
Di dalam mobil terasa hening karena Naina sibuk dengan Hp sedangkan Gibran sibuk menyetir, mereka saat ini sedang dalam perjalanan pulang untuk menjemput kedua anak mereka di sekolah.
“Sayang habis kita jemput anak-anak kita ketemu kakakmu yuk di rumah sakitnya” ucap Gibran sambil sesekali melihat kearah Naina yang langsung melihat kearahnya saat ini.
“Mau apa ketemu kak Mark?’ Tanya Naina.
“Ya nggak pa-pa, aku sudah lama nggak ketemu dia” bohong Gibran, kalau dia bilang mau ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Naina. Istrinya itu pasti menolak saat ini. karena Naina beralasan kalau dia hamil pasti dia menyadarinya..
“Ya sudah kalau ke sana, tapi sebelum ke sana beli gorengan yang dipinggir jalan dekat rumah sakit ya. Aku suka gorengan itu” pinta Naina pada suaminya.
“Siap sayang” Jawab Gibran sambil tersenyum, dia lalu kembali fokus menyetir tapi sesekali masih melihat kearah Naina penasaran.
“Kamu dari tadi mainan Hp, ngapain?” tanya Gibran curiga.
“Ini main..” Naina langsung menunjukkan permainan angka yang tengah ia mainkan di ponselnya.
“oh” kecurigaan Gibran langsung hilang ternyata istrinya itu tengah bermain Game ia kira istrinya sedang chating dengan seseorang.
“Nanti habis dari rumah sakit, kita pergi ke taman kota ya?” Naina menatap kearah sang suami penuh harap.
“Kenapa ke taman kota”
“ya nggak pa-pa, duduk-duduk di sana kayaknya enak segar. Nanti ke sana ya..” ucap Naina.
“Ya sudah nanti kita ke sana” Gibran mengiyakan permintaan itu.
“Terimakasih sayang” Naina langsung memeluk Gibran dia terlihat bahagia karena sang suami mau menuruti keinginan dirinya saat ini.
Gibran langsung terpaku karena Naina yang tiba-tiba saja memeluk dirinya saat ini.
“Kayaknya aku bakal bahagia terus ini, terus begini ya sayang. Aku suka kalau kamu hamil terus biar kamu bisa begini sama aku” batin Gibran sambil mengusap tangan Naina yang masih ada di perutnya.
“Sudah ah, nanti ganggu nyetir” tukas Naina melepaskan pelukannya pada Gibran.
“Kamu kalau mau peluk aku terus juga nggak pa-pa, mobilnya aku hentikan sebentar”
“nggak ah, di rumah aja. Nanti anak-anak nunggu kita lagi” Naina langsung kembali pada posisinya, dia juga kembali memainkan Hp miliknya.
“Oke, kalau kamu maunya nanti. Tapi nanti lebih dari peluk ya?” goda Gibran, siapa tahu godaannya pada sang istri mendapatkan jackpot.
“Oke” jawab Naina tanpa mempertimbangkannya.
“kamu serius, nanti nggak mau” jawab Gibran setengah bahagia, antara yakin dan tidak yakin.
“Serius” jawab Naina sambil menatap kearah Gibran.
“Asikk.., aku makin cinta sama kamu” ucap Gibran senang. Dia memegang dagu istrinya dan ia mendekatkan wajahnya pada sang istri mengecupnya dengan cepat. Setelah itu dia kembali fokus menyetir, Naina sendiri tidak protes seperti biasanya. Perempuan tersebut hanya diam.
............................
“Mama beneran kita mau ketemu papa Mark?’ tanya Aiden pada sang mama. Kedua bocah itu saat ini sudah berada di dalam mobil setelah kedua orang tuanya itu menjemput mereka.
“Iya hari ini kita ketemu papa Mark, kalian senang kan?” ucap Naina sambil melihat kearah kedua anaknya yang duduk di belakang.
“Senang dong Ma, yey. Kita ketemu papa Mark” seru Aira yang selalu gembira.
“Kalian kok kelihatannya lebih senang sama papa Mark daripada papa?” ucap Gibran yang sedikit iri.
“Kita juga senang ketemu papa, iya kan Aiden” pungkas Aira meminta dukungan kembarannya.
“Iya,” jawab Aiden singkat.
“kalau begitu cium papa dong” ucap Gibran sesekali melihat kebelakang. Dia tak bisa lengah saat menyetir karena bisa membahayakan mereka semua.
__ADS_1
Keduanya langsung mencium pipi kanan Gibran bergantian, Naina yang melihat itu merasa senang karena keluarga kecilnya begitu saling memahami satu sama lain saat ini. apalagi Gibran yang marah sama sekali saat kedua anaknya tetap memanggil Mark sebagai Papa.
“kenapa ngelihatin aku begitu?’ tanya Gibran pada sang istri yang terus melihat kearahnya.
“Nggak” jawab Naina menggeleng dan dia langsung mengalihkan pandangannya.
“Terpesona ya sama aku” ucap Gibran dengan pedenya.
“Nggak” bohong Naina padahal dia memang terpesona dengan sikap Gibran barusan.
“Huh, bohong. Jelas-jelas di wajah kamu itu kelihatan banget terpesona sama aku sayang” tukas Gibran sambil menggoda sang istri.
“Sudah ah, kamu terus godain aku nggak malu sama anak-anak”
“nggaklah, kenapa harus malu.” Jawab Gibran.
“Terserah deh, nggak usah dibahas lagi. Kamu fokus nyetir aja..” pungkas Naina tak melihat lagi kearah Gibran.
“Anak-anak papa, lihat mama kalian malu papa godain” adu Gibran pada kedua anaknya.
“Mama, kenapa mama malu?” tukas Aiden dan juga Aira bertanya secara bersamaan.
“Nggak kok mama nggak malu, papa kalian bohong” ucap Naina melihat sekilas kearah kedua anaknya sambil tersenyum.
“Mama nggak malu pa..” ucap Aiden.
“Mama kalian tuh bohong, masa nggak mau ngaku ya” balas Gibran sambil menatap istrinya dengan mengedipkan mata.
Naina diam saja dan langsung memalingkan wajah keluar mobil meskipun dia memalingkan wajahnya. Dia tersenyum karena ulah Gibran barusan..tapi dia gengsi kalau harus menunjukkannya langsung.
“Yaelahh sayang senyum pakai sembunyi-sembunyi. Di depan ku kenapa kalau senyum” canda Gibran saat melihat pantulan wajah Naina di kaca mobil dimana perempuan itu tengah tersenyum membelakangi dirinya.
Naina langsung melihat kearah Gibran yang tengah menggodanya..
“Nggak ya, aku nggak senyum nih” pungkas Naina mengelak hal itu.
............
Tidak butuh waktu lama mobil Gibran sudah sampai di depan rumah sakit milik keluarga Mark. Naina langsung menoleh kebelakang dimana anak-anaknya duduk.
“Sayang-sayang mama keluar mobilnya hati-hati ya jangan pergi kemana-mana dulu. mama sama papa turun dulu” Ucap Naina berpesan pada kedua anaknya tersebut.
“Iya mama” jawab keduanya.
“Aku turun dulu ya” ucap Naina pada suaminya.
“Iya, aku cari power bank dulu. ponsel aku baterainya mau habis” jawab Gibran sambil mencari power bank miliknya yang ada di dashboard.
“Aiden, Aira..ayo turun” ucap Naina saat membuka pintu belakang mengajak kedua anaknya untuk turun.
Keduanya langsung turun secara bergantian, mengikuti perintah mamanya tadi. Sedangkan Gibran yang sudah menemukan powerbank miliknya juga langsung turun dari mobil saat ini.
“Oh iya, tadi kamu nggak berhenti di tempat gorengan depan” tukas Naina pada Gibran yang baru saja turun dari mobil.
“Lupa sayang, kamu sih nggak ngingetin aku” Ucap Gibran menatap sang istri.
“Masa perlu diingetin, males aku” tukas Naina cemberut.
“Anak-anak ayo sama mama” lanjut Naina mengajak kedua anaknya pergi.
“Sayang sebentar, apa aku belikan sekarang bagaimana?” ucap Gibran menahan sang istri agar tidak pergi.
“nggak mau, aku maunya tadi” tolak Naina dan langsung menggandeng tangan kedua anaknya.
__ADS_1
“Aiden sama papa aja” ucap Gibran yang menahan satu tangan Aiden.
“Iya” jawab bocah itu lirih.
“Ya sudah Aira, ayo kamu sama mama aja” pungkas Naina sambil mengajak Aira berjalan lebih dulu.
“Tapi Aiden..” Aira terlihat keberatan untuk meninggalkan kembarannya.
“Aiden sama papa kamu, kamu sama mama aja. Ayok sayang” ucap Naina dan kembali mengajak anak perempuannya itu untuk berjalan. Mau tak mau Aira mengikuti ucapan sang mama. Dia melihat kebelakang, bocah itu terlihat berat meninggalkan kembarannya sendiri.
“Ayo Aiden,” ucap Gibran menggandeng tangan Aiden.
“Papa buat mama marah..” tukas Aiden menatap papanya.
“nggak mama kalian itu nggak marah” elak Gibran dan dia menggandeng tangan kecil putranya mengajak berjalan menyusul Naina dan juga Airan.
“Aiden, Aira..” seru Mark yang berada di depan rumah sakit.
“Papa Mark..” seru keduanya sambil berlari menghampiri Mark yang sudah merentangkan tangannya menyambut kedua bocah tersebut.
“Muach, Muach..papa kangen sama kalian” Mark langsung mendekap keduanya dan menciumi pipi kedua bocah itu.
“kita juga kangen papa Mark” jawab Aiden dan juga Aira bersamaan.
“Masa? Bohong nggak nih” ucap Mark sambil melihat keduanya.
“Nggaklah..” jawab Aiden.
“Masa..”
“Iya, kita kan kangen sama papa Mark ya Aira” ucap Aiden.
“Iya kita kangen papa Mark” sahut Aiden.
“Kalau kangen peluk papa lagi dong” pinta Mark agar kedua bocah kembar itu memeluk dirinya lagi.
Keduanya langsung melakukannya, Mark membalas pelukan mereka dengan gemas. Bagaimana tidak gemas dari bayi sampai mereka berumur hampir lima tahun dia yang merawat kedua bocah itu.
Gibran dan Naina yang sudah berada di depan Mark hanya diam melihatnya mereka juga sesekali tersenyum melihat kedekatan si kembar dengan Mark. Tapi sebenarnya di dalam hati Gibran ada setitik iri karena tadi ia melihat Aiden terlihat lebih bahagia dan banyak bicara saat bersama dengan Mark.
“kamu kenapa?” tanya Naina saat melihat Gibran yang terus melihat kearah Aiden dan juga Mark. Naina juga ikut mengamati hal itu.
“Nggak pa-pa kok sayang” jawab Gibran tak jujur dengan apa yang dia rasakan.
“masa...kamu merasa iri ya lihat Aiden sama kak Mark. Aiden memang begitu kalau sama kak Mark kamu jangan iri ya..Aiden itu anaknya susah dekat sama orang dan selama ini dia cuman nurut sama kak Mark.” Jelas Naina yang seakan tahu perasaan suaminya.
“Kalau aku boleh jujur, iya aku iri sayang. Aku papa kandungnya tapi Aiden kelihatan nggak nyaman sama aku” jujur Gibran pada akhirnya.
“Kamu sabar aja, Aiden butuh waktu buat dekat sama kamu. Dia anaknya memang seperti itu, tapi kalau sudah sayang sama orang dia bakal sayang banget. Sudah jangan sedih kan ada aku” pungkas Naina sambil menatap Gibran. Gibran langsung melihat kearah Naina sambil tersenyum.
“Iya ya, kan aku ada kamu” jawab Gibran berusaha menutupi rasa iri nya itu.
Naina tiba-tiba saja menaruh tangan Gibran di pinggangnya,
“Tarik dong” ucap Naina meminta Gibran agar menarik pinggangnya.
“Kamu mau dipeluk”
“Direngkuh aja sama kamu, aku mau” pungkas Naina dengan manja. Gibran yang tadinya terlihat sedih langsung tersenyum sambil menarik pinggang ramping sang istri merengkuhnya dengan mesra.
“kalian berdua malah mesra-mesraan, ayo masuk banyak orang lewat” ucap Mark sambil berdiri menggandeng si kembar.
“Ayo” jawab Gibran dengan masih merengkuh pinggang istrinya dia berjalan bersama. Sedangkan kedua anaknya tampak asik berjalan bersama dengan Mark didepan mereka.
__ADS_1
°°°
T.B.C