
Di atas motor yang berjalan membelah jalanan kota Michel tak berbicara sama sekali dia terus-terusan menggerutu memaki Gibran yang seakan terus sengaja mengerem motor agar dia terus memeluk pria tersebut.
Ckittt,.
Tiba-tiba saja Gibran mengerem mendadak membuat Michel terdorong ke depan, sudah cukup kesabarannya sedari tadi sudah habis karena ulah Gibran.
“kamu sengaja ya ngerem tiba-tiba biar aku terus dempet sama kamu” tukasnya meluapkan kekesalan yang sudah ia pendam sedari tadi.
“Siapa yang sengaja sayang, tuh lihat lampu merah di depan kamu. memangnya kamu mau kita melanggar lalu lintas” jawab Gibran melihat santai kearah Michel yang menatap kesal padanya. Michel langsung melihat ke depan dan benar lampu lalu linta tengah berwarna merah.
“Pegangan lagi, aku ngebut” perintah Gibran pada Michel.
“Buruan,..bentar lagi sampai kok. Gengsi bener sih..” ucap Gibran lagi sambil menarik tangan Michel agar memeluknya kembali.
Lagi-lagi dengan berat hati Michel memeluk Gibran yang sudah mulai menjalankan motor disaat lampu sudah berubah hijau.
Angin berhembus cukup kencang menerpa rambut Michel, sesekali Michel memejamkan matanya merasakan deruan angin. Dia merasa nyaman dengan situasi saat ini, pelukannya pada Gibran semakin mengerat dan tentu saja Gibran merasakan hal itu.
“Gengsi, gengsi tapi mau” ucap Gibran lirih sabil tersenyum simpul.
“Aku tuh tahu sayang, kamu masih mencintaiku” batin Gibran dan satu tangannya memegang tangan Michel yang melingkar diperutnya.
Michel sangking menikmati pelukannya pada Gibran yang terasa nyaman di tambah deruan angin tak sadar kalau tangannya di pegang oleh Gibran saat ini.
Tak butuh waktu lama keduanya saat ini sudah sampai di GINAI untuk melihat laporan para pekerja mereka sekaligus untuk absen dan melihat jadwal kunjungan mereka akan ke mana.
Michel yang sadar kalau mereka sudah sampai segera turun dari motor Gibran, begitu juga Gibran yang buru-buru turun saat Michel sudah turun. Dia langsung melepaskan helmnya dengan cepat setalah itu dia beralih menatap Michel membantu perempuan itu melepaskan helmnya.
Tangan keduanya saling bersentuhan, dan wajah mereka juga begitu dekat karena Gibran mendekatkan wajahnya agar udah untuk melepaskan helm Michel.
Michel terdiam saat mendapati wajah Gibran yang cukup dekat pada wajahnya saat ini, dan bayangan kejadian waktu diaman mereka berciuman kemarin muncul seketika di kepalanya.
Michel langsung cegukan berkali-kali karena mengingat itu, Gibran melepaskannya perlahan sambil menatap intens mata Michel yang juga melihat padanya dia juga melihat kearah tangan perempuan itu yang sudah tak gemetaran seperti dulu saat beradu pandang dengannya.
__ADS_1
“a..aku bisa sendiri” gugup Michel dan akan melepaskan sendiri helmnya.
“Sudah kok” ucap Gibran menarik pelan Helm yang di kenakan Michel dia melepaskan helm tersebut dan menaruhnya di atas motor.
“Ayo masuk” ajaknya kemudian.
“Ya..” dengan langkah cepat Michel langsung berjalan duluan, dia begitu gugup saat ini. bahkan dia berjalan sambil memegangi dadanya yang berdebar
Gibran terlihat senang dengan hal itu, dia berjalan mengikuti Michel yang ada di depannya saat ini.
............................................
Mark saat ini sedang berada di rumah sakit, dia baru saja kembali ke ruangannya setelah memeriksa pasien baru saja duduk seorang masuk kedalam ruangannya saat ini. hal itu membuat Mark langsung menatap kearah pintu tersebut.
“dr.Reyhan ada apa?” ucap Mark pada pria yang ternyata Reyhan.
“Aku ingin curhat padamu” jawab Reyhan menutup pintu ruangan Mark dan menarik kursi didepan meja kerja sang rekan.
“Tumben amat seorang dr.Reyhan butuh teman curhat” pungkas Mark karena Reyhan tak biasanya mencari teman untuk bercerita pria itu sangat tak ingin dicampuri orang.
Mark langsung diam, dia menatap Reyhan penuh tanya kenapa dia akan bercerita soal Michel.
“Adikku? Memang kenapa?”
“Kamu tanya memang kenapa..kamu yang mendekatkan ku dengannya tapi kenapa dia tak memberi respon padaku sama sekali. Aku ajak dia keluar dia tidak mau tapi aku lihat tadi dia dibonceng di atas motor oleh seorang pria, kamu bilang dia tidak ada pasangan” Reyhan mengutarakan hal tersebut pada Mark, dia tak mengerti kenapa Mark mendekatkan adiknya padahal Michel sudah ada pasangan.
“Oh soal itu,.” jawab Mark bingung, harus bicara apa dia sekarang. Salahnya juga sih dulu ingin mendekatkan Reyhan dengan Michel. Itu karena agar dia bisa menghilangkan rasa pada Michel eh malah jadinya begini dia tidak tahu kalau rekan bisnisnya Gibran adalah suami Michel.
“Kenapa diam dr.Mark?” tukas Reyhan tampak kecewa.
“dr.Reyhan, aku minta maaf soal hal ini. aku tahu kau kecewa padaku ataupun adikku. Aku kira dulu adikku bisa melupakan anta suaminya ternyata dia tidak bisa melupakannya. Dan aku kira manta suaminya sudah tak perduli pada adikku dan keponakan-keponakanku ternyata dia asih perduli pada mereka. Aku sungguh menyesal pada mu dr.Reyhan” Mark benar-benar merasa bersalah apalagi wajah kecewa Reyhan begitu terlihat jelas. Mark bisa menebak ekspresi wajah itu, Reyhan pasti sudah jatuh hati pada Michel makanya dia terlihat kecewa.
“Jadi yang aku lihat tadi mantan suaminya,?”
__ADS_1
“Bukan mantan sih mereka belum resmi bercerai.” Ralat Mark.
“kenapa Michel tidak menceraikannya, bukannya kau bilang suaminya begitu kejam dulu kenapa Michel masih ingin kembali pada pria seperti itu” Reyhan tak habis pikir dengan hal itu.
“Emm, aku juga tidak tahu kenapa perasaan adikku masih sama. Mungkin dia memikirkan anak-anaknya” Mark tak menjawabnya begitu jujur karena dia tak ingin melukai rekannya tersebut.
Reyhan menyandarkan tubuhnya di kursi itu sambil menghela nafas panjang menengadah keatas.
“Nasib, sekalinya jatuh cinta masih jadi istri orang” lirihnya memasukkan kedua tangannya ke jas dokternya.
“Aku benar-benar minta maaf padamu dr.Reyhan”
“Iya tidak apa-apa, perasaan tidak ada yang tahu” jawab Reyhan berusaha legowo.
“Kapan pernikahanmu? Kenapa undangan belum sampai padaku?” lanjut Reyhan mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa kecewa serta luka di hatinya.
“Oh undangan, aku lupa dokter” Mark buru-buru mengambil beberapa undangan dari dalam laci mejanya.
“Ini undangannya, seminggu lagi acara pernikahanku. Tolong berikan ke dokter Nando dan yang lainnya ya” Mark menyerahkan undangan tersebut pada Reyhan.
Reyhan mengambil salah satu dari beberapa undangan itu dan sisanya dia taruh dimeja. Pria itu membaca undangan pernikahan yang diberikan oleh Mark padanya. Dia membacanya dengan seksama sambil berusaha melupakan rasa kecewa dan patah hatinya saat ini.
“jangan lupa datang loh,” ucap Mark mencoba mencairkan suasana yang hening karena Reyhan diam saja membuat suasana awkward.
“Iya pasti” lirih Reyhan.
“Kau tidak parah padaku kan? soal masalah Michel” tanya Mark hat-hati.
“Nggak, mau bagaimana lagi. Perasaan seseorang tidak bisa di paksakan” Reyhan menggeleng sambil tersenyum kecut, dia berusaha untuk menerima kenyataan kalau dia tak bisa bersama dengan Michel.
Melihat itu Mark sedikit merasa lega tapi rasa tak enak masih berasa dalam hatinya, karena dia yang mengenalkan Reyhan dengan Michel.
°°°
__ADS_1
T.B.C