalif yang sudah berjalan terlebih dahulu mendekat kearah pintu masuk sekolah elit tersebut.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2