
Naina keluar dari mobil lebih dulu tanpa menunggu Gibran yang akan keluar, Gibran sedikit terkejut saat melihat Naina yang malah sudah turun padahal dia menyuruh perempuan itu untuk menunggu dirinya membukakan pintu. Erlan yang masih berada di dalam mobil melihat muak drama lebay yang dilakukan kakaknya.
“Oh iya, aku harus masuk kedalam duluan. Kalau nggak bisa-bisa aku jadi babunya kak Gibran” Erlan buru-buru turun dari mobil sebelum dia di perintah dan di jadikan babu oleh kakaknya. dia keluar mobil begitu saja melihat sekilas sepasang suami istri yang tengah berbicara itu.
“Aku kabur duluan ah,” gumamnya dan mengendap pergi, dia berlari kecil menuju pintu rumahnya meninggalkan Gibran dan juga Naina.
“Woy Erlan, kakak minta tolong dulu bawa kopernya masuk” seru Gibran saat melihat Erlan yang sudah berlari kearah pintu.
“bawa sendiri, aku kebelet” ucap Erlan berbohong dan dia buru-buru membuka pintu dan masuk kedalam.
Kembali ke Naina juga Gibran, Naina melihat sekilas Erlan yang berjalan masuk setelah itu dia berlalu berjalan kearah bagasi mobil untuk mengambil kopernya yang ada disitu.
“Sayang mau kemana?” tanya Gibran saat Naina melewatinya.
“Mau ngambil koper lah memang kemana lagi” jawab Naina diselingi rasa kesal. Dia memang tengah kesal pada Gibran yang memaksa dirinya ke rumah ini dan juga pria itu begitu lebay menurutnya masa dia akan turun dari mobil tadi tidak boleh sebelum dia membukakan pintu terlebih dahulu.
Gibran langsung mengikuti Naina mengambil koper di belakang mobilnya, dia membantu sang istri menurunkan kedua koper tersebut.
“nanti kamu suruh Erlan buat jemput anak-anak kan?” tanya Naina sambil melihat sekilas kearah Gibran.
“Aku lupa mau bilang sama kamu soal anak-anak, mereka di rumah ibu kamu sekarang mau nginep di sana katanya” pungkas Gibran memberitahu Naina soal anak-anak mereka.
“APA? kenapa nggak bilang dari tadi” Naina tentu saja terkejut mendengarnya.
“Ya aku lupa” jawab Gibran.
“Kamu siapa yang bilang mereka di rumah ibu? Kamu bohong ya?” tuduh Naina, dia tak percaya dengan ucapan Gibran.
“Astaga, kenapa aku harus bohong sih. Mereka memang di sana, mama kamu yang bilang” balas Gibran berkata jujur.
“Padahal aku kangen sama mereka, mereka malah di tempat ibu” lirih Naina terlihat sedih karena hampir tiga hari dia tidak bertemu anak-anaknya rasanya dia begitu merindukan mereka.
“ya mau bagaimana lagi, ibu kamu juga rindu sama mereka. Lagi pula itu kesempatan buat kita bikin adik buat mereka biar nggak ada yang ganggu” lirih Gibran dan dia berbisik manja di telinga Naina.
Plototan tajam langsung tertuju pada Gibran, Naina menatap sang suami dan dia mencubit pinggang Gibran.
“Augh, augh, sakit sayang” Gibran langsung memberi jarak pada sang istri sambil memegangi pinggangnya yang sakit karena cubitan istrinya tersebut.
“Salah sendiri, sudah ah aku mau masuk” ketus Naina sambil menarik kopernya masuk kedalam meninggalkan Gibran yang buru-buru menarik kopernya juga menyusul sang istri yang berjalan lebih dulu.
......................................
“bagaimana kamar kita kamu suka?” ucap Gibran saat dia membuka pintu kamar yang akan ditempati dirinya dan Naina nanti.
Kamar itu cukup megah dan elegan serta head board di belakang tempat tidur yang cukup bagus dan sesuai dengan kondisi kamar. lampu tidur dan lampu gantung mewah juga menambah kemegahan kamar tersebut, kamar yang dulunya tidak seperti ini telah direnovasi oleh Gibran demi menyambut istri tercintanya.
__ADS_1
Tak lupa sofa panjang agak jauh dari samping tempat tidur, lebih tepatnya berada di depan jendela besar serta di depan ranjang itu ada ruang kerja yang dibatasi oleh sekat.
“Ayo masuk, kenapa malah diam di pintu begini” Gibran langsung menuntun Naina untuk masuk kedalam kamar.
Jujur Naina sedikit speechless akan penampakan kamar yang megah tersebut, dulu kamar ini tidak seperti ini dulu tampak biasa saja tapi sekarang jauh berbeda.
“Kamarnya kamu rubah?” tanya Naina sambil melihat kearah Gibran sekilas dan dia mengamati setiap sudut ruangan tersebut.
“Iya aku sengaja merubahnya, ini semua aku lakukan demi kamu sayang. Aku takut nanti kalau kamarnya tidak aku rubah kamu bakal trauma dan ingin terus perbuatan ku yang dulu” jelas Gibran mengungkapkan alasannya merubah kamar miliknya yang dulu yang didominasi warna hitam putih.
“bagaimana kamu suka?” tanyanya kembali sambil memeluk Naina dari belakang, menaruh wajahnya di ceruk leher sang istri mengendus aroma istrinya itu.
“Arghh, kamu jangan mulai ya” Naina langsung melepaskan tangan Gibran yang ada di perutnya, dia langsung menjauh dari sang suami yang kemungkinan akan melakukan hal yang lebih dari itu. tadi saja Gibran menggigit lehernya.
“hehehe, maaf kelabasan” Gibran malah nyengir merasa tak bersalah atas perbuatanya.
“Ayo mau lihat tempat lain nggak” ucap Gibran sambil mengulurkan tangannya pada Naina. Ia ingin menggandeng sang istri.
“Mau kemana? Koper saja belum dimasukin” tukas Naina sambil menunjuk kearah ambang pintu dimana kedua koper mereka masih berada di tempatnya.
“Oh iya aku lupa” ucap Gibran sambil berlari kecil mengambil kedua koper tersebut dan menariknya masuk.
“Sudah ini taruh sini dulu, kita lihat kamar mandinya dulu” Gibran langsung menaruh kedua koper itu di pinggir tempat tidur dan dia menarik tangan Naina agar mengikutinya.
“Kenapa harus kamar mandi, kamar anak-anak saja”
“Lagi apa?” potong Naina seakan bisa membaca pikiran ngeres sang suami.
“Nggak,... ya udah yok ke kamar anak-anak dulu” Gibran langsung berganti omongan dan dia mengajak sang istri untuk ke kamar anak-anaknya.
“Kamar mereka dimana?”
“Kamar mereka ada di bawah sayang”
“Dibawah? Kenapa kamu taruh bawah?”
“Ya karena di atas nanti buat adik mereka, biar dekat sama kamar kita si kecil. Aira sama Aiden kan sudah besar jadi mereka ada di bawah saja”
“Kalau mereka di bawah aku juga ikut dibawah, aku nggak mau anak-anakku jauh dari pantauan ku” pungkas Naina tak setuju kalau kamar kedua anaknya ada di bawah.
“Udah nggak pa-pa mereka di bawah,” ucap Gibran santai.
“Aku tetap nggak setuju, anak-anak harus di atas kamarnya.”
“ya sudah kita tuker kalau begitu, kamar anak-anak ada di atas kamar kita dibawah gimana, buat jaga-jaga juga kalau misalkan kamu hamil kan nggak bahaya nggak harus naik turun tangga” ucap Gibran sambil menyeringai senang memikirkan apabila Michel hamil nantinya.
__ADS_1
“Mulai lagi,”kesal Gibran karena pikiran pria itu sedari di bali dia hamil -dia hamil terus. Dia saja belum ingin menambah anak lagi baginya cukup si kembar saja. dua saja diumur segini sudah pusing apalagi kalau ada bayi lagi.
Gibran hanya bisa diam, karena dia melihat wajah Naina yang tampak muak dengan ucapannya yang sedari tadi hanya membahas hal itu.
“Aku minta maaf,” lirih Gibran pada akhirnya.
“Ya sudah yok, karena berhubung kamar kita mau dipindah sini istirahat dulu di kamar ini sebelum di pindah kebawah” ucap Gibran sambil berjalan kearah kasur.
“Sini sayang, kamu apa nggak capek” ucap Gibran yang sudah duduk di kasur sambil melambaikan tangan pada naina agar mendekat padanya.
Naina menuruti ucapan Gibran, dia tanpa rasa curiga langsung berjalan mendekat, karena dia juga sudah lelah saat ini. baru saja dia mendekat kearah suaminya itu pria itu sudah menarik dirinya dan membuta mereka berdua terjatuh ke kasur dengan Naina berada di atas Gibran saat ini.
“Lepasin, aku capek” ucap Naina meminta Gibran untuk melepaskannya.
“Ya dah tidur aja di atas ku, aku pengen pelukan aja begini” ucap Gibran dan dia malah semakin memeluk Naina erat. Naina yang tenaganya sudah habis menurutinya saja terserah Gibran mau melakukan hal apa. karena pria itu keras kepala, dan tenaganya tak kuat untuk meladeni Gibran saat ini.
.......................................
Hari sudah cukup malam, Nurma tampak gelisah sambil melihat kearah keluar rumah memperhatikan suasana di luar.
“Ibu kenapa kok disini, ini sudah malam bu” ucap Nanda yang menghampiri sang ibu yang gelisah mondar-mandir sambil sekilas melihat kaca jendela.
“Ibu nih nunggu kakak-kakak kamu, mereka kok belum sampai sini ya bukannya mereka bilang hari ini sampai Jakarta dan kamu tadi bilang mereka mau kesini jemput si kembar” ujar Nurma pada anaknya tersebut.
“Aku minta maaf ya bu, kak Gibran sama kak Naina nggak jadi kesini katanya kak Gibran dia capek jadi biarin aja anak-anak tidur disini” jawab Nanda. Gibran tadi memang sempat mengirimkan pesan pada Nanda kalau dia tidak bisa menjemput kedua anaknya. Dan apa yang dikatakan Gibran pada Naina tadi dia sedikit berbohong.
“Oalah, Nda kamu kok nggak bilang dari tadi ibu sampai gelisah sendiri nggak bisa tidur karena nunggu mereka. Ibu takut kalau nanti ibu tidur mereka dateng nggak ada yang bukain pintu” pungkas Nurma.
“Hehehe, maaf bu. Habisnya aku lupa karena tadi aku nidurin si kembar dulu jadinya lupa bilang sama ibu”
“Iya nggak pa-pa,”
“Ya sudah bu, ibu tidur sana ayah nanti nyariin iu kok nggak ada di sampingnya”
“Iya ibu, balik ke kamar dulu kala begitu. Eh kamu mau apa Nda kok nggak tidur?”
“Aku mau masak mie bu, pengen makan mie” jawab Nanda.
“Mau masak mie, biar ibu buatin aja” ucap Nurma yang tadinya kan menuju ke kamar langsung menghentikan langkahnya.
“Nggak usah bu, aku bisa masak sendiri. ibu tidur aja” tolak Nanda sambil memegang bahu ibunya.
“Ya sudah kalau kamu nggak mau dimasakin ibu” Nurma langsung berjalan meninggalkan putra bungsunya tersebut.
Nanda sendiri langsung berjalan ke dapur tapi sebelum itu dia berjalan mengambil buku pelajarannya yang ada di meja ruang tengah dia akan membaca sekilas buku itu karena besok dia ada ujian di kampusnya. Nanda memang pemuda yang pintar dia yang semester awal ini begitu bersemangat dan ingin mendapatkan nilai yang baik. Tujuannya arena tak ingin membuat orang-orang yang baik padanya kecewa, dia juga ingin menjadi orang sukses seperti kakak iparnya yang dia idolakan.
__ADS_1
°°°
T.B.C