Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Bab 88


__ADS_3

Naina tengah bersama dengan Gibran saat ini entah mereka berdua akan kemana yang jelas keduanya hanya berdua saja tanpa anak-anak mereka.


“nanti kita kan yang jemput si kembar ke sekolah?” tanya Gibran sabil melihat sesekali kearah sang istri.


“Iya nanti kita yang jemput, tapi mereka pulang agak soren. Oh iya besok kamu sibuk nggak?” balas naina.


“Nggak, tapi siang aku ada rapat memang kenapa?”


“Besok di sekolah anak-anak ada acara dan orang tuanya disuruh datang untuk memeriahkannya” ujar Naina memberitahu sang suami.


“Ya udah besok kita dateng, pagi kan?”


“Iya”


“Oke sayang,.” Balas Gibran sambil tersenyum. Dia lalu fokus lagi untuk menyetir saat ini.


“kamu yakin mau ngajak aku ke kantor sekarang?’ tanya Naina pada Gibran.


“yakinlah kenapa harus nggak yakin” jawab Gibran sambil menatap aneh sang istri.


Mereka berdua memang saat ini sedang menuju kantor Gibran, pria itu ingin memberitahu semua orang kalau dia sudah kembali dengan istrinya.


“Kamu nggak malu kalau punya istri aku,.” singgung Naina.


Gibran seketika langsung meminggirkan mobilnya, dia langsung menghadap kearah Naina.


“Kamu nyindir aku soal dulu?” sungut Gibran. “Aku nggak malu lah, kalau kamu masih membahas masa lalu. Aku nggak suka sayang..” tukas Gibran lagi.


“Maaf sayang, aku kan cuman bercanda” Naina langsung merengkuh lengan Gibran,. “jangan marah, aku bukannya mau menyinggung dulu. aku tahu kamu sudah menyesal, aku minta maaf ya mmm” lanjut Naina bersikap manja dia mengusap lembut lengah kekar suaminya itu.


Gibran melihat kearah Naina sekilas,


“Aku maafin, sikap kamu manja begini jadi aku nggak bisa marah sama kamu” pungkas Gibran sambil mengusap kepala Naina dan dia mengecup pucuk kepala istrinya.


“Kita jalan lagi ya” ucap perempuan itu.


“Iya,..” Gibran langsung menyalakan mesin mobilnya untuk pergi ke ke perusahaannya saat ini.


Gibran yang tengah menyetir terus menggenggam tangan Naina, sesekali dia juga mengecup tangan tersebut.


................................


Tidak butuh waktu lama, kini mobil Gibran sudah sampai di basement bawah perusahaannya. Gibran turun terlebih dahulu baru Naina mengikutinya, Gibran berdiri disebelah pintu istrinya mengambil tangan Naina untuk dia genggam.


“Kamar di ruangan mu masih ada?’ tanya Naina saat mereka berjalan bersebelahan.


“Masih kenapa? Jangan bilang kamu kita be..”


“Ngarang..” Naina langsung menaruh telapak tangannya di wajah Gibran.


“Hahaha, salah kamu tanya masih ada kamarnya atau nggak di ruanganku. Kan aku jadi ingat kalau kita dulu sering memakai kamar itu” kekeh Gibran.


“Aku tanya kamar karena aku mau tidur disitu, aku capek sekarang. Nanti kamu rapat aku nunggu disitu saja” pungkas Naina.


“Serius mau nunggu disitu?” tanya Gibran tak yakin.


“Iya, lah mau nunggu kamu dimana. Nggak mungkin kan aku ikut masuk keruang rapat. Dikira nanti aku istri yang protektif sama suami”


“Nggaklah, mana berani mereka mikir begitu sama istri bos.” Ucap Gibran langsung merengkuh Naina dan dia mengecup pipi kanan istrinya tersebut.


“Jangan cium-cium nanti orang lihatnya mikir kita mau aneh-aneh, aku malu” ucap Naina sambil melepaskan rengkuhan Gibran. “Kita jalan nggak usah gandengan deh, kamu bikin aku dilihatin orang” lanjut Naina sambil mendorong pelan Gibran dan dia berjalan lebih dulu menuju lift yang berada di basement tersebut.


“Sayang tunggu..” Gibran langsung berlari kecil menyusul Naina yang sudah masuk kedalam lift yang langsung menuju ke ruangannya.


Di dalam lift hanya mereka berdua membuat Gibran terus-terusan menggoda sang istri, tapi Naina melengos tak mau menatap suaminya.


“Kamu ngambek, makin bikin aku gemes tahu nggak” lirih Gibran berbisik ditelinga Naina.


“Minggir deh, kamu bau tahu nggak” sinis perempuan itu sambil mendorong suaminya agar menjauh.

__ADS_1


“Bau? Mana ada..kamu jangan ngarang sayang. Aku harum begini..nih cium” tukas Gibran sambil mendekatkan bajunya kearah Naina.


“Hueekk...agak jauh kamu tuh bau loh” Naina akan muntah karena mencium baju Gibran. Gibran yang melihat itu langsung terkejut mendengarnya.


“Sayang, akting kamu nggak lucu tahu. aku harum begini di bilang bau. Untung nggak ada orang, kalau ada karyawan ku disini bisa-bisa aku dibilang CEO yang jorok” bisik Gibran.


“Aku udah bilang jangan deket-deket deh” Naina kembali mendorong Gibran membuat pria itu terdorong kebelakang. Dia menatap istrinya tak percaya..


“Kamu tadi perasaan nempel terus sama aku, kenapa sekarang kok bilang begitu. Marah??” heran Gibran dengan sikap istrinya sekarang.


“Nggak ngapain aku marah” jawab Naina, Lift langsung terbuka perempuan itu keluar lebih dulu seakan menghindar dari Gibran. Gibran yang melihat sikap aneh istrinya tak mengerti dia bingung sendiri saat ini.


“Aneh banget deh, jangan-jangan dia cuman pura-pura. Sayang kamu pura-pura kan?” Gibran mengejar Naina dan langsung menggandeng tangan istrinya itu. Naina hanya diam menerimanya mereka berjalan bersama.


“Kok kamu nggak protes aku gandeng?’ tanya Gibran heran, karena Naina tak menolak dirinya.


“Kalau di gandeng mau lah, tapi jangan deket-deket baju kamu bau” balas Naina.


Gibran hanya mengernyit, menatap aneh sang istri.


..........................


Mark saat ini berada di ruangannya, dia terlihat sibuk memeriksa laporan pasiennya sembari menganalisa beberapa kasus dari pasiennya tersebut. ditengah kesibukannya tersebut tiba-tiba ponselnya saat ini berdering membuat mark terpaksa menghentikan pekerjaannya. Ia melihat kearah ponselnya.


“Gibran..” gumam Mark saat nama Gibran tertera di layar ponselnya saat ini.


“Halo Gibran, Ada apa?” ucap Mark saat mengangkat panggilan dari adik iparnya itu.


“Di rumah sakit mu ada dokter kandungan tidak?” tanya Gibran di seberang sana.


“Wahh, ini ngejek atau bagaimana. Jelas ada lah, rumah sakit ku rumah sakit bagus” jawab Mark.


“hehehe, cuman bercanda kakak ipar.”


“Nggak salah memanggil diriku kakak ipar?’ tukas Mark.


“Kenapa kau bertanya soal dokter kandungan?”


“Kalau ada tolong buatkan aku janji dengan dokter kandungan itu, besok sekitar sore hari aku kesitu untuk bertemu dengan dokter tersebut” jelas Gibran pada Mark.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kau tanya soal dokter kandungan?”


“Naina kayaknya hamil deh, tapi dia nggak nyadar” pungkas Gibran di seberang sana.


Mark yang mendengarnya langsung terlihat berseri,.


“Maksudmu adik ku hamil , kau serius?”


“Nggak tahu juga sih, tapi sikapnya aneh hari ini” jawab Gibran. “Istrimu sendiri bagaimana sudah ada tanda-tanda hamil atau belum..semoga saja istrimu juga hamil biar Naina ada temannya. kalau kita sama-sama punya anak kecil pasti seru” lanjut Gibran.


“Aku belum tanya pada Selina. Ya semoga saja istriku juga hamil, kalau Michel hamil titip salam ku padanya ya. Kakaknya ikut bahagia begitu” tukas Mark pada Gibran.


“Iya, sudah dulu. pokoknya itu aku minta tolong carikan dokter terbagus di rumah sakit mu..besok aku kesitu dengan Naina”


“Oke, nanti aku carikan.” Jawab Mark.


Panggilan langsung terputus, dan mark menaruh kembali hpnya ke meja.


“Michel sudah hamil lagi, semoga saja Selina juga ikut hamil” lirih Mark penuh harap.


Mark langsung berdiri dari duduknya saat ini, dia akan mencarikan dokter kandungan terbaik untuk adiknya. Dia ingin Naina dan keponakannya nanti baik-baik saja.


....................................


Naina berjalan masuk kedalam kamar yang ada diruang kerja Gibran, dia mencari suaminya yang tak ada di meja kerja. Baru juga dia tinggal ke depan untuk menemui Tari..Gibran sudah tidak ada di ruangannya saat ini.


“Gibran kemana?” bingung Naina karena tak melihat sang suami di ruang kerjanya. Naina langsung berjalan kearah kamar yang berada di ruang kerja tersebut. kamar yang dulunya sering Gibran pakai untuk berhubungan badan dengannya. Dan kamar tersebut masih dipertahankan Gibran hingga saat ini entah mengapa tak dihilangkan saja kamar itu.


“Sayang..” panggil Naina sambil membuka pintu kamar itu.

__ADS_1


Gibran yang tadinya membelakangi pintu tengah menelpon seseorang, langsung mematikan panggilannya saat Naina masuk kedalam.


Naina menatap suaminya curiga,


“Kamu nelpon siapa?’ tanya Naina penasaran.


“Nggak nelpon siapa-siapa?”


“bohong, nggak mungkin kalau kamu nggak nelpon siapa-siapa” naina menatap tak percaya suaminya.


“Nggak sayang, aku beneran nggak nelpon siapa-siapa. Memang aku nelpon siapa?’ Gibran berjalan kearah Naina merengkuh bahu istrinya dan menuntunnya pelan ke tempat tidur. mereka duduk di tempat tidur bersebelahan.


“Ya siapa tahu kamu nelpon selingkuhan kamu” tuduh Naina pada sang suami.


“Astaga, ya nggaklah mana ada selingkuhan. Kamu kalau ngomong ngarang deh” pungkas Gibran pada istrinya.


“Kenapa aku harus ngarang, kan kamu memang begitu”


“Aku? begitu..jahat banget sih kamu sayang bilang aku tukang selingkuh begitu. Mana ada aku selingkuh selama ini”


“Dulu sama Alisha..”


“Itu masalah beda, aku sama Alisha dulu kan sudah memang sudah pacaran sebelum kita menikah. Jadi bukan selingkuh”


“terus aku yang jadi selingkuhan kamu begitu maksudnya”


“Aku nggak bilang begitu ya, kamu kok hari ini emosi sih kelihatannya. Jangan-jangan adiknya si kembar sudah disini lagi” ucap Gibran sambil mendekatkan telinganya ke perut Naina. Pria itu langsung menaruh kepalanya di pangkuan sang istri.


“aku nggak hamil, jangan asal deh”


“Aku nggak ngasal kok, lah sikap kamu begini loh dari pagi. Bikin aku bingung tahu nggak sayang”


“Kamu bingung kenapa?”


“ya aku bingung, kamu dari pagi tuh emosinya naik turun. Kadang manis sama aku kadang emosi begini. jadinya aku bingung” ucap Gibran sambil menatap wajah istrinya.


Naina hanya diam saja,


“Kenapa diam sayang, mikirin ucapan aku ya?”


“Nggak” naina menggelengkan kepalanya.


Gibran langsung duduk dan menatap istrinya,


“Kenapa?” tanya Gibran saat melihat ekspresi Naina yang terlihat sedih.


Naina diam tak menjawabnya, membuat Gibran memegang bahu perempuan itu agar menghadap kearahnya.


“Kenapa?” lirih Gibran menatap intens wajah cantik sang istri.


“Nanti kalau aku hamil gimana?”


“hah? Ya nggak gimana-gimana”


“Si kembar bagaimana, kamu juga bagaimana?”


“bagaimana apanya sayang, ya kita jelas senanglah kalau kamu hamil. kan keluarga kita baka tambah anggota baru”


“Beneran kamu senang kalau aku hamil lagi,” wajah Naina begitu sedih.


“Senanglah justru kehamilan kamu aku tunggu-tunggu karena aku bakal jadi suami siaga buat kamu. kamu kok malah nangis” heran Gibran menatap Naina yang malah terlihat menangis.


“Nggak pa-pa, pengen nangis aja hiks-hiks” isak Naina sambil memeluk Gibran. Gibran balas memeluk sang istri.


Tebakannya sepertinya benar kalau Naina tengah hamil, emosinya tidak stabil hari ini, pikir Gibran.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2