Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 65


__ADS_3

Gibran sesekali menendang ban mobilnya yang berada di pinggir jalan, dia sudah buru-buru pergi karena ingin epat kerumah Michel malah ban nya tiba-tiba saja bocor di jalan dan sialnya ia tak membawa ban serep.


“Aishh, kenapa sial sekali hari ini” gertunya kesal. Dia bingung harus apa sekarang, Khalif sedari tadi ia telpon tak kunjung di angkat dan Erlan bocah itu masih ada dosen di kampusnya.


“Siapa lagi yang harus aku hubungi sekarang” pusingnya harus menghubungi siapa lagi.


“Kevin, aku lupa kalau bengkelnya didekat sini” gumamnya saat terpikir satu nama yang melintas di otaknya saat ini. Kevin adalah temannya SMA dulu pria itu kan memiliki bengkel yang ada di kawasan tempat mobilnya pecah ban sekarang. Buru-buru Gibran mencari nomor pria yang bernama Kevin itu, dia langsung menelpon teannya tersebut.


“Kevin, ini aku Gibran” ucap Gibran saat panggilan diseberang sana sudah di angkat.


“Iya ada apa Bran?” ucap Kevin yang ada di seberang sana.


“Ini ban mobilku pecah ban dekat bengkel kamu, tolong ya bawain ban ganti buat mobilku. Aku lupa bawa ban serep” Pinta Gibran pada pria tersebut.


“Oke siap pak bos, bentar ya tunggu aja di situ. Spesial buat kamu ini aku sendiri yang kesana”


“Makasih ya, aku tunggu” pungkas Gibran setelah itu panggilan langsung terputus. Gibran kembali memasukkan ponsel miliknya kedalam saku celananya. Sambil menunggu Kevin datang dia berjalan masuk saja kedalam mobil.


Lima belas menit kemudian pria bernama Kevin itu datang mengendarai motor sportnya bersama dengan seorang rekan lebih tepatnya montir di bengkelnya.


Gibran yang meliahat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya bisa-bisanya temannya membawa ban mobil menggunakan motor apalagi yang membuatnya terperangah penampilan Kevin yang menurutnya terlalu nyeleneh bagaimana ta menyeleneh rambut pria itu diwarnai warna kuning emas.


“Gila bro, nggak salah ini..” ucap Gibran.


“Kenapa?” Kevin yang turun dari motor malah balik bertanya.


“penampulanmu..”


“Bentar, aku suruh anak buahku dulu ganti ban. Ban mana ini yang pecah ban?”


“Ban depan sebelah kanan” jawab Gibran.


“Brother..” seru Kevin sembari memberi kode pada montir yang ia bawa.


“Siap pak bos” jawab montir tersebut yang tahu arti ucapan dari bosnya tersebut.


“Kompak bener..” ucap Gibran.


“Kompak lah” sahut Kevin.


“Kamu sudah bapak-bapak bisa-bisanya rabut diwrnai begitu” ucap Gibran pada temannya tersebut.


“Justru karna bapak-bapak itu, rambut harus diwarnai. Malu woy ubannya udah banyak”


“Serius sudah punya uban, masih muda juga”


“Wah nggak konsisten tadi ngatain gue bapak-bapak sekarang bilangnya masih muda yang benar yang mana woy”

__ADS_1


“Kan bapak-bapak cuman ledekan, serius kamu Vin sudah ada uban belum ada tiga puluh juga”


“Sekarang uban nggak mandang umur, banyak pikir gue mungkin it faktornya gue ubanan” kata Kevin.


“Eh butuh berapa lama ini ban mobilku?”


“Setengah jam mungkin”


“Setengaj jam, wah nggak bisa nunggu aku. aku ada urusan..pinjem motormu boleh” ucap Gibran, kalau menunggu jelas dia bakal terlambat kerumah Michel dan perempuan itu alah sudah berangkat ke GINAI malahan.


“Mobilmu bagaimana?”


“Aku tinggal disini, nanti kamu yang bawa dan nggak usah mikir kapan mulangin. Aku pinjem motor ya, mana kuncinya” Gibran berjalan ekarah mobilnya mengambil tas kecil yang biasa ia bawa untuk tempat dompet serta uangnya.


“Tuh di motor,” jawab Kevin.


“Kunci ku juga ada di mobil, aku pinjem ya” ucap Gibran dan langsung naik keatas motor Kevin.


“Siap..” jawab Kevin sambil mengangkat jari jempolnya.


Gibran langsung pergi menggunakan motor Kevin, dia tak perduli menggunakan motr. Motornya juga motor keren dan dia juga sudah keren jadi semakin kece penampilanya sekarang. Pikir Gibran dengan begitu percaya dirinya.


.....................................


Michel sendiri saat ini berjalan keluar sambil memeriksa isi tasnya takut kalau ada barang yang tertinggal di rumah.


Baru juga Michel mengambil ponselnya tiba-tiba suara motor mengalihkan pandangannya. Sebuah motor yang dikendarai entah siapa karena tertutup helm memasuki halaman rumah Michel. Perempuan itu hanya diam sambil terus melihat dengan penasaran kira-kira siapa yang datang kerumahnya.


“Siapa itu?” gumamnya.


Motor itu sekarang berhenti tepat didepan Michel, Michel semakin penasaran untuk melihat siapakah pria keren didepannya saat ini mengenakan setelan kemeja navy dengan lengan sedikit terangkat keatas.


“Morning..” ucap pria itu saat membuka helmnya.


Michel terperangah melihatnya mulutnya menganga melihat siapa yang didepannya, ia menyesali apa yang dia batin tadi soal kerennya pri tersebut.


“Kau..”


“Iya ini aku sayang, kenapa melongo begitu..terpana denganku” ucap Gibran saat melihat Michel terkisap ketika dirinya membuka Helm padahal tadi sebelum dia membuka helmnya istrinya itu menatap dengan pandangan terpana.


“nggak,” elak Michel


“Ngapain disini?” ketusnya lagi.


“Jemput kamu lah, ayo buruan naik nanti kita terlambat absen” pungkas Gibran menyuruh Michel untuk segera naik.


“Aku naik mobilku sendiri” tolak Michel dan dia langsung melenggang pergi.

__ADS_1


Gibran buru-buru turun dari motornya, dia langsung menahan tangan Michel saat ini.


“Jalanan tadi macet naik motor aja lebih cepat, kamu nggak pengenkan kakakmu di keluarkan dari GINAI”


Michel diam saja,..


“Aku tidak perduli,” jawabnya kemudian.


“Oh tidak perduli, jangan-jangan kamu nolak naik motor karena ingin menghindar dariku ya ya. Kemarin aja mau aku cium sekarang kok menghindar malu ya sayang” goda Gibran sambil menyenggol pelan bahu Michel sambil tersenyum jahil.


“Apaan sih” pungkas Michel.


“Malu bilang aja, atau gengsi..”


“Apaan sih,” kesal Michel wajahnya semakin merah karena tersipu dengan ucapan Gibran. Pria itu malah engingatkan soal kemarin dimana dia tak menolak sama sekali saat Gibran menciumnya.


“Iih merah wajahnya, tersipu sayang”


“Apaan sih, nggak usah ngeldek deh. Ayo buruan..” ucap Michel dengan cukup ketus dia langsung mendekat kembali ke arah motor Gibran tadi.


Gibran tersenyum puas karena Michel menurut juga padanya, dia langsung menyerahkan helm yang habis dia beli. Karena tadi Kevin tidak memakai helm jadi terpaksa dia harus membelinya dulu.


“Kamu sengaja kesini bawa motorya?” tanya Michel curiga.


“Nggak..”


“Bohong, kenapa helmnya masih bau baru begini”


“Nggak ini punya teman, mobilku bannya pecah jadi aku bawa motornya” jawab Gibran jujur. Pria itu langsung naik keatas motornya. Sedangkan Michel melihatnya saja..


“Kenapa diem, ayo naik” ucap Gibran.


Michel naik smabil mendengus kesal, untung saja dia hari ini mengenakan celana jeans kalau tidak bagaimana bisa dia naik keatas motor.


“pegangan” pinta Gibran saat Michel sudah duduk dibelakangnya.


“iya” jawab Michel singkat sambil berpegang pada kursi belakang.


“Bukan kesitu tapi kesini” ucap Gibran yang menyadari kalau Michel berpegang pada kursi belakang. Dia segera mengambil tangan Michel dan melingkarkannya di perunya.


“Pegangan yang kenceng” ucapnya lagi.


Michel ingin memberontak tapi dia hanya bisa diam saja,


Gibran langsung menjalankan motornya dan dia langsung engerem begitu saja membuat Michel mau tak mau langsung mendekap erat peluk Gibran. Gibran hanya bisa tersenyum puas karena modusnya berhasil dia langsung enjalankan motor tersebut pergi meninggalkan rumah Michel sedangkan Michel dalam hatinya menggerutu sendiri karena dia tahu semua itu pasti disengaja oleh Gibran.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2