Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 78


__ADS_3

Pagi-pagi Gibran sudah berada di rumah orang tua kandung Naina, dia datang sendiri tanpa sang istri entah kemana Naina sehingga tak ikut bersama dengan Gibran saat ini.


Langit masih tampak gelap, pria itu tapi sudah berada di rumah mertuanya. Dia duduk sambil menikmati teh hangat dan juga cemilan yang disediakan oleh Nurma.


“Kok kamu datang sendiri, Naina kemana?” tanya Agus saat dia duduk kursi single sebelah Gibran.


“Naina kecapean yah, aku kasihan mau bangunin dia. jadi aku kesini sendiri buat jemput anak-anak. Mereka belum bangun ya?”


“Anak-anak kamu memang belum bangun tapi masih dibangunin sama ibu, tunggu aja”


“iya,”


“dimakan Gibran cemilannya,” ucap Agus menawari Gibran cemilan berupa mantang goreng dan juga pisang goreng.


“Iya yah, Nanda belum bangun ya yah” Gibran melihat sekitar yang masih sepi dia bahkan tak mendengar suara adik iparnya.


“Nanda sudah bangun dari tadi, paling dia sekarang masih mandi soalnya ada jadwal kuliah pagi dia”


“oh,”


“Papa,.” Seru kedua bocah yang tengah menuruni anak tangga dengan hati-hati.


Gibran langsung menoleh melihat kedua anaknya yang masih mengenakan baju tidur mereka.


“Eh anak-anak papa, sini papa kangen sama kalian” ucapnya dan meminta sang anak untuk segera menghampiri dirinya.


Kedua bocah tersebut langsung berjalan menghampiri papanya, Gibran langsung memeluk kedua anaknya yang sudah ada di depannya saat ini.


“mama mana?” tanya Aiden sambil melepaskan pelukannya pada sang papa dia tak melihat mamanya.


“mama kamu masih tidur, makanya papa jemput kalian sekarang biar saat mama bangun mama baka terkejut lihat kalian sudah ada di rumah” jelas Gibran sambil memegang bahu kedua anaknya.


“Nenek kemana sayang?” tanya pada kedua anaknya.


“Nenek masih di atas” jawab Aira sambil mengucek matanya bocah itu masih sedikit mengantuk


“kenapa Gibran?” tanya Nurma yang baru saja turun.


“Itu nenek” seru kedua bocah tersebut sambil menunjuk nenek mereka yang turun dari lantai atas.


“Aku mau pamit pulang ya bu, nanti keburu Naina bangun” pamit Gibran pada ibu mertuanya.


“Kok buru-buru, anak-anak kamu belum mandi loh” pungkas Nurma.


“Nggak pa-pa, nanti aku yang mandiin mereka, yah aku pulang yah” ucap Gibran dan beralih menatap kearah ayah mertuanya.


Agus langsung berdiri dari duduknya,


“Ya sudah kalau kamu mau pulang. Hati-hati bawa mobilnya” ucap Agus berpesan.


“Iya, Aiden Aira salim dulu nak sama kakek sama nenek” perintah Gibran pada kedua anaknya. Kedua bocah tersebut langsung menuruti apa yang papanya bilang.

__ADS_1


“Ibu, Ayah aku pamit ya” tukas Gibran sambil menggandeng tangan kedua anaknya.


“Iya” jawab keduanya sambil mengantar Gibran dan cucu-cucunya ke depan.


“Berarti kalian sekarang tinggal di rumah kamu yang dulu ya?” tanya Agus yang berjalan di belakang Gibran.


“Iya yah, jawab Gibran sambil melihat kebelakang.


“Syukurlah, kalau rumah kamu tempati lagi sama Naina” Agus merasa lega kalau Gibran tak memutuskan pindah dari rumah itu. dulu Gibran ada niat untuk pindah dari rumah tersebut agar Naina tidak trauma atau mengingat masa lalu lagi. Tapi dia melarangnya, karena sayang kalau rumah tersebut harus dijual.


................................


“bagaimana anak saya dok?” tanya Alisha yang duduk di depan Meja Reyhan. Perempuan itu kembali memeriksakan kondisi anaknya setelah seminggu lalu habis dirawat.


“Anakmu baik-baik saja” jawab Reyhan sambil menuliskan resep obat yang harus di beli Alisha. Bukan obat sih melainkan vitamin untuk menguatkan kekebalan tubuh bocah tiga tahun tersebut.


“Ini resep vitamin dan beli di apotik depan” ucap Reyhan sambil menyerahkan secarik kertas kecil pada Alisha.


“sejak berapa lama anakmu menjadi pasien tetap dr.Mark?” tanya Reyhan melihat sekilas perempuan cantik didepannya.


“Sejak anak saya berumur satu tahun dok”


“Aku sarankan anakmu di tangani dokter anak”


“Dokter anak? Me..memang kenapa dengan anak saya dok?” Alisha langsung tampak panik.


“Tidak ada apa-apa sih, hanya saja anak umur segini lebih baik ada dokter pribadi anaknya” tukas Reyhan.


“OH” lirih Alisha sambil menunduk melihat anaknya yang tidur di pangkuannya saat ini dia mengusap lembut rambut anaknya tersebut.


“Itu manta suamimu?”


“Iya dok”


“Jadi benar yang pria itu bilang, lalu kenapa kau tidak mengijinkan anakmu dibawa olehnya”


“bagaimana saya bisa mengijinkannya dok, pria itu hanya memanfaatkan anak saya saja agar saya kembali padanya”


Reyhan yang mendengar hal tersebut hanya diam,


“ya sudah kalau kamu mau keluar, saya sudah selesai dan sebentar lagi pasien saya yang lain mau datang” ucap Reyhan.


Alisha terdiam mendengar usiran halus tersebut, pria didepannya mengusir dengan cara halus.


“I..iya dok” Alisha langsung berdiri dan perlahan menggendong anaknya yang tidur.


Reyhan hanya melihat saja meskipun perempuan di depannya tengah kerepotan. Reyhan mengamati Alisha dia melihat perempuan tersebut dengan tatapan Iba, karena perempuan itu terlihat menyedihkan meskipun berusaha wajahnya terlihat kuat.


“Permisi dok, saya pergi dulu” ucap Alisha pamit pergi, dia langsung berjalan kearah pintu keluar ruangan Reyhan.


Reyhan menanggapi dnegan mengangguk saja, setelah itu dia kembali sibuk dengan berkas pasiennya yang lain.

__ADS_1


.....................................


Naina saat ini tengah berada di kebun bunga yang berada di halaman belakang rumah Gibran tersebut. dia sedari dulu memang menyukai bunga, dan saat ini ada kebun bunga di belakang rumah.


“Kakak Nai..” panggil Erlan yang tiba-tiba saja berdiri di teras belakang rumah.


“Iya kenapa?” Naina langsung berbalik melihat kearah Erlan yang sudah berdiri dibelakangnya.


“Boleh minta tolong nggak kak?”


“Minta tolong apa ya Erlan” Naina berjalan mendekati Erlan yang berdiri di teras.


“Hehehe, tapi mau nggak di mintain tolong” pemuda itu malah nyengir.


“Ya apa dulu, baru aku mau bantu kamu”


“Tolong bilingin kak Gibran buat ngasih mobilnya yang lama ke aku sih, mobilku bermasalah kak” ucap Erlan


“Kamu bilang sendiri, dia kakak kamu kan”


“Mana boleh kalau aku langsung yang minta, dia bukan kakak kandung aku. tahu sendiri dia kalau sama aku bagaimana”


“Bukan kakak kandung?”


“Iya nggak tahu memang kalau aku adik tirinya”


Naina menggeleng,


“Tapi kok sekilas kalian mirip”


“Ya jelas mirip, aku sepupunya”


“Sepupu?” Naina semakin terkejut mendengarnya.


Erlan menatap aneh Naina,


“kak Naina benar-benar nggak tahu aku sepupunya atau pura-pura nggak tahu. kamu istrinya dari dulu kan?”


“Ngapain juga aku pura-pura tidak tahu, aku memang dulu istrinya tapi kau tahu sendiri kan dia tidak pernah mengenalkan aku dengan keluarganya”


“Oh iya ya benar juga, dulu mama ku juga kaget setelah kak Nai di nyatakan tiada dan Kak Gibran bilang sudah menikah” ucap Erlan yang mengingat momen saat itu dimana kalau tidak salah dia masih SMA.


“Kalau begitu ayo duduk dulu, kak Naina pasti bingung dengan semua ini” Erlan langsung berjalan duduk lebih dulu di kursi yang berada di teras tersebut.


Naina mengikutinya, dan perempuan itu langsung duduk di kursi yang berada di sebelah Erlan duduk.


“Mulai darimana ya, emm dari aku aja deh. Aku anak dari adik mamanya kak Gibran. Orang tuaku bercerai dan mamaku menikah dengan papa kak Gibran yang tak lain adalah kakak ipar dari mama ku. Kak Naina pusing tidak dengan penyesalanku karena kakak harus tahu sekarang kondisi keluarga kak Gibran yang rumit. Aku saja heran kenapa mamaku bisa menikah dengan kakak iparnya sendiri, gara-gara itu kak Gibran yang dulunya sayang padaku saat ini agak ketus dan sikapnya yang menjengkelkan. Tapi aku tahu sih dia masih sayang padaku cuman gengsi dan juga dia masih belum menerima sepenuhnya posisi mamanya tergantikan orang lain apalagi yang menggantikan mamanya adalah adik kandung mamanya sendiri” jelas Erlan cukup panjang.


“begitu, pantas” jawab Naina singkat karena dia tak bisa banyak berkomentar permasalahan keluarga Gibran. Mengingat dulu betapa sayangnya Gibran dengan sang mama wajar saja sih kalau sikap pria itu pada Erlan tapi seharusnya bukan pada Erlan tapi pada mama pemuda didepannya.


Erlan kembali melanjutkan ceritanya, dan Naina hanya diam mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2