
“Bu Ibu,” Gibran berjalan masuk kedalam rumah Nurma dan juga Agus. Dia mencari keberadaan ibu mertuanya yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
“Gibran ada apa?” tanya Agus yang turun dari lantai atas, dia menuruni anak tangga sambil memperhatikan Gibran yang masuk kedalam rumah mereka.
“Ibu dimana yah, aku ada kabar gembira buat kalian,.” Gibran begitu antusias tak sabar untuk ingin berbagi kebahagiannya bersama orang-orang terkasihnya.
“Ibu sama Nanda masih pergi arisan, kabar gembira apa yang mau kamu kasih tahu ke kita” jawab Agus, ia mulai penasaran dengan apa yang di katakan Gibran soal kabar bahagia. Karena pria muda di depannya terlihat begitu senang tak seperti biasanya yang tampak lesu.
“Ayo ngobrol di ruang tengah sambil nunggu ibu sama Nanda pulang” Agus mengajak Gibran keruang tengah rumah mereka. Karena enak mengobrol disitu daripada di depan.
Gibran mengikuti langkah ayah mertuanya tersebut, dia ingin menceritakan kalau Naina atau Michel sudah mengijinkan dirinya berdekatan dengan anak-anak mereka. Apalagi keduanya saat ini sudah tahu siapa dirinya.
“Ayah, aku punya kabar bagus untuk kalian” ucap Gibran yang tak sabar untuk mengutarakan apa yang membuat dirinya bahagia.
“Apa?” Agus semakin penasaran, tatapan ingin tahu ia tujukan pada Gibran.
“Naina sudah mengizinkanku menemui anak-anak ku yah. Kedua anakku juga sudah tahu kalau aku papa mereka” jelas Gibran wajahnya menunjukkan rona bahagia yang teramat.
“Kau serius?”
“Iya aku serius yah,”
“Syukurlah kalau Michel sudah mengijinkan dirimu menemu si kembar, ini kesempatanmu untuk membuktikan semuanya pada anak ayah Gibran. Kamu harus benar-benar menunjukkan dirimu telah berubah dan tolong misalkan nanti kalau kamu dan Michel kembali bersama ayah hanya minta tolong jangan pernah sakiti dia lagi. Karena belum tentu restu ayah bakal berpihak padamu lagi” tutur Agus sembari memberikan nasehat pada menantunya itu.
“Ayah jangan takut, aku tidak akan menyakiti Michel. Aku bakal menunjukkan padanya kalau aku bukan Gibran yang dulu” ucap Gibran penuh keyakinan.
“Ayah pegang janjimu” ucap Agus.
..................................
“Tok,tok”
“Kakak boleh masuk” ucap Mark yang ada di luar kamar Michel.
“Iya” sahut Michel dari dalam, Mark langsung masuk kedalam kamar itu dia berjalan masuk sambil membawa beberapa undangan di tangannya. Itu undangan pernikahan dia dan Selina.
“Ada apa kak?” tanya Michel yang duduk di kursi kerjanya.
“Ini undangan untuk orang tuamu dan juga adikmu, kakak minta maaf ya karena tidak bisa mengantarkannya langsung” pungkas Mark sambil menaruh tiga undangan di meja kerja Michel. Dia tak langsung pergi tetapi dia duduk sebentar di pinggir meja sambil melihat kearah Michel yang terlihat mengerjakan sesuatu.
“Apa itu?”
“Oh ini, ini tugas Aira sama Aiden” jawab Michel yang tampak menggambar di kertas tulis. Karena berkali-kali menggambar dia tak bisa makanya dia mencobanya dulu di kertas tulis sebelum menggambarnya di kertas gambar.
“Mereka di suruh menggambar anggota keluarga?”
__ADS_1
“Iya, makanya aku bingung. Aku harus gambar bagaimana. Kata Aira gambarnya suruh ada papa mamanya dan di beri nama. Aku pusing kak” adu Michel soal dirinya yang pusing harus melakukan apa. Dia pusing ya karena bingung, bingung untuk memasukkan nama Gibran di kertas itu. haruskah dia memasukkan nama pria itu..
“Tinggal gambar aja, kau bisa gambarkan. Kenapa harus diambil pusing kalau nulis namanya ya tinggal tulis apa susahnya sih” jawab Mark menangapi keluhan Michel.
“Kalau tahu begini aku nggak mau balik Indonesia, balik kesini nunggu anak-anak gede aja aturan” sesal Michel,
“Salahmu sendiri dulu aku larang kembali kesini kamu ngotot untuk kembali kan sekarang rasakan saja. dan ini memang yang harus terjadi.”
“Ya bagaimana kak Selina marah sama kakak kan waktu itu dan kakak nggak ada inisiatif sama sekali buat baikan sama dia. aku sudah anggap kak Selina kakakku jadi terpaksa aku kesini”
Yang membuat Michel menyesal kembali ke Indonesia karena, di Indonesia status anaknya harus jelas dan tugas sekolah pasti menyangkut dengan keluarga. Kalau di luar mereka bebas, tapi mungkin inilah jalannya.
“Kamu tinggal tulis nama Gibran apa salahnya, aku dengan dari Rosa kamu konsultasi dengannya kan dan dia bilang untuk berdamai dengan masa lalu. Jadi tulis saja nama Gibran, bukannya juga kamu tadi menjemput anak-anak dengan Gibran. Mereka juga sudah tahu Gibran ayah mereka bukan”
“Iya sih, tapi aku belu...”
“jangan bilang kamu belum mau berdamai dengannya” potong Mark lebih dulu.
“Bukan begitu, aku belum siap saja”
“Siap tidak siap, kamu harus siap. Jangan lari lagi dari kebenaran, dia juga sudah berubah kan?” pungkas Mark.
“Kakak hanya berpesan sama kamu, pikirkan anak-anakmu. Kalau begitu aku pergi dulu” lanjut Mark sebelum pergi, ia memegang bahu Michel berharap adiknya itu bisa berdamai dengan masa lalu.
Michel diam sembari memikirkan apa yang di katakan Mark, dan ia teringat akan tadi saat anak-anaknya tampak gembira bermain bersama dengan Gibran mereka begitu bahagia bahkan Aira terlihat sangat bahagianya bocah ceriwis itu semakin ceriwis saat bersama dengan Gibran panggilan papa terus saja keluar dari mulut Aira. Begitu juga Aiden dia tak kalah senang bahwa papanya masih ada.
....................................
Pagi-pagi Gibran sudah berada di rumah Michel, dia akan menjemput anak-anaknya untuk pergi ke sekolah tetapi di dalam mobil dia tidak sendiri melainkan dengan Erlan yang terlihat kepo sesekali melihat kedepan dimana rumah besar berdiri dengan kokoh.
“Wiih, rumah siapa ini kak?” tanya pemuda itu penasaran.
“Kamu bukannya sudah janji padaku untuk diam saja, kamu disini cuman numpang di mobilku jadi diam bisa kan?” ketus Gibran menangapi pertanyaan Erlan barusan.
“hih, nyebelin. Apa salahnya sih, aku punya mulut juga” kesal Erlan yang mendapat tanggapan seperti itu dari Gibran.
“Tuh dua bocah siapa? Anakmu?” tanya Erlan saat melihat sepasang bocah berdiri bersama perempuan dewasa di depan rumah yang mereka masuki saat ini.
“Wiih cantiknya, cewek dam..”
“Itu istriku, awas kau macam-macam dengannya” tukas Gibran langsung memotong perkataan Erlan dan tatapan tajam tak ketinggalan ia tujukan pada pria itu.
“Istrimu? Gila cantik begitu dulu kamu siksa karena ego” ucap Erlan sambil menggeleng tak habis pikir dengan perbuatan kakaknya dulu yang menyiksa Naina.
“Tidak usah bahas masa lalu bisakan, sudahlah mulut cerewet mu itu lebih baik diem” pungkas Gibran dan langsung menghentikan mobilnya di depan Michel dan kedua anaknya.
__ADS_1
Michel yang sedang menunggu mobil keluarganya keluar dari garasi terdiam, dia sedikit terkejut melihat kedatangan mobil Gibran di rumahnya.
“Hai sayang, maaf papa telat” ucap Gibran saat turun dari mobil dan menghampiri ketiganya.
“Papa” seru kedua bocah tersebut dan berlari kearah Gibran.
“Mau apa kau kesini?” tukas Michel tak suka.
“mau menjemputmu dan anak-anaklah, mau apalagi. Mark tidak bilang padamu kalau aku akan kemari menjemput kalian”
Michel terlihat bingung, ia tak mengerti maksud Gibran yang membahas Mark.
“Sepertinya dia memang tidak bilang, ya sudah ayo masuk. Anak-anak masuk kedalam mobil ya” ucap Gibran dan menyuruh kedua anaknya untuk berjalan masuk kedalam mobil.
Gibran sendiri langsung berjalan kearah pintu dimana Erlan duduk, dia membuka pintu itu.
“Pindah kebelakang?” perintah Gibran pada Erlan.
“Apa?”
“Pindah kebelakang, istriku mau duduk disini” pungkas Gibran mengulangi ucapannya.
“Gila tega, aku dibelakang dengan bocah-bocah itu”
“Bocah?” sahut dua bocah yang sudah masuk di kursi belakang.
“Papa, Om ini siapa?” tanya Aira pada Gibran.
“Adik papa, dia Om kamu” jawab Gibran.
“Buruan pindah,” tukas Gibran lagi meminta Erlan untuk pindah kebelakang.
“Sungguh tega lo, masa gue suruh di belakang sama dua bocil” kesal Erlan, meskipun terlihat enggan dia tetap saja keluar dari mobil dengan terpaksa. Dia melihat sekilas Michel yang memperhatikan dirinya.
“Ayo sayang masuk” ajak Gibran pada Michel.
“jangan panggil aku sayang, aku bukan siapa-siapa mu. Aku naik mobil sendiri” ucap Michel.
“jangan keras kepala, ayo amsuk” Gibran tak perduli penolakan Michel barusan. Dia malah menarik tangan Michel agar masuk kedalam mobilnya diman Erlan duduk tadi. Sedangkan Erlan sudah duduk di belakang bersama dua anak kecil yang tengah memperhatikan dirinya penasaran.
“Kenapa lihat-lihat, om ganteng ya’ ucap Erlan dengan percaya dirinya.
“Nggak, gantengan Papa Mark sama papa Gibran” jawab dua bocah itu bersamaan.
Michel dan Gibran yang juga sudah berada di dalam mobil menahan tawa mereka, wajah Erlan langsung terlihat kecut.
__ADS_1
°°°
T.B.C