Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 86


__ADS_3

Naina tengah menyiapkan perlengkapan sekolah kedua anaknya, dia memeriksa isi tas si kembar satu persatu memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal.


“Mama, dua hari lagi disekolah mau ada acara mama sama papa katanya disuruh dateng” Aiden berjalan mendekati mamanya sambil membawa buku gambar miliknya.


Naina langsung melihat kearah putranya yang baru saja masuk kedalam kamar,


“Acara apa sayang?” Naina duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kearah Aiden.


“Kata Miss Herna disekolah mau ngadain lomba khusus orang tua. Makanya mama sama papa disuruh dateng” jelas Aiden.


“Ya sudah besok kalau acaranya sudah di mulai mama sama papa dateng ke sekolah kalian”. “Oh iya, Aira mana?” ucap naina lagi saat tidak melihat anak perempuannya.


“Aira dibawah sama papa” jawab Aiden sambil memasukkan buku gambarnya kedalam tas.


“Loh kok buku gambarnya dibawa sayang?” tanya Naina saat melihatnya.


“Iya, sama Miss Fira bilang suruh bawa buku gambar”


“Oh ya sudah buruan dimasukkan kalau gitu. Punya Aira mana biar mama yang masukkan” Naina langsung berdiri dan mencari buku gambar Aira.


“Di bawa Aira ma,” jawab Aiden.


“Berarti sudah dibawah ya buku gambarnya, kalau begitu ayo sayang kita juga kebawah mama antaran kalian ke sekolah” ajak Naina sembari mengambil tas sekolah milik Aira dan dia langsung menggandeng tangan Aiden.


“Tapi Ma, kata papa..papa yang mau nganter ke sekolah” Aiden menatap mamanya yang akan mengajaknya berjalan.


“OH papa ya yang ma nganterin, ya sudah kalau begitu”


“Oh iya Aiden bentar dulu sayang” Naina menghentikan langkahnya dan kembali menatap sang anak. Dia tiba-tiba saja langsung menekuk lututnya dan memegang bahu Aiden.


“Mama dengar dari miss Fira kamu berantem ya sama teman kamu gara-gara belain Aira?” Naina berbicara lembut pada sang anak.


Aiden diam, ia ragu untuk menjawab ucapan mamanya tersebut.


“Nggak usah takut sayang, mama nggak marah kok. Kamu jawab aja kalau iya..” Naina seakan tahu anaknya takut kalau saat ini dirinya tengah marah.


“Mama nggak marah kan sama Aiden?” tanya Aiden takut-takut.


“Nggak, mama nggak marah sama kamu. mama justru bangga sama kamu sayang..” pungkas naina sambil mengusap lembut wajah anaknya.


“Kok bangga?”


“Iyalah mama bangga, kamu bisa lindungin Aira. Pokoknya mama bangga sama kamu sayang,..Muaachh” ucap Naina sambil mengecup pipi anaknya itu.


“Makasih mama nggak marah sama Aiden” pungkas Aiden dan langsung memeluk mamanya. Naina membalas pelukan hangat sang anak, dia mengusap lembut punggung anaknya


“Sudah yuk nanti papa sama Aira nunggu kita dibawa kelamaan, kan kasihan mereka” ucap Naina sembari melepaskan pelukannya pada Aiden. Kemudian dia mengajak bocah itu untuk turun kebawah.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di bawah dan Naina langsung menyerahkan tas sekolah milik putrinya.


“Aira ini tas kamu, kamu kok lama banget dibawa malah nggak ambil tasnya di atas” ucap Naina sembari menyerahkan tas tersebut.


“Papa tahu jahilin aku ma, masa aku di gelitikin terus” adu Aira pada mamanya.


“Kamu kenapa sih jahilin anaknya terus-terusan” tukas Naina pada sang suami.


“Habisnya aku gemes sama dia sayang” kekeh Gibran sambil berdiri berpindah tempat ke sebelah sang istri.


“Gemes sih gemes tapi ya jangan dijahili anaknya. Nanti marah sama kamu, baru tahu rasa” tukas Naina yang masih mengomeli Gibran.


“Memeng Aira marah sama papa?” tanya Gibran pada sang putri.


“Nggak..” jawab bocah itu nyengir.


“Tuh anaknya aja nggak marah sama aku,” pungkas Gibran sambil merengkuh tubuh Naina. Kini ke gemasannya berpindah ke sang istri, Gibran menciumi pipi Naina.

__ADS_1


“Sudah-sudah, masih pagi..” Naina berusaha melepaskan pelukan Gibran tapi pria itu malah semakin menjadi.


“Kamu nggak malu sama anak-anak” kesal Naina sambil melepaskan paksa Gibran darinya. Gibran langsung berhenti dan melihat kearah anaknya..Aira hanya tersenyum saja sedangkan Aiden tampak cuek.


“maaf ya anak-anak, habisnya papa juga gemes sih sama mama kalian” ucap Gibran pada kedua anaknya.


“Ayo hari ini papa yang akan nganterin kalian kes ekolah, mama kalian biar di rumah” seru Gibran pada si kembar. “Kamu di rumah aja ya sayang, jangan kemana-mana sampai aku pulang” ucap Gibran berpesan pada istrinya.


“Kamu berangkat kerja sekalian?” Naina bukannya menjawab dia malah balik bertanya.


“Iya, kenapa?”


“Aku berarti nggak boleh keluar sampai sore?”


“Iya, kamu di rumah aja jangan kemana-mana”


“Aku mau keluar sebentar nanti”


“Mau kemana?” Gibran langsung penasaran ingin kemanakah sang istri.


“Aku mau latihan tinju”


“Ngapain, nggak usah”


“Kok kamu ngelarang”


“Bukannya aku ngelarang kamu. aku hanya was-was aja”


“Was-was kenapa, aneh deh”


“Nanti kalau kamu lagi ngisi gimana? Kan nggak boleh capek-capek”


“aku lagi nggak hamil, jadi nggak pa-pa” tukas Naina bersikeras kalau dirinya tengah tidak hamil saat ini.


“Ya kan kita nggak tahu, kalau hamil gimana?”


“Ya udah boleh,, cium dulu dong” ucap Gibran sambil menatap sang istri.


“Augh, Augh sakit sayang” rintih Gibran saat Naina mencubit pinggangnya.


“Nggak malu sama anak-anak”


Gibran melihat kedua anaknya yang melihat kearah mereka,


“Sayang-sayang papa, kalian masuk dulu ya ke mobil” pinta Gibran dengan lembut.


“Oke papa,” keduanya langsung berlari keluar menuruti perintah papanya.


“Mereka sudah keluar, mana Morning kiss ku” Gibran langsung menagih ciuman dari Naina.


Naina tanpa ragu langsung mencium suaminya, dia tak gengsi-gengsi lagi untuk melakukannya.


Tadinya dia hanya mengecup singkat bibir Gibran, tapi Gibran langsung menarik pinggangnya dan pria itu memperdalam ciumannya.


“Sa..sayang sudah, nanti kamu kebablasan” Naina mendorong pelan dada Gibran agar ciuman mereka terlepas saat pria itu ******* bibirnya.


“Hehehe tahu a..eh tunggu tadi kamu panggil aku apa?”


“Panggil apa?” bingung Naina.


“Pura-pura lupa, tadi kamu panggi aku sayang...ciee yang sudah mau panggil aku sayang. Nggak gengsi lagi nih” goda Gibran pada sang istri.


Mendengar itu wajah Naina langsung memerah dan dia buru-buru, menyuruh Gibran untuk pergi.


“Sudah sana pergi, aku masih sibuk” Naina langsung mendorong pelan Gibran agar berjalan keluar menyusul anak-anak mereka.

__ADS_1


“Cie malu, nge blushing nih.” Gibran semakin puas menggoda sang istri.


“Sudah ah, itu anak-anak nunggu” Naina asih terus mendorong Gibran.


“Iya, iya. Kalau begitu aku berangkat dulu” Gibran langsung berjalan keluar sambil memberikan senyum manis pada naina.


Naina mengantarkan suaminya sampai ke depan, dan dia melihat kedua anaknya dengan patuh menunggu sang papa di dalam mobil.


“dadah sayang, jangan nakal disekolah ya belajar yang pinter” seru Naina sambil melambaikan tangan pada kedua anaknya yang sudah duduk manis didalam mobil Gibran.


“dadah mama..” ucap kedua bocah tersebut.


“aku berangkat ya” pamit Gibran dan langsung berlari kearah mobilnya.


“hati-hati, jangan ngebut-ngebut” pungkas Naina pada suaminya.


“Iya” jawab Gibran yang sudah masuk kedalam mobilnya.


Mobil yang dikendarai Gibran langsung berjalan pergi meninggalkan halaman rumah saat ini. Naina yang melihat mobil suaminya yang sudah pergi langsung masuk kedalam rumah, tapi dia langsung berhenti melangkah saat mengingat sesuatu.


“Astaga, aku lupa bangunin Erlan. Dia hari ini ada kuliah pagi..gara-gara gIbran aku sampai lupa. Kasihan Erlan kalau terlambat” Naina menepuk jidatnya sendiri, dia baru ingat semalam Erlan berpesan padanya untuk dibangunkan pagi hari tapi dia malah lupa gara-gara Gibran terus menggombal padanya.


Naina langsung buru-buru berlari untuk menaiki tangga tapi lagi-lagi langkahnya terhenti dia sudah melihat Erlan yang sudah rapi dan turun dari tangga dengan buru-buru saat ini.


“Kak Nai telat, aku sudah bangun” kesuh Erlan berjalan menuruni tangga sambil mengancingkan kemejanya.


“Maaf ya, kakak telat bangunin kamu. kamu mau berangkat kuliah ya? Itu sarapannya bibi tadi sudah nyiapin sarapan” ucap Naina pada adik iparnya tersebut.


“Kak Naina lagi ngebucin sama kakakku yang tidak jelas itu makanya telat bangunin aku.” sungut Erlan melihat sekilas kakak iparnya.


“Sok tahu”


“Aku nggak sarapan di rumah ah, kakak suruh aja Bi Lia untuk beresin makanannya. Aku sudah telat ini kak” ucap Erlan dan langsung berjalan pergi melewati Naina.


“ya sudah kalau begitu. Hati-hati nyetirnya”


“Iya, eh bentar kunci mobil ku dimana ya kak. Kak Nai tahu nggak?” ingat Erlan kalau dia lupa menaruh kunci mobilnya. Tadi dia sudah mencarinya di dalam kamar tapi tidak ketemu juga.


“Bukannya kamu taruh atas tv ya semalem, makanya semalem jangan asal ngambek. Kakak kamu itu sudah berusaha berubah demi kamu” tutur Naina ke Erlan.


“Dia berusaha mulai berubah buat aku serius? Perasaan masih sama aja sikapnya..semalem aja beliin makanan kayak nggak ikhlas terus mobilnya diminta lagi”


“Diminta lagi tapi nggak diambilkan, dia cuman gengsi aja. Sudah sana buruan berangkat,”


“Hemmm” Erlan langsung berjalan kearah televisi untuk mengambil kunci mobil yang semalam memang dia taruh situ. Semalam dia tengah berdebat dengan kakaknya dan marah meninggalkan kunci mobil di atas televisi. Gibran duluan yang memulai kalau kakaknya itu tidak memulai adu argumen dia tidak akan marah.


Naina masih berada di tempatnya, dia melihat Erlan sambil menggelengkan kepala meskipun begitu senyum manis terukir di wajah cantik Naina. Dia gemas saja dengan hubungan Erlan dan Gibran, mereka diluar tampak saling membenci tapi aslinya mereka sama-sama saling menyayangi satu sama lain.


“Kak Aku berangkat ya” pamit Erlan saat melewati naina. Dia sudah mengambil kuci mobilnya,


“Iya hati-hati kamu” seru Naina saat Erlan yang sudah berlari keluar rumah.


“Astaga aku lupa lagi” seru Erlan yang uring-uringan di luar. Naina yang tadinya akan berjalan masuk langsung berhenti lagi karena mendengar suara Erlan.


Pemuda itu masuk lagi dengan buru-buru,


“Kok masuk lagi, apa yang ketinggalan?” tanya Naina pada Erlan yang berjalan melewatinya.


“Tugas kuliah aku ketinggalan. Kakak kok nggak bilang sih” gerutu Erlan berjalan cepat menaiki tangga.


“Lah kakak mana tah kamu ada tugas kuliah, haduh-haduh Erlan-Erlan” Kia hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap adik iparnya itu. dia sama sekali tidak marah atau kesal dengan perkataan Erlan. Karena itu memang sifat Erlan dan pemuda itu aslinya baik meskipun cari bicaranya sedikit kasar.


Naina langsung berjalan kearah kamarnya yang tidak jauh dari situ, dia saat ini belum mandi dan akan mandi baru setelah itu dia akan pergi ke tempatnya berlatih tinju. Dia ingin saja pergi ke sana, karena sudah lama dia tidak ketempat itu. Kan sayang kalau tidak di pakai, dia sudah memboking tempatnya dari dulu.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2