Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 64


__ADS_3

“Ehemm,” dehem Mark sambil menyenggol tangan Michel yang tengah melamun di meja makan sendirian. Michel yang tak menyadari kedatangan kakaknya tentu saja terkejut bahkan dia hampir terjatuh karena tangannya yang pakai untuk berpangku dagu di senggol Mark.


“kenapa kak?” Michel langsung menatap kearah kakaknya penuh tanya.


“Kamu yang kenapa, melamun sampai orang datang nggak denger” pungkas Mark yang kemudian mengambil duduk disebelah Michel.


“Siapa yang melamun, aku ngelamun. Aku tadi lihat si mbok sudah selesai nyiapin makan apa belum” jawab Michel mengelak dikatakan melamun.


Tentu saja Mark tak sebodoh itu, ia tak percaya akan ucapan Michel toh asisten rumah tangganya tidak kelihatan di tempat Michel menatap tadi. Tapi Mark memilih untuk diam saja daripada berdebat nantinya.


“Nih..” ucap Mark saat memberikan selembar kertas pada Michel.


“Apa ini?” Michel melihat kertas yang diberikan kakaknya tersebut.


“Di baca itu apa” pungkas Mark dan dia langsung mengalihkan pandangannya ke piring didepannya. ia langsung membalik piring yang tengkurap didepannya.


“Jadwal di GINAI, kenapa kakak berikan padaku?”


“Kan sekarang kamu yang menggantikan ku di sana. Jadi bawa itu kapan saja jadwal mu. Jangan sampai kamu nggak hadir” ucap Mark.


Michel menghela nafas panjang saat dia melihat dengan siapa dia akan bertugas di GINAI nanti.


“Ini jadwal baru ya, bukannya waktu itu kak Mark sama kak Yash kok jadi sama Gibran?” cerocos Michel merasa enggan harus bersama dengan Gibran. Kemarin saja dia bertemu pria itu kejadian yang tak ia inginkan terjadi apa yang harus dia lakukan jika besok bertemu Gibran.


“Kayaknya iya dirubah, karena jadwalnya rosa bentrok. Seharusnya kan Rosa sama Gibran kalau tugas, karena Rosa bentrok makanya hari dan rekannya di ganti” jelas Mark tetapi dia juga kurang yakin sih soal pergantian itu.


“Bisa diganti lagi nggak sih, ini kenapa pak Khalif sama Erlan nggak pernah tukeran shift” Michel masih melayangkan protesnya.


“Kakak mana tahu, aku cuman anggotanya ketuanya si Gibran dan Khalif. Kamu kalau protes sama me..”


“Papa Mark..”seru kedua bocah yang baru saja turun ke meja makan. Kedua bocah itu berlari dengan semangatnya dengan pakaian sekolah mereka.


“Kalian..sini cium papa” Mark langsung berlutut dan merentangkan kedua tangannya agar si kembar memeluk dirinya.


Kedua bocah kembar itu langsung memeluk Mark dan memberikan kecupan di kedua pipi pria tersebut.

__ADS_1


“Wangi banget sih anak papa, mau berangkat sekolah ya” ucap Mark setelah membalas kecupan kedua bocah itu.


“Iya, papa Mark tante Selin kapan main kesini. Papa kan bilang tante mau tinggal disini sama kita” ucap Aira.


“Nanti ya sayang, nanti tante Selin tinggal disini kok. Sana kalian makan dulu minta mama kalian..hari ini berangkat sekolah sama Opa kan?”


“Oke deh” jawab Aira dan langsung berjalan ke kursi yang sudah di tarik kan oleh Michel.


“Papa Mark, katanya papa mau ajak Aiden main ke tempat yang ada puter-putarnya gitu” ucap Aiden yang masih berdiri didepan Mark dia menagih janji sang Om yang akan mengajak dirinya ke wahana permainan.


“Oh iya papa lupa sayang..kapan-kapan ya papa ajak kesitu. Atau nggak kamu pergi sama mama dan papa Gibran gimana?”


“kenapa jadi aku sama Gibran yang janji kan kakak” sahut Michel saat dia di minta pergi bersama Gibran.


“Kakak sibuk, masa anak kamu pengen ke wahana permainan nggak kamu aja sih.” Balas Mark. “Kamu pergi sama mama ya Aiden, papa Mark minta maaf banget..Aiden nggak marah kan sama papa” lanjut Mark memegang wajah Aiden.


“Nggak, Mama bakal ajak Aiden sama Aira ke situ kan. kita sama papa Gibran kan ma?” ucap Aiden dan beralih menatap pada mamanya.


Dengan berat hati Michel mengangguk, ia tak ingin membuat kedua anaknya kecewa.


“Iya Aiden, Aira suka” sahut Aira.


“Sudah sini, Aiden duduk makan terus berangkat sekolah sama Opa. Opa masih ganti baju kan?” ucap Mark dan dia mendudukkan bocah laki-laki itu di kursi sebelahnya.


..................................


Gibran saat ini sedang bersama dengan Khalif di rumah orang tuanya, dia terpaksa ikut sarapan pagi bersama dengan papa dan mama tirinya alis mamanya Erlan dimana juga bibinya sih. Pokoknya keluarganya begitu rumit..Erlan sendiri tak bisa ikut sarapan bersama karena pria itu buru-buru berangkat ke kampus karena dosennya ada jadwal pagi.


“Khalif bagaimana kamu sudah mengurus ijin pertambangan di daerah Kalimantan?” tanya Alfred sambil melihat keponakannya yang duduk didekatnya tersebut.


“Sudah Om, aku sudah mendapat ijin dari pemerintah dan juga dari warga setempat. Dan aku juga sudah menyerahkan laporan kompensasinya pada Gibran tinggal dia yang menyetujui kompensasi yang harus dibayarkan untuk warga” tutur Khalif.


“Bagus kalau begitu, Gibran sudah kamu lihat laporan yang di berikan oleh Khalif?” tanya Alfred yang beralih bertanya pada Gibran.


“Sudah, tapi belum aku tandatangani” jawab Gibran sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


“Cepat dilihat, warga setempat pasti menunggu uang yang menjadi hak mereka. Jangan kamu tunda-tunda” pinta Alfred pada putranya.


“Ya.” Jawab Gibran singkat, dan dia langsung mengambil tisu didepannya.


“Aku sudah selesai, aku pergi dulu. tante terimakasih sarapannya” ucap Gibran sembari mengusap bibirnya dengan tisu dan dia sesekali merapikan jas miliknya.


“Iya sama-sama, hati-hati kalau di jalan Gibran. Jangan ngebut-ngebut naik mobil.tante juga minta tolong sama kamu ya..sih Erlan tolong kasih tahu kalau naik mobil jangan suka ngebut” pungkas istri Alfred.


“hemm” Gibran hanya berdehem saja, dan dia langsung pergi dari situ meninggalkan ketiga orang tersebut yang hanya diam melihat kepergian Gibran begitu saja.


“Khalif kamu serius Gibran sudah bertemu dengan perempuan yang kamu bilang sebagai Naina itu?” tanya Alfred penasaran.


“Sudah Om, aku dengar juga Gibran malah sudah dekat dengan kedua anak-anaknya” jawab Khalif lirih,


“Apa iya? Kenapa dia nggak bilang padaku. Aku juga kan ingin bertemu dengan kedua cucuku”


“Sabar dulu pa, mungkin Gibran masih pendekatan dengan mereka. Mereka juga nanti kaget kalau ketemu sama kita..mereka malah bingung nanti” sahut istri Alfred.


“Kenapa harus bingung, tinggal bilang saja aku kakek mereka. Apa yang harus dibingungkan?”


“Maaf Om bukannya aku ikut campur, tapi benar sih apa yang dikatakan Tante Herna. Soalnya mereka sudah punya dua kakek dan dua nenek” jelas Khalif.


“Ini ulah Gibran dulu sih, coba dia kalau tidak bodoh dan egois situasi kita tidak akan serumit ini” Alfred kesal sendiri mengingat masa dulu dimana Gibran yang begitu egois dan semaunya sendiri. menikahi perempuan tapi hanya untuk kepentingan diri sendiri.


“Sabar pa itu masa lalu jangan diungkit lagi” Herna mencoba menenangkan sang suami.


“Iya”


“Khalif kapan kamu ajak istri dan anakmu kesini, sudah lama kamu nggak aja mereka kesini. Tante butuh hiburan dari anak kamu” ucap Herna pada Khalif.


“Besok ya tan, aku ajak mereka kesini” jawab Khalif.


“Ya sudah ayo selesaikan makan kita, ngobrolnya nanti lagi” potong Alfred, karena mereka bertiga memang belum selesai makan sedangkan Gibran makannya begitu terburu-buru jadi dia sudah selesai pertama sendiri.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2