Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 101


__ADS_3

Orang tua Naina sudah datang keruang perawatannya yang berada di sebelah ruang rawat Gibran.


“Mark cepat periksa adik kamu, kenapa dia belum sadar juga sampai sekarang?” pinta Vita pada Mark yang juga berada di ruang rawat Naina.


“Ma, Michel hanya syok saja dia sebentar lagi sadar” Mark berusaha menenangkan sang mama yang terlihat panik dengan kondisi Naina saat ini.


“kalau dia cuman syok kenapa belum sadar juga, mama disini sudah dari tadi tapi adik kamu belum juga bangun. Mark periksa lagi, adik kamus edang hamil ini bagaimana kalau mereka kenapa-kenapa” vita serasa tak percaya dengan ucapan putra sulungnya tersebut.


“Ma sudahlah, dengarkan apa yang Mark katakan” Mahendera berusaha menenangkan istrinya yang terlihat gelisah dengan kodisi Naina.


Erlan yang berada tak jauh dari situ hanya menatap lemah kakak iparnya yang belum juga sadar, dia merasa kasihan pada Naina. Sungguh dia tak menyangka kejadian seperti ini menimpa keluarga kakaknya


“Pa, kalau Michel tidak apa-apa kenapa dia belum bangun juga pa. Kenapa pa, ayo kita bawa Michel kerumah sakit lain ayo pa” rengek Vita pada suaminya. Dia meminta suaminya itu memindahkan Naina kerumah sakit lain.


“Ma, anakmu ini dokter dan aku kakak Michel. Aku tahu apa yang terjadi pada adikku” tukas Mark mendekati sang mama yang terlihat mulai histeris karena Naina tak kunjung sadar.


“Gibran, Gibran..” teriak Naina dan langsung membuka matanya. Vita yang mendengar itu langsung segera menghampiri Naina.


“Michel, Michel sayang Michel..” Vita menghampiri putrinya yang baru saja sadar.


Naina melihat kesekeliling, dan dia mendapati keluarganya berada bersamanya saat ini.


“Michel kamu sudah sadar sayang, mama khawatir sama kamu” Vita langsung memeluk Naina.


“Gibran ma, Gibran..aku mau ketemu Gibran ma” ucap Naina dan akan turun dari tempat tidur.


“Michel jangan melakukan hal yang bodoh,” Mark langsung menahan Naina agar tidak turun dari tempat tidur.


“Gibran kak, Gibran kecelakaan. Gibran kecelakaan kak huhuhu” Naina menangis sambil menatap sang kakak.


“Ma bisa minggir sebentar” ucap Mark menyuruh sang mama untuk minggir.


“Ma minggir dulu, biar mark menenangkan Michel” ucap Mahendra pada istrinya.

__ADS_1


Mark langsung memeluk Michel yang menangis..


“Kamu tenanglah, Gibran tidak apa-apa. kakak jamin itu itu, dia tidak akan kenapa-kenapa. Sekarang kamu pikirkan kondisimu dan anak yang kamu kandung saja” Mark berusaha menenangkan Naina. Dia mengusap lembut bahu sang adik.


“Tapi Gibran kak, dia koma sekarang dia koma. Hiks hiks Gibran kak” dengan terisak Naina menangis di pelukan Mark.


Mark hanya diam sambil mengusap bahu adiknya..


“Kakak janji sama kamu, kakak bakal sembuhin Gibran. Kamu tenang sekarang, jangan pikirkan hal lain oke” lagi Gibran terus menenangkan Naina yang menangis.


Erlan yang berada tidak jauh dari situ mengusap sudut matanya yang tanpa dia sadar mengeluarkan air mata, sungguh sesak rasanya melihat kakak iparnya yang tampak terpuruk saat ini.


Keluarga kakaknya baru saja bahagia tapi sekarang, malah ada kesedihan yang teramat di keluarga mereka.


Erlan langsung pergi dari ruangan Naina, dia akan melihat kakaknya saat ini. mama dan papa nya pasti sudah sampai..


“Bisa-bisanya kau seperti ini kak” lirih Erlan sambil berjalan keluar dari ruangan Naina.


...................................


“ayo dong sayang sadar, aku disini nunggu kamu. anak-anak kita juga nunggu kamu, tapi kenapa kenapa kamu betah banget begini” ucap Naina sambil memegangi tangan suaminya yang tak merespon sama sekali. Dua hari sudah dia menangis menunggu Gibran sadar,


“Naina ayo makan dulu sayang, kamu dari tadi belum juga makan” ibu Naina yang baru saja pulang dari luar negeri berusaha membuju anaknya untuk makan.


“Nggak bu, aku mau disini saja nunggu Gibran bangun” tolak Naina yang masi bertahan di tempatnya.


“Naina jangan keras kepala, mama yakin Gibran sebentar lagi bangun sayang. Pikirkan kondisi anak yang kamu kandong juga,” Karin ibu dari Erlan berusaha untuk membujuk Naina juga agar mau makan.


“Kalau aku pergi makan Gibran nanti bangun terus cari aku gimana” jawab Naina dengan mata berkaca-kaca menatap suaminya yang belum juga sadar.


“Ada kakak, ada ayah kamu ada papa mertuamu ada Erlan, kamu nggak usah khawatir ada kita disini” ucap mark menenangkan adiknya.


“kamu pergi makan dulu ya sama ibu sama mertua kamu” ucap Mark lagi membujuk Naina agar pergi makan. Karena sedari pagi Naina belum juga mengisi perutnya yang kosong.

__ADS_1


“Nanti kalau Gibran sadar kak Mark hubungi aku ya” ucap Naina sambil menatap kakaknya yag berdiri didepannya saat ini.


“Pasti, pasti kakak hubungi kamu nanti” ucap mark meyakinkan sang adik.


“Ya sudah aku mau pergi makan dulu” ucap Naina yang akhirnya mau untuk pergi makan bersama ibu dan juga mama dari Erlan.


Ketiganya langsung pergi dari ruangan Gibran saat ini sedangkan Mahendra langsung berjalan menghampiri ranjang Gibran di rawat.


“Mark sebenarnya bagaimana kondisi Gibran saat ini?” tanya Alfred pada Mark.


“Gibran saat ini dalam kondisi baik om, kemungkinan dia akan segera sadar. Tapi yang saya khawatirkan dia bakal mengalami amnesia karena kepalanya ada cidera dan juga tulangnya ada yang patah jadi saat sadar nanti dia butuh pemulihan yang intensif” jawab Mark menjelaskan kemungkinan kondisi Gibran nantinya.


“Apa? kak Gibran bisa amnesia?” kaget Erlan dan langsung mendekat kearah Mark.


“Semoga saja itu tidak akan terjadi, kalau dia sampai amnesia lalu kak Nai bagaimana” lanjut Erlan menepis semua itu.


“Iya semoga saja Gibran tidak mengalami amnesia nantinya, karena hal itu juga yang aku takutkan. Aku takut rumah tangga adikku dalam masalah nantinya” ucap Mark.


“Selain tu tidak ada yang mengkhawatirkan lagi kan Mark?” tanya Alfred.


“Tidak ada om, jadi kita tunggu Gibran sadar dan saat dia sadar nanti kita lihat bagaimana kondisinya” pungkas Gibran.


“Kalau begitu saya ijin keluar dulu om, saya akan bertanya pada rekan saya yang menangani Gibran” ucap Mark pamit pergi.


“Iya Mark, terimakasih sebelumnya” ucap Alfred dan juga Agus.


“Oh iya Om Agus, kalau Michel menanyakan keberadaanku bilang saja aku sedang bersama rekanku yang lain” ucap Mark sebelum pergi dari ruangan Gibran. Dia berpesan pada Agus ayah dari Naina.


“Iya Mark, nanti aku sampaikan pada Naina” jawab Agus.


“Erlan, aku pergi dulu. kau jaga kakakmu dan misalkan nanti ada apa-apa dengan Michel maupun Gibran kau telpon aku ya” ucap Mark pada Gibran.


“Siap kak Mark” jawab Erlan. Setelah itu Mark langsung berjalan pergi dari ruangan Gibran saat ini, dia menepuk pelan bahu Erlan.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2