Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 38


__ADS_3

Akhirnya mobil yang dikemudikan Gibran sudah sampai di Vila yang tidak jauh dari perkebunan teh. Vila yang memang sudah di sediakan oleh perusahaannya sebelum mereka sampai disini. Tugas mereka melihat perkebunan teh tersebut dan bertanya-tanya pada petani soal kemana mereka akan menjual hasil kebun mereka serta mereka .


Gibran melakukan pengecekan seperti ini karena dia harus mengambil data para petani untuk di masukkan kedalam aplikasi GINAI yang sedang dalam perkembangan. Jadi semua harus di survei terlebih dahulu.


Alasan ia ingin membuat startup dalam bidang pertanian karena masih banyaknya para petani yang begitu kesulitan untuk memasarkan hasil kebun mereka. Sejak lama kesejahteraan petani hanya sebuah angan-angan. Hal ini karena permainan tengkulak yang mempersulit petani menjual komoditi panennya dengan untung maksimal. Hal ini lah yang membuat minat kaum muda untuk mendalami bidang pertanian sangat rendah. Karena itulah ia memiliki rencana membuat startup seperti ini gunanya juga untuk menarik para pemuda serta kaum milenial di suatu daerah perkebunan.


Intinya tujuan utamanya yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan petani, serta lebih jauh lagi ia berharap startupnya dapat membantu terciptanya produk pertanian yang berkualitas.


GINAI sendiri memiliki tujuan untuk mengurangi dominasi pasar, sehingga menciptakan peluang pasar yang jangkauannya lebihluas. Sehingga petani kecil pun bisa menjual hasil taninya ke konsumen langsung. Selain itu juga GINAI merupakan platform wadah investasi bidang pertanian dan dapat dipantau secara online.


Michel yang masih berada di dalam mobil memperhatikan sekitar yang nampak asri, dan udaranya terlihat begitu segar padahal dia belum keluar dari mobil tapi sudah bisa merasakan kesegaran tersebut.


“Kenapa diam saja, ayo turun” tiba-tiba ucapan Gibran membuyarkan kekaguman Michel pada tempat itu. dia langsung menoleh kearah Gibran dengan sewot, ia kesal dengan pria itu.


“Mengganggu saja,” cibirnya. Dia langsung keluar dari dalam mobil meninggalkan Gibran yang malah tersenyum tipis saat Michel keluar dari mobil begitu saja.


“Dia malah membuatku semakin tertantang, Nainaku sudah menjadi perempuan kuat sekarang” gumam Gibran melihat Michel yang sudah turun dari mobil.


“Rasanya aku tidak sabar untuk segera membuktikan kalau itu kamu sayang” lanjut Gibran sambil turun dari mobil menyusul Michel yang sudah lebih dulu.


“Bukannya ini Vila, kenapa kau mengajakku ke Vila bukannya kita langsung terjun ke kebun terus pulang” tanya Michel sambil melihat kearah Gibran.


“Aku bukan robot, aku capek sekarang. Aku butuh istirahat” jawab Gibran dan langsung melenggang pergi untuk masuk kedalam Vila.


“Kau mempermainkanku ya, bukannya tadi kau bilang kita sudah di tunggu orang-orang. Lalu dimana orang-orangnya” kesal Michel berjalan menyusul Gibran yang malah melangkah ke arah Vila.


“Nanti siang, kita istirahat dulu” jawab Gibran singkat, dia tak menatap Michel sama sekali. Dia memang sengaja untuk menjawab seadanya pada perempuan tersebut.


“Kau memang menyebalkan, seharusnya kau bilang kalau masih nanti siang. Aturan tadi kita mampir ke tempat makan.” Gerutu Michel.


Gibran tiba-tiba saja menghentikan langkahnya membuat Michel juga ikut berhenti, pria itu terus menatap Michel cukup intens membuat Michel sendiri sedikit negeri dengan tatapan Gibran padanya.

__ADS_1


“Apa? kenapa kau menatapku begitu?” tukas Michel dan sedikit mundur kebelakang.


“Apa dari dulu kau seperti ini?”


“Kenapa?”


“Kau cerewet sekali” ledek Gibran dan langsung melenggang pergi dengan senyum mengejeknya.


“Apa? kau barusan bilang apa. kau mengejekku barusan..hei tuan Gibran..” kesal Michel tak terima.


Gibran mengabaikannya saja, dia terus berjalan masuk kedalam Vila tersebut.


.......................................


Michel duduk diam di sofa yang berada di ruang tengah tersebut, dia melihat sekeliling penuh tanda tanya soal Vila yang ia tempati sekarang.


“Apa ini Vila pribadinya,?” gumam Michel karena melihat beberapa foto keluarga Gibran bahkan ada foto ibu mertuanya dulu.


“Kau membuat makanan?”


‘Bukan aku tapi bi Uma yang membuatnya” jawab Gibran sambil memperhatikan eskpresi wajah Michel saat dia menyebutkan nama BI Uma.


Michel yang mendengar itu diam terpaku, apa dia tidak salah dengar kalau pria itu menyebutkan nama Bi Uma, bagaimana ini kalau Bi Uma mencurigai dirinya batin Michel.


“Kenapa diam, ayo” ucap Gibran dan langsung berjalan menuju meja makan tetapi di sesekali memperhatikan Michel yang terlihat gugup.


Dengan berat hati Michel akhirnya berdiri, dia dengan ragu-ragu berjalan mengikuti Gibran saat ini. langkah Michel langsung berhenti saat dia melihat seorang perempuan paruh baya yang tengah menyiapkan makanan di meja makan. Itu bi Uma, bagaimana kalau dia mengenali dirinya saat ini.


“Den makanannya sudah siap,” ucap Bi Uma pada Gibran.


“Iya terimakasih bi” jawab Gibran.

__ADS_1


Bi Uma melihat kearah Michel, dia langsung melebarkan matanya tak percaya saat melihat perempuan yang mirip dengan istri majikannya itu.


“Non Naina,” Bi Uma langsung berjalan mendekat kearah Michel. Michel sendiri langsung gelisah.


“Ini Non Naina kan, bener non naina kan den. Yaampun Non kamu masih hidup, bibi senang kalau kamu masih hidup” ucap BI Uma yang berkaca-kaca memeluk Michel.


Michel kaku tak bergerak, dia bingung harus bagaimana saat ini ia menelan ludahnya susah, sambil melihat sekilas Gibran yang hanya diam menatapnya entah apa yang dipikirkan pria itu sekarang.


“Maaf, saya bukan orang yang kau maksud” dengan pelan Michel melepaskan pelukan Uma padanya. Sebenarnya dia tak tega mengatakan itu karena Bi Uma dulu begitu baik padanya tapi mau bagaimana lagi ini demi dirinya sendiri agar tak ketahuan pria monster seperti Gibran.


Melihat wajah Michel, Gibran malah tersenyum. Karena wajah itu tampak bersalah saat melepaskan pelukannya dari Bi Uma. Ini memang rencananya untuk menyuruh BI Uma ke tempat ini agar ia bisa melihat reaksi Michel saat melihat orang yang pernah baik dengannya.


“Non Naina ngomong apa, kamu beneran Non naina kan..bibi nggak salahkan”


“Maaf Bi saya Michel, bu..bukan orang yang kau sebutkan barusan” elak Michel.


“Bi dia memang bukan Naina, dia Michel adik temanku. Terimakasih sudah menyiapkan makanan untuk kita, bibi bisa kembali lagi ke dapur” pungkas Gibran pada Bi Uma.


“Tapi bibi yakin den ini..”


“Bi..” ucap Gibran


“Ya sudah kalau begitu bibi ke dapur dulu,” dengan berat hati Bi Uma langsung pergi dari hadapan Michel dan juga Gibran.


“Ayo makan” ajak Gibran kembali pada Michel, dia langsung berjalan kearah meja makan dan Michel mengikutinya tetapi pandangannya masih tertuju pada Bi Uma yang pergi ke dapur. Ia merasa bersalah pada perempuan paruh baya itu.


“Maaf Bi,” batinnya merasa sedih karena harus pura-pura tak tahu didepan orang yang dulu begitu membantunya.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2