Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 46


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Gibran sudah sampai didepan rumah Mark, Gibran sendiri langsung turun saat dia sudah mematikan mesin mobilnya. Ia bergeges mengitari mobil untuk membukakan pintu Michel yang kesusahan karena Aira tengah tidur saat ini.


“Sini Aira biar aku yang menggendongnya” ucap Gibran saat membukakan pintu tersebut.


“Nggak usah, aku bisa sendiri” Michel menolaknya dia perlahan akan keluar dari mobil dengan hati-hati.


“Aku heran kenapa kamu keres kepala sekarang,” ucap Gibran sambil mengambil paksa Aira dari Michel dan dia langsung menggendong bocah itu.


“Terserah diriku, bawa sini anakku. Aku bisa membawanya sendiri ke rumah. dan tolong pergi dari rumahku” Michel akan mengambil kembali Aira dari gendongan Gibran tapi Gibran malah menjauh.


“Aku saja yang menggendongnya, kau tunggu saja kakakmu yang apsti bakal banyak pertanyaan yang dia tanyakan padamu” ucap Gibran langsung berjalan pergi dari hadapan Michel.


Mark sendiri belum sampai, entah kemana pria itu belum sampai padahal tadi mereka keluar dari rumah sakit bersama-sama. Michel menatap kebingungan kearah pagar rumahnya karena mobil sang kakak belum juga terlihat.


“Tuan Gibran, tolong pergi dari rumah sa..”


“Shutttt, jangan berisik Aira sedang tidur” Gibran menaruh jari telunjuknya didepan mulutnya sendiri mengintruksi Michel agar diam.


Gibran langsung melenggang menuju pintu masuk rumah besar tersebut, sedangkan Michel dengan kesal menyusulnya. Pria itu sudah berani memerintah dirinya, dan bersikap seenaknya sendiri.


Setelah dibukakan pintu oleh salah satu asisten rumah tangga di rumah Mahendra Gibran sudah berjalan masuk dan saat ini berada di dalam kamar Aira yang dipenuhi oleh warna pink dan banyak boneka barbi disitu.


“Kamu perempuan sekali sayang..kamu suka barbie ya. Besok papa belikan kesukaanmu” ucap Gibran yang sudah menidurkan Aira di tempat tidur sambil mengusap pelan kepala bocah itu.


“Sekarang kau boleh pergi, terimakasih sudah membantuku” usir Michel yang baru saja masuk kedalam kamar anaknya setelah berbicara pada Sari salah satu asiten rumah tangga yang berada di situ.


“Kamar Aiden dimana?” bukannya menanggapi usiran dari Michel. Gibran malah menanyakan kamar Aiden.


“Untuk apa kau bertanya soal kamar anakku satunya, ayolah tuan Gibran pergi dari sini” kesal Michel dan langsung menarik Gibran untuk keluar dari kamar Aira dan berharap pria itu segera pergi dari rumahnya.


“tenang sayang, aku kan ingin mengenal calon anak-anakku” jawab Gibran melepaskan tangan Michel.

__ADS_1


“Apa ini kamarnya?” ucap Gibran malah membuka pintu kamar yang berada di sebelah kamar Aira. Dan benar saja itu kamar Aiden yang berwarna biru perpadukan warna putih serta dengan beberapa mainan didalamnya.


“TUAN GIBARA SAYA BILANG PER... AUGH” Marah Michel dan menutup pintu kamar Aiden cukup keras sampai sangking marahnya dia melihat Gibran yang seenak sendiri ingin masuk kedalam kamar anaknya membuat dia harus terbentur pintu kamar itu.


“Sakit? Mana yang sakit. Kamu sih pakai marah-marah segala kenapa..” khawatir Gibran dan langsung melihat dahi Michel yang memar.


“memarkan jadinya,” ucap pria itu melihat dahi Michel dan mengusapnya pela. “Sini” tariknya membawa Michel masuk kedalam kamar Aiden.


“Kamu mau apa?”


“Diam saja,” pungkas Gibran dan menarik Mcihel untuk duduk di ranjang milik Aiden.


Gibran tiba-tiba saja meniup memar yang ada di dahi Michel, membuat Michel terdiam jantung berdebar dengan apa yang dilakukan Gibran saat ini. bukan karena hal itu yang membuatnya berdebar tetapi jarak mereka yang begitu dekat membuatnya tak karuan. Ada apa dengan hatinya ini, apa masih menyimpan rasa untuk pria didepannya, batin Michel.


“Masih sakit nggak?” tanya Gibran sambil terus meniup dahi Michel. Ia juga melihat sekilas Michel yang memandanginya.


“Kenapa nona Michel, kau jatuh cinta padaku. Aku tidak heran sih kalau kau jatuh cinta padaku..aku tampan begini” pungkas Gibran cukup pedenya mengatakan kalau dia tampan.


“Cepat keluar dari rumahku, dan jangan ke si..” Gibran menarik tangan Michel dan karena tak sigap Michel jatuh di pangkuan Gibran.


“hei, apa yang kau lakukan lepas” berontak Michel karena Gibran langsung memeluknya.


“Tidak akan aku lepaskan sampai kau tidak mengusirku lagi. Telingaku rasanya pengar sayang kau terus mengusirku. Ini hari pertama kita jadian, harusnya kita bersikap manis dan saling mengasihi bukan saling kesal begini”


“Kau pria kurang ajar, lepaskan. atau aku teriak agar kau di usir satpam dirumahku” ancam Michel pada Gibran.


“Oke aku lepaskan, aku tahu kamu gugup sekarang karena didekatku” ucap Gibran sambil tersenyum jahil.


“Dasar gila” dengus Michel dan langsung pergi meninggalkan Gibran yang tersenyum jahil padanya.


“Akan ku buat kau jatuh cinta lagi padaku Nai..” lirih Gibran sambil berdiri menatap Michel yang sudah berjalan keluar dengan kesal.

__ADS_1


................................


Gibran saat ini berada di kantornya, setelah dari rumah Michel dia langsung pergi ke kantor karena ada rapat yang harus dia hadiri. Dia yang sudah selesai memimpin rapat langsung keluar dari ruangan tersebut membuka jasnya dan sedikit mengendurkan dasi miliknya.


“Tari bawa jas ku keruanganku, aku mau pulang tidak ada jadwal pertemuan lagi kan?” ucap Gibran sambil menyerahkan jasnya apda Tari yang berjalan di belakangnya.


“Tidak ada pa, eh ada deng satu pertemuan lagi tapi karena waktu itu pak Gibran sudah bilang tidak mau menghadirinya jadi pak Khalif yang akan kesana” tutur Tari smabil menerim jas Gibran yang diberikan padanya.


Yups, dia Tari sahabat Naina dulu. tari yang dulunya seorang OG sama dengan Naina kini sudah di pekerjakan menjadi sekertaris pria itu. Gibran mempekerjakan Tari karena kasihan dengan perempuan tersebut dan juga niatnya dulu mempekerjakan Tari karena siapa tahu perempuan tersebut tahu dimana Naina berada nyatanya Tari tak tahu sama sekali.


Meskpun Tari sekertari Gibran tapi segala sesuatu keperluan Gibran di urus oleh asisten pribadi pria itu yaitu Erlan adik tirinya dan juga sepupunya.


“Ya sudah saya permisi dulu” pungkas Gibran setelah mendnegar ucapan Tari.


“Sebentar Tari,” ucap Gibran dan membuat Tari langsung berhenti.


“Iya pak?”


“Besok tolong datang ke rumah dr.Chandra rekan bisnisku di GINAI, tolong berikan titipan Michel adik dari dr.Chandra” perintah Gibran pada Tari.


“dr.Chandra itu dr Mark kan pak yang terkenal itu pak?” ucap Tari.


“Iya,”


“baik pak, besok saya akan kerumahnya. Terimakasih pak Gibran, saya dan suami saya ngefans dengan dr.Mark. dia panutan kita pak” ucap tari begitu antusia karena dia akan kerumah dr.Mark yang terkenal akan kebaikannya bahkan dulu saudaranya pernah di bantu oleh Mark.


“Sama-sama, “ jawab Gibran. Saya permisi dulu” pungkas Gibran sambil memasukkan tangannya ke saku celana.


Alasannya menyuruh Tari kerumah Mark tentu saja karena Michel, dia akan melihat reaksi perempuan itu saat bertemu Tari nanti. Dan apakah Michel akan jujur pada Tari, kalau jujur itu kesempatannya untuk merekam pembicaraan mereka. Rekaman itu akan ia jadikan bukti lagi agar Michel mengakui dirinya langsung.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2