
Hari ini Naina menemui Rosa untuk konsultasi masalah mentalnya, dia ingin menanyakan psikologisnya. Setelah latihan tinju dia langsung mengajak bertemu temannya itu di sebuah Cafe.
Naina datang lebih awal sehingga membuatnya memesan terlebih dahulu sambil menunggu Rosa yang katanya masih dalam perjalanan.
Segelas espresso dan juga kentang menemani Naina saat ini, dia sembari memainkan ponselnya agar tidak bosan menunggu. Saat dia melihat sekilas kearah lain Naina langsung terdiam, dia melihat seorang perempuan menggendong anak wajahnya tak asing baginya.
“Alisha..” gumam Naina saat melihat perempuan itu yang berjalan masuk sambil menggendong seorang anak kecil yang kira-kira masih berumur tiga tahunan. Naina masih melihat kearah Alisha yang memesan kopi, badan perempuan itu terlihat lebih kurus dari dulu dan penampilannya juga tidak semodis saat perempuan itu masih menjadi pacar Gibran dulu. “Dia kelihatan berbeda..” lirih Naina lagi.
“Michel, maaf aku terlambat” dari arah pintu Rosa berjalan sambil melambaikan tangan pada Naina membuat perempuan itu balas melambaikan tangannya.
“Iya tidak apa-apa, kamu pesan apa Rosa maaf ya aku pesan duluan” ucap Naina pada perempuan itu.
“Iya tidak apa-apa, santai saja. kalau begitu aku pesan minuman dulu ya, kamu ada yang dipesan lagi nggak. Kalau ada sekalian aku pesankan..” Rosa menaruh tas kecilnya di kursi terlebih dahulu sebelum dia akan memesan makanan.
“Kayaknya tambah kentang gorengnya sama terserah kamu mau pesan apa lagi” pungkas Naina pada rekannya itu.
“Oke kalau begitu aku pesankan dulu,” Rosa langsung berjalan pergi untuk memesan minumannya dan juga cemilan untuk dirinya dan juga untuk Naina.
Naina melihat sekilas kearah Rosa yang berjalan pergi matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Alisha yang sudah selesai memesan kopi dan akan berjalan pergi. Terlihat Alisha terpaku melihat ada naina yang duduk tidak jauh darinya berjalan saat ini.
Naina hanya diam saja menatapnya, begitu juga Alisha mereka hanya saling tatap tapi Alisha tiba-tiba memutuskan untuk pergi. Dia buru-buru pergi saat naina terus melihatnya.
Naina sendiri heran, melihat sikap Alisha yang terlihat buru-buru.
“Aku kira akan menemui ku, dan mengatakan hal jahat seperti dulu. ternyata dia malah pergi” gumam Naina saat melihat Alisha yang buru-buru pergi tersebut.
“Terserahlah,” tukas Naina dan menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel sambil menunggu Rosa.
Saat dia tengah memainkan ponselnya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan itu dari Gibran yang menghubunginya saat ini.
“Iya halo..” ucap Naina saat mengangkat panggilan dari suaminya.
“Kamu dimana sayang? Jadi ke tempat tinju?”
“Jadi,. Tapi aku masih di cafe sekarang”
“Di Cafe? Sama siapa?” selidik Gibran.
“Sama Rosa, tahu kan Rosa”
“Tahulah, dia jajaran pemilik saham di GINAI. Ngapain kok kamu sama dia ada di Cafe?”
“Ngobrol-ngobrol aja, sudah ya..”
“hemm, I love u sayang. Kalau kamu nggak jawab nggak bakal aku matiin” ucap Gibran dengan sedikit mengancam.
“Love U too” jawab Naina buru-buru.
“Puas??” tanya Naina pada sang suami.
“Puas lah, dah sayang. Aku matikan ya..” ucap Gibran di seberang sana. Panggilan langsung terputus bertepatan dengan Rosa yang sudah kembali sambil membawa Americano dan juga kentang goreng di tangannya.
“Lagi bicara sama siapa?”
“Gibran”
“OH pak Gibran,” Rosa langsung menarik kursi di depan Naina untuk dia duduki.
........................................
Reyhan saat ini sedang istirahat makan siang, dia tidak sendiri melainkan bersama dengan Mark. Keduanya menikmati waktu istirahat mereka dengan makan siang bersama sambil berdiskusi masalah pasien.
“dr.Mark,.” panggil Reyhan sambil menatap Mark yang duduk di depannya.
“Iya kenapa?” jawab Mark dan langsung mendongak melihat kearah sahabatnya tersebut.
“Kamu nggak salah minta istri kamu menjual apartemennya untuk nona Alisha, bisa-bisanya kamu menolong seseorang dengan mengorbankan perasaan istrimu” pungkas Reyhan mengutarakan ketidak setujuan nya pada Mark.
__ADS_1
“Aku tidak mengorbankan perasaan istriku, bagaimana bisa dibilang mengorbankan. Aku kasihan saja dengan Alisha”
“Buang jauh-jauh perasaan kasihan mu itu, hatimu terlalu baik Mark. Bagaimana kalau Selina salah tangga dan juga Alisha malah suka padamu karena kamu baik dengannya. Rumah tanggamu bisa hancur”
“Pikiranmu terlalu jauh, aku nggak akan lah mengkhianati Selina. Dan Alisha tidak mungkin akan mencintaiku. Kamu jangan mikir yang tidak-tidak.”
“Aku bukannya berpikiran buruk tapi aku melihat kedepannya”
“Sudahlah Reyhan tidak usah dibahas, lagi pula Alisha hanya ingin menyewanya saja tidak ingin dia beli. Dia sebentar lagi akan pindah keluar negeri bersama kedua orang tuanya”
“Orang tuanya memang tidak disini?”
“orang tuanya ada di luar negeri.”
“Kenapa kalau orang tuanya di luar negeri dia tidak ikut saja ke sana daripada disini dia sendirian tidak ada yang melindungi”
“Orang tuanya dulu pengusaha sukses tapi usahanya hancur dan mereka semua memutuskan untuk pindah keluar negeri dan Dia juga dulu seorang model internasional, karirnya cukup bagus sampai dia ketahuan bermalam dengan seorang pria di hotel sehingga membuatnya hamil. Pria yang bersamanya saat itu langsung menikahinya tapi nyatanya hanya untuk popularitas sang pria saja” jelas Mark.
Reyhan memicingkan matanya menatap menyelidik Mark,
“Bagaimana kau bisa tahu banyak tentang perempuan itu?”
“Anaknya sudah menjadi pasien ku dua tahun lalu, jadi wajar aku tahu hal itu. sudahlah kamu jangan berburuk sangka dengan perempuan itu. dia kasihan harus mengurus anaknya sendiri ditambah dia banyak dimanfaatkan oleh orang lain” tutur Mark menasehati Reyhan yang tidak mempercayai Alisha.
“Aku ingatkan padamu Mark, janganlah terlalu baik dengan orang. Kalau kau terlalu baik dengan banyak orang mereka hanya akan memanfaatkan mu saja” pungkas Reyhan dan dia langsung menyantap makanan didepannya. ia sudah malas untuk berbicara dengan mark,
“Reyhan..Reyhan..bukannya kamu pernah bilang di dunia ini terlalu banyak orang jahat. Maka aku akan menjadi orang baik, kalau terlalu banyak orang jahat sungguh kejam kehidupan orang lemah. Setidaknya kita sebagai orang yang baik bisa membantu mereka” pungkas Mark sambil tersenyum.
“Terserah kau saja, tapi jangan salahkan aku kalau keluargamu hancur gara-gara orang yang sudah kau tolong”
“Kamu ada trauma dengan orang-orang yang pernah kau tolong?” tanya Mark penasaran karena Reyhan terlihat begitu membenci orang-orang yang lemah dan selalu minta pertolongan.
“Kita selesaikan makan siang kita, setelah ini kita pergi. Bukannya kau harus menemui papamu” Reyhan mengalihkan pembicaraannya. Dia terlihat tak ingin membahas hal itu.
Mark hanya melihat sekilas rekannya tersebut, yang fokus dengan makanannya. Karena Reyhan tak bicara lagi Mark pun juga melanjutkan makannya mereka kini makan dalam diam tak ada yang berbicara lagi.
................................
“kok anak-anak nggak di rumah sayang, mereka kemana?” tanya Gibran yang berjalan menghampiri Naina.
“Tadi di jemput papa Mahendra, katanya mau diajak ke acara rekan bisnisnya” jawab Naina sambil menyerahkan baju untuk Gibran.
“Oh, mereka mau nginep atau di anterin pulang nanti?” Tanya Gibran sambil menerima baju yang di serahkan sang istri.
“Kata papa sih mau di antar pulang kesini, tapi agak maleman”
“Oh,” balas Gibran sambil memakai celana miliknya, dan dia menyerahkan handuk yang ia pakai tadi pada Naina.
“Tadi kamu kan ketemu Rosa, ngapain?” tanya Gibran penasaran.
“Nggak ngapa-ngapain pengen ketemu aja”
“Bohong, kamu konsultasi kan sama dia, gimana sudah nggak trauma lagi kan sama aku” pungkas Gibran sambil berjalan mengikuti Naina yang akan menaruh handuk di gantungan baju belakang pintu kamar mandi.
“Nggak ya, aku nggak konsultasi tuh”
“Huh bohong, aku tahu ya..” ucap Gibran sambil memeluk Naina dari belakang saat perempuan itu akan melewatinya.
“kenapa sih peluk-peluk, aku masih mau beresin pakaian kamu” ucap Naina sambil berjalan meskipun Gibran tengah memeluknya saat ini.
“Kamu tadi konsultasi kan? giman sudah sembuh? Kalau dari penilaian aku sih sudah sembuh. Gimana nggak sembuh aku sentuh terus” pungkas Gibran dengan sedikit bercanda.
“Maksud kamu?”
“Ya kamu bersentuhan terus sama aku kan, kamu nggak gemeter kayak dulu lagi kan. ya itu berkat aku karena nyentuh kamu terus. Hayo kamu mikir apa sayang..” jelas Gibran dan diselingi dirinya yang menggoda sang istri.
Wajah Naina langsung memerah, yup dia tadi berpikiran jauh ke depan ia kira hal-hal sensitif mereka.
__ADS_1
“Bener kan tebak kan aku, kamu mikir aneh-aneh. Merah banget itu wajah kamu” tukas Gibran terkekeh melihat wajah Naina.
“Sudah yok, kebawah Erlan pasti nunggu kita buat makan malem” Naina berusaha mengalihkan pembahasan mereka. Dia langsung berjalan lebih dulu keluar kamar.
“Iya,” Gibran langsung ikut berjalan keluar bersama istrinya itu dan benar saja saat mereka keluar Erlan sudah menunggu diruang tengah sambil menatap cemberut kearah mereka.
“Ini bagaimana coba, yang nyuruh buat makan malam bareng siapa yang nunggu duluan siapa.” Cibir Erlan saat melihat kakak dan kakak iparnya yang baru saja keluar dari dalam kamar.
“Nggak usah cerewet, ayo ke meja makan” tukas Gibran pada adiknya.
Erlan langsung diam saja, dan dia berdiri dari duduknya berjalan lebih dulu ke ruang makan yang tidak jauh dari tempatnya duduk.
“Si kembar belum pulang? Kok rumah sepi banget?” tanya Erlan sambil melihat kebelakang dimana kakak ipar dan kakaknya berjalan.
“mereka di rumah Opanya pulangnya nanti malem” sahut Naina.
“Oh,” Erlan hanya beroh saja. dan dia langsung menarik kursi saat sudah sampai di meja makan.
“Kak Nai,..” panggil Erlan pada Naina yang duduk didepannya.
“Iya kenapa?’ tanya Naina sambil melihat kearah Erlan.
“Kakak punya adik ya..?” tanya Erlan balik.
“Iya kok kamu tahu,” heran Naina.
“Sayang jangan ngobrol dulu, ambilin aku makan dulu” protes Gibran.
“Iya bentar” Naina langsung berdiri dan mengambilkan Nasi untuk Gibran.
“Aku tadi kan disuruh ke kampus B, nah aku ketemu sama junior namanya Nanda dia bilang adiknya kak Nai”
“Kamu satu kampus sama Nanda?’ tanya Gibran pada sang adik.
“Iya, tapi aku kampus A. Dia kampus B, jadi nggak satu gedung. Kenapa kak Nai nggak bilang kalau bilang punya adik yang hampir seumuran sama aku kan ada teman”
“Kakak lupa mau bilangnya,”
“Kamu jangan dekat-dekat sama Nanda, kamu nanti membawa pengaruh buruk sama dia” pungkas Gibran pada Erlan.
“Memang gue iblis bikin pengaruh buruk, kenapa sih..” kesal Erlan.
“Kamu sudahlah nggak usah mulai bikin adik kamu kesal” tukas naina pada suaminya.
“Siapa yang bikin dia kesal, kan apa yang aku bilang benar. Nanda itu pinter, anak baik-baik nggak kayak dia yang bandelnya minta ampun”
“nggak usah ngeledek, aku bandel tapi pinter lupa kalau yang bantu situ siapa...gue nih yang lo bilang bandel” tukas Erlan mulai tersulut emosi.
Gibran diam membisu, karena yang dikatakan Erlan benar. adiknya itu banyak membantu dirinya termasuk GINAI saja Erlan ikut membantu.
“Sudah Erlan, nggak usah dengerin kakak kamu. kamu makan yang banyak..mau apa kakak ambilin” Naina berusaha menengahi perdebatan mereka.
“Mau ayam goreng dong kak” ucap Erlan masih dengan cemberut.
“mana piring kamu,” Naina langsung mengambilkan ayam goreng untuk Erlan. Sedangkan Gibran diam saja, dia melihat Erlan yang menatapnya sekilas tapi pemuda itu langsung memalingkan wajahnya kesal.
“kakak minta maaf” lirih Gibran pada Erlan.
“Kerasukan ya..” sungut Erlan menatap kakaknya karena tak biasanya Gibran minta maaf langsung didepan orang lain.
“Mau maafin nggak?”
“Hemm” jawab Erlan hanya berdehem saja.
“Sudah ayo buruan makan” ucap Naina mengajak keduanya untuk segera makan daripada harus berdebat lagi.
°°°
__ADS_1
T.B.C