Anak Rahasia Sang Ceo

Anak Rahasia Sang Ceo
Ep 91


__ADS_3

Mark saat ini berada di ruangannya dia menyobek semua data pasien milik anak Alisha, dia lalu membuangnya begitu saja keatas meja. pintu ruangan itu terbuka menampakkan Reyhan yang berdiri diambang pintu melihat Mark yang tampak emosi.


“dokter Mark, ada apa denganmu?” tanya Reyhan heran sambil berjalan mendekat.


“mulai sekarang jangan pernah menangani anak dari nona Alisah, suruh dia mencari dokter dan rumah sakit lain untuk anaknya” Mark mengabaikan ucapan Reyhan dia berbicara di telpon yang ada di meja kerjanya tersebut.


Reyhan yang berjalan mendekat tentu saja mendengar apa yang dikatakan Mark pada seseorang di sebenrang sana.


“dokter Mark?’ panggil Reyhan yang sudah di hadapan Mark sekarang.


“Ada apa?” jawab Mark dengan dingin.


Reyhan menarik kursi yang berada di depan meja Mark, dia duduk sembari memperhatikan temannya yang tampak emosi dan marah.


“Ada apa denganmu, kenapa kau terlihat emosi seperti ini dokter Mark. Aku belum pernah melihatmu semarah ini” ucap Reyhan.


Mark lalu melihat kearah Reyhan yang sudah duduk di depannya,


“Aku marah pada diriku sendiri sekarang” lirih pria itu menyalahkan dirinya.


“Kenapa kau harus marah pada dirimu sendiri karena nona Alisha, apa hubunganmu dengannya” heran Reyhan mengernyitkan dahinya bingung kenapa juga temannya harus menyalahkan diri sendiri.


“Bagaimana aku tidak arah pada diriku sendiri, perempuan itu sudah menghancurkan hidup adikku dna aku malah menolongnya. Kakak macam apa aku hah..” ceritah Mark sambil merasa emosi.


“Aku sebenarnya tidak ingin tahu masalah keluargamu, tapi aku tidak paham kenapa Alisha bisa menghancurkan hidup adikmu. Kalau dia mantan dari Gibran buannya hanya sekedar mantan?” ucap Reyhan yang masih bingung dengan situasi saat ini.


“Dulu aku sudah pernah cerita padamu kan, kalau Michel dan Gibran sudah pernah menikah sebelumnya.” Pungkas Mark.


Reyhan mengangguk,


“Gibran dulu menikahi Mihel bukan karena cinta tapi karena mamanya yang sedang sekarat, dan di saat itu Alisha yang masih menjadi model terkenal tidak au menikah dengannya. Akhirnya Gibran meksa Michel untuk menikah, meskipun sudah menikah dengan Michel Gibran masih berhubungan dengan Alisha bahkan perempuan itu memiliki rencana jahat pada adikku. Dia saat itu berniat untuk mengambil anak dari Michel dan akan menikah dengan Gibran. Makanya Micehl waktu itu langsung kabur dari rumah selama lima tahun. Kalau bukan karena Alisha adikku tidak akan menderita..” Mark menceritakan amsa lalu Naina dengan matanya yang sudah berkaca-kaca dia mengingat dulu pertama kalia dia bertemu Naina, perempuan ttu dalam kondisi yang tidak baik-baik saja setiap malam selalu mengigau dan ketakutan.


Mulai saat itulah Mark berjanji pada Naina kalau dia tidak akan pernah membantu orang yang telah menyebabkan adiknya seperti itu. tapi apa dua tahun ini dia sudah membantu Alisah yang merupakan sumber penderitaan sang adik.


Reyhan yang mendengar itu hanya diam feelingnya berarti benar kalau Alisha dulunya bukanlah orang yang baik. Tapi kenapa dia jadi kasihan dengan perempuan itu saat ini, tentang pengobatan anaknya, bukannya perempuan itu bilang anaknya hanya cocok dengan Mark.


“Terus kau mau bagaimana?’


“Ya aku tidak akan mengobati anak dari Alisha lagi kalau dia berobat disini,” pungkas Mark.


Reyhan diam saja, dia tak berbicara lagi, dia juga mau bicara apa itu keputusan Mark saat ini.


......................................


“Sayang-sayang tunggu sebentar, kamu pelan-pelan jalannya. Ingat ada anak kita di dalam perut kamu sekarang” Gibran mengejar Naina yang berjalan cepat sambil menggandeng tangan kedua anaknya.


“Sayang kalian keatas sendiri nggak pa-pa kan, mama capek untuk keatas atau nggak kalian di ruang tv saja” ucap Naina pada kedua anaknya.


“Iya mama” jawab keduanya dan langsung pergi


“hati-hati kalau naik tangga ya..” seru Gibran saat kedua anaknya sudah pergi.


“Iya papa” jawab mereka berdua sambil berjalan.


Sedangkan Gibran kembali mendeati Naina dia akan memegang tangan sang istri tapi Naina langsung memberikan jarak.


“Sayang kamu marah sama aku” ucap Gibran saat menerima penolakan dari istrinya tersebut


Naina diam saja dia malah bersedekap sambil memalingkan wajah dari Gibran,


“Aku salah apa, sampai kamu marah begini..?”

__ADS_1


Mendengar ucapan Gibran membuat Naina langsung melihat kearah suaminya itu.


“Kamu nggak tahu salah kamu apa?” ketus Naina.


“Soal Alisha tadi?’ ucap Gibran yang mengingat kejadian saat dirumah sakit tadi.


“Kamu pikir aja sendiri” jawab Naina dan akan pergi tapi Gibran menahan tangannya.


“Lepasin nggak?” sinis Naina.


“Nggak, kita bicara dulu baru kamu aku lepasin..” pungkas Gibran.


“Kalian kenapa?” tanya Erlan yang masuk kedalam rumah dan melihat kakak dan kakak iparnya tampak bersitegang.


“Jangan ikut campur, sana masuk ke kamar kamu” ucap Gibran menyuruh Erlan pergi.


“Kalau berantem jangan disini, kalau ada orang yang datang gimana. Pintu juga kebuka lebar seperti ini sengaja mau mempertontonkan keributan dalam rumah tangga kalian” cibir Erlan menatap kedua orang didepannya.


“Lepasin, lanjutkan di kamar saja” ucap Naina dan langsung pergi meninggalkan dua orang tersebut.


Gibran hanya bisa diam dan dia berjalan pelan mengikuti sang istri, tapi langkahnya terhenti karena ucapan Erlan.


“Kak Nai hamil ya?’ tanya pemuda tersebut pada kakaknya.


Gibran langsung melihat kearah Erlan yang berdiri dibelakangnya


“Kamu tahu darimana?”


“nebak aja” jawab Erlan singkat.


“Oh iya kenapa dia bisa marah begitu?” tanya Erlan penasaran tentang kenapa kakak iparnya terlihat marah pada kakaknya.


“Gara-gara aku nyebut nama Alisha”


“Eh bentar, Alisha? Alisha mantan kakak dulu, si cewek nggak jelas plus seksong itu” lanjut Erlan sambil menirukan nada bicara Alisha dulu.


“Hemm” Gibran hanya mendehem saja.


“Waah parah, sudah balikan sama istri terus bahas mantan wajarlah kak Nai marah. Lah orang itu yang bikin kak Nai kabur. Aneh lu kak” pungkas Erlan mendesis pada kakaknya.


“Ah pergi aja dah gue, pusing ngurusin rumah tangga orang” lanjut Erlan dan langsung melenggang pergi meninggalkan kakaknya sendirian.


“Woy nggak ada solusi gitu buat kakakmu” sungut Gibran menatap adiknya yang pergi melewatinya.


Elan langsung berhenti dan menatap serius kearah kakaknya.


“Ada.” Ucapnya.


“Apa?”


“Begini..” ucap Erlan sambil mengangkat kedua tangannya dan menyatukan tangannya tersebut.


“Kak Nai hamilkan? Hormonnya pasti bagus buat begituan. Nggak marah pasti dia” lanjut Erlan sambil nyengir menggoda kakaknya.


“Kau masih muda pikiran sudah dewasa begitu, awas kalau sampai kuliahmu tidak selesai dan malah menghamili anak orang” anca Gibran pada adiknya.


“Apaan deh, dah yang penting aku sudah memberikan solusi.” Pungkas Erlan dan langsung pergi sedangkan Gibran tampak berpikir entah apa yang dia pikirkan saat ini.


“Gibran, kenapa lama bukannya aku nyuruh cepat ke kamar” seru Naina dari ambang pintu kamarnya yang tidak jauh dari situ.


Erlan yang berada di lantai atas melihat kearah kakaknya yang ada di bawah.

__ADS_1


“Kak, tuh minta..” candanya sambil melihat kearah kamar Naina.


Gibran melihat sekilas kearah Erlan, dan dia langsung melihat kearah Naina.


“Iya sayang bentar aku kesitu” jawabnya sambil berlari kecil menuju kearah sang istri.


.................................


Malam hari Gibran mengajak Naina ketepi kolam renang, dia menutup mata istrinya tersebut. situasi kolam renang saat ini sudah di buat sangat romantis oleh Gibran dengan banyaknya lilin yang berjejer di tepi kolam renang dan bungan berbentuk love yang berada di tengah kolam renang.


Di pinggir kolam renang juga ada lilin yang berbentuk love,


“Mana..” saat Gibran akan membuka penutup mata Naina tiba-tiba saja Aryan datang dan mengulurkan tangannya.


“Sabar kenapa?’ tukas Gibran menatap kesal sang adik.


“Ya upahku mana, aku nggak percaya sama kamu” tukas Erlan pada kakaknya.


“Kamu bicara sama siapa?” tanya Naina yang matanya masih ditutup oleh Gibran.


“Sama bocah tengik” jawab Gibran sambil melihat kearah Erlan. Erlan hanya mencebikkan bibirnya saja.


“Ambil diatas kulkas, awas kalau kau sampai ngebut. Ajak anak-anakku ke rumah neneknya, kau seniornya nanda kan? jadi chat dia minta alamat rumahnya” pungkas Gibran pada adiknya.


“hem” Erlan langsung pergi setelah mendengar ucapan sang kakak.


Alasan Erlan meminjam mobil tentu saja karena semua yang menyiapkan ini Erlan meskipun Gibran ikut membantu tapi Erlan lebih andil dalam semuanya.


“Kamu suruh Erlan ngajak anak-anak kerumah ibu?’ tanya Naina penasaran, karena tadi dia hanya mendengar suara saja tanpa bisa melihat.


“Iya nggak pa-pa kan?”


“Ya kenapa kamu suruh Erlan bawa mereka kesana?”


“Ya nggak pa-pa biar kita bisa berduaan, eh nggak sekarang bertiga deng sama anak kita yang ada disini” ucap Gibran sambil memegang perut Naina.


“Udah lepasin cepat, mataku sakit” ucap Naina meminta Gibran untuk segera melepaskan penutup matanya.


“Iya sebentar sayang” jawab Gibran sambil melepaskan penutu pata Naina.


“TARAA!!” seru Gibran menunjukkan apa yang telah dia persiapkan untuk sang istri.


Melihat semua ini membuat mata Naina berkaca-kaca, dia seketika terharu melihatnya.


“Hik..hiks ba..bagus..” perempuan itu tiba-tiba saja langsung meneteskan air matanya


“Sayang, sayang kok malah nangis” bingung Gibran dan langsung memeluk Naina.


“Huhuhu habisnya bagus, tumben romantis..hiks hiks” ucap Naina saat berada di pelukan Gibran.


“Lah kok tumben, kan aku selalu romantis sama kamu.” pungkas Gibran mengusap lembut kepala sang istri.


“Nggak pernah, huhu” jawab Naina dan tangisnya malah semakin kencang, melihat itu membuat Gibran semakin kebingungan.


“Lah malah nangis kencang sayang” Gibran benar-benar bingung.


“Sedih...si kembar dulu nggak begini,” ucap Naina dengan suara seraknya. Gibran hanya bisa menggaruk kepalanya saja,


“Ya sudah yok kita duduk, aku sudah siapin makan buat kamu. enak banget pokoknya aku buat khusu buat kamu tahu sayang” Gibran langsung menuntun Naina kearah meja bundar yang sudah di hias romantis olehnya dan juga Erlan. Makanan kesukaan Naina juga sudah tersaji di atas meja tersebut. dia tadi yang memasaknya sendiri khusus untuk sang istri.


Gibran langsung menarikkan kursi itu untuk istrinya lalu dia juga segera duduk saat Naina sudah duduk di kursinya. Keduanya menikmati dinner romantis di pinggir kolam renang.

__ADS_1


°°°


__ADS_2